Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
353. Roller Coaster


__ADS_3

Andi menjadi kesal karena Kanaya menolak menemani dirinya lembur. Dan Andi tahu pasti apa alasan Kanaya menolak untuk menemani dirinya lembur. Itu pasti karena Kanaya ingin nonton dengan Randy.


Kanaya menghela napas panjang mendengar kata-kata Andi yang terdengar pedas di telinganya.


"Orang ini! Mulutnya benar-benar pedas. Yang benar saja! Malam Minggu seperti ini malah di suruh lembur. Malam ini adalah kesempatan pertama ku untuk nonton. Dan harus gagal karena orang ini. Menyebalkan sekali! Dasar jomblo! Malam Minggu malah lembur. Mana ngajak-ngajak orang lagi. Nggak tahu apa? Aku baru saja mau pdkt dengan Pak Randy,"gerutu Kanaya dalam hati yang merasa dongkol pada Andi.


"Kenapa bengong di situ? Kamu benar-benar tidak mau menemani aku lembur?"tanya Andi menghela napas kasar,"Pergilah! Kamu tidak perlu menemaniku lembur,"ujar Andi dengan wajah kecewa. Banyak wanita yang ingin dekat dengan dirinya, tapi Kanaya malah terlihat enggan dekat dengan dirinya.


Kanaya merasa senang mendengar kata-kata Andi. Gadis itu membuka mulutnya hendak berbicara.


"Tapi, jika kamu tidak mau lembur malam ini, untuk biaya berobat tanganmu selanjutnya, aku tidak mau membiayainya lagi,"lanjut Andi membuat Kanaya yang ingin mengucapkan terimakasih pun tidak jadi. Wajah gadis yang sempat cerah itu menjadi suram.


"Dasar tukang menindas! Dia mengancam aku tidak mau membiayainya berobat ku lagi, jika aku tidak mau lembur?"geram Kanaya dalam hati. Ingin rasanya menghajar pria yang saat ini sedang menggulir layar handphonenya itu.


Andi menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo! Carikan aku office girl atau office boy untuk menemani aku lembur ma..."


"Saya akan menemani anda lembur,"ucap Kanaya cepat memotong kata-kata Andi.


"Tidak jadi,"ucap Andi pada orang dalam sambungan teleponnya, lalu meletakkan handphonenya di atas meja.


Sudah beberapa kali Andi mengantarkan Kanaya ke dokter untuk memeriksa luka Kanaya karena terkena kopi panas kemarin. Kanaya tahu benar bahwa Andi mengeluarkan banyak uang untuk biaya cek up nya ke dokter dan menebus obat untuk lukanya. Mana mungkin Kanaya memilih pengobatannya di hentikan hanya untuk menonton dengan Randy.


"Ijinkan saya pergi sebentar untuk menemui seseorang. Saya janji akan segera kembali,"pamit Kanaya.


"Hum,"sahut Andi kembali fokus pada layar laptopnya.


Kanaya keluar dari ruangan itu untuk mencari Randy. Mengingat tadi pagi dirinya berjanji untuk pulang bersama Randy. Kanaya tidak bisa menghubungi Randy, karena mereka belum sempat bertukar nomor telepon.


Andi tersenyum miring melihat Kanaya keluar dari ruangannya,"Kamu tidak bisa pulang bareng si Randy itu. Apalagi nonton bareng dia. Jangan mimpi! Aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang,"gumam Andi kemudian kembali melanjutkan pekerjaan nya dengan hati senang.


Di lantai bawah, Kanaya nampak sedang mencari keberadaan Randy.


"Pak Randy!"panggil Kanaya saat melihat Randy yang seperti sedang mencari seseorang. Sudah bisa di pastikan jika Randy sedang mencari dirinya.


"Eh, akhirnya ketemu juga. Aku mencari kamu dari tadi,"ujar Randy tersenyum manis.


"Maaf, Pak. Saya tidak jadi pulang bersama bapak. Saya akan lembur malam ini,"ujar Kanaya tidak enak hati.


"Oh, kamu akan lembur di ruangan Tuan Andi atau Tuan Rayyan?"tanya Randy yang tahu, jika Rayyan dan Andi lembur, maka akan meminta office girl atau office boy untuk menemani mereka.


"Di ruangan Tuan Andi, Pak,"sahut Kanaya.

__ADS_1


"Oh, ya sudah. Lain kali saja kita nonton. Kalau begitu, aku pulang duluan, ya!"pamit Randy yang sebenarnya merasa kecewa karena tidak bisa pulang bersama Kanaya.


"Iya,"sahut Kanaya tersenyum tipis merasa tidak enak hati pada Randy.


Setelah memberitahu Randy bahwa dirinya tidak bisa pulang bersama Randy, Kanaya pun bergegas kembali ke ruangan Andi.


"Huff.. Nasib.. Nasib.. Baru juga mau dapat gebetan, tapi sudah dapat halangan. Padahal dari sekian banyak pria yang berusaha mendekati aku, hanya Pak Randy yang cocok dengan seleraku,"keluh Kanaya hanya dapat menghela napas berkali-kali.


Kanaya mengetuk pintu ruangan Andi dan baru masuk setelah Andi mengizinkan dirinya masuk.


"Kamu lihat berkas-berkas ini! Susun berkas-berkas ini dengan rapi. Setelah itu, kamu masukkan kertas-kertas di atas meja sofa itu ke dalam Paper shredder. Kamu tahu, 'kan, apa itu Paper Shredder dan cara mengoperasikan mesin itu?"tanya Andi menatap Kanaya seraya mengernyitkan keningnya, tidak mengetahui apakah Kanaya bisa mengoperasikan Paper Shredder atau tidak.


"Iya, Tuan, saya tahu. Paper Shredder merupakan alat untuk mencacah atau menghancurkan kertas. Menghancurkan dokumen penting, mengurangi tumpukan berkas yang sudah tidak terpakai lagi, sehingga kita bisa mengurangi resiko penggunaan berkas penting untuk hal jahat. Selain itu, Paper Shredder juga membantu mengurangi volume sampah kertas, sehingga limbah kertas yang tertampung lebih banyak sebelum mengirimnya ketempat pembuangan,"sahut Kanaya yang memang sudah tahu apa itu Paper Shredder dan cara mengoperasikan mesin itu.


"Bagus. Otakmu lumayan encer juga. Ingat untuk menghilangkan paper klip dan staples yang ada pada kertas. Walaupun Paper Shredder di kantor kita bisa merobek staples standar dan klip kertas dengan mudah, tapi akan lebih baik, jika kamu menghilangkan paper klip dan staplesnya agar bilah pemotongannya tidak cepat rusak,"ujar Andi memperingati.


"Iya, Tuan,"sahut Kanaya dalam hati berkata,"Dia pikir aku bodoh apa? Walaupun aku dari desa dan hanya lulusan SMA, tapi aku rajin membaca dan tidak bunet, alias buta internet,"gerutu Kanaya dalam hati seraya merapikan berkas-berkas yang ada di meja Andi.


Sedangkan Andi nampak mengetik dengan cepat tanpa melihat papan keyboard laptopnya. Mata pemuda itu fokus pada layar laptopnya.


"Cepat sekali orang ini mengetik,"gumam Kanaya dalam hati melirik Andi seraya menyusun berkas-berkas yang ada di meja Andi.


Setelah menyusun berkas-berkas di meja Andi, Kanaya keluar dari ruangan Andi membawa kertas-kertas yang akan dihancurkan.


"Ay, kamu pergi ke bawah dan tunggu makanan pesanan ku,"titah Andi tanpa menoleh pada Kanaya. Mata pemuda itu tetap fokus pada kertas yang di pegangnya.


"Deg"


Jantung Kanaya terasa berhenti berdetak mendengar panggilan Andi padanya.


"A.. Apa? Dia tadi memanggil aku 'Ay' ? Tidak seorang pun yang memanggil namaku seperti itu. Manis sekali! Aku bahkan tidak terpikirkan bahwa namaku bisa dipanggil semanis itu,"gumam Kanaya dalam hati.


"Kenapa masih diam di situ? Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Pengantar makanannya akan segera sampai,"ujar Andi seraya mengernyitkan keningnya menatap Kanaya yang masih terdiam di depan pintu ruangannya.


"Ah, iya,"sahut Kanaya yang terkejut karena di tegur Andi. Gadis itu pun bergegas keluar dari ruangan Andi menuju lantai bawah.


"Selalu saja seperti itu. Dia mengangkat aku tinggi, lalu menjatuhkan aku. Memanggil ku dengan panggilan yang begitu manis. Tapi, setelah mulutnya kembali mengeluarkan kata-kata pedas,"gerutu Kanaya sambil terus berjalan menuju lift.


Tak lama kemudian, Kanaya pun kembali ke ruangan Andi dengan membawa makanan, minuman dan buah-buahan pesanan Andi.


"Tuan, apakah anda akan makan sekarang?"tanya Kanaya seraya meletakkan makanan dan minuman yang di bawanya ke atas meja sofa.


"Hum,"sahut Andi masih fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Kanaya menelan salivanya kasar melihat makanan, minuman dan buah-buahan yang di pesan Andi.


"Astagaa.. Semua makanan ini aroma dan penampilannya benar-benar menggugah selera. Apa orang itu bisa menghabiskan semua makanan ini sendirian? Enak banget jadi orang kaya, bisa makan apa saja yang mereka suka. Perut ku jadi tambah lapar. Saat dia sedang makan nanti, aku akan mencari makanan di luar,"gumam Kanaya dalam hati seraya menata makanan di atas meja.


"Makanannya sudah siap, Tuan,"ucap Kanaya setelah selesai menata makanan dan minuman itu.


"Hum,"sahut Andi kemudian meletakkan kertas yang sedang di bacanya dan berjalan menuju sofa.


"Tuan, saya..."


"Duduklah dan makan! Makan saja apa yang kamu suka!"ujar Andi memotong kata-kata Kanaya.


Kanaya yang ingin pamit pergi mencari makanan pun terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Andi.


"Apa?! Maksudnya... Dia mengajak aku makan bersama dia?"gumam Kanaya merasa tidak percaya jika Andi mengajaknya makan bersama.


"Kenapa masih berdiri bengong di situ? Apa kamu tidak ingin makan? Tidak lapar? Atau sedang diet?"tanya Andi yang melihat Kanaya masih diam berdiri di tempatnya,"Kalau tidak ingin makan, lanjutkan pekerjaan mu! Jika mau makan, cepatlah duduk!"lanjut Andi yang mulai menyantap makanannya.


"Iya,"sahut Kanaya menghela napas kasar,"Selalu saja begitu. Dia membuat aku senang karena di ajak makan, lalu melontarkan kata-kata pedas yang tidak enak di dengar,"gerutu Kanaya dalam hati.


Beberapa jam kemudian, Andi pun sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Ayo pulang! Aku akan mengantar kamu pulang,"ujar Andi tanpa menatap Kanaya.


"Eh, dia akan mengantarkan aku pulang? Kebetulan sekali. Aku tidak perlu repot-repot mencari kendaraan umum. Apalagi malam-malam seperti ini, 'kan, rawan kejahatan,"gumam Kanaya yang merasa senang karena Andi mau mengantarkan dirinya pulang.


"Kenapa masih diam di situ? Apa kamu tidak ingin pulang? Kamu ingin menginap di kantor ini?"tanya Andi yang lagi-lagi membuat Kanaya yang sempat senang menjadi kesal.


"Selalu saja seperti itu. Membuat aku senang, lalu membuat aku kesal. Bersama orang ini membuat aku seperti naik wahana roller coaster. Diluncurkan dengan cepat ke atas, lalu diturunkan dengan cepat ke bawah,"gerutu Kanaya dalam hati.


...🌟🌟🌟...


...Caraku mencintaimu, tak secara gamblang di depanmu. Diam-diam memperhatikan dan mendoakan mu....


...Mencintaimu layaknya pengagum rahasia. Karena lidah ini terlalu kelu untuk berkata cinta....


...Love in silence....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2