
"Kamu ingin pulang, atau sengaja menghindar dariku?"tanya Rayyan menatap datar pada Aurora.
"Terserah apa penilaian mu,"sahut Aurora ketus.
Aurora berbaring membelakangi Rayyan. Jenuh rasanya dengan sikap Rayyan. Selain jenuh dengan sikap Rayyan dan ingin beristirahat dengan tenang, Aurora juga ingin menghilang sementara waktu dari kota itu. Aurora tidak dapat mengabaikan peringatan dari Sumi soal Mami yang sedang mencari dirinya. Enggan bicara pada Rayyan soal masalahnya. Selama menikah dengan Rayyan, jangankan bicara dari hati ke hati, bahkan bicara seperti seorang teman pun tidak pernah.
"Kau! Beraninya bersikap seperti itu pada ku!"geram Rayyan. Pria itu menjadi marah saat Aurora berbaring membelakangi dirinya. Dengan wajah yang suram, Rayyan meletakkan laptopnya di atas nakas.
"Akkh! Kau menyakiti aku!"pekik Aurora saat dengan kasar Rayyan membalikkan tubuhnya.
"Sepertinya aku terlalu memanjakan kamu, hingga kamu mulai berani membangkang, padaku,"ucap Rayyan mencengkram pipi Aurora.
"Lepaskan! Kamu menyakiti aku!"pekik Aurora menepis tangan Rayyan lalu beranjak duduk.
"Bugh"
"Bugh "
"Bugh"
"Akkh! Lepaskan!"pekik Aurora.
Aurora berusaha menyerang Rayyan dengan meninju perut, ulu hati dan wajah Rayyan, tapi Rayyan berhasil menangkis semua serangan Aurora dan mencekal kedua tangan Aurora.
"Dengan ilmu yang baru seujung kuku ini kamu berani melawan aku?"ujar Rayyan mencengkram tangan Aurora.
"Lepaskan aku! Dasar iblis! Aku benci kamu! Aku benci kamu!"pekik Aurora seraya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rayyan.
"Akkh"pekik Rayyan saat Aurora menggigit tangannya dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya Rayyan melepaskan tangan Aurora.
"Kau! Beraninya!"geram Rayyan menahan emosinya.
__ADS_1
"Kenapa? Ingin mengancam aku dengan keluargaku? Dengan temanku? Atau dengan kafe dan toko kue ku? Hanya itu, 'kan, yang bisa kamu lakukan? Bisa mu hanya mengancam dan menindas orang lain. Apa kamu tidak malu menindas wanita lemah seperti aku? Kau mengurung aku seperti hewan peliharaan. Kamu meniduri aku sesuka hatimu tanpa memikirkan bagaimana keadaan ku dan perasaan ku,"
"Kamu anggap apa aku ini? Apa kamu pikir aku ini budak ranjang mu? Kamu menjerat aku atas dasar hutang budi. Melanggar kesepakatan yang kita buat. Kamu menindas dan memperlakukan aku sesuka hatimu. Apa kamu pikir aku tidak punya perasaan? Apa kamu pikir aku tidak punya hati?"pekik Aurora mengeluarkan unek-unek yang di pendamnya selama ini. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
Rayyan membuang napas kasar,"Sudah aku bilang, menurut lah padaku, maka aku tidak akan berbuat kasar padamu,"ujar Rayyan menahan emosinya.
"Lepaskan aku! Aku mohon! Aku tidak ingin lagi bersama mu. Aku ingin berpisah dari mu,"pinta Aurora dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa semua yang aku berikan padamu masih kurang, hingga kamu ingin berpisah dari ku?"tanya Rayyan dengan wajah datarnya.
"Apa kamu pikir semua harta yang kamu berikan bisa membuat aku bahagia? Aku tidak ingin hidup dengan orang yang hanya mencintai tubuh ku. Aku mohon! Ceraikan aku!"pinta Aurora dengan butiran kristal yang terus jatuh dari kelopak matanya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Selamanya, kamu akan tetap menjadi istriku,"sahut Rayyan dengan suara datar.
"Kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istri mu. Kamu hanya menjadikan aku pemuas nafsu mu. Mainan ranjang mu. Aku tidak ingin hidup bersama mu. Aku ingin hidup dengan orang yang mencintai aku dan aku cintai. Aku ingin bercerai dengan kamu,"ujar Aurora kembali meninggikan suaranya, memalingkan wajahnya yang basah oleh air mata.
Rahang Rayyan mengeras mendengar penuturan Aurora,"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu,"ucap Rayyan dengan wajah yang menjadi dingin.
"Jangan menguji kesabaran ku!"ucap Rayyan menatap tajam Aurora.
"Kenapa? Kamu ingin mengancam aku lagi? Aku sudah muak dengan ancaman kamu! Lakukan saja apa yang kamu mau! Bunuh saja aku! Aku tidak peduli!"pekik Aurora putus asa, ingin beranjak dari ranjang itu, tapi Rayyan langsung menarik tubuh Aurora hingga jatuh dalam pelukannya. Pria itu memeluk erat tubuh Aurora, hingga Aurora tidak bisa melepaskan diri.
Mana mungkin Rayyan melepaskan Aurora. Pria itu terlanjur merasa nyaman dengan Aurora disampingnya. Setelah putus dari Dila, tidak ada perempuan yang bisa menarik hatinya selain Aurora. Perlahan Rayyan melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi Aurora hingga mereka saling menatap.
"Tetaplah berada di sisiku! Lakukan apa yang kamu inginkan! Aku tidak akan mengekang mu lagi. Tapi jangan pernah meninggalkan aku! Aku akan berusaha lebih baik padamu,"ucap Rayyan mencium bibir Aurora untuk beberapa saat dengan lembut.
Rayyan melepaskan pagutan bibirnya,"Tidurlah!"ucap Rayyan lembut, kemudian beranjak dari ranjang. Pria itu masuk ke dalam walk-in closet, lalu mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian pria itu keluar dari walk-in closet dan mengambil handphonenya lalu meninggalkan kamar itu tanpa berkata apapun lagi.
Aurora hanya diam terpaku menatap kepergian pria itu. Entah mengapa Aurora melihat ada kesepian dan juga luka di mata Rayyan saat mengucapkan agar Aurora tetap tinggal di sisinya. Aurora menghela napas berat, kemudian membaringkan tubuhnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan pria itu? Kenapa aku merasa iba saat melihat tatapan matanya yang seperti tadi?"gumam Aurora.
__ADS_1
Rayyan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang melaju meninggalkan rumah megah itu. Andi yang mengemudikan mobil itu nampak melirik ke kaca spion dalam mobil. Ada kesedihan yang terpancar di wajah majikannya itu.
"Apa Tuan dari bertengkar dengan nyonya? Wajahnya terlihat sedih,"gumam Andi lirih.
"Tuan, apa Tuan ingin bertemu dengan Tuan Aiden?"tanya Andi, seraya kembali melirik Rayyan dari kaca spion mobil bagian dalam.
"Tidak,"sahut Rayyan.
"Apa Tuan bertengkar dengan nyonya?"celetuk Andi.
"Dia ingin bercerai dariku,"sahut Rayyan lesu.
"Apa?"tanya Andi terkejut.
"Ckiiitt.."
"Apa kamu tidak bisa mengemudi?"bentak Rayyan saat Andi tiba-tiba mengerem mendadak.
"Nyonya ingin bercerai dengan Tuan, kenapa?"tanya Andi seraya membalikkan tubuhnya menghadap Rayyan.
"Dia bilang uang yang aku berikan tidak bisa membuatnya bahagia. Dia ingin hidup dengan orang yang di cintai dan mencintainya. Dia bilang aku kasar, pemaksa dan tidak berperasaan,"sahut Rayyan seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Apa Tuan benar-benar melakukan itu? Tuan, wanita itu suka dengan pria yang romantis dan lembut. Sebanyak apapun Tuan memberikan uang, jika Tuan kasar dan tidak memberikan kasih sayang, mereka tidak akan bahagia,"ujar Andi.
...π"Kebahagiaan tidak bisa diukur, apalagi dibeli dengan harta."π...
..."Nana 17 Oktober"itu...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued