Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
350. Cemburu


__ADS_3

Andi merasa semakin bersalah karena telah melontarkan kata-kata yang telah membuat Kanaya tersinggung. Perlahan pemuda itu meninggalkan tempatnya menguping pembicaraan Kanaya dengan temannya itu.


"Apa sudah selesai menguping pembicaraan orang?"


"Astaga naga!"pekik Andi yang terkejut mendengar suara bariton yang tiba-tiba menyapa pendengarnya,"Haishh.. Tuan ini mengagetkan saya saja. Untung saja jantung saya ini buatan Tuhan. Kalau buatan manusia, sudah copot ini jantung. Apa Tuan mau bertanggung jawab kalau saya terkena serangan jantung?"protes Andi setelah melihat siapa yang ada di dekatnya. Pria yang tidak lain adalah Rayyan.


Rayyan tidak sengaja melihat Andi berdiam di suatu tempat yang agak tersembunyi. Nampak berkonsentrasi mendengarkan. Saat Andi melangkah pergi dari tempatnya menguping, Rayyan melihat Kanaya keluar dari tempat Andi menguping tadi. Karena itulah Rayyan menghampiri Andi dan iseng meledek Andi.


"Ck..ck..ck.. Kamu sedang melamun rupanya. Kalau tidak sedang melamun, pasti tidak akan terkejut. Lihatlah muka kamu itu! Tanda-tanda muka orang yang mulai jatuh cinta,"ujar Rayyan menatap wajah Andi tersenyum miring.


"Haishh..apa Tuan sudah beralih profesi dari CEO menjadi pembaca ekspresi wajah orang?"celetuk Andi yang mulutnya ceplas-ceplos.


"Biasakan di rem itu mulut. Kalau nggak, kamu akan terjebak dalam masalah karena mulutmu yang ceplas-ceplos itu. Apa lagi kalau di depan orang yang kamu cintai. Mulutmu yang ceplas-ceplos itu bisa berbalik seperti Boomerang yang akan menyulitkan dirimu sendiri,"ujar Rayyan menghela napas kasar.


"Ah, Tuan, ayo kita pulang! Apa Tuan tidak rindu pada nyonya dan Tuan muda?"tanya Andi mengalihkan pembicaraan.


"Bisa saja kamu ngelesnya. Sudah macam bajaj aja. Apa kamu pernah berprofesi sebagai supir bajaj? Kamu duluan sana! Ada yang harus aku ambil di ruangan ku,"ujar Rayyan kemudian melangkah pergi meninggalkan Andi.


Andi hanya bisa menghela napas kasar melihat Rayyan yang meninggalkan dirinya.


"Apa yang di katakan oleh Tuan Rayyan adalah benar adanya. Hal itu memang sedang terjadi pada ku. Mulut ku yang ceplas-ceplos ini tanpa sengaja melukai hati seseorang. Haish.. kenapa aku jadi peduli dengan perasaan gadis itu? Arghh.. Gadis itu seperti hantu yang gentayangan di otakku. Mengganggu sekali,"gerutu Andi dalam hati yang jadi kesal sendiri saat mengingat segalanya. Mengingat mulutnya yang ceplas-ceplos hingga sudah tiga kali membuat Kanaya yang awalnya kagum padanya malah berbalik menjadi benci.


Andi berjalan ke luar gedung itu, bermaksud menunggu Rayyan di dalam mobil yang biasanya sudah menunggu di depan pintu utama.


"Aya!"


Suara seorang pria itu membuat Andi menoleh ke asal sumber suara. Andi melihat Randy, bawahannya yang menjadi manager pemasaran sedang menghampiri Kanaya. Andi pun menepi, pemuda itu berpura-pura sibuk dengan handphonenya dengan telinga yang di pertajam untuk mendengarkan pembicaraan Kanaya dan Randy.


"Ada, apa Pak?"tanya Kanaya pada Randy sopan.


"Pulang bareng, yuk! Aku antar sampai rumah kamu,"tawar Randy penuh senyuman.


"Terimakasih, Pak. Anda tidak perlu repot-repot mengantarkan saya pulang. Kontrakan saya masuk gang kecil. Tidak bisa di lalui mobil,"tolak Kanaya secara halus. Kanaya tahu, jika Randy ke kantor menggunakan mobil.


"Nggak apa-apa. Aku antar sampai depan gang. Okey? Gadis cantik seperti kamu pulang sendiri bahaya, loh,"tawar Randy lagi.


"Cih, dasar modus!"gerutu Andi dengan suara kecil seraya melirik Randy dan Kanaya dengan tatapan tidak suka.


Rayyan yang ternyata berdiri di dekat Andi pun mengulum senyum mendengar gerutuan Andi.


"Cemburu rupanya,"gumam Rayyan dalam hati tersenyum miring.

__ADS_1


"Baiklah kalau bapak memaksa,"sahut Kanaya tersenyum tipis. Dalam hatinya gadis itu berkata,"Lumayan, aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pulang,"


"CK, mau-mau saja di antar seorang pria. Kalau di apa-apain di jalan bagaimana? Apalagi di dalam mobil,"decak Andi yang masih saja bergumam dengan wajah kesal.


"Begitu khawatir nya Andi pada gadis itu?"gumam Rayyan yang hanya memperhatikan dan mendengarkan gerutuan Andi menahan tawa. Selama bertahun-tahun bersamanya, baru kali ini Rayyan melihat Andi seperti itu.


"Nah, gitu, dong! Gadis cantik harus penurut. Yuk, aku antar pulang!"ajak Randy tersenyum lebar,"Oh, ya, Aya. Kamu nggak dicariin orang tua kamu apa?"tanya Randy sambil berjalan di samping Kanaya.


"Enggak kok, Pak. Kan, ibu saya sudah tahu kalau saya sedang bekerja,"sahut Kanaya apa adanya.


"Pantas saja, setiap malam kamu selalu hadir dalam mimpiku,"gombalan Randy membuat wajah Andi yang berjalan mengikuti dua orang itu menjadi suram.


"Ah, bapak bisa aja,"sahut Kanaya mengulum senyum.


"Cih, gombalan recehan. Dan gadis itu, di gombali begitu saja sudah kesenengan,"gerutu Andi tidak suka.


Sedangkan Rayyan masih mengikuti Andi sambil mengulum senyum memperhatikan tingkah Andi.


"Aya, ibu kamu tukang Gado gado ya?"tanya Randy.


"Kok, bapak tahu?"tanya Kanaya.


Di rumah, ibu Kanaya memang berjualan gado-gado dan gorengan untuk menambah penghasilan mereka. Walaupun sudah beberapa kali Kanaya mencegah ibunya berjualan karena alasan kesehatan ibunya yang kadang sakit karena kelelahan. Tapi Ibu Kanaya tetap saja berjualan. Ibu Kanaya ikut mengumpulkan uang untuk makan dan membayar angsuran bersama Kanaya. Karena alasan itu pula, ibu Kanaya tidak betah tinggal di kontrakan Kanaya.


"Bapak bisa aja,"sahut Kanaya membuat Andi semakin terlihat tidak suka. Andi belum juga menyadari keberadaan Rayyan karena terlalu fokus pada Kanaya dan Randy.


"Aya, gimana kalo kita berdua jadi komplotan penjahat? Aku mencuri hatimu, dan kamu mencuri hatiku,"ujar Randy membuat Andi bertambah muak dan Rayyan semakin gemas melihat Andi.


"Bapak ini ada-ada saja,"sahut Kanaya terkekeh kecil.


"Aya, kamu punya peta, nggak?"


"Nggak punya, Pak. Memangnya untuk apa, Pak?"tanya Kanaya.


"Aduh sayang sekali, kamu tidak punya. Sudah beberapa hari ini aku tersesat di hati kamu,"lagi-lagi Randy menggombal.


"Bapak lucu sekali,"sahut Kanaya mengulum senyum.


"Kalau tersesat, tinggal lihat google map. Atau jangan-jangan, gaji kamu masih kurang buat membeli kuota internet, karena gaya hidup kamu yang boros?"tanya Andi yang berjalan lewat di tengah-tengah Randy dan Kanaya begitu saja dengan wajah yang benar-benar suram.


Randy dan Kanaya sampai berhenti berjalan saking kagetnya dengan aksi Andi yang lewat di tengah-tengah mereka secara tiba-tiba dan berbicara dengan nada ketus. Sedangkan Rayyan mati-matian menahan tawa melihat tingkah laku Andi itu.

__ADS_1


"Plak"


Randy semakin terkejut saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Pemuda itupun langsung menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya. Begitu pula dengan Kanaya yang ikut menoleh.


"Tu.. Tuan,"ucap Randy dengan ekspresi kaget, langsung menunduk hormat pada Rayyan, demikian pula dengan Kanaya.


"Kamu pintar juga menggombal. Lain kali, aku akan belajar menggombal dari kamu untuk menggombali istri ku. Terus berjuang! Sebelum janur kuning melengkung, berarti masih milik umum,"ucap orang yang tidak lain adalah Rayyan. Pria itu terkekeh kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, kemudian berlalu begitu saja.


Sedangkan Randy dan Kanaya berdiri bodoh menatap punggung Rayyan yang semakin menjauh.


"Apa aku sedang bermimpi? Ada apa dengan Tuan Rayyan dan Tuan Andi? Hari ini mereka aneh sekali. Sebelumnya tidak pernah mereka bersikap seperti tadi,"gumam Randy dalam hati.


Selama Randy bekerja di perusahaan Rayyan, baru kali ini Rayyan berinteraksi secara langsung dengan dirinya. Bahkan menepuk pundaknya dan memberikan semangat sambil tertawa.


"Kenapa aku merasa Tuan Andi dan Tuan Rayyan aneh sekali, ya?"gumam Kanaya dalam hati.


"Ah, ayo, aku antar pulang!"ajak Randy setelah beberapa saat terdiam.


"Ah, iya, Pak,"sahut Kanaya tersenyum tipis.


Sedangkan Rayyan mati-matian menahan tawanya seraya berjalan menuju mobilnya. Rayyan benar-benar merasa geli melihat tingkah Andi hari ini.


Security pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Rayyan, saat melihat majikannya itu sudah dekat dengan mobilnya. Andi yang sudah berada di dalam mobil nampak menatap Randy dan Kanaya dengan tatapan tidak suka.


"Ndi, cinta itu kebebasan. Jadi, setiap orang berhak mencintai siapa saja. Jomblo jangan cemburu pada orang yang lagi pendekatan,"ledek Rayyan mengulum senyum setelah duduk di dalam mobil. Sedangkan Pak supir hanya mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Rayyan dan langsung melajukan mobil itu.


"Tuan ini bicara apa? Siapa yang sedang cemburu?"sahut Andi langsung menatap ke arah depan. Andi merasa tersindir dengan kata-kata Rayyan.


"Halahhh.. Tidak usah ngeles! Aku tahu, kamu cemburu, 'kan, melihat Kanaya di dekati oleh Randy? Kamu tidak suka saat Kanaya mau di antar pulang oleh Randy. Kamu juga tidak suka saat Randy menggombali Kanaya,"skak Rayyan yang sedari tadi berada tidak jauh dari Andi. Mengamati ekspresi Andi dan mendengar semua gerutuan Andi. Entah mengapa Rayyan sangat senang melihat Kanaya di dekati Randy, sehingga membuat Andi cemburu.


"Siapa bilang saya tidak suka. Mereka mau apa juga bukan urusan saya,"kilah Andi yang sebenarnya heran, kenapa Rayyan bisa tahu tentang semua itu. Andi benar-benar terlalu fokus pada Kanaya dan Randy hingga tidak menyadari bahwa dirinya di ikuti oleh Rayyan.


"Cemburu tandanya cinta, marah tandanya sayang. Itu yang aku lihat dari kamu saat kamu melihat Kanaya bersama pria lain,"ujar Rayyan sesuai dengan apa yang di lihat dan di dengarnya tadi.


Andi membuang napas kasar mendengar perkataan Rayyan.


"Apa benar aku cemburu pada Kanaya yang di dekati Randy? Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada gadis itu, 'kan?"gumam Andi dalam hati yang menyangkal perasaan nya sendiri.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2