Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
361. Bisa Membaca Pikiran?


__ADS_3

Andi menghentikan motornya tepat di depan rumah sederhana yang ada pohon mangganya.


"Buset, dah! Tinggi mamat, eh tinggi amat pohon mangga itu. Mana buahnya adanya di atas lagi. Haishh.. Tuan ini ngidam apa menyiksa aku, sih?!"gerutu Andi dalam hati. Andi menatap betapa tingginya pohon mangga yang mungkin umurnya hampir sama atau mungkin lebih tua dari dirinya itu.


Seorang kakek-kakek nampak keluar dari rumah sederhana itu. Kakek-kakek itu menghampiri dua orang anak manusia yang berada di depan pagar rumahnya itu. Kakek itu melihat Andi dan Kanaya sedang mendonggak menatap pohon mangga miliknya.


"Kalian mau buah mangga?"tanya pria tua itu membuat Andi dan Kanaya terkejut.


"Ah, iya, kek. Buat orang ngidam,"sahut Andi tersenyum ramah.


"Dasar calon pengantin! Ayo masuk! Kalian boleh mengambil mangga itu sesuka hati kalian. Tapi kalian harus memanjatnya. Karena kakek tidak memiliki galah. Pria kalau terlalu pengen punya anak dan terlalu mencintai istrinya memang seringkali merasakan ngidam saat istrinya mengandung,"ujar kakek itu terkekeh kecil seraya membuka pagar rumah nya.


{•Galah adalah tongkat panjang (dari bambu atau kayu dsb. untuk menjolok buah-buahan, menolak perahu, menjemur pakaian, dsb.) }


"Terimakasih, kek!"ucap Andi tersenyum ramah, dalam hati pemuda itu penuh tanda tanya mendengar kata-kata kakek itu,"Apa di jidat kami ada stempel calon pengantin? Terus, apa yang di maksud pria yang terlalu pengen punya anak dan terlalu mencintai istrinya oleh kakek ini adalah Tuan Rayyan?"gumam Andi dalam hati menatap kakek yang seluruh rambutnya sudah memutih itu dengan penuh tanda tanya. Namun entah mengapa Andi merasa enggan untuk bertanya.


"Calon pengantin? Pria ngidam? Kenapa kakek ini berkata seperti itu? Apa Tuan Andi yang di maksud kakek ini? Ah, mungkin saja begitu. Soalnya, kemungkinan pacar Tuan Andi sedang mengandung. Karena itu kemarin dia galau. Tapi, sungguh menjengkelkan sekali! Sudah punya pacar dan sedang hamil, tapi masih modus sama aku. Apa anaknya akan jadi calon playboy? Dasar pria hidung belang!"gerutu Kanaya dalam hati menjadi kesal, jika mengingat Andi yang membonceng dirinya dengan kencang kemarin.


"Plak"


Tiba-tiba kakek itu menepuk pundak Andi,"Mengungkapkan cinta itu perlu, walaupun kamu pasti di tolaknya,"ujar kakek itu kemudian terkekeh kecil,"Realisasikan saja rencana cadangan kamu itu! Jika kamu tidak merealisasikannya, kamu harus menunggu dia menjadi janda dulu baru kamu bisa bersamanya,"lanjut kakek itu membuat Andi mengernyitkan keningnya.


"Apa dia bisa membaca pikiran orang lain?"gumam Andi dalam hati.


"Apa kakek tua ini sudah pikun? Bicaranya kok, nggak karuan gitu, ya?"gumam Kanaya dalam hati yang merasa aneh dengan kakek itu. Karena perkataan pria tua itu lama-lama jadi membuat Kanaya bingung.


"Kakek mau pergi ngopi dulu. Jangan lupa tutup pagarnya saat kalian pergi, nanti"ujar kakek itu lagi.


"Eh, kek tunggu dulu!"cegah Andi seraya mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk kakek itu,"Ini sebagai tanda terimakasih kami karena kakek sudah memperbolehkan kami mengambil mangga milik kakek,"ujar Andi seraya menggenggam kan uang pada kakek itu.


"Kamu memang selalu baik dan murah hati. Walaupun mulut kamu seperti petasan,"ujar kakek itu kembali terkekeh,"Terimakasih! Semoga kamu selalu bahagia!"ucap kakek itu kembali menepuk pundak Andi, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Terimakasih, kek!"ucap Andi tersenyum tipis,"Apa kakek itu benar-benar bisa membaca pikiran orang lain? Bahkan dia bisa tahu seperti apa aku,"gumam Andi menatap kakek tua yang berjalan semakin jauh itu.

__ADS_1


"Apa kakek ini sudah mengenal Tuan Andi?"gumam Kanaya dalam hati, tapi enggan bertanya pada Andi.


Andi membuka sepatu, dasi dan jas nya, lalu meletakkan dasi dan jas nya di atas motornya. Pemuda itu menghela napas kasar menatap pohon mangga yang besar dan tinggi itu.


"Tuan Rayyan ini ngidamnya ada-ada saja. Untung saja musim kemarau. Pagi-pagi begini kalau musim penghujan, pohonnya pasti akan sangat licin karena basah,"gumam Andi seraya berjalan ke arah pohon mangga itu.


"Apa Tuan Andi bisa memanjat pohon itu? Pohon itu besar dan tinggi sekali,"gumam Kanaya menatap Andi yang mulai memanjat pohon mangga itu.


Walaupun agak kesulitan memanjat pohon mangga itu, namun akhirnya Andi bisa juga memetik buah mangga itu. Pemuda itu menjatuhkan mangga yang di petik nya ke tanah yang ditumbuhi rumput yang lumayan tebal, agar mangga yang di jatuhkan nya tidak pecah.


Andi hanya memetik sekitar lima buah saja. Setelah itu, Andi pun mulai turun dari pohon mangga itu. Saat berada di cabang yang tingginya masih sekitar empat meter dari tanah, Andi melompat dengan teknik parkour bergulir dengan melakukan pendaratan empat titik dan berguling dari satu bahu ke pinggul yang berlawanan. Dan tentu saja hal itu membuat Kanaya kagum.


"Orang ini! Dia bisa melompat dari tempat yang cukup tinggi dan mendarat dengan indah. Apa saja sebenarnya yang bisa dilakukan oleh orang ini? Sepertinya dia memiliki banyak kemampuan. Pantas saja dia terkenal sebagai tangan kanan Tuan Rayyan dan sangat di segani di kantor,"gumam Kanaya dalam hati yang sudah melihat sendiri kemampuan ilmu beladiri Andi dan juga sudah mendengar betapa handalnya pemuda itu dalam urusan pekerjaan kantor. Dan saat ini Kanaya malah di buat kagum dengan kemampuan Andi yang lain.


Sempat tertegun melihat Andi, Kanaya pun bergegas mengambil buah mangga yang sudah di petik Andi.


"Haishh.. Kemejaku jadi kotor semua karena memanjat pohon mangga ini,"gumam Andi seraya mengibas- mengibaskan kemejanya yang kotor karena memanjat tadi.


"Sebentar!"sahut Andi, kemudian membuka bagasi motornya.


Andi mengambil kantong plastik yang isinya botol shampo. Pemuda itu mengeluarkan botol shampo yang baru dibelinya tadi pagi itu dari kantongnya dan memasukkan mangga yang di petiknya ke dalam kantong itu, agar getah mangga itu tidak mengotori bagasi motornya.


"Ayo, kembali ke kantor!"ajak Andi setelah memakai jasnya dan mengantongi dasinya,"Pukul tiga sore nanti, aku akan mengantar kamu ke dokter. Aku tunggu di lobby kantor,"ujar Andi seraya naik ke atas motornya.


"Dia mengajak aku pergi ke dokter di jam kerja? Kenapa? Tidak biasanya seperti itu,"gumam Kanaya dalam hati seraya naik ke atas boncengan motor Andi.


Andi kembali mengendarai motornya dengan kecepatan standar seperti ketika mereka berangkat tadi.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Andi berhenti saat traffic light menunjukkan warna merah.


"Tuan, tolong saya, Tuan! Anak saya sakit keras. Tolong antarkan dia ke rumah sakit Tuan,"suara seorang pria yang menghiba itu terdengar di telinga Andi.


"Pergi, sana! Apa urusannya dengan ku? Aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan,"sergah seorang pria.

__ADS_1


"Tuan, tolong saya, Tuan!"


"Pergi sana!"


"Jony?"gumam Andi saat melihat Jony memohon pada semua orang yang sedang berhenti di traffic light itu.


Walaupun sangat penasaran dengan Jony, tapi posisi Andi yang berada di tengah jalan yang padat kendaraan pun tidak bisa menepikan kendaraannya. Selain itu, Rayyan pasti sudah menunggu dirinya kembali. Akhirnya Andi memilih kembali ke kantor terlebih dahulu.


Setelah sampai di kantor, Andi pun mencari karyawan wanita yang sudah berusia setengah baya untuk mengupas mangga yang didapatkan nya tadi, sekalian membuat bumbu rujaknya. Setelah itu, Andi bergegas menuju ruangan Rayyan. Sedangkan Kanaya pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tuan, saya sudah menyuruh orang untuk mengupas mangga yang Tuan minta. Bahkan sudah saya suruh untuk membuat bumbu rujaknya,"lapor Andi.


"Bagus. Tapi, kenapa lama sekali kamu baru kembali?"tanya Rayyan yang lebih terdengar seperti protes.


"Tuan, sekarang bukan musim mangga. Apalagi Tuan minta di petik kan dari batangnya. Saya keliling perkampungan untuk mencari nya. Ketemu juga batangnya tinggi dan besar sekali. Tapi Tuan masih saja mengeluh. Kemeja saya sampai kotor semua karena memanjat pohon mangga itu,"ujar Andi menunjukkan kemejanya yang kotor.


"Kamu nya saja yang tidak pandai memanjat,"cetus Rayyan asal.


"Haish.. Tuan selalu saja menyalahkan saya. Emm.. Tuan, boleh saya minta izin keluar lagi?"tanya Andi saat mengingat Jony tadi.


"Memangnya, kamu mau pergi kemana?"tanya Rayyan mengernyitkan keningnya.


"Saat akan kembali ke kantor tadi, saya melihat Jony di pinggir jalan. Dia memohon pada semua orang untuk mengantarkan putrinya ke rumah sakit. Mungkin Natalie sedang sakit,"jelas Andi.


"Huff.. Orang itu. Pergilah! Lihat keadaan mereka! Bantu jika mereka benar-benar mau bertobat. Walau bagaimanapun, dia masih kerabat kak Sumi. Nenek kak Sumi pasti sedih melihat keadaan anak dan cucunya yang menderita. Walaupun Jony sudah banyak berbuat dosa dan menyakiti hati ibunya, tapi dia tetaplah anak dari ibunya. Aku membalasnya hanya untuk menyadarkan dia. Jika aku membunuh dia karena telah membunuh papaku, lalu apa bedanya aku dengan dia? Pergilah! Aku serahkan masalah itu padamu,"ujar Rayyan menghela napas kasar.


"Baik, Tuan,"sahut Andi bergegas keluar dari ruangan Rayyan.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2