
Naima duduk di tepi ranjangnya. Wanita itu menghela napas berkali-kali menatap foto dirinya, mendiang suaminya dan kedua putranya. Kemudian beralih menatap foto dirinya dan mendiang suaminya. Sampai saat ini, Naima masih mencintai mendiang suaminya. Kepergian suaminya ke sisi-Nya yang mendadak membuat Naima sangat terpukul. Menyimpan kesedihannya sendiri dan mengalihkannya dengan berkumpul bersama teman-teman sosialitanya untuk melupakan segala kesedihan dan kesepiannya.
"Jika Hendrik memang mencintai wanita itu dan benar-benar berubah karena wanita itu, apa aku harus merestui mereka, pa?"tanya Naima menatap foto suaminya dengan mata yang berkaca-kaca,"Tapi.. kenapa harus mantan kupu-kupu malam? Tidak masalah jika tidak sederajat dengan kita seperti Aurora. Tapi... mantan kupu-kupu malam.. Walaupun anak itu brengseek, aku yakin pasti ada gadis baik-baik yang mau menjadi pendamping hidupnya. Tidak harus menikah dengan mantan kupu-kupu malam,"
Rayyan masuk ke dalam kamarnya dan melihat Aurora sedang berbaring di atas sofa Tantra seraya memainkan handphonenya. Wanita itu beranjak duduk saat melihat Rayyan masuk ke dalam kamar mereka.
"Kenapa kamu belum tidur?"tanya Rayyan seraya menghampiri Aurora.
"Aku menunggumu. Kamu bicara apa sama mama? Kenapa lama sekali?"tanya Aurora, menatap Rayyan yang sudah duduk di sampingnya.
"Aku menyuruh mama melihat kakak di kantornya. Agar mama tahu kalau kakak sudah berubah,"sahut Rayyan yang memang tidak bohong.
Aurora nampak tidak puas dengan jawaban Rayyan. Aurora yakin jika Rayyan dan mamanya pasti membicarakan soal Hendrik dan Sumi.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?"tanya Rayyan memicingkan sebelah matanya menatap Aurora.
"Kamu.. kamu tidak bicara soal kakak dan Sumi?"tanya Aurora ragu.
"Kenapa? Kamu sangat penasaran?"tanya Rayyan tersenyum tipis.
"Issh.. aku bertanya, kamu malah balik bertanya,"sahut Aurora bersungut-sungut.
"Soal itu, biar kakak sendiri yang bicara pada mama. Yang akan menikah, 'kan, kakak.
Bukan aku,"sahut Rayyan seraya memeluk Aurora dari samping, meletakkan dagunya di atas bahu Aurora.
"Apa kira-kira mama akan merestui hubungan mereka? Sumi adalah mantan kupu-kupu malam. Aku tidak yakin mama akan merestui hubungan mereka,"ujar Aurora menghela napas panjang.
"Tidak usah memikirkan hal-hal yang membuat kamu merasa terbebani. Bukankah jodoh, rejeki dan mati sudah diatur sebelum kita lahir ke dunia ini? Jadi, kita tidak perlu merisaukan apapun. Jalani saja hidup kita sebaik yang kita mampu. Karena sekuat dan sekeras apapun kita berusaha, jika sesuatu itu bukan ditakdirkan untuk kita, maka kita tidak akan pernah memilikinya. Namun bukan berarti kita pasrah dalam menjalani hidup. Kita harus tetap memiliki mimpi dan harapan agar kita bisa bersemangat menjalani hidup. Kalaupun harapan dan impian kita itu tidak bisa menjadi kenyataan, berarti itu bukanlah yang terbaik untuk kita. Kecewa karena apa yang kita harapkan dan impikan tidak sesuai ekspektasi itu wajar saja. Tapi Jangan membuat kita putus asa dan patah semangat. Yakinlah! Semua akan baik-baik saja selama kita tetap berusaha dan berpikir positif,"ujar Rayyan panjang lebar.
"Bicara itu mudah, Ray. Semudah membalikkan telapak tangan. Yang sulit itu adalah merealisasikannya. Karena praktek tidak semudah teori,"sahut Aurora menghela napas panjang.
"Aku tahu. Tapi, bukankah kita harus tetap berusaha?"ujar Rayyan seraya mengelus perut Aurora.
"Tentu saja. Saat kita lapar, nasi dan lauk pauk diatas piring yang sudah berada di depan mata kita pun, tidak akan masuk sendiri ke dalam mulut kita, jika tidak ada usaha. Kita harus tetap berusaha mengambilnya dari piring dan menyuapkan ke dalam mulut kita agar kita bisa memakannya,"
__ADS_1
"Istri ku pintar sekali. Kalau begitu, aku akan memberimu hadiah,"ucap Rayyan tersenyum miring.
Aurora mengernyitkan keningnya menatap Rayyan. Dan beberapa saat kemudian...
"Rayy!"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan sudah mengangkat tubuhnya. Aurora reflek melingkarkan kedua tangannya di leher Rayyan.
"Kamu mau apa?"tanya Aurora.
"Menurut mu?"tanya Rayyan seraya merebahkan tubuh Aurora di atas ranjang.
"Haiss.. kamu bukan memberiku hadiah. Tapi, meminta hadiah,"gerutu Aurora saat Rayyan sudah mengungkung tubuhnya.
"Dedek bayinya pengen ditengok sama papanya,"bisik Rayyan di telinga Aurora.
"Modus,"sahut Aurora namun tersenyum tipis.
***
Naima menatap gedung yang ada di depannya. Perlahan wanita paruh baya itu melangkah memasuki gedung itu. Melihat sibuknya orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Asisten Hendrik yang telah dihubungi Andi pun menyambut kedatangan Naima. Naima tidak langsung menemui Hendrik, tapi berkeliling melihat-lihat kantor tempat anaknya bekerja itu. Hingga akhirnya Naima tiba di tempat pemotretan. Putranya itu nampak fokus melakukan pemotretan, hingga tidak menyadari kehadirannya.
"Kak, nanti siang makan bareng, yuk!"ajak model bertubuh seksi yang baru saja di potret Hendrik.
"Maaf! Aku sudah punya janji makan siang dengan orang lain,"sahut Hendrik tanpa melihat pada model itu. Mata pria tampan itu fokus pada kameranya.
"Tumben, dicuekin? Biasanya kalau ada yang bening sedikit langsung di goda,"gumam Naima lirih.
Naima tahu benar bagaimana sifat putranya itu. Selalu tebar pesona di depan semua wanita. Namun, kali ini malah terlihat acuh, walaupun wanita yang mendekatinya itu cantik.
"Tuan!"panggil asisten Hendrik.
"Aku ada waktu satu setengah jam untuk istirahat, 'kan? Setelah itu baru menemui klien,"ujar Hendrik dengan mata yang fokus pada kameranya, melihat satu persatu hasil pemotretannya tadi.
"Nyonya Naima ingin bertemu dengan anda,"ujar asisten Hendrik.
"Mama? Dimana?"tanya Hendrik antusias.
__ADS_1
"Itu,"ucap asisten Hendrik menunjuk pada Naima yang berjalan menghampiri Hendrik.
"Mama.."ucap Hendrik kemudian mengulas senyum. Ada perasaan bahagia saat mamanya menghampiri dirinya di tempatnya bekerja.
"Mama sudah lama tidak melihat kamu,"ujar Naima dengan seulas senyuman.
"Ayo, kita ke ruangan pribadi ku!"ucap Hendrik penuh senyuman merangkul wanita yang telah mengandung dan membesarkan dirinya itu menuju ruangan pribadinya.
"Ruangan kamu nyaman juga, Hen,"ujar Naima setelah mereka masuk ke dalam ruangan pribadi Hendrik.
"Iya,.ma. Rayyan benar-benar pintar mengatur segalanya. Di ruangan ini, aku merasa seperti berada di rumah sendiri,"sahut Hendrik jujur adanya.
"Oh, ya? Jadi, kamu berencana untuk tinggal di sini dan tidak mau pulang?"tanya Naima memicingkan sebelah matanya.
"Bukan begitu juga konsepnya, ma. Hanya saja, kalau aku menginap di sini, aku lebih efisien waktu,"
"Ohh.. mama kira kamu tidak berniat untuk pulang lagi,"
"Walaupun aku pulang, aku juga jarang ketemu sama mama. Mama, 'kan, selalu menginap dan bepergian dengan teman-teman sosialita mama,"sahut Hendrik yang memang benar adanya.
"Hen, mama ingin bicara dengan kamu,"ucap Naima dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Mama ingin bicara soal apa?"tanya Hendrik yang jadi ikut serius.
"Mama sudah mendengar semuanya dari adik kamu. Jadi, mama ingin bicara soal niat kamu menikahi wanita itu,"
Hendrik menghela napas panjang mendengar perkataan mamanya itu. Sepertinya dirinya harus siap-siap berdebat dengan wanita yang telah mengandung dan membesarkannya itu.
"Ma, aku mencintai dia. Dan aku ingin hidup bersama dengan dia. Walaupun mama menentang hubungan kami, aku akan tetap menikahi dia,"ucap Hendrik tegas, tenang dan tanpa keraguan. Menegaskan pendiriannya sebelum mamanya membahas lebih jauh mengenai keputusannya itu.
"Walaupun mama tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi setelah kamu menikahi dia?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued