Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
216. Apa Alasannya?


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Hendrik merasa tidak bersemangat. Menurut ingatan Hendrik, jika datang bulan Sumi teratur, maka hari ini adalah hari ke tiga Sumi datang bulan. Namun sampai saat ini, Sumi tidak menghubungi dirinya.


"Apa Miti benar-benar tidak hamil? Karena itu dia tidak menghubungi aku. Apakah hubungan kami benar-benar harus berakhir sampai di sini?"gumam Hendrik membuang napas kasar.


Pria itu berdiri di dinding kaca apartemennya. Menatap hiruk pikuk kota tempatnya berada saat ini dengan tatapan kosong. Tubuhnya memang ada di tempat itu, tapi hatinya berada di tempat lain.


"Empat hari lagi, aku harus mulai bekerja di kota ini. Sebelum aku benar-benar melupakan dia dan memulai lembaran baru, aku ingin bertemu dengan dia sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya,"gumam Hendrik yang tiba-tiba beranjak dari tempatnya berdiri.


Hendrik bergegas memesan tiket pesawat, lalu membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Hendrik pun bergegas pergi ke bandara. Hanya ingin melihat wanita yang dicintainya sekali lagi, untuk yang terakhir kali. Setelah itu, Hendrik akan membuka lembaran baru dan tidak akan menoleh ke belakang lagi.


Sepanjang perjalanan menuju negara asalnya, Hendrik tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Namun Hendrik malah merasa pesawat yang ditumpanginya bergerak sangat lamban, hingga pesawat itu tidak kunjung sampai di tempat tujuannya.


Bukankah seperti itu yang sering kita alami? Ketika sedang menunggu dan menanti sesuatu atau seseorang, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Kita bisa berkali-kali melihat jam hanya untuk mengecek berapa lama waktu telah berjalan. Namun, kita jadi merasa kecewa saat mengetahui bahwa nyatanya waktu yang berlalu baru sebentar.


Menunggu sesuatu memang membuat perasaan campur aduk. Bisa ada rasa excited, penasaran, bahagia, khawatir, takut dan lain sebagainya. Sehingga, kita merasa sudah dipenuhi dengan berbagai perasaan tersebut dan jadi tidak sabaran untuk segera mendapatkan apa yang kita tunggu-tunggu.


Setelah turun dari pesawat, Hendrik langsung memesan taksi online dan langsung meluncur ke restoran Sumi. Namun, drama kemacetan lalu lintas kembali menguji kesabaran Hendrik.


"Malam sudah agak larut. Apa dia masih ada di restorannya?"gumam Hendrik dalam hati.


Pria itu takut Sumi sudah keburu pulang dan dirinya tidak bisa melihat Sumi lagi. Walaupun hanya bisa melihat dari kejauhan, itu sudah cukup bagi Hendrik.


Hendrik meminta supir taksi online itu berhenti di depan restoran Sumi. Bertepatan saat taksi yang ditumpangi Hendrik berhenti di depan restoran Sumi, Hendrik melihat para karyawan Sumi sibuk beres-beres untuk menutup restoran. Satu persatu karyawan Sumi keluar dari restoran itu. Ada yang pulang menggunakan motor, ada pula yang naik ojek online. Hingga akhirnya wanita yang dirindukan Hendrik terlihat juga. Wanita itu berdiri di depan restorannya dan nampak sibuk dengan handphonenya.


Hendrik menatap Sumi dari dalam taksi online dengan tatapan penuh kerinduan. Namun Hendrik terlihat khawatir saat melihat Sumi memijit pelipisnya sendiri. Wanita itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Tanpa sadar Hendrik keluar dari taksi online yang di tumpanginya, dan berjalan cepat menghampiri Sumi.


"Brugk"


Hampir saja Sumi terjatuh di lantai, jika Hendrik tidak tepat waktu menangkap tubuh Sumi.


"Sayang!"panggil Hendrik tanpa sadar.


Hendrik langsung menggendong Sumi menuju taksi online yang ditumpanginya tadi.


"Ke rumah sakit, Pak!"pinta Hendrik pada supir taksi online itu.

__ADS_1


Hendrik terlihat sangat khawatir. Pria itu memeluk tubuh Sumi yang berada di dalam pangkuannya. Hendrik merapikan rambut Sumi yang menutupi wajah Sumi. Pria itu membelai wajah Sumi penuh kasih sayang. Ada segudang rasa rindu dalam hatinya yang begitu menyiksa dirinya akhir-akhir ini.


Pria itu menatap lembut wajah wanita yang dicintainya itu. Ada kekhawatiran di hati Hendrik melihat wajah Sumi yang terlihat pucat pasi itu.


"Kamu kenapa? Kenapa memaksakan diri untuk bekerja jika sedang sakit? Tubuh mu jadi kurus begini,"gumam Hendrik penuh kekhawatiran.


Hendrik memeluk erat tubuh Sumi yang lemas itu untuk menumpahkan kerinduannya dan meredakan rasa khawatirnya. Mencium aroma tubuh Sumi yang tidak pernah bosan dihirupnya.


"Aku ingin tahu, apa dia benar-benar tidak mengandung anakku, hingga dia tidak menghubungi aku. Ataukah sengaja menyembunyikan kehamilannya karena tidak ingin menikah dengan aku,"gumam Hendrik dalam hati.


Sesampainya di rumah sakit, Hendrik langsung membawa Sumi ke dokter kandungan untuk memastikan Sumi mengandung anaknya atau tidak.


Hendrik menatap layar monitor dengan jantung yang berdegup kencang. Pria itu sangat berharap Sumi mengandung anaknya.


"Selamat, Tuan! Istri anda sedang mengandung,"ucap dokter yang memeriksa Sumi.


Hendrik memang mengaku sebagai suami Sumi, karena Hendrik meminta dokter untuk memeriksa Sumi mengandung atau tidak. Jika tidak mengaku sebagai suami Sumi, maka akan sulit bagi Hendrik untuk meminta dokter melakukan pemeriksaan semacam itu.


"Benarkah? Dia sedang mengandung? Dokter tidak berbohong, 'kan?"tanya Hendrik yang ingin memastikan pendengarannya tidak salah. Hendrik akan merasa sangat bahagia jika Sumi benar-benar sedang mengandung darah dagingnya.


"Benar. Istri anda sedang mengandung. Kantung janinnya sudah terlihat. Tapi, tubuh istri anda sepertinya lemah sekali. Anda harus lebih memperhatikan kesehatan dan asupan gizi untuk istri anda. Karena kesehatan istri anda dan makanan yang dikonsumsinya akan sangat berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungannya. Jangan sampai keadaannya nge-drop seperti ini,"ujar dokter itu.


Dokter kemudian memberitahu Hendrik apa saja yang harus dilakukan Hendrik sebagai suami. Dan menyarankan agar Sumi dirawat dulu di rumah sakit karena keadaan Sumi saat ini sangat lemah.


Hendrik menunggu Sumi di ruang rawat inap. Ada kebahagiaan dan juga rasa heran sekaligus kecewa di hati Hendrik saat ini. Bahagia karena Sumi sedang mengandung. Dan setelah mendengar penjelasan dokter tadi, Hendrik sangat yakin jika janin yang ada di dalam kandungan Sumi adalah darah dagingnya. Namun yang membuat Hendrik heran, kecewa dan tidak habis pikir adalah alasan Sumi tidak memberitahu dirinya tentang kehamilannya.


"Apa dia begitu membenci aku, hingga dia tidak mau memberitahu aku soal kehamilannya? Apa dia pikir selamanya dia bisa menyembunyikan kehamilannya dari ku? Untung saja aku pulang, jika tidak, aku tidak akan mengetahui kebenaran ini,"gumam. Hendrik lirih.


Berkali-kali Hendrik menghela napas. Sudah tidak sabar rasanya menunggu Sumi sadar. Hendrik benar-benar ingin bertanya pada Sumi, apa alasan Sumi menyembunyikan kehamilannya ini dari dirinya.


Hendrik beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Saat Hendrik masuk ke kamar mandi, Sumi nampak menggerakkan jemari tangannya. Perlahan Sumi menggerjap kan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


"Dimana ini?"gumam Sumi lirih seraya mengamati ruangan tempanya berada. Tangan Sumi terulur untuk memijit pelipisnya karena kepalanya terasa pusing.


"Aku di rumah sakit? Siapa yang membawa aku ke sini?"gumam Sumi seraya menatap punggung tangannya yang terhubung dengan selang infus.

__ADS_1


Sumi kembali memejamkan matanya karena kepalanya terasa sangat pusing. Sumi ingat jika tadi dirinya pingsan di depan restorannya. Tapi Sumi tidak tahu siapa orang yang telah menolong dirinya.


Sumi mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang menandai ada orang di dalam kamar mandi. Tak lama kemudian Sumi mendengar suara pintu yang dibuka dan suara langkah kaki yang mendekat ke arah dirinya. Sumi merasa orang itu duduk di sebelahnya.


"Aroma parfum ini, mengapa aroma parfum ini seperti aroma parfum yang selalu dipakai Hendrik? Tidak! Tidak mungkin Hendrik ada di sini. Aku pasti terlalu berharap hingga aku berhalusinasi. Ini pasti orang lain yang kebetulan memakai parfum yang sama dengan Hendrik,"gumam Sumi dalam hati.


Namun karena Sumi merasa sangat penasaran dengan orang yang ada di sampingnya, perlahan Sumi pun membuka matanya. Sumi membulatkan matanya saat melihat pria yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya duduk di sebelah ranjang tempatnya berbaring. Pria yang tidak lain adalah Hendrik. Pria yang saat ini sedang fokus membalas chat seseorang hingga tidak menyadari jika Sumi sudah sadar.


Mata Sumi berkaca-kaca menatap Hendrik. Dirinya tidak berhalusinasi. Pria di sampingnya saat ini benar-benar Hendrik. Orang yang sangat dirindukan Sumi akhir-akhir ini.


"Hen.."


...Tentang Rindu ...


...Sebelum kamu pergi, aku tak pernah tahu artinya sepi. Dan sebelum kamu meninggalkan ku, aku tak pernah tahu artinya rindu....


...Aku rindu kamu. Dan rasa rinduku telah berhasil menghancurkan hatiku....


...Rindu ini meremukkan jantung ku dan mengobrak-abrik kalbuku....


...Ingin rasanya ku putar waktu, sehingga aku bisa kembali bersamamu....


...Jarak, waktu dan egoku menjadi penghalang antara aku dan kamu....


...Aku hanya bisa merindu mu didalam diam ku. Menghapus setiap air mata yang terus menetes di wajahku....


...Aku terus merindukan mu tanpa bisa melupakan mu....


...Ada kalanya aku ingin menjemputmu dari mimpi, lalu memelukmu di dunia nyata....


...Sebuah harapan didalam kerinduan, sebuah pertemuan dalam kenyataan....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2