Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
188. Rumit


__ADS_3

"Tok! Tok! Tok!"


"Masuk!"ucap Sumi dari dalam.


"Ceklek "


"Kau?"Naima tidak bisa lagi berkata-kata. Wanita paruh baya itu nampak terkejut saat melihat Sumi. Untuk beberapa saat, Naima diam terpaku di pintu menatap Sumi.


Sedangkan Sumi sendiri juga tidak kalah terkejutnya dengan Naima. Sumi tahu pasti, siapa wanita yang berada di depannya saat ini. Yaitu ibu mertua sahabatnya, sekaligus ibu kandung dari Hendrik dan Rayyan suami sahabatnya.


"Sejak kapan kamu mewarnai rambut kamu menjadi pirang, Ra? Kamu sedang mengandung. Kenapa mewarnai rambut kamu seperti itu? Tidak baik bagi ibu hamil mewarnai rambut, Ra,"ujar Naima yang tadi sempat terkejut. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Sumi yang di sangka nya adalah Aurora.


"Saya.. "


"Mama tidak marah, Ra!,"ucap Naima memotong kata-kata Sumi. Menghela napas berat seraya memegang kedua pundak Sumi,"Mama hanya mengatakan apa yang mama ketahui. Mama mengatakan ini demi kebaikan kamu dan juga cucu mama. Dalam pewarna rambut itu ada zat kimia nya, Ra. Walaupun cuma sedikit, tapi akan lebih baik jika kamu tidak mewarnainya. Kamu tetap terlihat cantik, kok, walaupun dengan warna rambut blue black kamu yang sudah agak memudar. Rayyan tidak akan pernah meninggalkan kamu hanya karena warna rambut kamu memudar. Rayyan itu sudah cinta mati sama kamu, Ra. Jadi, tidak mungkin Rayyan akan berpaling dari kamu. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung anaknya,"ujar Naima panjang lebar, masih mengira wanita yang ada di depannya itu adalah Aurora menantunya. Tidak bisa membaca ekspresi wajah Sumi. Mengira Aurora takut pada dirinya.


"Ternyata sekarang ibu mertua kamu sudah mau menerima kamu dan menyayangi kamu, Ra. Selamat, ya ,Ra! gumam Sumi dalam hati ikut senang.


"Sa.."


"Ayo, duduk!"ucap Naima memotong kata-kata Sumi,"Tidak baik jika ibu hamil terlalu lama berdiri. Nanti kamu kecapekan. Oh, iya, mama tadi, 'kan, kesini mau bertemu dengan yang punya restoran ini. Mama mau minta izin ingin bicara sama salah satu karyawannya. Dan kamu, Ra, kenapa kamu di sini? Oh, iya, bukannya kamu temannya.. wanita yang bernama.. aduh, siapa, ya? Kok, mama jadi lupa, ya? Kamu juga ingin bertemu dengan dia? Siapa, sih, namanya? Mama lupa,"tanya Naima yang nampak mengingat ingat nama wanita yang ingin ditemuinya.


"Nyonya, saya bukan Aurora. Saya adalah Sumi Sumarti. Miti,"ucap Sumi yang sedari tadi kata-katanya selalu di potong Naima


Naima yang mendengar kata-kata Sumi pun terkejut. Selain karena suaranya yang berbeda dari suara Aurora, juga karena pengakuan Sumi.

__ADS_1


"Ka.. kamu? Kamu...bukan Aurora?"tanya Naima tidak percaya.


Naima mengamati wajah wanita di depannya itu dengan seksama. Sangat mirip dengan Aurora, tapi dengan warna rambut yang berbeda dan tahi lalat yang terdapat di wajahnya. Tahi lalat yang tidak dimiliki Aurora.


"Bukan. Saya Sumi Sumarti. Miti,"ucap Sumi mengulangi kata-katanya.


"Miti?"gumam Naima yang masih bisa didengar Sumi. Naima masih menatap Sumi dengan tatapan tidak percaya.


"Iya. Benar,"sahut Sumi tenang.


"Dia Miti? Berarti dia wanita yang di sukai oleh Hendrik? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Aurora? Jadi, waktu aku kecelakaan sekitar satu bulan yang lalu, aku tidak berhalusinasi?"Naima jadi teringat waktu dirinya kecelakaan. Waktu itu Naima mengira dirinya mengalami halusinasi melihat Aurora ada dua dengan warna rambut yang berbeda. Ternyata wanita yang mirip dengan Aurora waktu itu adalah Sumi, alias Miti.


"Kamu saudara Aurora?"tanya Naima yang merasa wanita di depannya itu terlalu mirip dengan Aurora.


"Bukan. Saya adalah teman Aurora,"


Sumi menghela napas mendengar pertanyaan Naima,"Maaf! Bukankah tadi nyonya ingin berbicara dengan salah satu karyawan saya? Bisa anda katakan siapa namanya?"tanya Sumi yang enggan menjawab pertanyaan Naima. Terlalu rumit untuk menjelaskan bagaimana dirinya bisa mirip dengan Aurora.


"Nama kamu Miti, 'kan? Berarti saya ingin bertemu dengan kamu,"sahut Naima.


"Iya. Saya Miti,"sahut Sumi masih terlihat tenang. Walaupun dalam hati,"Sepertinya aku harus siap-siap dihina dan direndahkan. Terima sajalah. Mau bagaimana lagi?"Sumi hanya bisa menyiapkan telinga dan hatinya untuk menerima kata-kata yang pastinya akan membuat sakit hatinya.


Melihat wajah Sumi, Naima jadi teringat pembicaraannya dengan Hendrik waktu itu..


"Lalu, mau sampai kapan kamu akan seperti ini, Hen? Apa kamu mau selamanya hidup membujang? Tidak ingin berkeluarga?"

__ADS_1


"Kalau Rayyan mau menceraikan Aurora, aku akan menikahi dia. Aku akan berhenti menjadi seorang Casanova dan akan menekuni hobi ku menjadi fotografer hingga aku bisa sukses dan bisa menghidupi keluarga kecil ku bersama Aurora nanti,"


Naima menghela napas dalam mengingat pembicaraannya dengan Hendrik itu,"Apa Hendrik ingin menikahi wanita ini karena wajahnya mirip dengan Aurora? Hendrik terobsesi pada Aurora? Wanita ini mantan kupu-kupu malam dan wajahnya sangat mirip dengan Aurora. Sedangkan dia bukan saudara Aurora. Kenapa aku merasa aneh sekali dengan semua ini? Aku merasa ada yang janggal. Apa sebenarnya yang terjadi?"gumam Naima dalam hati.Entah mengapa Naima merasa hubungan antara Sumi, Aurora dan Hendrik sangat rumit


"Apa kamu mencintai putra saya?"tanya Naima setelah beberapa saat terdiam. Tidak menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam hatinya.


"Jujur, saya tidak mencintai putra anda,"sahut Sumi membuat Naima sangat terkejut.


"Kamu tidak mencintai putra saya? Tapi, putra saya mengatakan akan menikah dengan kamu. Sebenarnya, bagaimana hubungan kamu dan putra saya?"tanya Naima yang merasa semuanya benar-benar semakin rumit.


"Putra anda memang mengatakan ingin menikahi saya. Saya menolaknya karena saya tidak mencintai putra anda. Dan saya juga sadar sesadar sadarnya, jika saya tidak pantas untuk putra anda. Tidak pantas masuk dalam keluarga besar anda. Tapi, putra anda terus memaksa saya untuk menikah dengannya. Putra anda bahkan mengancam akan menghamili adik saya jika saya tidak bersedia menikah dengan dia,"jelas Sumi jujur adanya.


Naima menarik napas dalam-dalam mendengar penjelasan Sumi. Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya sendiri. Kepalanya terasa pusing dan otaknya terasa kusut. Entah bagaimana dirinya menghadapi masalah ini.


"Jadi, kamu tidak mencintai putra saya dan hanya terpaksa setuju menikah dengan putra saya karena kamu di ancam putra saya?"


"Iya, nyonya,"sahut Sumi jujur.


"Baiklah. Saya akan bicara dengan putra saya mengenai masalah ini. Kalau begitu, saya permisi,"ucap Naima yang akhirnya memilih meninggalkan tempat itu. Kepalanya terasa berdenyut sakit, merasa semua masalah ini benar-benar menjadi benang kusut.


"Syukurlah! Padahal aku tadi sudah menyiapkan telinga dan hatiku untuk menerima cacian dan makian mertua Aurora itu. Namun, ternyata semua itu tidak terjadi,"gumam Sumi merasa lega.


Sedangkan Naima terus berjalan keluar dari restoran Sumi menuju parkiran dengan segudang tanda tanya di hatinya.


"Apa Hendrik hanya terobsesi pada Aurora hingga ingin menikah dengan wanita yang wajahnya mirip dengan Aurora? Dan wanita itu, dia hanya teman Aurora? Tapi mengapa wajahnya bisa sangat mirip dengan Aurora? Sepertinya aku harus mengumpulkan anak dan menantuku untuk mengurai semua yang terasa ruwet dan kusut ini,"gumam Naima dalam hati.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2