
Aurora terpaksa menuruti keinginan Rayyan untuk mengecek kembali kesehatannya. Tanpa diketahui oleh Aurora, Rayyan meminta seorang dokter untuk melakukan tes DNA pada Aurora dan Aiden.
Rayyan tidak tahu, apakah Aurora dan Aiden bersaudara. Namun, golongan darah Aurora dan Aiden sama. Selain itu, umur saat adik Aiden menghilang dan umur Aurora saat ditemukan Pak Hamdan dan Bu Ella sama-sama tiga tahun. Dan perkiraan umur Aurora dan adik Aiden saat ini juga sama. Karena itulah Rayyan curiga jika Aurora adalah adik Aiden.
Walaupun dulu Rayyan sering melihat adik Aiden. Tapi Rayyan tidak bisa mengingat wajah adik Aiden. Karena sudah puluhan tahun lamanya adik Aiden menghilang. Rayyan juga tidak pernah melihat foto adik Aiden yang di simpan Aiden.
Di sisi lain, ibu Bima mendapatkan surat panggilan dari kepolisian karena laporan dari Rayyan. Wanita paruh baya itu sempat menolak untuk memenuhi panggilan kepolisian. Bahkan melontarkan kata-kata pedas pada polisi. Dan seperti biasa, ibu Bima mengandalkan jabatan anak, suami dan keluarganya sebagai tamengnya.
Dan hal itu malah membuat polisi jadi geram pada ibu Bima. Dan akhirnya polisi membawa paksa ibu Bima ke kantor polisi.
Sayangnya, tidak ada yang mendampingi wanita paruh baya itu saat polisi membawanya ke kantor polisi. Karena suami dan putranya sedang bertugas.
Sore hari setelah pulang dari bertugas, Bima dan bapaknya langsung ke kantor polisi untuk melihat ibu Bima.
Di sebuah ruangan, ibu Bima menemui suami dan putranya yang bahkan masih menggunakan seragam dinas mereka.
"Pak, bapak harus mengeluarkan ibu dari tempat ini. Seharusnya suami Aurora itu yang masuk penjara, bukan ibu. Dia yang menampar ibu. Bukankah itu berarti dia telah melakukan penganiayaan terhadap ibu? Kenapa jadi ibu yang di tangkap polisi?"ujar ibu Bima penuh emosi.
"Sabar, Bu! Ibu jangan marah-marah terus! Ibu harus tenang. Nanti kalau darah tinggi dan menjadi stroke, 'kan, repot,"celetuk Bima.
"Dasar anak durhaka! Berani-beraninya kamu mendoakan ibu mu seperti itu. Ini semua gara-gara kamu,"ketus ibu Bima.
"Loh, kok, karena aku?"protes Bima.
"Iya, karena kamu! Kamu itu sudah punya istri, kenapa kamu malam-malam datang ke rumah wanita yang sudah bersuami?"sergah ibu Bima yang merasa kesal pada Bima.
Andai saja malam itu ibu Bima tidak mengikuti Bima ke rumah Aurora karena rasa penasarannya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ibu Bima terlalu kemaks, alias kepo maksimal karena mendapati Aurora melakukan panggilan ke handphone Bima berulangkali.
Hingga akhirnya ibu Bima mengikuti Bima yang pergi dengan terburu-buru ke rumah Aurora. Dan setelah itu, ibu Bima melabrak Aurora tanpa tahu jika suami Aurora ada di rumah. Hingga terjadilah peristiwa semalam yang hari ini berujung ibu Bima di ciduk polisi.
__ADS_1
Rayyan melaporkan ibu Bima karena kasus penghinaan dan juga karena telah memfitnah Aurora.
Bima menghela napas panjang mendengar kata-kata ibunya. Niat hati ingin menenangkan dan mengingatkan. Tapi malah dibilang mendoakan yang tidak baik untuk ibunya, bahkan dikatai anak durhaka.
"Bu, tidak baik menyumpahi anak sendiri,"ujar bapak Bima memperingatkan.
"Aku datang malam-malam ke rumah Aurora karena ada perlu, Bu. Lagipula di sana juga ada suaminya. Aku di temui Aurora dan juga suaminya. Apa salahnya? Aku tidak menganggu istri orang, kok,"kilah Bima yang sebagian benar dan sebagian lagi berbohong.
Bukankah begitu? Kebohongan mu tidak akan terlihat, jika kamu berbohong dengan mencampurkan setengah dari kebenaran.
"Ini semua tidak akan terjadi jika ibu tidak suka menghina orang lain. Jika ibu bisa lebih menjaga lisan ibu, tidak mungkin ibu akan berada di sini,"sahut bapak Bima membuang napas kasar.
"Ibu tidak mau tahu. Pokoknya, kalian harus mengeluarkan ibu dari tempat ini! Buat apa ibu punya suami dan anak tentara serta saudara polisi, jika tidak bisa mengeluarkan ibu dari penjara?!"sergah ibu Bima yang tidak sadar juga dengan kesalahannya.
"Masalahnya, orang yang melaporkan ibu ini bukan orang sembarangan, Bu. Dia itu pengusaha terkaya di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, jika kekayaan itu lebih kuat dari hukum. Dia memiliki semua bukti tindakan tidak menyenangkan ibu dan juga hinaan serta fitnah yang ibu lontarkan pada istrinya. Sedangkan kita sama sekali tidak memiliki bukti jika dia telah menganiaya ibu. Apa ibu pikir dia akan di tangkap polisi jika kita melaporkan dia atas kasus penganiayaan pada ibu yang tidak ada buktinya?"tanya bapak Bima yang merasa kesal dengan sikap keras kepala istrinya itu.
Ibu Bima tidak bisa bicara lagi. Wanita paruh baya itu membuang napas kasar dan terlihat sangat kesal. Dirinya memang tidak memiliki bukti apapun atas penganiayaan yang dilakukan oleh Rayyan.
"Tuan Rayyan, saya mohon agar Tuan mau mencabut tuntutan Tuan pada istri saya. Saya benar-benar minta maaf atas perbuatan dan perkataan istri saya,"ucap bapak Bima pada Rayyan dengan sopan.
"Maaf, Pak. Bukan cuma sekali istri anda melontarkan kata-kata yang merendahkan dan menghina istri saya. Istri anda perlu diberikan hukuman agar jera, agar lebih bisa menjaga lisannya dan belajar menghormati orang lain. Saya rasa, bukan istri saya saja yang telah di hina dan direndahkan oleh istri anda,"
"Bahkan, saya dengar menantu anda pun juga memilih pisah rumah dari anda, karena tidak tahan dengan lisan istri anda yang terlalu tajam. Istri anda merasa kebal hukum karena keluarganya adalah polisi dan tentara. Jadi, istri anda harus tetap di hukum agar istri anda sadar, bahwa di negeri ini tidak ada yang kebal hukum,"
"Karena itu, saya tidak akan mencabut laporan saya. Istri anda harus sadar, setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman sebagai konsekuensinya,"ujar Rayyan tegas dan berwibawa.
"Ra, tidak bisakah kamu memaafkan ibuku. Beliau sudah tua, kasihan jika harus mendekam dipenjara,"ucap Bima mencoba membujuk Aurora.
Rayyan yang mendengar perkataan Bima pun melirik Aurora dengan tatapan yang bisa dimengerti artinya oleh Aurora. Setelah melihat lirik kan suaminya, Aurora pun menghela napas panjang.
__ADS_1
"Maaf, Bim. Tapi, aku rasa ibu kamu memang harus diberi hukuman agar jera. Karena tidak semua orang mentalnya kuat. Bagaimana jika nanti ibumu menghina dan merendahkan orang lagi? Dan bagaimana jika yang dihina dan direndahkan oleh ibu kamu tidak kuat mentalnya?"tanya Aurora yang membuat Bima terdiam.
"Lisan istri anda terlalu tajam. Saya yakin pasti sudah banyak korban karena tajamnya lisan istri anda. Apakah anda tidak memikirkan perasaan orang-orang yang telah di hina dan di rendahkan oleh istri anda? Kalian, bapak dan anak mungkin sudah terbiasa dengan lisan tajam istri anda. Tapi, bagaimana dengan orang lain?"imbuh Rayyan.
Mendengar penuturan Aurora dan Rayyan, akhirnya Bima dan bapaknya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Anak dan bapak itu akhirnya pulang tanpa hasil dan harus menerima kenyataan bahwa ibu Bima harus mendekam dibalik jeruji besi.
Tidak bisa di pungkiri, sudah banyak orang yang telah di hina oleh ibu Bima. Dan semuanya tidak ada yang berani melapor karena takut. Takut karena semua keluarga ibu Bima adalah tentara dan polisi. Hingga akhirnya mereka semua memilih diam dan menghindari ibu Bima.
"Ibumu berurusan dengan orang yang salah. Dan kali ini, kita tidak bisa membantu ibumu,"ujar bapak Bima menghela napas panjang.
"Mungkin pengalaman ini bisa membuat ibu menjadi sadar, dan lebih bisa berhati-hati dalam berbicara,"sahut Bima ikut menghela napas panjang.
"Tapi nama keluarga kita menjadi tercemar karena kasus ibumu ini. Bapak merasa malu, Bim. Terutama pada atasan, rekan-rekan bapak, bawahan bapak dan pada saudara-saudara kita,"
"Mau bagaimana lagi, pak? Ibu memang salah,"sahut Bima pasrah.
...πππ...
...Karma selalu berjalan dibelakang manusia, menunggu waktu yang tepat untuk menyadarkan manusia....
...Orang sabar disayang Tuhan, tapi bukan berarti harus tetap sabar saat diinjak orang....
...Kenapa di beri Tuhan satu mulut dan dua telinga? Agar bisa lebih banyak mendengar nasihat daripada berbicara tanpa guna....
...Lebih baik diam tanpa kesan, daripada bicara, tapi menyakitkan. Karena sakit oleh lisan, belum tentu bisa di sembuhkan....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued