
Rayyan baru saja sampai di rumah. Pria itu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Di luar sana hujan turun dengan deras disertai angin kencang, kilat yang menyambar-nyambar dan suara petir yang memekakkan telinga.
"Sayang, kamu belum tidur?"tanya Rayyan saat masuk ke dalam kamarnya dan melihat Aurora duduk di atas ranjang.
"Aku khawatir padamu, sayang. Di luar sana hujan turun dengan deras di sertai angin kencang dan juga petir yang suaranya begitu keras,"sahut Aurora seraya menghampiri Rayyan yang melepaskan kemejanya.
"Iya, cuaca di luar sana memang menakutkan. Apa Zayn tidak terbangun?"tanya Rayyan seraya menatap ke arah ranjang tempat putranya tidur.
"Tidak,"sahut Aurora seraya membantu suaminya melepaskan kemejanya,"Ada perlu apa kakak memanggil kamu, sayang?"tanya Aurora karena tadi Rayyan pamit pergi untuk menemui kakaknya.
"Tidak ada. Hanya sudah lama tidak bertemu dan ingin membahas soal kerjaan,"sahut Rayyan yang tidak mengatakan yang sejujurnya, jika sebenarnya yang menghubungi dirinya adalah Roni. Karena Roni khawatir pada Aiden.
Rayyan tidak ingin Aurora yang sedang mengandung itu menjadi khawatir dengan keadaan kakaknya, jika Rayyan menceritakan yang sesungguhnya.
Tadi Rayyan berpikir, jika Aiden ingin bertemu dengan dirinya, karena ingin mengklarifikasi tentang hubungannya dengan Victoria. Ternyata Aiden malah terlihat sedang galau dan tidak mau bercerita pada dirinya tentang apa yang telah membuat sang mantan Casanova itu menjadi galau.
"Apa kamu sudah memberitahu kakak, jika aku sedang mengandung?"
"Sudah. Kakak mengucapkan selamat pada kita. Aku akan mencuci tangan dan kakiku dulu,"ucap Rayyan kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, pria itu sudah keluar dari kamar mandi dan menyusul Aurora yang sudah lebih dulu berbaring.
"Apa dia baik-baik saja?"tanya Rayyan seraya mengusap lembut perut Aurora yang masih rata itu.
"Kenapa? Kamu ingin?"tanya Aurora memicingkan sebelah matanya menatap Rayyan.
"Aku ingin. Tapi, aku takut dia kenapa-kenapa. Kita tidur saja. Tidak baik bumil tidur terlalu larut malam,"ujar Rayyan, kemudian mengecup perut Aurora lembut, lalu mengecup bibir dan kening Aurora. Rayyan mendekap tubuh Aurora dengan hangat dan penuh cinta.
"Yakin, tidak ingin?"tanya Aurora menatap Rayyan.
"Lain kali saja. Jika aku melakukannya sekarang, kamu akan semakin larut baru bisa beristirahat. Dan itu tidak akan baik untuk kesehatan kamu dan juga janin dalam kandungan mu. Tidurlah!"pinta Rayyan yang tidak ingin istri kelelahan dan janin dalam kandungan istrinya bermasalah. Pria itu memeluk istrinya seraya membelai kepala Aurora.
*
Di sisi lain, Andi turun dari taksi dan bergegas ke unit apartemen tempat dirinya dan istrinya tinggal. Kilat dan petir masih mewarnai langit yang terus menjatuhkan butir-butir air.
"Huff.. Hujan kali ini menakutkan sekali. Jika tadi Roni tidak menelpon ku, saat ini aku pasti sudah tidur memeluk istriku,"gumam Andi seraya masuk ke dalam lift menuju lantai dimana unit apartemennya berada.
Tak lama kemudian pemuda itu pun tiba di unit apartemennya. Pemuda itu nampak menghela napas panjang melihat istrinya yang sudah terlelap. Mungkin faktor kelelahan, hujan di luar sana dan juga malam yang semakin larut yang membuat istrinya sudah tidur lelap.
Andi pergi ke kamar mandi dan tak lama kemudian sudah kembali dengan bertelanjang dada. Pemuda itu langsung naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut.
"Plak"
__ADS_1
"Auwh! Astagaa..! Gadis ini! Brutal sekali cara tidurnya,"gumam Andi menghela napas berat memegang tangan Kanaya yang mendarat cantik di pipinya.
Tadinya Andi ingin memeluk Kanaya yang tidur dengan posisi membelakangi dirinya. Namun baru saja Andi beringsut mendekati gadis itu, tiba-tiba saja gadis itu berbalik dengan tangan yang tepat mengenai pipi Andi.
Andi tersenyum menatap Kanaya yang sudah terlelap itu. Perlahan Andi merapikan rambut Kanaya yang menutupi wajah gadis itu.
"Iya. Aku janji akan patuh padanya. Ibu jangan menyumpahi aku,"gumam Kanaya dengan mata terpejam. Sepertinya apa yang dikatakan oleh ibunya sampai terbawa mimpi, karena Kanaya terlalu takut di sumpahi oleh ibunya.
"CK. Ternyata benar kata ibu. Dia paling takut di sumpahi oleh ibu. Sepertinya dia sudah ter-sugesti bahwa semua sumpah ibunya pasti menjadi kenyataan,"gumam Andi tertawa tanpa suara. Menertawakan istrinya yang sangat takut di sumpahi oleh ibunya sampai terbawa mimpi.
Andi ingat pembicaraannya dengan ibu mertuanya setelah dirinya menyerahkan sertifikat rumah dan juga uang belanja pada ibu mertuanya itu.
"Nak Andi, Kanaya memang sedikit keras kepala. Tapi sebenarnya dia gadis yang baik dan penurut. Kanaya akan melakukan apa saja yang ibu suruh dan tidak akan berani melawan pada ibu. Dia paling takut jika ibu sumpahi. Karena jika ibu menyumpahi dia, pasti sumpah ibu akan terjadi padanya,"
"Sebab itu, nak Andi tidak perlu khawatir Kanaya akan marah pada nak Andi karena nak Andi menikahi dia dengan cara seperti ini. Percayalah pada ibu. Lama kelamaan, jika kalian terus bersama, Kanaya pasti akan jatuh cinta pada nak Andi,"ujar ibu Kanaya waktu itu.
...π Aku sempat berpikir untuk meng-upload bab ini nanti malam, karena sedikit π. Namun akhirnya aku putuskan untuk update siang ini, karena takut di tungguin.Karena itu, aku update agak terlambat. ...
...Harap bijak jika ingin lanjut baca. Kalau nekat baca, tanggung sendiri risikonya.π...
Andi menatap wajah cantik Kanaya yang terlihat lebih bersih dan lebih halus dari sebelumnya. Tatapan mata Andi akhirnya tertuju pada bibir Kanaya yang sudah di nikmati nya beberapa kali itu.
Perlahan Andi mendekatkan bibirnya ke bibir Kanaya. Andi perlahan memagut bibir gadis yang masih terlelap itu.
Sedangkan Kanaya yang terlelap, gadis itu bermimpi dirinya di ajak Andi pergi ke tepi pantai. Gadis itu tersipu malu saat Andi memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. Perlahan Andi mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibirnya dan mulai memagut bibirnya.
Merasakan sentuhan jemari tangan Kanaya di tubuhnya, libido Andi pun berangsur naik. Pemuda itu mendorong tubuh Kanaya yang berbaring miring itu dengan perlahan tanpa melepaskan pagutannya, hingga gadis itu terbaring terlentang dan Andi pun langsung mengungkung tubuh Kanaya.
Dalam mimpi Kanaya, Andi membuat Kanaya berbaring di atas pasir pantai lalu mengungkung tubuhnya.
Kanaya masih menganggap dirinya bermimpi. Gadis itu berada di alam setengah sadar, sehingga merasakan mimpinya terasa nyata. Padahal apa yang terjadi pada dirinya saat ini bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.
Sesekali Andi melepaskan pagutannya agar dirinya dan Kanaya bisa mengambil napas. Namun dengan kening dan hidung yang saling bersentuhan. Seolah enggan untuk menjauhkan bibirnya dari bibir Kanaya yang masih belum puas di nikmati nya itu.
Kanaya yang masih belum keluar dari dunia mimpi merasa sangat senang saat jemari tangannya bisa menyentuh setiap inci dada dan perut Andi yang berotot. Tidak menyadari gerakan tangannya itu membuat Andi ingin memakannya tanpa tersisa.
"Aku menginginkannya,"gumam Andi dalam hati yang detak jantung yang semakin berdetak kencang, tubuhnya terasa semakin panas dan menjadi semakin gelisah karena merasakan setiap sentuhan Kanaya di tubuhnya. Apalagi saat Kanaya menyentuh lehernya dan mengusapnya dengan lembut. Cuaca dingin karena hujan di luar sana dan juga AC yang bahkan masih menyala tidak bisa mendinginkan tubuh pemuda itu.
Di luar sana hujan masih turun dengan deras, walaupun kilat dan petir sudah tidak terdengar lagi. Perlahan tapi pasti, Andi mulai membuka kancing baju piyama yang di kenakan oleh Kanaya.
Bibir pemuda itu perlahan turun untuk mencium leher Kanaya. Sedangkan jemari tangannya masih sibuk melepaskan kancing baju Kanaya.
"Emhh.. "lenguhh Kanaya saat Andi menyesap lehernya yang putih, hingga meninggalkan beberapa tanda berwarna keunguan di sana.
__ADS_1
Suara lenguhann Kanaya membuat hasraat Andi semakin naik. Apalagi jemari tangan Kanaya terus bergerak menyusuri leher, dada, perutnya dan punggung nya.
Kanaya merasa mimpinya begitu indah hingga dirinya enggan untuk bangun dan membuka mata. Masih merasa dirinya sedang bermimpi mesum, tapi sangat menikmatinya. Apalagi dirinya bisa sesuka hati meraba tubuh suaminya yang tidak bisa dilakukannya dalam keadaan sadar karena malu.
"Ughh.. Bee.."lenguuh Kanaya saat Andi menenggelamkan wajahnya di antara dua bukit kembar milik Kanaya dengan jemari tangan yang bermain di puncak bukit itu. Sedangkan tangan yang lainnya mulai menurunkan celana yang dikenakan oleh Kanaya.
"Aku sudah tidak tahan lagi,"gumam Andi dalam hati. Tubuh pemuda itu benar-benar panas dan detak jantungnya berdetak tidak beraturan.
Dengan cepat pemuda itu melepaskan celana boxer-nya hingga sesuatu yang berdiri tegak tapi bukan tiang, bukan pula keadilan itu terlihat. Dengan tidak sabar Andi meloloskan celana piyama dan juga kain berbentuk segitiga Kanaya yang sudah melorot sampai paha itu dengan sekali tarikan.
Pemuda itu menelan salivanya kasar melihat sesuatu di antara kedua paha Kanaya. Tanpa menunggu lama, Andi mengatur posisinya di atas tubuh Kanaya. Dengan tidak sabar pemuda itu mencari jalan untuk memasuki tubuh Kanaya.
Kanaya terlihat semakin gelisah. Kedua tangannya mencengkram kuat seprei.
Namun karena ini adalah pengalaman pertama, Andi nampak kesulitan untuk memasuki tubuh Kanaya. Di tambah lagi Kanaya juga belum pernah melakukannya.
"Akkhh!"pekik Kanaya saat Andi mendorong miliknya sedikit kuat. Andi pun berhenti mendorong miliknya karena mendengar pekikan Kanaya itu.
Tiba-tiba Kanaya membuka matanya dan melihat Andi di atas tubuhnya dengan peluh di wajahnya dan napas yang tidak beraturan. Kanaya membulatkan matanya saat menyadari apa yang sedari tadi dirasakannya bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
"B.. Bee.. Emp.."Kanaya tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya saat Andi menutup mulutnya dengan bibirnya.
Dengan bibir yang terus memagut bibir Kanaya, pemuda itu kembali mendorong miliknya dan membuat Kanaya kembali merasa kesakitan. Andi terus berusaha memasuki tubuh Kanaya, hingga Kanaya semakin kesakitan.
"Akkh"pekik Andi dan Kanaya bersamaan saat Kanaya mencakar leher Andi. Dan menggigit bibir Andi.
Kanaya mencakar leher Andi dan menggigit bibir Andi untuk melampiaskan rasa sakit di bagian inti tubuhnya. Sedangkan Andi memekik karena lehernya terasa perih akibat cakaran Kanaya dan bibirnya sedikit berdarah karena di gigit Kanaya.
"Bee.. Su.. Sudah.. Bee.. Sakit.. "ucap Kanaya lirih. Gadis itu terisak dengan air mata yang sudah meleleh karena menahan rasa sakit yang cukup lama.
"Maaf!"ucap Andi seraya menghapus air mata Kanaya, kemudian mengecup kening Kanaya lembut.
Andi turun dari atas tubuh Kanaya dan menyelimuti tubuh Kanaya yang sudah setengah telanjangg.
Pemuda itu memakai celana boxer-nya lalu berlalu ke kamar mandi untuk menidurkan sesuatu yang terlanjur terbangun.
Setelah Andi masuk ke dalam kamar mandi, Kanaya membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Seluruh kancing piyamanya sudah terbuka dan dua buah bukit kembar miliknya sudah keluar dari tempatnya. Sedangkan bagian bawah tubuhnya ... Terekspos sempurna. Hanya piyama dan kain penutup dada lah yang menempel di tubuhnya.
"Dia ganas sekali,"gumam Kanaya yang melihat dadanya penuh dengan tanda merah keunguan.
...πΈβ€οΈπΈ...
Astagaaa.. Gara-gara Andi bab ini jadi panjang hampir dua bab. Yang siang-siang nekat baca, aku nggak tanggung jawab, ya! π π π€π€π€πππππ
__ADS_1
.
To be continued