Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
105. Berpura-pura


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Aurora hanya diam menatap pemandangan di luar kaca mobil. Obrolan dua orang wanita di outlet mie ayam tadi benar-benar mengusik hati Aurora. Berkali-kali wanita muda itu menghela napas.


Pukul delapan malam, Aurora sudah sampai di rumah. Aurora nampak ragu untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Rayyan sudah pulang atau belum, ya?"gumam Aurora lirih, bingung harus bagaimana jika bertemu Rayyan.


Tidak terlalu banyak berkomunikasi sejak awal bertemu hingga akhirnya menikah. Namun hampir setiap malam melakukan hubungan suami-istri, membuat Aurora bingung harus bagaimana memulai pembicaraan dengan Rayyan. Menggoda seperti apa yang dimaksud dua wanita tadi juga tidak dimengerti Aurora bagaimana caranya. Haruskah dirinya menggoda Rayyan dengan suara, gestur tubuh, dan senyuman yang dibuat menggoda seperti saat dirinya menjadi kupu-kupu malam gadungan? Hanya itu pengalaman nya dalam menggoda pria. Karena selama menjadi kupu-kupu malam gadungan, Aurora tidak pernah menggoda pelanggan nya dengan memperlihatkan tubuhnya.


"Nyonya, ada apa?"tanya Nala yang bingung melihat Aurora berdiri diam di depan pintu kamarnya sendiri.


"Ah, tidak apa-apa,"sahut Aurora yang tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan dari Nala.


"Saya sudah membuka kunci pintu nya, Nyonya,"ujar Nala.


"Ah, iya,"sahut Aurora, kemudian membuka pintu kamarnya dan langsung masuk.


"Kenapa aku jadi loading seperti ini? Jelas-jelas Nala membuka kunci kamar ini, kenapa aku malah berpikir jika Rayyan sudah pulang?"gumam Aurora yang merasa menjadi bodoh.


"Aku pusing bagaimana caranya membuat Rayyan tidak marah lagi padaku. Sebaiknya aku mandi saja,"gumam Aurora bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, Aurora memilih baju di walk-in closet. Aurora kini bingung harus memakai baju apa.


"Kata wanita tadi, memakai baju yang seksi. Apa aku harus memakai lingerie untuk menggoda Rayyan?"gumam Aurora seraya melihat deretan lingerie dengan berbagai macam warna di dalam walk-in closet itu.


Aurora mencoba satu persatu lingerie yang selama ini tidak pernah dipakainya itu. Namun setelah melihat bayangan dirinya yang sedang memakai lingerie di cermin, Aurora tidak jadi memakainya.


"Aku seperti tidak memakai baju saat memakai lingerie,"gumam Aurora bergidik ngeri.


Karena merasa malu memakai lingerie, akhirnya Aurora memakai baju seperti biasanya. Yaitu memakai piyama.


"Hah? Sudah pukul sepuluh malam?"gumam Aurora yang baru menyadari jika malam semakin larut.


Aurora bergegas keluar dari dalam walk-in closet menuju ranjang. Wanita itu membaringkan tubuhnya dan menutup tubuh nya dengan selimut.

__ADS_1


"Aku bingung harus bagaimana jika bertemu dengan Rayyan. Aku harus ngomong apa?"gumam Aurora yang benar-benar bingung harus apa dan bagaimana jika bertemu dengan suaminya.


"Ceklek"


Suara pintu yang di buka membuat Aurora terkejut. Dengan cepat Aurora berbaring miring membelakangi tempat Rayyan biasa tidur, lalu memejamkan matanya.


Rayyan menatap Aurora yang tidur dengan posisi miring, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seharian dengan aktivitas padat, di tambah baru saja keluar kota membuat Rayyan merasa lelah.


"Huff.. punya istri hanya bisa di jadikan pajangan. Sampai kapan harus begini? Aku bahkan harus menahan diri untuk tidak menyentuh dia. Aku tidak ingin kecewa lagi karena penolakan dari nya. Bahkan dia pura-pura tidur saat mengetahui aku pulang,"gumam Rayyan seraya menanggalkan seluruh pakaiannya.


Saat membuka pintu, Rayyan sempat melihat Aurora buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut. Dan hal itu semakin membuat Rayyan kecewa. Rayyan merasa Aurora benar-benar tidak ingin di sentuhnya.


Sedangkan di atas ranjang, Aurora menatap pintu kamar mandi yang tertutup,"Apa malam ini dia akan meminta haknya? Sudah beberapa malam dia tidak menyentuh aku. Kenapa aku jadi berharap jika dia akan menyentuh aku?"gumam Aurora semakin bingung dengan hati nya sendiri. Masih bertahan dengan posisinya semula, tidur miring membelakangi tempat Rayyan tidur.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang di buka. Aurora kembali memejamkan matanya. Aroma segar dari sabun mandi dan shampo yang digunakan Rayyan pun menguar di indera penciuman Aurora.


Aurora merasakan ranjang tempat nya berbaring bergerak. Dan Aurora yakin jika Rayyan naik ke atas ranjang. Aurora tetap diam, ingin tahu apa yang akan dilakukan suaminya.


"Derttt"


"Derttt"


Suara getar handphone Rayyan di atas nakas membuyarkan lamunan sepasang suami-isteri itu. Rayyan mengambil handphonenya dan langsung menerima panggilan masuk itu setelah mengetahui siapa yang sedang menghubungi dirinya.


"Hum,"sahut Rayyan yang dapat menduga jika ada masalah serius.


"Aku ingin bertemu dengan kamu sekarang,"sahut orang yang menghubungi Rayyan.


"Sekarang?"tanya Rayyan melihat jam analog di atas nakas sudah menunjukan pukul sebelas malam,"Apa kamu begitu rindu padaku hingga ingin bertemu dengan ku sekarang?"tanya Rayyan dengan suara lembut, seraya melirik ke arah Aurora. Rayyan tersenyum smirk melihat Aurora menggenggam erat selimut yang dipakainya.


Tiba-tiba dada Aurora terasa sesak saat mendengar kata-kata Rayyan. Karena Aurora hanya mendengar perkataan Rayyan, tidak bisa mendengar perkataan orang yang berbicara dengan Rayyan. Sehingga Aurora berpikir macam-macam.


"Iya, aku sangat merindukanmu. Puas?! Dasar aneh! Cepat kemari! Masalah ini tidak bisa ditunda lagi!"ketus orang yang tidak lain adalah Aiden. Merasa kesal karena Rayyan malah bercanda saat dirinya bicara serius.

__ADS_1


"Baiklah jika kamu sangat merindukan aku. Aku akan ke sana sekarang juga,"sahut Rayyan kembali melirik Aurora yang tidur membelakangi dirinya.


"Berhenti bicara seperti itu! Menjijikkan sekali Kita akan bicara lama. Jadi, suruh Nala untuk menjaga istri kamu,"ujar Aiden yang bergidik ngeri mendengar kata-kata Rayyan.


"Kamu ingin aku menginap? Oke. Nggak masalah,"sahut Rayyan kemudian menutup teleponnya dan beranjak dari tempat tidurnya. Rayyan mengganti pakaiannya dan tak lama kemudian pria itu sudah keluar dari kamar itu.


Setelah pintu kamar tertutup, Aurora langsung membuka matanya. Entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar setiap kata yang meluncur dari mulut Rayyan.


Aurora bangkit dari tempatnya berbaring dan membuka pintu balkon kamarnya. Aurora melihat mobil Rayyan melaju meninggalkan rumah itu.


"Tidak. Dia tidak mungkin berselinggkuh dari aku, 'kan? Kami sudah tandatangan hitam di atas putih. Jika dia selingkuh, maka saat aku menceraikan dia, semua hartanya akan menjadi milikku. Jadi dia tidak mungkin berselinggkuh,"gumam Aurora berpikir positif.


"Tapi.. jelas-jelas dia seperti berbicara dengan seorang kekasih. Dia orang kaya dan berkuasa. Dia bisa saja, 'kan, berselingkuh dari aku dan menyembunyikan nya dari ku?"gumam Aurora yang menjadi gelisah.


Malam semakin larut, namun Aurora belum juga bisa memejamkan matanya. Masih terngiang di telinga nya semua kata-kata Rayyan tadi.


"Sekarang?"


"Apa kamu begitu rindu padaku hingga ingin bertemu dengan ku sekarang?"


"Baiklah jika kamu sangat merindukan aku. Aku akan ke sana sekarang juga,"


"Kamu ingin aku menginap? Oke. Nggak masalah,"


Mengingat semua kata-kata Rayyan itu membuat Aurora tidak bisa tidur.


"Bagaimana ini? Apakah dia berselingkuh dari aku karena aku tidak mau melayani dia? Ini salahku,"gumam Aurora nampak frustasi.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2