
Pagi harinya, Rayyan, Aurora dan Andi kembali ke rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, ke tiganya langsung menuju ruangan Fina yang ternyata baru saja kembali dari ruangan Naima.
"Bagaimana keadaan mamaku, Fin?"tanya Rayyan.
"Setelah aku periksa tadi, keadaan Tante Naima sudah lebih baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Usia Tante Naima memang sudah kepala lima, tapi kondisi tubuhnya bagus. Walaupun mungkin harus rawat inap beberapa hari. Tante hanya terbentur tidak terlalu keras yang mengakibatkan memar di kepalanya. Dan kehilangan banyak darah karena luka akibat pecahan kaca,"jelas Fina.
"Syukurlah,"ucap Rayyan merasa lega.
"Tapi, kenapa Tante bisa terkena pecahan kaca?"tanya Fina.
"Menurut penyelidikan, kaca mobil sebelah kanan nyonya Naima terbuka saat terjadi kecelakaan. Kemungkinan kaca yang mengenai nyonya Naima adalah kaca spion yang terpental ke arah nyonya Naima. Mengingat di tempat kejadian ada satu mobil dan satu motor yang ringsek parah dan kaca spionnya pecah,"jelas Andi.
"Saat kami menemukan mama, kaca mobil sebelah kanan memang terbuka. Tapi kaca mobil sebelah kiri tertutup. Waktu itu, kami membuka pintu di sebelah kiri,"sahut Aurora.
"Begitu rupanya. Luka Tante tidak boleh basah agar cepat sembuh,"ujar Fina.
"Terimakasih, Fin!"ucap Rayyan.
"Tidak perlu berterimakasih. Ini adalah tugas ku. Oh, ya, orang yang telah melenyapkan papa kamu belum ketemu juga?"tanya Fina menatap tumpukan rekam medis pasiennya di atas mejanya.
Aurora yang mendengar pertanyaan Fina pun terkejut,"Papa kamu meninggal karena dibunuh orang?"tanya Aurora menatap Rayyan. Sedangkan Fina nampak mulai membaca rekam medis pasiennya di atas mejanya.
'Hum. Sampai sekarang, aku belum menemukannya. Jika aku menemukan orang itu, aku bersumpah akan membuat orang itu menderita. Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang, karena telah berani meracuni papaku hingga meninggal,"ucap Rayyan dengan suara berat.
Wajah pria itu menampilkan aura yang dingin dan menakutkan. Sorot matanya tajam, dingin, penuh kemarahan, kebencian, dan berkilat penuh dendam. Seperti aura orang yang ingin membunuh. Mungkin persis malaikat maut yang ingin mencabut nyawa. Aurora jadi bergidik ngeri melihat suaminya itu.
"Tapi aku ingin tahu apa motif orang itu,"sahut Fina yang tidak menyadari ekspresi wajah Rayyan yang menakutkan. Karena wanita itu masih menundukkan wajahnya membaca beberapa rekam medis pasiennya.
"Aku juga ingin tahu. Setelah aku tahu motifnya apa, aku akan menentukan hukuman yang pantas untuknya. Tapi yang pastinya, aku akan membuat orang yang melenyapkan papaku menderita dan merasa putus asa. Hingga dia merasakan hidup enggan, matipun tak mau,"ucap Rayyan masih dengan ekspresi yang menakutkan seperti tadi.
Entah mengapa Aurora menjadi ketakutan melihat ekspresi pria yang sudah menjadi suaminya itu. Aurora teringat klub malam Mami yang rata dengan tanah dan Mami yang masuk penjara karena telah berani menculik dirinya. Bahkan Mami berakhir dengan mendapatkan hukuman mati. Lalu bagaimana dengan nasib orang yang telah membunuh papa Rayyan jika Rayyan menemukannya? Aurora tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Rayyan. Walaupun Rayyan tidak membunuh orang itu, namun dapat dipastikan orang itu akan dibuat Rayyan sangat menderita.
Fina mengangkat wajahnya dan bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Rayyan. Wanita itu lalu beralih menatap Aurora, dan kembali menatap Rayyan.
__ADS_1
"Rubah ekspresi wajah mu itu, Ray! Kamu membuat ibu hamil ketakutan,"ujar Fina setelah menyadari jika Aurora nampak ketakutan melihat ekspresi wajah Rayyan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Fina, Rayyan pun terhenyak. Seketika ekspresi wajahnya yang menakutkan tadi langsung berubah menjadi panik saat menatap wajah istrinya yang nampak ketakutan.
"Sayang.. aku.."
"A.. Aku ingin ke toilet,"ucap Aurora dengan suara tergagap memotong kata-kata Rayyan. Aurora menepis tangan Rayyan yang hendak memegang tangannya, kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.
"Arrgkhh! Shiitt! Ini semua gara-gara kamu, Fin!"umpat Rayyan mengusap wajahnya kasar.
"Lah, kenapa jadi salahku!"protes Fina tidak mau di salahkan.
"Karena kamu yang memulai pembahasan ini!"ketus Rayyan.
"Haiss.. dari pada menyalahkan aku, lebih baik kamu kejar istri kamu sana! Emosi bumil itu tidak stabil. Sering mengalami mood swing. Kalau tidak segera kamu susul, bisa tambah marah itu,"ujar Fina yang bermaksud membuat Rayyan pergi. Tidak mau berdebat dengan Rayyan karena memang dirinya yang salah karena dirinya lah yang memulai pembahasan soal masalah tadi.
"Arrgkhh! Shiitt!"umpat Rayyan bergegas keluar dari ruangan Fina, mengejar Aurora. Andi pun bergegas menyusul majikannya.
Andi terus mengikuti majikannya yang nampak gusar,"Tuan membuat nyonya ketakutan. Bisa-bisa nanti malam Tuan di usir dari kamar oleh nyonya,"gumam Andi yang untungnya tidak di dengar Rayyan yang agak jauh darinya.
Andi terus mengikutinya langkah kaki Rayyan. Namun Andi langsung sadar jika majikannya itu tidak tahu dimana keberadaan nyonya-nya. Karena majikannya itu nampak menatap ke segala arah seperti sedang mencari dan nampak kebingungan. Andi langsung menghubungi Nala untuk mencari tahu di mana nyonya-nya.
"Dimana kalian?"tanya Andi saat mendengar suara Nala dari ujung telepon.
Setelah mendengar jawaban dari Nala, Andi yang masih mengikuti Rayyan itu pun menutup teleponnya.
"Tuan! Tuan mau kemana? Nyonya ada di toilet!"ucap Andi membuat Rayyan menghentikan langkahnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"sergah Rayyan yang dari tadi berjalan tak tentu arah untuk mencari Aurora.
"Saya pikir tadi Tuan tahu dimana nyonya berada. Tapi setelah melihat Tuan seperti orang kebingungan, saya baru sadar jika Tuan tidak tahu nyonya ada di mana. Karena itu, saya menelpon Nala untuk menanyakan dimana keberadaan mereka,"sahut Andi jujur adanya.
"Shiitt! Dimana arah toiletnya?"
__ADS_1
"Kita harus putar balik, Tuan. Nanti setelah ada lorong di depan, kita belok kanan, lalu belok kiri dan..."
Aahhh.. kelamaan! Cepat jalan duluan! Jangan lambat seperti keong! Kamu tidak membawa rumah mu di punggung mu, 'kan? Cepat jalannya!"titah Rayyan tidak sabar.
"Iya..iya.. Tuan! Nyonya yang hamil kenapa Tuan yang menjadi sensi?"gerutu Andi.
"Rupanya malam ini kamu benar-benar ingin lembur,"ucap Rayyan dengan nada datar mengikuti Andi yang berjalan cepat di depannya.
"Saya akan mengadu pada nyonya jika Tuan berani menghukum saya,"sahut Andi yang tidak lagi takut pada Rayyan.
"Dasar tukang ngadu! Majikan kamu itu aku apa istriku?!"ketus Rayyan.
"Dua-duanya, Tuan. Dan ingat! Jangan berani menghukum saya lagi! Jika nyonya masih marah pada Tuan, saya tidak akan mau lagi sama memberikan solusi untuk Tuan. Apalagi membujuk nyonya untuk memaafkan Tuan seperti yang sudah-sudah. Saya bahkan sampai berlutut di depan nyonya agar nyonya tidak meninggalkan Tuan sewaktu nyonya ingin bercerai dari Tuan. Tapi, setelah semua yang saya lakukan untuk Tuan, sungguh teganya.. teganya... teganya.. Tuan menghukum saya,"gerutu Andi seraya menirukan sebait lagu.
"Kamu mulai perhitungan pada majikan kamu sendiri? Dan berani mengancam majikanmu?"ketus Rayyan yang masih melangkah di belakang Andi.
"Saya tidak perhitungan, Tuan. Saya juga tidak berani mengancam, Tuan. Saya hanya mengingatkan Tuan,"sahut Andi tanpa dosa.
"Ha.ha.ha.. nyonya memang kartu AS ku. Dewi keberuntungan ku. Aku akan menjaga nyonya baik-baik dan selalu berusaha menyenangkan hati nyonya. Karena nyonya lah tempat teraman bagiku untuk berlindung dari kemarahan Tuan,"gumam Andi yang merasa sangat senang karena telah menemukan kelemahan majikannya. Dan memiliki tempat untuk berlindung.
Sedangkan Rayyan terlihat kesal pada asistennya itu,"Dasar asisten sialan! Licik! Tukang ngadu! Dia benar-benar tahu cara mengambil hati istri ku,"gerutu Rayyan dalam hati merasa sangat kesal pada Andi.
Sebenarnya dalam hati Rayyan, pria itu bertanya-tanya. Apakah benar Andi pernah berlutut di depan istrinya? Rayyan jadi teringat saat Aurora ingin berpisah darinya waktu itu. Dirinya mabuk di klub malam dan saat terbangun sudah ada di dalam kamarnya dengan Aurora yang memeluk dirinya. Rayyan jadi agak yakin jika Andi pernah berlutut di depan istrinya untuk memohon agar Aurora tidak meninggalkan dirinya. Dan kenyataannya, setiap dirinya dalam masalah, memang Andi lah yang selalu memberikan solusi untuk dirinya.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
Rekam medis adalah berkas yang berisikan data mencakup identitas, riwayat pemeriksaan, riwayat pengobatan, riwayat tindakan dan pelayanan lainnya yang diberikan kepada seorang pasien.
.
To be continued
__ADS_1