
Rayyan mencoba untuk tidur namun lima belas menit kemudian saat Rayyan mulai masuk ke alam mimpi, tiba-tiba tangan Aurora mulai merayap meraba punggung Rayyan, bahkan mengendus aroma tubuh Rayyan, membuat Rayyan yang hampir terlelap itu kesadarannya kembali.
"Sayang!"gumam Rayyan kembali membuka matanya, menatap Aurora yang berada dalam dekapannya.
Aurora mendongakkan kepalanya menatap Rayyan dengan wajah cemberut, kemudian mendorong dada Rayyan dan tidur membelakangi Rayyan.
"Astagaa! Dia masih marah juga? Sabar.. sabar.. sabar.. " gumam Rayyan dalam hati.
"Jangan marah, ya! Maafkan aku!"ucap Rayyan lembut seraya memeluk Aurora dari belakang.
Aurora tidak menjawab. Wanita itu berusaha melepaskan tangan kekar Rayyan yang memeluknya.
"Lepaskan!"ketus Aurora masih berusaha melepaskan tangan Rayyan, namun tidak bisa.
"Jangan marah! Tidak baik jika bumil marah-marah. Apa kamu tidak kasihan padanya, hemm?"ujar Rayyan kemudian melepaskan pelukannya, lalu mengelus lembut perut Aurora yang masih rata.
Aurora terdiam. Benar yang dikatakan oleh suaminya. Jika dirinya terus-menerus marah, maka akan berakibat buruk pada janin yang dikandungnya.
"Kamu ingin apa, hemm? Akan aku turuti. Tapi jangan marah lagi, okey?"tanya Rayyan.
Tapi Aurora hanya diam tidak menjawab. Wanita itu tiba-tiba merasa sedih karena membiarkan kemarahan menguasai hatinya.
"Kenapa aku jadi marah-marah nggak jelas seperti ini? Aku menggoda Rayyan saat di bicara penting soal pekerjaan melalui sambungan telepon. Lalu aku kecewa dan marah saat Rayyan tidak mau menyentuh aku. Padahal aku tahu kenapa Rayyan tidak ingin menyentuh aku. Dan aku tahu pasti jika dia menahan diri untuk tidak menyentuh aku. Apalagi tadi dia pulang agak malam. Pasti dia capek. Tapi aku malah membuat gara-gara dengan dia,"gumam Aurora dalam hati merasa bersalah.
Rayyan membalikkan tubuh Aurora dan melihat wajah sedih Aurora. Pria itu menghela napas lalu memegang pipi Aurora dan berkata,"Jangan marah atau pun sedih! Kamu harus bahagia! Aku tidak ingin bayi kita juga ikut sedih. Tidurlah! Tidak baik tidur terlalu malam,"
Rayyan merengkuh Aurora dalam dekapannya. Membelai rambut Aurora dengan lembut. Aurora tidak mengatakan apapun. Namun wanita itu memeluk suaminya erat.
"Huff.. benar-benar susah menghadapinya. Aurora benar-benar mengalami mood swing. Aku harus berhati-hati dalam bicara dan lebih sabar lagi menghadapinya,"gumam Rayyan dalam hati.
Setelah melewati drama ngambek, dan istrinya sudah terlelap dalam dekapannya, akhirnya Rayyan pun bisa tidur dengan tenang.
Keesokan harinya, Rayyan sudah bersiap-siap berangkat ke kantor. Pria itu menunduk agar Aurora yang lebih pendek darinya tidak kesulitan memasangkan dasinya.
"Boleh aku menemui Sumi?"tanya Aurora tiba-tiba.
"Boleh. Kamu ingin menemui dia di mana? Kata Andi, setiap hari dia selalu pergi ke restorannya. Tapi, nggak tahu kalau hari ini. Soalnya, kemarin ibu Sumi jatuh dari kamar mandi dan mengalami gegar otak ringan,"
"Ibu Sumi?"tanya Aurora seraya mengernyitkan keningnya.
"Hum. Sumi sudah membawa seluruh keluarganya ke sini. Kecuali, adiknya yang sudah menikah. Sebaiknya kamu menghubungi dia dulu jika ingin bertemu dengan dia. Nanti aku suruh Andi mengirimkan alamatnya padamu. Ingat! Kamu jangan terlalu lelah, okey?"
"Hum,"sahut Aurora kemudian memakaikan jas Rayyan.
"Jika kamu mau, kamu juga boleh membawa bapak dan ibu ke rumah ini untuk tinggal bersama kita,"
__ADS_1
"Mereka tidak akan mau, Ray. Mereka terlalu senang tinggal di kampung,"sahut Aurora menghela napas panjang. Mengingat kedua orang tuanya yang nampak enggan untuk pergi ke kota.
"Okey, aku berangkat dulu!"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora singkat, kemudian mengelus perut Aurora dan mengecupnya.
Aurora mengantarkan Rayyan ke depan rumah. Setelah mengecup kening Aurora, Rayyan masuk ke dalam mobil. Pria itu melambaikan tangannya pada Aurora saat mobilnya mulai melaju. Aurora pun ikut melambaikan tangannya, kemudian kembali ke dalam kamarnya setelah mobil Rayyan tidak terlihat.
Naima yang tidak sengaja melihat kemesraan anak dan menantu itu menghela napas panjang.
"Sepertinya mereka sudah bahagia. Walaupun aku pisahkan juga tidak bisa. Lebih baik aku biarkan saja mereka. Aku tidak akan menganggu mereka lagi. Toh, perempuan itu juga tidak banyak tingkah dan tidak banyak maunya. Dia hanya memakai apa yang diberikan oleh Rayyan. Dan hanya sibuk mengurusi toko kue dan kafe nya. Baiklah, aku terima dia jadi menantu ku. Hari ini, aku akan pergi ke puncak bersama teman-teman ku,"gumam Naima yang nampaknya sudah tidak ingin lagi mengusik kebahagiaan anak dan menantunya.
Setelah lama mengamati Aurora, Naima melihat Aurora tidak pernah pulang dengan membawa banyak belanjaan. Hanya melihat Nola yang mengantarkan pakaian untuk Rayyan dan Aurora setiap sebulan sekali. Yang artinya, menantunya itu hanya memakai apa yang diberikan putranya. Naima juga tidak melihat Aurora memakai perhiasan yang mencolok. Jadi Naima menjadi tenang karena menantunya itu tidak menjadikan putranya sebagai mesin ATM berjalan seperti wanita-wanita lain. Yang rata-rata akan gila belanja jika suaminya kaya.
***
Hendrik masuk ke perusahaan yang selama ini tidak pernah di datanginya. Perusahaan peninggalan papanya yang di jalankan adiknya. Seperti biasanya, pria keturunan Turki itu selalu tebar pesona di mana pun dirinya berada. Termasuk sekarang. Hendrik menghampiri meja resepsionis dan tersenyum manis pada dua resepsionis yang ada di depannya itu.
"Hai, cantik! Bisa kasih tahu aku, dimana ruangan Rayyan?"tanya Hendrik seraya mengedipkan sebelah matanya pada salah seorang resepsionis itu.
"Ah, maaf! Apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Rayyan?"tanya resepsionis itu yang masih terpesona pada Hendrik.
"Dia yang menyuruh aku ke sini,"sahut Hendrik masih tebar pesona memasang senyuman manis di bibirnya.
"Sebentar, saya tanyakan dulu. Nama anda siapa?"tanya resepsionis itu
"Hendrik,"
Hendrik mengambil handphone dalam saku celananya yang bergetar. Lalu menerima panggilan masuk itu setelah mengetahui bahwa Rayyan yang hubungi dirinya.
"Halo, Ray! Aku sudah ada di depan meja resepsionis,"ucap Hendrik.
"Langsung naik ke lantai dua puluh! Tidak perlu menggoda resepsionis lagi!"
"Tut.. Tut.. Tut.."
Setelah bicara, Rayyan langsung menutup teleponnya tanpa mendengarkan jawaban dari Hendrik.
"Ck, anak ini! Tidak ada sopan sopannya pada kakaknya sendiri,"gerutu Hendrik.
"Tuan.."
"Terimakasih, cantik! Rayyan sudah menyuruh aku ke lantai dua puluh,"ucap Hendrik memotong kata-kata resepsionis itu. Kembali mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Lalu segera berlalu menuju lift yang tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Eh, siapa, ya, dia? Tampan sekali,"
"Nggak tahu. Tapi tampangnya sebelas dua belas dengan Tuan Rayyan. Kalau dari belakang, postur tubuhnya mirip dengan Tuan Rayyan. Potongan rambutnya juga sama,"
__ADS_1
"Tapi yang Ini ramah dan murah senyum. Kalau Tuan Rayyan itu wajahnya datar. Bahkan terkesan dingin,"
"Dia bukan ramah! Tapi genit,"
"Aku dengar istri Tuan Rayyan sangat cantik,"
"Ya, wajar lah! Orang kaya pasti nyari istri yang cantik. Sudah! Sudah! Jangan bergosip lagi! Jangan sampai kita kena SP (Surat Peringatan),"
Akhirnya kedua resepsionis itu berhenti bergosip dan kembali bekerja.
Hendrik sampai di lantai dua puluh dan langsung mencari ruangan Rayyan. Pria itu tetap saja tebar pesona ke sana-sini.
"Tuan Rayyan sudah menunggu anda di dalam,"ucap Andi yang melihat Hendrik.
"Okey,"sahut Hendrik langsung melenggang masuk ke ruangan Rayyan.
Saat masuk ke dalam ruangan Rayyan Hendrik melihat Rayyan yang sibuk dengan laptopnya. Hendrik mengamati ruangan yang baru pertama kali dimasukinya itu.
"Ada apa kamu memanggil aku ke sini? Pakai acara mengancam tidak akan mentransfer uang bulanan ku jika aku tidak ke sini,"gerutu Hendrik seraya berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu, lalu duduk di salah satu sofa.
Tadi Rayyan memang menelpon Hendrik agar Hendrik datang ke kantornya. Dan Rayyan mengancam tidak akan mentransfer uang bulanan Hendrik, jika Hendrik tidak datang. Rayyan tahu benar jika Hendrik jarang pulang ke rumah. Jadi sulit untuk bertemu Hendrik di rumah. Karena itu, Rayyan menyuruh Hendrik ke kantornya.
"Aku ingin bicara soal Sumi,"ucap Rayyan menghentikan aktivitasnya, kemudian berjalan menuju sofa.
"Kamu memata-matai aku? Ingin mengatur dengan siapa aku harus dan tidak boleh berhubungan?"tanya Hendrik nampak tidak suka.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
Wanita hamil yang sering marah akan berisiko :
•Menghambat aliran darah dan oksigen ke janin yang sedang dikandung.
•Melahirkan bayi prematur, keguguran, hingga kematian dalam kandungan.
•Stress fisik dan mental seorang ibu hamil dapat memperlambat produksi ASI, sehingga ASI telat keluar yang disebabkan karena minimnya hormon oksitosin dalam tubuhnya
•Dilansir dari Women’s Mental Health Center, wanita dengan tingkat emosi negatif dan memiliki kecemasan tinggi saat sedang hamil akan menunjukkan kadar immunoglobulin yang rendah.
•Immunoglobulin merupakan antibodi yang disalurkan dari ibu melalui ASI untuk membangun sistem kekebalan tubuh bayi.
•Kemarahan bumil juga menyebabkan daya otak dalam berpikir bayi akan terhambat yang membuat bayi akan berkembang lebih lambat dari biasanya.
.
__ADS_1
To be continued