Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
314. Merasa Terganggu


__ADS_3

Pengurus villa itu mengambil obat penambah stamina dari kantong bajunya. Setelah itu meminum obat itu dengan air mineral dalam kemasan gelas yang dibawanya, lalu menyusul Kanaya. Hati pemuda itu berbunga-bunga membayangkan akan menikmati tubuh Kanaya malam ini.


Tidak sadar apalagi mengetahui bahaya yang sedang mengintainya. Mata tajam Andi mengamati pemuda itu dengan senyuman dingin di wajahnya.


"Ceklek"


Kanaya membuka pintu kamarnya seraya memegangi kepalanya, masih berpura-pura pusing. Setelah Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan berniat menutup pintu, tiba-tiba pintu itu di tahan oleh seseorang hingga tidak bisa tertutup.


"Hei, sayang! Bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang?"ujar orang yang tidak lain adalah pengurus villa dengan senyuman dan tatapan mesum pada Kanaya.


"Kau. Mau apa kamu ke sini?"tanya Kanaya berpura-pura menahan sakit kepala yang semakin menjadi,"Pergi kamu!"usir Kanaya seraya mendorong dada pengurus villa ke arah keluar, tapi tidak bisa,"Aduh, kepala ku pusing sekali,"keluh Kanaya, namun dengan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap pria di depannya itu.


"Aku ke sini untuk membantu kamu menghilangkan sakit kepalamu,"ucap pengurus villa itu dengan senyuman penuh arti.


"Brak"


Pengurus villa itu masuk ke kamar Kanaya dan menutup pintu kamar Kanaya, lalu meringsek masuk ke kamar Kanaya.


"Keluar dari kamarku! Atau akan aku hajar kamu!"ancam Kanaya dengan wajah berang.


"Kamu masih juga sombong dan menolak aku? Akan aku taklukkan kamu malam ini. Akan aku buat kamu merasakan surga dunia yang tidak akan pernah kamu lupakan,"ujar pengurus villa itu dengan tatapan mesum pada Kanaya.


Kanaya terus beringsut menjauh dari pengurus villa itu,"Jangan harap bisa menyentuh tubuhku! Aku tidak akan membiarkan tubuh ku di sentuh oleh laki-laki brengseek dan kotor seperti kamu!"sergah Kanaya.


"Kita lihat saja! Bagaimana kamu bisa menolak aku dan bagaimana kamu berteriak di bawah kungkungan ku,"ujar pemuda itu berusaha menangkap Kanaya.


Kanaya menepis tangan pemuda itu saat pemuda itu ingin menyentuh tubuhnya. Namun pemuda itu tidak menyerah dan terus berusaha menangkap Kanaya, namun Kanaya terus menghindari.


"Kenapa dia tetap lincah menghindar dan membuat aku kesulitan menangkap dia? Milikku sudah bereaksi, tapi aku belum bisa menangkap gadis ini,"gumam pengurus villa itu semakin tidak sabar untuk menangkap dan menggagahi Kanaya. Karena obat yang diminumnya tadi sudah mulai bereaksi dan sesuatu di balik celananya sudah mulai menggeliat.


"Akkhh"


"Brugh "


Kanaya terjatuh di atas ranjang saat pengurus villa itu berhasil mendorong tubuh Kanaya. Seketika Kanaya menjadi cemas karena sepertinya dirinya tidak bisa lagi menghindar, apalagi lari.

__ADS_1


Dengan senyuman lebar pengurus villa itu berniat menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Kanaya. Namun tiba-tiba Kanaya tersenyum jahat.


"Dugh"


"Dugh"


"Argh!"


Dengan tatapan penuh dendam dan kebencian Kanaya langsung duduk dan menendang benda pusaka pengurus villa itu saat tiba-tiba Andi yang entah dari mana datangnya menarik baju pengurus villa itu hingga tubuh pengurus villa itu tidak jadi terjatuh di atas tubuh Kanaya. Andi mengunci kedua tangan pengurus villa itu kebelakang, membiarkan Kanaya melampiaskan kemarahan dan kebenciannya pada pengurus villa itu.


"Akhh! Ampun! Sakit! Hentikan! Siapa yang memegang tangan ku? Lepaskan aku!"pekik pengurus villa itu, tapi tidak dihiraukan oleh Kanaya.


Pengurus villa itu terus meronta, tapi tidak bisa melepaskan kuncian Andi di tangannya dan tidak bisa menghindar dari pukulan dan tendangan Kanaya yang membabi buta.


Pengurus villa itu memekik kesakitan karena benda pusaka paling berharga dalam hidupnya di tendang berkali-kali oleh Kanaya. Kegaduhan itu pun membuat penghuni villa yang lain keluar dari kamar mereka dan berbondong-bondong menuju sumber suara kegaduhan, yaitu di kamar Kanaya.


"Kalian yang punya dendam terhadap bajingann brengseek, mesum, penjahat kelaminn ini bisa melampiaskan amarah kalian,"ucap Andi seraya mendorong tubuh pengurus villa itu ke arah pelayan villa yang sudah bergerombol di depan pintu kamar Kanaya itu.


Tanpa ba, bi, bu, para pelayan pria dan wanita itu menyeret tubuh pengurus villa itu keluar dari kamar Kanaya dan menghajar pengurus villa itu beramai-ramai. Pelayan wanita yang selalu dijadikan pemuas nafsuu dan pelayan pria yang sering dimarahi dengan kata-kata kasar. Mereka melampiaskan kemarahan mereka pada pengurus villa itu dengan membabi buta.


Sekarang gantian mereka yang mengumpat pengurus villa itu dengan segala kata-kata kasar yang pernah dilontarkan pengurus villa itu pada mereka.


"Cukup!"ucap Andi karena melihat pengurus villa itu sudah babak belur di hajar para penghuni villa yang dendam padanya.


"Ada apa ini?"tanya Hendrik yang tiba-tiba muncul dengan celana pendek yang kantongnya di luar, alias celananya terbalik. Baju kaos oblong yang di pakai pria itupun terbalik, gambar kaos yang seharusnya di depan malah di belakang. Rambut yang acak-acakan bagai terkena tsunami dan bekas kiss mark yang terlihat jelas di sekitar lehernya.


Tanpa sadar pria beranak satu itu telah membuat semua orang yang melihatnya mati-matian menahan tawa. Penampilan pria itu super semrawut seperti kemacetan di kota metropolitan. Sudah dapat dipastikan jika pria itu baru saja atau mungkin sedang bercinta dengan istrinya, lalu buru-buru memakai baju dan pergi ke tempat itu karena mendengar suara gaduh akibat aksi pengeroyokan penghuni villa pada pengurus villa.


"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja, mereka baru saja menghajar penjahat kelaminn itu. Dia baru saja tertangkap basah ingin melecehkan salah seorang wanita di villa ini,"jelas Andi seraya menunjuk ke arah pengurus villa yang sudah babak belur.


"Ohh.. Begitu. Jadi kamu yang sudah memicu kegaduhan ini?"ucap Hendrik dengan ekspresi wajah yang terlihat dingin dan penuh dendam menghampiri pengurus villa yang sudah terkapar itu. Semua orang pun menyingkirkan, memberi jalan pada Hendrik.


"Dugh"


"Dugh"

__ADS_1


"Dugh"


"Akhhh! Ampun!"pekik pengurus villa itu saat tiba-tiba Hendrik menendang benda pusaka nya yang sedari tadi menjadi sasaran kemarahan penghuni villa.


Hendrik menendang pengurus villa itu dengan penuh dendam, padahal dirinya bukan salah satu korban yang dilecehkan oleh pengurus villa itu.


"Bereskan dia secepatnya! Aku tidak ingin tidur anak dan keponakan ku terganggu karena kalian membuat kegaduhan,"ujar Hendrik kemudian meninggalkan tempat itu.


Semua orang yang melihat Hendrik pun tidak mengerti dengan sikap Hendrik yang terlihat sangat dendam pada pengurus villa itu. Mereka bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat pria itu terlihat begitu dendam pada pengurus villa itu, termasuk Andi. Sebab Andi merasa Hendrik tidak banyak berinteraksi dengan pengurus villa itu. Karena kakak majikannya itu selalu menempel pada istrinya seperti permen karet yang menempel di baju. Sama seperti majikannya yang selalu menempel pada nyonya-nya.


"Dasar sialan! Pria brengseek penjahat kelaminn itu benar-benar membuat ku kesal! Aku terpaksa mempercepat sesi bercinta ku dengan Miti karena kegaduhan yang mereka buat. Padahal kami baru saja menemukan gaya baru yang membuat sesi bercinta kami semakin nikmat. Tapi dia malah membuat kegaduhan dan mengacaukan segalanya,. Kalau putri ku bangun dan rewel, maka jatahku akan terpangkas karena harus menidurkan putriku,"gerutu Hendrik yang ternyata merasa sangat kesal sebab sesi bercintanya terganggu karena keributan itu.


"Ada apa? Apa yang terjadi di luar sana?"tanya Sumi saat melihat suaminya kembali masuk ke dalam kamar mereka.


"Pengurus villa ini tertangkap hendak melecehkan salah seorang wanita di villa ini,"jelas Hendrik seraya melepaskan kaos oblong dan juga celananya. Tubuh polos pria itu pun terpampang jelas di depan mata Sumi.


"Sayang, yang tadi itu seharusnya belum waktunya keluar. Kita ulang lagi, yuk!"pinta Hendrik seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya yang juga polos tanpa sehelai benang. Pria itu langsung menindih tubuh istrinya itu.


"Mau lagi?"tanya Sumi seraya memicingkan sebelah matanya.


"Hum. Kamu boleh belanja apa saja setelah kita pulang. Tapi, berikan aku full service, okey?"rayu Hendrik seraya mengusap bibir istrinya.


"Yakin mau full service? Biayanya gede, loh!"ujar Sumi seraya mengedipkan sebelah matanya dan menggigit bibir bagian bawahnya dengan gaya yang menggoda.


"Ih, sayang, kamu memang paling pintar menggoda. Apapun untuk kamu, harta, jiwa dan ragaku semuanya milikmu. Akan aku belikan tas baru. Pokoknya full service,"ucap Hendrik yang tambah gemas dengan tingkah istrinya itu.


Hendrik benar-benar tidak bosan jika sudah mengenai urusan ranjang. Sama persis dengan adiknya, Rayyan. Sebelas dua belas.


"Tas baru? Kamu pikir kamu bisa membelikan aku tas baru? Pengeluaran mu di atur oleh Rayyan. Kamu tidak akan bisa membelikan tas baru untuk aku. Dasar Casanova! Kamu pikir kamu bisa menipu istri mu ini semudah itu?"ujar Sumi seraya menjewer telinga Hendrik.


"Auwh! Ampun sayang! Please sayang! Beri aku full service! Kalau tidak, akan aku hajar pengurus villa itu sampai mati karena telah menganggu kita bercinta,"ujar Hendrik yang benar-benar kesal karena sesi bercintanya terganggu karena kegaduhan yang ditimbulkan oleh pengurus villa. Dan sulit bagi Hendrik merayu istrinya untuk melakukannya lagi


...🌸❤️🌸...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2