Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
92. Dua Hari


__ADS_3

Malam semakin larut, suara nyanyian hewan di pedesaan pun terdengar seperti musik yang mengalun tenang di pendengaran. Tidak ada suara berisik lalu lalang kendaraan seperti di kota yang non stop dua puluh empat jam sehari. Semua terlihat sangat tenang dan damai saat malam menyapa.


Udara yang tidak terasa panas. Masih bersih dan terasa sejuk, walaupun tanpa AC . Karena belum terlalu banyak rumah penduduk. Tidak ada pula pabrik yang mencemari udara dan lingkungan sekitar. Semua masih alami.


Di dalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar, sepasang suami-isteri sedang berbaring berpelukan. Rayyan tersenyum menatap wajah lelah Aurora yang berada di dalam dekapannya. Wanita itu nampak kelelahan setelah beberapa saat yang lalu melayani dirinya.


Rayyan membelai rambut Aurora dengan lembut, kemudian mengecup lembut kening Aurora. Perlahan memejamkan matanya, menyusul Aurora ke alam mimpi.


Beberapa jam kemudian, suara alarm handphone di atas nakas membuat Rayyan terbangun dari tidurnya yang terasa lelap. Pria itu menggapai handphonenya di atas nakas, lalu mematikan alarm. Menatap wajah Aurora yang masih terlelap dengan damai. Wanita itu sama sekali tidak terganggu dengan suara alarm yang berbunyi barusan.


Seulas senyum terbit di bibir pria tampan itu. Mengingat bagaimana semalam istrinya itu melayani dirinya. Dengan perlahan, Rayyan melepaskan dekapannya pada Aurora. Tidak ingin tidur wanita yang di cintainya itu terganggu. Rayyan menyelimuti tubuh Aurora kemudian beranjak turun dari ranjang, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, pria itu sudah selesai membersihkan diri. Memakai pakaiannya, dan menyisir rambutnya dengan rapi. Rayyan menghampiri Aurora yang masih terlelap di atas ranjang. Pria itu duduk di tepi ranjang lalu mengelus kepala Aurora.


"Ra! Ra!"seru Rayyan membangunkan Aurora. Namun wanita itu tidak bereaksi sama sekali dan nampak sangat lelap dalam tidurnya. Rayyan sebenarnya tidak tega membangunkan Aurora. Namun Rayyan tidak ingin pergi tanpa berpamitan pada Aurora.


"Cup"


"Cup"


"Cup"


Rayyan mencium bibir Aurora beberapa kali, bahkan sedikit menarik bibir Aurora saat akan melepaskan ciumannya. Aurora pun akhirnya terbangun karena merasa terusik dengan ulah Rayyan itu.


"Rayy.."gumam Aurora yang masih enggan untuk membuka matanya.


"Aku akan pulang. Kamu yakin tidak ingin pulang bersama ku?"tanya Rayyan seraya mengelus kepala Aurora lembut.


"Tidak,"sahut Aurora tanpa mau membuka matanya. Karena masih merasa lelah dan mengantuk.


"Baiklah! Tapi ingat! Aku cuma memberimu waktu dua hari untuk tinggal di sini. Jika sudah dua hari kamu tidak kunjung pulang, aku akan menghukum kamu. Kamu mengerti?"tanya Rayyan pada Aurora yang masih setia memejamkan mata.


"Hum,"sahut Aurora tanpa mau membuka matanya.


"Aku pergi!"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora sekilas, kemudian mengecup kening Aurora beberapa saat.


Rayyan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Aurora. Dengan perasaan tidak rela, pria itu beranjak meninggalkan kamar itu. Setelah keluar dari dalam kamar, Rayyan melihat Nala dan menghampirinya.


"Nala, jaga istri ku baik-baik! Dan kalian harus sudah pulang setelah dua hari!"titah Rayyan sekaligus memperingati.


"Baik, Tuan,"sahut Nala.

__ADS_1


"Kalian sudah mau berangkat?"tanya Bu Ella yang juga sudah bangun.


"Iya, Bu,"sahut Rayyan.


"Aurora belum bangun?"tanya Bu Ella yang tidak melihat keberadaan putri semata wayangnya itu.


"Aurora masih tidur, Bu,"sahut Rayyan.


"Anak itu,"gumam Bu Ella hendak berjalan menuju kamar Aurora.


"Biarkan saja, Bu! Aurora memang biasa bangun siang,"ujar Rayyan mencegah ibu mertuanya membangunkan istrinya.


Rayyan memang tidak pernah memaksa Aurora untuk bangun pagi. Mengingat dirinya lah yang selalu membuat Aurora kelelahan. Asalkan Aurora ada di rumah saat dirinya pulang, dan melayani dirinya di atas ranjang, itu sudah cukup bagi Rayyan.


"Kamu terlalu memanjakan Aurora, Ray,"ujar Bu Ella.


"Jika bukan saya yang memanjakan dia, lalu siapa, Bu?"sahut Rayyan tersenyum tipis. Sedangkan Bu Ella hanya menghela napas mendengar jawaban menantunya itu.


"Kalau begitu, saya pamit pulang, Bu! Titip Aurora,"pamit Rayyan.


"Iya. Hati-hati di jalan!"pesan Bu Ella.


"Iya, Bu,"sahut Rayyan.


Bu Ella berjalan menuju kamar Aurora dan saat membuka pintu kamar putrinya itu, Bu Ella hanya bisa menghela napas panjang.


"Anak itu!"gumam Bu Ella menatap Aurora yang masih terlelap bergelung selimut.


Bu Ella menutup pintu kamar putrinya itu. Kemudian masuk ke dalam dapur untuk memasak sarapan pagi dan juga beres-beres rumah.


Tanpa di minta, Nala dan supir pribadi Aurora membantu Bu Ella beres-beres rumah. Bu Ella sempat menolak untuk dibantu, tapi kedua orang itu bersikeras untuk membantu. Akhirnya Bu Ella membiarkan dua orang itu membantunya.


"La, kamu bekerja sebagai apa di rumah Rayyan?"tanya Bu Ella sambil membuat bumbu untuk membuat nasi goreng.


"Saya bekerja menjaga dan mengikuti kemana pun nyonya Aurora pergi, Bu,"sahut Nala.


"Ohh.. begitu. Lalu, apa pekerjaan Aurora setiap hari?"tanya Bu Ella mencari tahu tentang kegiatan putrinya yang sudah menikah itu.


"Nyonya mengurus toko kue dan kafe nya, Bu,"sahut Nala.


"Apa toko kue dan kafenya besar?" tanya Bu Ella penasaran.

__ADS_1


"Lumayan besar Bu,"sahut Nala.


Setelah itu, Bu Ella tidak berani bertanya apapun lagi pada Nala. Takut dibilang kemaks, alias kepo maksimal. Walaupun sebenarnya Bu Ella masih penasaran tentang Rayyan. Pria keturunan Turki yang saat ini menjadi menantu nya.


Di dalam kamar Aurora, wanita itu mulai terbangun, namun enggan untuk membuka matanya. Aurora meraba-raba sisi tempat tidur di sampingnya. Mencari keberadaan suaminya, namun tidak kunjung menemukan suaminya.


Dengan mata yang masih terasa berat, Aurora membuka matanya. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.


"Rayy..."gumam Aurora.


Wanita itu berusaha mengingat-ingat sesuatu dan menghela napas panjang setelah berhasil mengumpulkan memori di otaknya.


"Haiss... dia sudah lebih dulu pulang subuh tadi,"gumam Aurora yang baru bisa mengingatnya.


Dengan malas-malasan, Aurora beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian, Aurora sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi. Aurora melangkahkan kakinya menuju dapur dan melihat ibunya sedang membersihkan lemari es.


"Ibu masak apa?"tanya Aurora seraya membuka tudung saji.


"Nasi goreng,"sahut Bu Ella,"Kamu ini, Ra! Suami berangkat nggak di antar. Malah tidur,"gerutu Bu Ella.


"Aku lelah sekali, Bu. Semalam tidur agak larut karena Rayyan meminta jatah. Rayyan kalau minta jatah nggak cukup cuma sekali, Bu, membuat aku kelelahan setiap hari,"sahut Aurora tanpa malu sedikit pun membahas masalah ranjang dengan ibunya.


"Jangan-jangan, kamu tidak pernah tahu jam berapa suami kamu berangkat,"tebak Bu Ella seraya memicingkan sebelah matanya.


"He..he..he.. Ibu tahu saja. Rayyan sudah biasa bangun pagi dan pulang malam, Bu,"sahut Aurora enteng seraya menyendok nasi.


"Ra, sama suami itu harus perhatian. Jangan sampai suami kamu mencari perhatian dari perempuan lain. Apalagi suami kamu itu kaya, sangat tampan dan bentuk tubuhnya juga sangat bagus. Pasti banyak wanita yang ingin menjadi pendamping hidup nya. Atau mungkin juga ingin sekedar menjadi teman ranjangnya,"ujar Bu Ella panjang lebar.


"Nyonya, Tuan ingin bicara dengan Nyonya,"ujar Nala menyerahkan handphonenya, dan Aurora pun mengambilnya.


"Ada apa, Ray?"tanya Aurora.


"Tolong kamu kasih uang sama ibu, Ra! Aku kemarin nggak bawa uang cash terlalu banyak. Aku juga nggak tahu nomor rekening ibu. Kamu bisa memakai ATM untuk mengambil uang cash, atau mentransfer melalui aplikasi mobile banking kamu untuk memberi uang pada ibu.Dan ingat! Aku hanya mengijinkan kamu tinggal di sana selama dua hari. Jika lebih dari dua hari kamu. tidak pulang aku akan menghukum kamu,"ujar Rayyan, mengancam Aurora.


"Iya, aku tahu,"sahut Aurora terlihat kesal.


"Ya, sudah! Aku tutup dulu teleponnya. Aku harus menemui klien,"ucap Rayyan dari sambungan telepon.


"Hum,"sahut Aurora.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2