Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
39. Lelah


__ADS_3

"Tuan mau kemana?"tanya Nala menghadang Hendrik yang hendak masuk.


"Tentu saja mau berolahraga. Masa ke sini mau mencuci baju,"ketus Hendrik hendak melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Tapi Nala kembali menghadangnya.


"Tuan Rayyan tidak mengijinkan seorang pria berada dalam satu ruangan dengan nyonya. Jadi, sebaiknya Tuan tidak masuk ke dalam ruangan ini,"ucap Nala dengan wajah dingin dan datarnya.


"Ini ruangan olahraga, bukan kamar. Lagi pula, juga ada kamu di sini. Biarkan aku masuk!"bentak Hendrik mencoba menyerobot masuk, tapi lagi-lagi di hadang oleh Nala.


Nala mengaitkan jari tangan kanan dan kirinya, kemudian membunyikannya. Menatap tajam pada Hendrik, membuat Hendrik menelan salivanya sendiri dengan kasar. Masih teringat jelas di benaknya ketika Nala menendang perutnya lalu membantingnya di lantai. Rasanya begitu sakit.


"Majikan saya Tuan Rayyan mengatakan pada saya. Jika ada orang yang melanggar aturan yang dibuat Tuan Rayyan di rumah ini, apalagi jika berkaitan dengan nyonya Aurora, maka saya diijinkan melakukan apapun kecuali membunuh. Jadi, jika saya mematahkan kaki Tuan Hendrik karena Tuan Hendrik memaksa berada dalam satu ruangan dengan nyonya Aurora, rasanya Tuan Rayyan tidak akan marah,"ucap Nala, kemudian membunyikan lehernya dengan cara mematahkannya ke kanan dan kiri, menatap wajah Hendrik tajam.


"A.. aku akan berolahraga nanti saja. Aku lupa jika aku masih harus mengedit foto-foto hasil jepretan ku, tadi"ucap Hendrik langsung berbalik dan bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Dia itu perempuan atau laki-laki, sih? Tenaganya kuat sekali saat menendang dan membanting aku kemarin. Sampai sekarang punggungku masih sakit dan perutku masih terasa nyeri. Aku benar-benar tidak bisa mendekati perempuan itu. Aku tidak pernah melihat perempuan secantik dia. Walaupun dia tidak menggunakan baju yang ketat, tapi aku yakin bodynya pasti sangat aduhai. Mataku ini tidak pernah salah dalam menilai perempuan,"gumam Hendrik seraya meninggalkan ruangan olahraga itu. Pria itu masih sangat penasaran pada Aurora.


Nala menutup pintu ruangan itu, kemudian menghampiri Aurora yang masih sibuk melihat-lihat ruangan itu. Aurora sama sekali tidak menghiraukan perdebatan Nala dan Hendrik tadi.


"Nyonya, kita akan mulai latihan fisiknya sekarang. Kita mulai dari pemanasan dulu, lalu lari di treadmill itu,"ucap Nala menunjuk pada treadmill di ruangan itu.


"Hum,"sahut Aurora.


Aurora melakukan pemanasan beberapa menit. Setelah itu, Nala mengajak Aurora ke tempat treadmill.


"Silahkan anda naik!"ucap Nala. Perempuan yang tubuhnya berotot itu mengarahkan Aurora untuk naik ke treadmill, kemudian mengatur kecepatan treadmill itu.


Awalnya Nala mengatur dengan.kecepatan berjalan biasa, kemudian berjalan cepat dan akhirnya lari. Beberapa menit kemudian Aurora nampak sudah kelelahan.


"Nala, sudah! Aku sudah lelah sekali,"ucap Aurora yang tubuhnya sudah basah oleh peluh.


"Sepuluh menit lagi, nyonya,"ucap Nala.


Lima menit kemudian,"Nala, sudah! Aku sudah lelah!"pinta Aurora dengan napas yang ngos-ngosan, masih berlari di atas treadmill.


"Tahan, nyonya! Lima menit lagi,"sahut Nala.

__ADS_1


Lima menit kemudian, Aurora merentangkan tubuhnya di lantai karena merasa kelelahan. Mengatur napasnya yang seperti habis di kejar guk guk.


"Nyonya, sekarang waktunya latihan yang kedua,"ucap Nala.


"Apa? Latihan lagi? Tidak, aku tidak mau! Aku sudah lelah,"sahut Aurora.


"Jika anda tidak ingin melanjutkannya, Tuan akan menghukum anda,"ucap Nala.


"Dia tidak akan tahu jika kamu tidak memberitahu padanya,"ujar Aurora.


"Tuan akan tetap tahu. Karena di ruangan ini ada cctv- nya,"ucap Nala membuat Aurora menatap sudut-sudut ruangan. Dan benar saja, ada cctv di dalam ruangan itu.


"Dasar iblis! Dia benar-benar menyiksa ku,"umpat Aurora.


Mau tidak mau akhirnya Aurora melanjutkan olahraga di dampingi Nala. Bukan hanya olah raga, Nala juga mengajarkan ilmu bela diri pada Aurora. Berulang kali Aurora menyerah dan ingin berhenti, namun Nala selalu mengingatkan Aurora jika Rayyan akan menghukumnya jika tidak melakukan semuanya sesuai jadwal.


Setelah dua jam, akhirnya Nala mengijinkan Aurora untuk kembali ke dalam kamar Rayyan. Aurora benar-benar merasa tubuhnya pegal dan lelah. Wanita itu langsung masuk ke kamar mandi, berendam air hangat di dalam bathtub.


"Dasar iblis! Apa tidak cukup dia menyiksa aku di atas ranjang? Bahkan dia masih menyiksa aku dengan latihan fisik. Apa dia ingin membunuh aku secara perlahan? Oke. Baiklah. Dia ingin aku belajar ilmu beladiri, 'kan? Aku akan belajar ilmu beladiri dengan sungguh-sungguh, sesuai kemauannya. Setelah aku mahir nanti, akan aku hajar iblis mesum sialan itu,"gumam Aurora penuh emosi karena merasa kesal dengan Rayyan.


"Mau pakai baju apa aku? Sudah beberapa hari ini aku tinggal di kamar ini. Aku bosan berada di kamar ini terus. Setelah makan siang nanti, aku akan pergi melihat toko kue dan kafeku,"gumam Aurora seraya memilih baju di walk-in closet.


Setelah makan siang,. Aurora bersiap untuk pergi ke toko kue dan kafenya. Begitu keluar dari kamar, Nala sudah ada di luar kamar itu.


"Nyonya mau ke mana?"tanya Nala.


"Aku ingin pergi ke toko kue dan kafe ku,"sahut Aurora.


"Saya akan mengantarkan anda,"sahut Nala.


"Boleh juga. Lumayan, hemat pengeluaran,"gumam Aurora tersenyum tipis.


"Halo! Keluarkan mobil yang sudah disiapkan Tuan untuk nyonya!"ucap Nala menghubungi seseorang lewat sambungan telepon.


Aurora dan Nala keluar dari rumah besar itu dan di depan pintu utama sudah ada mobil yang terparkir. Aurora nampak kagum melihat mobil yang terparkir itu.

__ADS_1


"Apa itu mobil yang akan aku naiki? Bagus sekali! Aku bahkan tidak pernah bermimpi bisa menaiki mobil semewah itu,"gumam Aurora lirih.


"Silahkan nyonya!"ucap Nala membuka pintu mobil bagian penumpang di bagian belakang.


"Siapa yang akan mengemudikannya?"tanya Aurora setelah melihat ke dalam mobil tidak ada siapapun di dalam mobil itu.


"Saya, nyonya,"sahut Nala.


"Kalau begitu, buat apa aku duduk di belakang. Aku ingin duduk di depan bersamamu saja,"sahut Aurora langsung membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi, lalu segera duduk. Nala hanya menghela napas melihat tingkah majikannya itu. Lalu bergegas masuk ke dalam mobil.dan mengendarainya.


"Sudah berapa lama kamu bekerja untuk Rayyan?"tanya Aurora seraya memperhatikan jalan.


"Baru, nyonya,"sahut Nala dengan mata yang fokus ke jalan raya.


"Apa pekerjaan pertama kamu selama bekerja pada Rayyan?" tanya Aurora lagi.


"Menjaga anda, nyonya,"sahut Nala.


"Oh, benar-benar baru ternyata. Nala, kira-kira Rayyan bisa ilmu beladiri nggak, ya?"tanya Aurora.


"Dilihat dari postur tubuh Tuan, seharusnya bisa, nyonya,"sahut Nala.


"Baiklah. Mulai besok, latih aku lagi untuk mempelajari ilmu beladiri. Aku ingin segera menguasai ilmu beladiri,"ujar Aurora penuh semangat.


"Baik, nyonya,"sahut Nala.


Di sisi lain, Rayyan sedang makan siang bersama Fina.


"Apa kamu sudah menemukan petunjuk tentang orang yang telah membunuh papamu?"tanya Fina.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2