
Andi menatap ke lima preman yang masih terkapar di trotoar itu. Lima preman yang babak belur dihajar Hendrik dan dirinya.
"Siapa yang menyuruh kalian menculik nona Sumi?"tanya Andi datar dengan tatapan tajam pada lima preman itu.
"Jawab!"bentak Andi dengan suara menggelegar karena tidak mendapatkan jawaban dari lima preman itu.
"Ka. kami tidak tahu,"jawab seorang preman yang ketakutan melihat wajah dan tatapan dingin yang terasa mengintimidasi dari Andi.
"Benarkah?"tanya Andi dengan suara yang masih terdengar dingin.
"Akkhh! Be.. benar. Wanita itu memakai masker. Kami tidak bisa melihat wajahnya,"jawab seorang preman yang tangannya diinjak Andi.
"Katakan! Apa yang diperintahkan wanita yang memakai masker itu pada kalian!"titah Andi pada lima preman itu.
"Wanita itu menyuruh kami menculik pemilik restoran itu, Tuan. Dia membayar kami sepuluh juta dan berjanji akan membayar kami lagi setelah satu minggu kami menyekap pemilik restoran itu. Atau sampai kami puas bersenang-senang dengan pemilik restoran itu,"sahut preman yang diinjak Andi jujur.
"Kemana kalian akan membawa nona Sumi?"tanya Andi.
"Ke markas kami, Tuan,"
"Tunjukkan padaku di mana markas kalian!"titah Andi.
Tak lama kemudian, anak buah Andi pun datang. Andi meminta jaket salah seorang anak buahnya untuk menutupi celananya yang sobek.
"Antar mereka ke markas mereka. Tunggu aku di sana! Dan sebagian lagi, antar aku menemui wanita yang kalian tangkap tadi!"titah Andi pada anak buahnya.
"Baik, Tuan,"sahut anak buah Andi.
Sebagian anak buah Andi mengantar lima orang preman itu ke markas mereka. Sedangkan sebagian lagi mengantarkan Andi menemui wanita yang di tangkap anak buah Andi. Wanita yang menyuruh lima orang preman tadi menculik Sumi.
Andi memasuki sebuah gedung kosong yang terbengkalai. Gedung yang penerangannya berasal dari tumpukan kayu yang dijadikan api unggun. Andi mendekati wanita yang memerintahkan lima orang preman untuk menculik Sumi. Wanita yang memakai masker itu diikat di kursi kayu.
"Buka penutup mulutnya dan maskernya!"titah Andi pada anak buahnya.
Anak buah Andi pun bergegas membuka kain yang diikat di mulut wanita yang bahkan masih memakai masker itu.
"Siapa namamu?"tanya Andi dengan suara dingin dan tatapan tajam. Tangannya menengadah pada anak buahnya. Anak buah Andi pun segera meletakkan pisau lipat di tangan Andi.
__ADS_1
"Res.. Resti,"ucap Resti tergagap melihat aura yang begitu menakutkan di wajah Andi.
"Beraninya kamu menculik wanita itu lebih dulu dariku. Aku sudah berniat merusak wajahnya itu. Tapi kamu malah menculik dia lebih dulu. Kamu kemana kan wanita pemilik restoran itu, hah?!"bentak Andi dengan wajah dan suara dingin. Mengangkat wajah wanita itu dengan pisau di tangannya.
"Tu.. tuan saya juga berniat merusak wajahnya. Tujuan kita sama. Tolong lepaskan saya!"pinta Resti.
"Katakan padaku! Kenapa kamu ingin merusak wajahnya? Dan apa saja kejahatan yang telah kamu lakukan? Jika kamu cukup jahat, aku akan memberikanmu hadiah. Tapi, jika kamu tidak cukup jahat... aku akan melukis di wajahmu dengan pisau ku ini,"ucap Andi seraya menepuk-nepuk pipi Resti dengan pisau lipat yang dipegangnya.
"Apa pria ini psikopat?"gumam Resti dalam hati.
Resti benar-benar merasa ketakutan pada pria didepannya itu. Keringat dingin membasahi tubuh Resti, dan tubuhnya gemetar.
"Katakan! Atau aku akan mencongkel matamu. Dan ingat! Jangan coba-coba berbohong! Jika kamu berbohong... aku akan memotong anggota tubuh kamu satu persatu sampai kamu memohon padaku untuk mati,"ucap Andi seraya mengarahkan pisaunya pada mata Resti. Menatap Resti dengan tatapan tajam, dingin dengan aura yang begitu menakutkan bagi Resti.
"Sa.. Sa.. saya menyingkirkan beberapa wanita penghibur yang menjadi saingan saya. Ada yang saya buat cacat kaki, cacat mata, dan juga cacat wajah,"sahut Resti jujur dengan bibir yang bergetar.
"Katakan dengan detail siapa saja yang telah kamu celakai!"titah Andi seraya mengelus pipi Resti dengan pisau.
Akhirnya Resti mengatakan siapa saja yang telah dicelakai nya agar dirinya menjadi wanita penghibur yang paling cantik dengan tarif paling mahal di tempatnya bekerja. Wanita itu benar-benar di buat ketakutan oleh Andi.
Setelah Resti mengakui semua kejahatannya, Andi dan anak buahnya membawa Resti ke markas para preman yang dibayar Resti. Sebuah gudang kosong dengan penerangan minim yang sepertinya menjadi tempat hunian bagi ke lima preman itu. Andi pun mendekati kelima preman yang dijaga oleh anak buahnya itu.
"Tidak, Tuan,"jawab lima orang preman itu bersamaan karena merasa takut pada Andi.
"Tapi aku ingin kalian bersenang-senang,"sahut Andi masih dengan senyuman yang menakutkan tersungging di bibirnya.
"Bawa dia masuk!"seru Andi pada anak buahnya.
Tak lama kemudian anak buah Andi membawa Resti. Andi mendorong tubuh Resti pada kelima preman itu.
"Akkhh!"pekik Resti
"Brukk"
"Aku beri kalian waktu satu minggu untuk bersenang-senang dengan dia. Pastikan kalian melayani dia dengan baik. Satu minggu lagi, aku akan datang lagi ke sini,"ucap Andi kemudian meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
Matahari nampak bersinar terang. Cahaya masuk lewat jendela kaca yang gordennya terbuka. Sumi sudah terbangun, namun nampak enggan untuk membuka matanya.
"Kepalaku pusing sekali. Tubuh ku terasa pegal semua. Aku malas sekali untuk bangun. Eh, kenapa gulingku aromanya harum seperti parfum, ya?"gumam Sumi dalam hati mengendus apa yang sedang dipeluknya saat ini, kemudian membuka matanya.
"Akkh!"pekik Sumi saat menyadari bahwa yang dipeluknya adalah tubuh seseorang. Sumi semakin terkejut saat menyadari tubuhnya dan tubuh orang yang tidur bersamanya itu polos tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh mereka.
"Ada apa?"tanya Hendrik yang terbangun karena mendengar teriakan Sumi. Pria itu langsung duduk dengan napas tidak teratur karena saking terkejutnya.
"Plak"
Belum juga nyawa Hendrik kumpul semua, Sumi tiba-tiba menampar Hendrik. Hendrik pun kembali terkejut. Bangun terkejut karena mendengar suara teriakan dan di berikan hadiah sebuah tamparan. Sungguh-sungguh pagi yang sangat mengesankan, bukan?
"Dasar brengseek! Apa yang sudah kamu lakukan padaku?!"bentak Sumi terlihat murka.
"Aku.. "
"Kamu menculik aku dan meniduri aku?"tuduh Sumi memotong kata-kata Hendrik,"Cih! Kamu benar-benar pria brengseek! Aku benar-benar menyesal karena pernah bertemu dan mengenal kamu,"ucap Sumi seraya mendorong kasar dada Hendrik dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan sebelahnya memegang selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku memang brengsek. Tapi aku tidak akan melakukan cara seperti itu untuk menjerat wanita, sayang,"sahut Hendrik lembut, lalu menghela napas panjang.
"Tidak usah berkilah! Jelas-jelas kamu sudah menculik aku dan sekarang aku dalam keadaan seperti ini bersama kamu. Siapa yang percaya dengan kata-katamu?"
"Kamu semalam di culik lima orang preman. Aku menolong kamu sampai wajahku babak belur seperti ini karena berkelahi dengan lima preman itu. Mereka meminumkan obat yang dicampur dengan minuman beralkohol padamu. Setelah menyelamatkan kamu, aku berniat mengantarkan kamu pulang. Tapi sepanjang jalan, kamu malah terus-menerus menggoda aku. Aku tidak tahan dengan godaan mu, akhirnya aku membawa kamu ke sini dan kita melakukannya,"jelas Hendrik jujur adanya.
"Jangan berbohong!"sergah Sumi tidak percaya pada penjelasan Hendrik.
"Kamu lihat wajahku ini! Apa kamu pikir aku mau dipukuli orang sampai wajah ku babak belur begini hanya untuk mengarang cerita menolong kamu? Aku memang menyukai kamu. Bahkan sampai saat ini aku masih mencintai kamu. Tapi aku tidak akan melakukan hal merepotkan seperti itu hanya agar bisa tidur dengan kamu,"
"Aku tidak percaya!"
"Terserah kamu percaya atau tidak. Aku tidak bisa memaksa kamu untuk percaya padaku,"ucap Hendrik dengan nada datar, kemudian beranjak turun dari ranjang untuk membersihkan diri.
Sumi membuang napas kasar. Mencoba mengingat kejadian semalam. Sumi membulatkan matanya saat mengingat semalam dirinya terbangun di dalam mobil dan menggoda Hendrik. Namun ingatannya tidak terlalu jelas dan tidak mengingat bagaimana akhirnya dirinya bisa tidur satu ranjang dengan Hendrik.
"Astagaa! Aku benar-benar menggoda dia,"gumam Sumi seraya memijit pelipisnya sendiri.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued