
Rayyan terbangun karena pergerakan Aurora. Pria itu tersenyum tipis melihat Aurora sudah menenggelamkan wajahnya di dadanya dan memeluk dirinya. Rayyan membalas pelukan Aurora dan mengecup puncak kepala Aurora.
"Ray!"panggil Aurora dengan suara lirih, menyadari suaminya terbangun karena pergerakannya.
"Hum,"sahut Rayyan seraya mengusap punggung Aurora lembut.
"Maaf!"ucap Aurora pelan.
"Untuk?"
"Aku sudah marah-marah nggak jelas sama kamu,"
"Sudahlah! Tidak perlu di bahas lagi! Aku bisa mengerti. Tapi, lain kali kamu harus bisa mengontrol emosi. Tidak baik jika kamu marah-marah seperti tadi. Aku sampai bingung harus bagaimana. Aku di kamar ini salah, keluar rumah juga salah,"
"Maaf! Kamu pasti sangat kesal padaku,"
"Lumayan,"
"Apa.. Apa kamu masih ingin?"tanya Aurora dengan wajah memerah menahan malu.
Mendengar pertanyaan Aurora, Rayyan pun merenggangkan pelukannya dan menatap Aurora. Rayyan mengulum senyum saat melihat wajah Aurora yang memerah.
"Ingin apa?"tanya Rayyan pura-pura tidak tahu.
"Ingin tidur,"sahut Aurora yang wajahnya jadi berubah menjadi kesal. Namun Rayyan malah terkekeh.
"Kamu imut banget kalau wajah kamu memerah seperti tadi,"ujar Rayyan jujur,"Masih ingin, apa boleh? Kalau tidak boleh ya sudah. Tidak apa-apa,"sahut Rayyan pasrah, kembali memeluk Aurora.
Aurora mendongakkan wajahnya menatap Rayyan dan tiba-tiba wanita itu mencium bibir Rayyan. Rayyan sempat terkejut dengan aksi istrinya itu, namun akhirnya membalas ciuman Aurora. Sepasang suami-isteri itu saling memagut, menguluum dan menyesap, melupakan pertikaian mereka tadi. Memulai pergulatan panas mereka di atas ranjang.
***
Pagi telah menyapa. Andi dan Nala nampak berdiri di depan pintu kamar Rayyan. Tidak lama kemudian, Rayyan dan Aurora pun keluar dari kamarnya.
"Syukurlah! Sepertinya Tuan dan nyonya sudah baikan. Pagi ini wajah Tuan dan nyonya terlihat cerah. Pasti semalam Tuan sudah dapat jatah,"gumam Andi dalam hati, mengulum senyum setelah melihat wajah kedua majikannya nampak bahagia.
"Apa kakakku semalam pulang?"tanya Rayyan seraya berjalan merangkul pinggang Aurora.
"Kata pelayan di rumah, tidak ada yang melihat Tuan Hendrik pulang, Tuan. Sepertinya, Tuan Hendrik tidur di studio foto miliknya. Nanti, asistennya pasti melapor pada saya,"sahut Andi mengekor di belakang kedua majikannya.
"Atur jadwal ku untuk bertemu dengan kakak ku!"pinta Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Andi cepat.
"Kebetulan, aku ingin tahu, apa yang sebenarnya mereka lakukan di klub malam itu semalam. Jika asisten Tuan Hendrik itu berani berbohong pada ku, akan aku pecat dia hari ini juga,"gumam Andi dalam hati.
__ADS_1
"Aku pergi!"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora sekilas.
"Kalau begini, 'kan, rasanya adem,"celetuk Andi yang melihat kemesraan kedua majikanya.
"Ray!"panggil suara dari dalam rumah.
Rayyan, Aurora dan Andi pun menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Naima yang berjalan diikuti seorang pelayan yang membawa koper.
"Ray, kemana kakak kamu? Kok sudah satu bulan ini mama nggak pernah melihat kakak kamu?"
"Kakak bekerja, ma,"sahut Rayyan.
"What? Nggak salah? Apa kakakmu salah mengkonsumsi obat? Kamu nggak bercanda, 'kan?"tanya Naima nampak tidak percaya.
"Aku serius, ma. Apa selama ini aku suka bercanda,"sahut Rayyan.
"Mama cuma nggak percaya aja, Ray. Dari dulu kakak kamu itu nggak pernah serius dalam hal apapun. Apalagi dalam hal pekerjaan. Jadi, wajar, 'kan, kalau mama nggak percaya?"ujar Naima jujur adanya.
"Tapi itulah kenyataannya. Kakak memintaku membantunya menjadikan hobinya sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang. Jadi aku membuatkan usaha yang sesuai dengan keinginan nya itu. Sudah satu bulan ini kakak menjalankan usahanya. Dan sejauh ini, perkembangan usahanya termasuk bagus,"sahut Rayyan.
."Apa yang memotivasi kakakmu, sehingga dia mau berubah?"tanya Naima terlihat sangat penasaran.
"Aku memang berencana untuk membicarakan hal ini dengan mama.Tapi aku harus ke kantor. Nanti kita bicarakan hal ini lebih lanjut,"
"Okey,"sahut Naima yang mengerti jika Rayyan sangat sibuk.
"Mama mau menginap di resort teman mama. Teman mama sedang merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke tiga puluh tahun. Dia beruntung sekali. Mama dan papamu bahkan tidak sempat merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke dua puluh lima tahun,"ucap Naima terlihat sedih,"Eh, mama berangkat dulu, ya? Takut sudah ditunggu teman-teman mama. Ra, jaga cucu mama baik-baik, ya!"ucap Naima seraya mengusap perut Aurora. Terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu yang berusaha keras terlihat bahagia. Menyembunyikan dan menutupi perasaan sedihnya.
"Iya, ma,"sahut Aurora.
"Mama pergi!"ucap Naima berjalan menuju mobilnya.
"Mama terlihat sedih saat mengingat papa,"ucap Aurora menatap Naima yang masuk ke dalam mobilnya.
"Mama sangat mencintai papa. Mama berusaha melupakan papa agar tidak tenggelam dalam kesedihan. Karena itu, mama lebih suka berada di luar rumah berkumpul bersama teman-teman sosialitanya agar tidak teringat papa terus. Aku pergi!"ucap Rayyan mengecup kening Aurora kemudian masuk ke dalam mobilnya.
***
Hendrik mendatangi kantor Rayyan bersama asistennya. Hendrik langsung menuju ruangan Rayyan, sedangkan asistennya menuju ruangan Andi.
Asisten Hendrik masuk ke dalam ruangan Andi, setelah Andi mempersilahkannya untuk masuk.
"Apa yang dilakukan Tuan Hendrik seharian kemarin?"tanya Andi yang duduk di kursi kerjanya. Menatap asisten Hendrik yang duduk di seberangnya tersekat oleh meja.
"Tuan Hendrik bekerja seperti biasanya. Tapi, semalam kami ke klub malam. Ada klien kami yang meminta bertemu di klub malam. Mereka meminta kami melakukan pemotretan untuk majalah dewasa de.."
__ADS_1
"Majalah dewasa?"tanya Andi memotong kata-kata asisten Hendrik.
"Iya, Tuan. Mereka menawarkan bayaran yang tinggi untuk pemotretan itu,"
"Lalu, apa Tuan Hendrik menerima tawaran mereka itu?"
"Tidak, Tuan. Tuan Hendrik menolaknya,"
"Dia menolaknya atas inisiatif dia sendiri atau karena kamu?"
"Atas inisiatif Tuan Hendrik sendiri, Tuan,"
"Bagus! Jaga Tuan Hendrik baik-baik! Jika kamu tidak bekerja dengan baik, aku akan memecat kamu! Banyak orang di luar sana yang mencari pekerjaan. Jadi,. jangan harap aku akan memaafkan kamu jika kamu melakukannya kesalahan yang kamu sengaja,"ujar Andi memperingati asisten Hendrik. Wajah Andi terlihat dingin dan datar, sehingga membuat nyali asisten Hendrik menciut.
"Saya mengerti Tuan,"sahut asisten Hendrik.
"Ternyata dia tidak berbohong.. Aku semalam sempat mencurigai dia. Tapi aku harus tetap mengawasi dia dan Tuan Hendrik,"gumam Andi dalam hati.
Sedangkan di ruangan Rayyan, Hendrik nampak duduk di sofa yang ada di ruangan Rayyan. Pria itu masih menunggu Rayyan yang sedang menerima telepon. Tak lama kemudian, Rayyan pun selesai menerima telepon.
"Ada apa kamu meminta aku datang ke sini?"tanya Hendrik santai.
"Kakak melecehkan Sumi di restorannya?"tanya Rayyan to the point.
"Apa Miti mengadu padamu?"tanya Hendrik memicingkan sebelah matanya.
"Aurora datang ke restoran Sumi setelah kakak pergi. Kenapa kakak tidak bilang padaku jika wanita yang kakak sukai itu adalah Sumi?"tanya Rayyan yang lebih terdengar seperti protes.
"Bukankah aku sudah menunjukkan kalau aku menyukai Miti saat mama masuk rumah sakit waktu itu? Bahkan saat kamu menyuruh aku datang ke kantor kamu kemarin, aku juga sudah mengatakan jika aku menyukai Miti,"
"Aku kira kakak tidak serius dengan Sumi. Mengingat Sumi adalah mantan kupu-kupu malam. Apalagi, sepertinya kakak hanya tertarik karena wajah Sumi mirip dengan Aurora. Lagi pula, sebrengseek brengseek nya seorang pria, pasti akan memilih wanita baik-baik untuk dijadikan pendamping hidup. Jadi aku tidak menyangka jika kakak benar-benar menyukai Sumi. Lagi pula, Sumi sampai rela melakukan operasi plastik demi uang lima ratus juta dan sebuah restoran. Sedangkan kakak mengatakan bahwa wanita yang kakak sukai tidak silau oleh harta kakak. Jadi, aku kira wanita yang kakak sukai itu pasti bukan Sumi,"
"Miti memang mantan kupu-kupu malam. Tapi dia melakukan pekerjaan itu karena terdesak ekonomi untuk menghidupi keluarganya. Jadi, bagiku dia adalah wanita baik yang terjebak di dunia hitam. Aku bahkan merasa minder saat kamu memberitahu ku kenyataan bahwa Sumi yang seorang wanita bisa menghidupi keluarganya. Sedangkan aku yang merupakan anak tertua malah menjadi beban keluarga. Aku termotivasi karena Miti. Aku benar-benar menyukai Miti, Ray,"
"Tapi, tidak harus melecehkan dia di restorannya juga, kak. Kakak itu seorang Casanova, masa iya tidak bisa membawa Sumi ke atas ranjang kakak tanpa harus memaksanya. Gara-gara kakak, Aurora marah besar padaku,"sahut Rayyan bersungut-sungut.
"Dia itu tidak mempan di rayu, Ray! Tetap menolak aku walaupun sudah tahu aku kaya. Bahkan dia langsung menunjukkan rasa tidak sukanya padaku setelah aku mencium dia waktu itu. Sudah ku bujuk mati-matian agar menikah dengan aku, tapi dia tetap menolak aku. Ya, sudah. Aku ikuti saja saran kamu,"
"Aku waktu itu, 'kan, cuma bicara asal, kak. Kenapa kakak malah benar-benar melakukannya? Kakak membuat aku terkena masalah."
"Kamu tidak perlu memarahi aku, karena soal itu. Karena semuanya sudah terjadi. Sudah terlanjur!"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued