
Naima mengernyitkan keningnya saat mendengar Aurora menerima panggilan video dari Andi. Naima dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Andi.
"Apalagi ulah si Natalie itu? Aku beruntung belum terlanjur menjadikan dia sebagai menantu ku. Aku akan malu seandainya dia benar-benar menjadi menantu ku. Aku benar-benar terperdaya dengan sikap baiknya padaku. Aku kira dia calon menantu idaman yang ideal. Nyatanya hanya seorang jalangg yang lebih hina dari wanita penghibur. Akan jadi apa rumah tangga putraku, jika dia sampai menjadi menantu ku?"gumam Naima dalam hati.
Selama ini Natalie selalu ada untuk dirinya, selalu menemani dirinya jika Naima memintanya. Selalu mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan sering membelikan barang-barang branded untuk Naima. Karena itu, Naima tertipu dengan semua kebaikan Natalie. Hingga Naima berpikir bahwa Natalie adalah calon menantu dan istri yang ideal untuk putranya.
"Mama kenapa?"tanya Aurora yang melihat Naima melamun.
"Ah, tidak apa-apa,"sahut Naima yang terhenyak dari lamunannya, saat Aurora bertanya padanya.
"Sebaiknya mama tidur siang dulu. Aku juga akan tidur siang,"ucap Aurora kemudian menguap.
"Kamu terbiasa tidur siang?"tanya Naima yang melihat Aurora nampak sudah mengantuk.
"Iya, ma. Akhir-akhir ini, aku jadi terbiasa tidur siang,"sahut Aurora.
"Mama lihat, Rayyan sering mencium perutmu. Apakah.. kamu sedang mengandung?"tanya Naima ragu.
"Ah, iya,"sahut Aurora tersenyum tipis.
"Benarkah? Sudah berapa bulan?"tanya Naima nampak antusias.
Teman-teman sosialita nya sudah banyak yang memiliki cucu. Dan mereka sering bercerita betapa senangnya memiliki cucu. Bahkan terkadang mereka membawa cucu mereka saat mereka sedang berkumpul. Mendengar cerita teman-teman sosialitanya, dan melihat interaksi mereka saat membawa cucu mereka, Naima pun juga ingin memiliki cucu.
Dan saat mendengar Aurora mengandung, tentu saja Naima merasa sangat bahagia. Dirinya akan memiliki cucu seperti teman-teman sosialita nya yang lain.
"Iya. Sekarang sudah menginjak delapan Minggu,"sahut Aurora yang terlihat bahagia. Reflek tangannya mengelus perutnya sendiri.
Walaupun awalnya Aurora tidak mencintai Rayyan, bahkan sempat membencinya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka saling memperbaiki diri. Hingga akhirnya saling mencintai. Apalagi semenjak mengetahui jika Aurora sedang mengandung, cinta mereka pun semakin tumbuh dan berkembang.
"Ah, mama senang sekali. Akhirnya mama akan segera memiliki cucu,"ucap Naima yang terlihat bahagia.
__ADS_1
Aurora merasa terharu melihat reaksi Naima yang antusias dan bahagia saat mendengar bahwa dirinya sedang mengandung. Aurora tidak menyangka jika reaksi Naima akan seperti ini. Mengingat sebelumnya Naima tidak setuju jika dirinya menjadi pendamping hidup Rayyan. Selalu menghina dirinya setiap ada kesempatan, bahkan pernah menyeret dirinya keluar dari kamarnya dan hendak mengusir dirinya.
"Karena itu mama harus segera sembuh dan menjaga kesehatan. Agar nanti mama bisa menimang cucu mama. Sekarang mama tidur siang dulu. Nanti sore, aku akan membawa mama jalan-jalan di taman, agar mama tidak bosan berada di dalam ruangan ini terus,"ucap Aurora lembut.
"Baiklah. Mama akan tidur siang,"sahut Naima penuh senyuman. Namun sesaat kemudian, wanita paruh baya itu menatap Aurora dengan ekspresi wajah yang berbeda.
"Ada apa ma?"tanya Aurora nampak khawatir melihat wajah Naima yang berubah menjadi sendu.
"Mama minta maaf, karena selama ini mama sudah menghinamu, bahkan menyeret kamu untuk mama usir keluar dari rumah mama. Mama juga membawa Natalie untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Mama merasa sangat bersalah. Mama salah menilai Natalie. Mama juga salah menilai kamu. Ternyata, latar belakang dari keluarga berada tidak menjamin seseorang memiliki tingkah laku dan akhlak yang mulia. Maafkan mama atas semua yang telah mama lakukan, yang telah menyakiti kamu,"ucap Naima tulus.
"Aku memaafkan mama. Aku maklum dengan sikap mama. Sebagai seorang ibu, mama pasti ingin anak-anak mama bahagia. Jadi wajar jika mama ingin anak-anak mama mendapatkan pasangan yang baik. Yang lalu biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru,"ucap Aurora tulus.
"Terimakasih!"ucap Naima, kemudian memeluk Aurora penuh haru.
Aurora membalas pelukan ibu mertuanya itu. Wanita itu merasa terharu dan bahagia. Karena pada akhirnya, Naima mau menerima dirinya sebagai menantu. Bagaimanapun suaminya mencintai dirinya, tetap saja tidak lengkap jika keluarga suaminya tidak menerima dirinya. Apalagi jika yang tidak menerimanya adalah ibu kandung suaminya.
Sedangkan Naima merasa lega karena Aurora mau memaafkan dirinya. Bagaimanapun, Aurora adalah wanita yang dicintai putranya. Dan putranya merasa bahagia bersama Aurora. Bukankah sebagai orang tua, dirinya seharusnya merasa ikut merasa bahagia saat melihat putranya bahagia? Apalagi saat ini menantunya sedang mengandung penerus keluarganya. Bukankah selayaknya Naima merasa bersyukur karena sebentar lagi akan menjadi seorang nenek?
Seringkali orang tua menganggap bahwa mereka selalu benar. Menganggap apa yang mereka putuskan untuk anak-anak mereka adalah yang terbaik. Mengatas namakan sudah lebih dulu makan asam garam kehidupan, yang berarti lebih berpengalaman. Namun mereka lupa, mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
***
Natalie merasa kesal karena lagi-lagi dipermalukan di depan umum. Dan lagi-lagi pelakunya adalah Andi.
"Dasar asisten sialan! Dia selalu saja membuat aku terpojok dan dipermalukan di depan umum. Arghhh!"
"Prang"
"Brakk"
"Bugh.. bugh..bugh.."
__ADS_1
Natalie merasa sangat kesal hingga melempar cermin di meja riasnya dengan kursi yang ada di depan meja riasnya. Natalie juga menjatuhkan semua peralatan make up nya dari meja rias. Mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang yang tidak waras.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"tanya Jony yang tiba-tiba muncul. Pria itu tertegun melihat kamar putrinya dan juga penampakan putrinya.
Jony pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal di kamarnya. Tapi saat mau kembali ke kantor, Jony malah mendengar teriakan, suara kaca yang pecah dan benda-benda yang berjatuhan. Jony bergegas masuk ke kamar putrinya dan melihat cermin rias yang pecah serta peralatan make up yang berserakan di lantai. Belum lagi saat melihat wajah putrinya yang terlihat suram dengan rambut yang acak-acakan.
"Astagaa.! Ada apalagi dengan anak satu ini? Apa dia sudah mulai tidak waras?"gumam Jony dalam hati setelah melihat bagaimana penampakan putrinya dan juga kamar putrinya.
"Papa!"panggil Natalie langsung menghambur memeluk Jony.
"Ada apalagi?"tanya Jony seraya membalas pelukan putrinya.
"Asisten sialan itu mempermalukan aku di depan umum lagi, pa,"adu Natalie.
"Bagaimana bisa?"tanya Jony penasaran. Entah apa lagi yang dilakukan putrinya yang ber- IQ rendah itu.
"Aku sedang makan di sebuah restoran yang akhir-akhir ini sedang booming. Seorang waiter menabrak aku hingga bajuku kotor. Tapi pemilik restoran yang mirip dengan Aurora itu malah menyuruh aku minta maaf,"
"Tunggu! Mirip istri Rayyan?"
"Iya, pa. Sangat mirip. Karena itu, aku mengira jika dia adalah Aurora. Tapi ternyata bukan. Dan kebetulan di sana juga ada seorang wanita yang mengaku pernah bekerja di tempat yang sama dengan perempuan itu. Yaitu bekerja sebagai kupu-kupu malam. Jadi aku menghujatnya. Tapi si asisten sialan itu malah datang bagaikan pahlawan. Membela wanita itu dan membalikkan keadaan. Aku yang malah dihujat dan di permalukan di depan umum. Aku benci sekali pada asisten sialan itu. Tidak bisakah papa melenyapkan orang itu?"
Jony menghela napas panjang mendengar penuturan putrinya,"Sekarang ini posisi kita menjadi sulit. Rayyan bergerak bersama Aiden. Pelan-pelan membuat papa mulai kesulitan menjalankan bisnis. Jika mereka terus menekan kita seperti ini, lama kelamaan perusahaan kita akan hancur. Apalagi jika papa menyentuh asistennya itu. Itu hanya akan mencari penyakit dan semakin mempersulit kita. Sementara ini, kamu jangan banyak tingkah! Papa akan berusaha mempertahankan perusahaan kita. Jika sampai bangkrut, usaha yang papa bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun ini akan hancur. Dan kita akan tidur di jalanan,"ujar Jony yang nampak banyak pikiran itu.
Akhir-akhir ini Rayyan dan Aiden terus saja menekan dirinya dalam bisnis. Sehingga Jony harus mati-matian mempertahankan perusahaannya agar tidak gulung tikar.
"Tapi, pa.."
"Tidak ada tapi-tapian!"ucap Jony memotong kata-kata Natalie,"Jangan menambah masalah papa lagi! Papa sudah cukup stres dengan masalah perusahaan. Tolong kamu jangan membuat papa semakin stres!"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued