Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
53. Di Todong


__ADS_3

Nala mengendarai mobil majikannya menuju toko kue milik Aurora. Setelah dua jam memeriksa toko kue miliknya, Aurora dan Nala pergi ke kafe milik Aurora. Satu jam, setelah memeriksa kafenya, Aurora bermaksud untuk pulang.


"Nala, kita pulang sekarang,"ucap Aurora.


"Baik, nyonya. Saya akan menyiapkan mobilnya,"sahut Nala. Perempuan bertubuh tegap itu bergegas menuju perkiraan, menyiapkan mobil untuk majikannya.


"Nona Aurora!"panggil seorang pria bertubuh kekar yang di sebelahnya berdiri seorang pria berkepala plontos.


"𝙈𝙖𝙢𝙥𝙪𝙨! 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙧𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙢𝙞. 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙖𝙢𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙠𝙪? 𝘽𝙤𝙙𝙤𝙝! 𝘽𝙤𝙙𝙤𝙝! 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙈𝙖𝙣𝙖 𝙎𝙪𝙢𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖𝙖... 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙨𝙞𝙗 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙥𝙪-𝙠𝙪𝙥𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙖𝙣? 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠! 𝘼𝙠𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙥𝙪-𝙠𝙪𝙥𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙖𝙣,"gumam Aurora dalam hati.


"Apa anda berdua ada perlu dengan saya?"tanya Aurora bersikap setenang mungkin, walaupun tangannya sudah berkeringat dingin, dan jantungnya sudah berdegup kencang.


"Mami meminta kami membawa nona kembali,"ucap pria bertubuh kekar.


"Mami siapa, ya, maksud anda?"tanya Aurora seraya mengernyitkan dahinya, pura-pura tidak tahu.


"Nona jangan pura-pura tidak tahu! Sebaiknya nona ikut dengan kami, atau kami akan menghancurkan kafe ini,"ucap pria bertubuh kekar itu seraya memberi isyarat dengan tangannya. Tiba-tiba sekitar sepuluh dari orang-orang yang duduk di kafe itu berdiri.


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi?"


Kasak-kusuk orang -orang yang ada di kafe itu mulai ketakutan karena merasa ada yang tidak beres dengan beberapa orang yang berdiri saat ini.


"Mampus! Kali ini aku benar-benar tidak akan lolos,"gumam Aurora lirih menatap ke sekelilingnya.


"Jangan macam-macam! Polisi sebentar lagi akan datang,"ujar Aurora berusaha menakut-nakuti orang-orang suruhan Mami itu.


"Nyonya!"panggil Nala tapi langsung ditodong dengan pistol dengan dua orang pria yang berjaga di pintu.


Saat Nala sudah menyiapkan mobil di depan kafe, Nala melihat ada yang tidak beres di dalam kafe. Tidak menyangka akan langsung ditodong dengan pistol.


Hal itu pun sukses membuat para pengunjung kafe berteriak panik.

__ADS_1


"Jongkok dan angkat tangan kalian semua! Jika tidak, aku akan menembak kalian!"ancam pria bertubuh kekar itu. Semua pengunjung kafe itupun akhirnya berjongkok dan mengangkat kedua tangan mereka dengan wajah takut dan panik..


"Ikut dengan kami secara baik-baik sekarang juga! Atau saya akan menembak satu per satu para pengunjung kafe ini! Atau mungkin perempuan itu!"ancam pria bertubuh kekar itu menunjuk pada Nala.


"Jangan! Jangan menembak siapapun! Aku.. aku akan ikut dengan kalian,"ucap Aurora. Tidak mungkin mengorbankan banyak orang demi dirinya. Karena Aurora yakin, orang-orang suruhan Mami itu tidak akan berhenti sebelum dirinya ikut.


"Nyonya!"panggil Nala.


"Diam di situ atau aku akan menembak beberapa pengunjung kafe,"ancam pria bertubuh kekar hingga membuat Nala berhenti bergerak.


Amarah terlihat jelas di wajah Nala. Namun saat ini perempuan itu tidak bisa melakukan apapun.


"Ikat perempuan itu! Jika dia tidak menurut, tembak saja dia!"titah pria bertubuh kekar itu.


"Siap, bos!"sahut anak buah pria itu.


Nala tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Walaupun Nala menguasai ilmu beladiri yang tidak bisa dianggap remeh, tapi Nala tidak mungkin menang melawan sekitar sepuluh orang. Karena Nala melihat jika orang-orang itu terlihat seperti orang-orang yang terlatih. Apalagi orang-orang itu membawa senjata api. Belum lagi, nyawa para pengunjung kafe juga akan terancam.


"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙙𝙞,"gumam Nala dalam hati.


"Nona pikir kami tidak tahu? Dia itu pandai ilmu beladiri,"ucap pria bertubuh kekar itu tersenyum sinis,"Serahkan handphone nona!"pinta pria bertubuh kekar itu seraya menadahkan tangannya. Mau tak mau, Aurora pun menyerahkan handphonenya,"Cepat! Bawa dia masuk ke dalam mobil!"ucap pria itu pada anak buahnya


"Jangan sentuh aku! Aku akan ikut dengan kalian,"ucap Aurora yang menghindar saat akan di sentuh oleh dua orang suruhan Mami.


"Asal dia menurut, jangan sentuh dia!"ucap pria bertubuh kekar tadi. Pria itu tahu benar jika selama bekerja, Aurora memang tidak mau di sentuh sebelum masuk ke dalam kamar.


Aurora akhirnya berjalan keluar dari kafe itu dan di giring masuk ke dalam sebuah mobil. Sedangkan Nala di masukkan ke dalam mobil yang lain.


"Tutup mulut dan mata perempuan itu, lalu pukul hingga pingsan, agar tidak merepotkan! Ambil semua barang-barangnya!"titah pria bertubuh kekar pada anak buahnya, menunjuk pada Nala.


"Baik, bos,"sahut anak buahnya.


Tak lama kemudian, orang-orang situ Mami itu meninggal kafe

__ADS_1


"Kenapa bos membawa perempuan tadi?"tanya anak buah pria bertubuh kekar.


"Dasar bodoh! Perempuan ini berhenti menjadi kupu-kupu malam dan di jaga seorang pengawal. Bisa saja saat ini perempuannya ini menjadi peliharaan orang kaya. Jika kita meninggalkan bodyguard nya di kafe tadi, atau melepaskan dia sekarang, maka dia akan melaporkan pada majikannya. Aku tidak tahu, siapa yang memelihara perempuan ini. Jika orang yang memelihara dia mengirim orang untuk membawa dia kembali, terpaksa kita harus berhadapan dengan mereka. Aku malas buang-buang tenaga, waktu dan peluru,"sahut pria bertubuh kekar.


"Iya, juga, ya bos. Bos memang pintar,"sahut anak buah pria bertubuh kekar itu.


"Tentu saja aku pintar. Buktinya, aku lebih dulu menemukan perempuan ini dari pada si plontos,"ucap pria bertubuh kekar itu bangga.


"Lalu akan kita apakan bodyguardnya itu, bos?"tanya anak buah pria bertubuh kekar.


"Nanti kalau sudah sampai di tempat yang sepi, kita turunkan dia,"sahut pria bertubuh kekar.


"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙩𝙖𝙢𝙖𝙩. 𝙉𝙖𝙡𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙥𝙖𝙥𝙪𝙣. 𝘼𝙣𝙙𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪?"gumam Aurora dalam hati. Entah mengapa, disaat-saat seperti ini, Aurora ingin Rayyan datang untuk menolong nya.


Setelah beberapa puluh menit meninggalkan kafe, akhirnya Nala di turunkan di tempat yang sepi dalam keadaan kaki dan tangan terikat serta mulut yang di lakban.


Setelah berusaha keras, akhirnya Nala bisa melepaskan ikatan di tangannya dengan dengan cara meraba-raba tempat di sekelilingnya dan menemukan batu yang agak tajam untuk memotong ikatan di tangannya. Setelah berhasil membuka ikatan di tangannya, Nala membuka ikatan kain yang menutupi matanya dan juga lakban yang menutup mulutnya.


"Aku harus segera mencari cara untuk menghubungi Tuan Andi,"gumam Nala seraya melepaskan tali yang mengikat kakinya.


Nala melihat ke arah sekeliling, sekitar tempat itu sangat sepi. Nala mencoba mencari arah dimana dirinya bisa bertemu dengan orang. Nala berlari ke sebuah arah mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan.


"Pak, bisa bapak menolong saya?"tanya Nala saat menghentikan seorang pria paruh baya yang melintas menggunakan motor di jalan itu.


"Ada apa,nak?"tanya pria paruh baya itu menelisik penampilan Nala yang kotor dan acak-acakan.


"Saya di rampok orang, pak. Bisa bapak beritahu, sekarang ini kita ada di mana, dan bolehkah saya meminjam handphone bapak untuk menghubungi seseorang?"tanya Nala dengan wajah yang terlihat tegang.


Karena melihat penampilan dan ekspresi wajah Nala yang memang seperti orang yang sedang kesusahan, akhirnya pria paruh baya itu pun memberitahu Nala di mana posisi mereka saat ini dan meminjamkan handphone pada Nala.


"Halo, Tuan Andi. Ini saya Nala. Nyonya di culik orang, Tuan,"


...🌸❤️❤️...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2