Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
182. Tidak Sekarang Ataupun Nanti


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Rayyan baru saja sampai di rumah. Setelah masuk ke dalam kamarnya, pria itu mengedarkan pandangannya. Tapi tidak melihat Aurora di dalam kamar itu.


"Kemana bumil satu itu?"gumam Rayyan seraya melepaskan jas yang dipakainya.


"Sayang! Kamu dimana?"tanya Rayyan agak meninggikan suaranya.


"Aku di kamar mandi, Ray!"sahut Aurora.


Mendengar suara istrinya, Rayyan pun merasa lega. Pria itu merogoh handphonenya saat terdengar suara dering panggilan masuk. Rayyan duduk di tepi ranjang sambil menerima panggilan masuk itu. Tak lama kemudian, Aurora keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu menghampiri suaminya, lalu berdiri di depan Rayyan dan mulai melepaskan dasi Rayyan. Sedangkan Rayyan masih berbincang melalui sambungan telepon dengan orang yang menghubunginya. Setelah melepaskan dasi Rayyan, Aurora pun mulai melepaskan kancing kemeja Rayyan.


"Sayang, kita dinner di luar, yuk!"ajak Rayyan setelah selesai menerima panggilan.


"Mau dinner di mana?"tanya Aurora seraya melepaskan kemeja suaminya.


"Apa ada tempat makan yang ingin kamu kunjungi?"tanya Rayyan seraya merengkuh pinggang Aurora lalu mendudukkan Aurora di atas pangkuannya. Memeluk pinggang Aurora agar istrinya itu tidak terjatuh.


"Aku memang punya tempat yang ingin aku kunjungi. Tapi, aku takut kamu tidak suka dengan tempat makan yang ingin aku kunjungi,"sahut Aurora seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Rayyan.


"Jika kamu ingin ke sana, aku akan menemanimu,"sahut Rayyan.


"Tapi, ajak Nala, Andi dan Pak supir untuk makan bersama, ya? Nggak enak kalau makannya nggak rame-rame,"


"Memangnya kita mau makan malam dimana?"tanya Rayyan seraya mengernyitkan keningnya menatap Aurora.


"Ada, deh. Mau nggak?"tanya Aurora menatap Rayyan lekat.


"Okey.Up to you,"sahut Rayyan.


( Okey.Up to you : Baik. Terserah kamu.)


Setelah bersiap-siap, akhirnya sepasang suami-istri itu pun berangkat ke tempat yang diinginkan oleh Aurora.


"Sayang, kamu sudah pernah makan di tempat yang kita tuju itu?"tanya Rayyan yang duduk di sebelah Aurora yang sedang menatap ke arah luar kaca mobil.


"Belum. Tapi aku sangat tertarik untuk makan di sana,"sahut Aurora masih menatap ke arah luar jendela mobil.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah rumah makan dengan tema outdoor. Yaitu rumah makan yang bertema saung.

__ADS_1



"Nyonya tahu dari mana rumah makan ini?"tanya Andi seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada saat ini.


"Beberapa hari yang lalu, aku berkeliling bersama Nala. Aku tidak sengaja melihat tempat ini. Ternyata rumah makan ini terlihat lebih indah saat malam hari,"sahut Aurora yang juga melihat ke sekeliling tempat itu.


"Selera nyonya bagus juga,"sahut Andi.


"Pesan saja apa yang kalian mau,"ucap Rayyan yang nampak biasa saja berada di tempat itu. Seperti tidak masalah berada di tempat makan lesehan berkonsep saung itu.


Mereka memesan ayam bakar, ikan bakar, satai, dan juga beberapa macam olahan sayuran. Aurora terlihat sangat antusias saat memesan makanan.


"Ray, aku mau ke toilet dulu, ya?"pamit Aurora setelah mereka selesai memesan makanan.


"Hum,"sahut Rayyan.


Aurora pergi ke toilet seraya melihat-lihat ke sekeliling dengan Nala yang selalu mengekor di belakangnya. Tidak sampai lima menit Aurora pun sudah keluar dari toilet dan berniat kembali ke saung tempat mereka tadi.


"Ra!"


Aurora yang berjalan diantara saung itu menghentikan langkahnya saat. mendengar namanya di panggil. Aurora menoleh ke arah suara tadi terdengar.


"Apa kabar?"tanya Bima tersenyum manis.


"Baik. Kamu, apa kabar?"tanya Aurora balik.


"Baik. Kamu tinggal di kota ini?"tanya pria yang tidak lain adalah Bima.


"Iya,"sahut Aurora singkat,"Aku harus segera pergi dari tempat ini. Aku tidak mau Rayyan sampai melihat aku bersama Bima dan salah paham padaku,"gumam Aurora dalam hati.


"Tadinya aku tidak yakin kalau yang aku lihat adalah kamu. Aku coba panggil, dan ternyata memang kamu. Semakin lama, kamu bertambah cantik saja, Ra,"puji Bima dengan seulas senyum manis di bibirnya.


"Aku per.."


"Dasar wanita jalangg! Kamu mengejar-ngejar putra saya sampai ke kota ini? Besar juga nyali kamu. Apa kamu tidak ingat dengan peringatan saya tempo hari, hah?! Saya sudah bilang agar kamu menjauhi putra saya. Tapi kamu malah nekat mengejar-ngejar putra saya sampai ke sini. Apa kamu pikir saya akan menerima kamu sebagai menantu saya? Jangan mimpi! Selama saya masih hidup, saya tidak akan pernah membiarkan kamu mendekati, apalagi menikah dengan putra saya. Saya sudah menyiapkan wanita baik-baik, terhormat dan dari kalangan atas untuk menjadi menantu saya. Tidak seperti kamu, orang miskin yang tidak berpendidikan. Hanya anak buruh tani yang banyak hutang,"sarkas seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul dan memotong kata-kata Aurora.


"Astagaa.! Kenapa setiap kali bertemu dengan Bima, aku selalu saja bertemu dengan Mak lampir ini, sih?! Apa dia mengekor kemana pun Bima pergi?"gumam Aurora dalam hati menghelat napas berkali-kali.

__ADS_1


"Bu, jangan membuat keributan di sini! Malu dilihat orang,, Bu,"ujar Bima berusaha memberi pengertian pada ibunya.


"Diam kamu! Jangan coba-coba menghalangi ibu! Kamu itu pria yang tidak tegas. Jelas-jelas sudah bertunangan, malah diam saja dikejar-kejar jalangg seperti dia,"bentak ibu Bima pada Bima.


"Maaf! Saya tidak pernah mengejar-ngejar putra anda. Tidak dulu, maupun sekarang. Kalaupun kami bertemu, itu hanya kebetulan,"sahut Aurora yang mencoba bersabar menghadapi wanita paruh baya itu.


"Kebetulan kata kamu? Mana ada kebetulan yang berkali-kali? Di kota xx kemarin kalian bertemu secara kebetulan, dan sekarang pun kembali bertemu secara kebetulan? Cih! Alasan klise. Kamu pikir saya ini orang yang mudah dibohongi apa?"sarkas ibu Bima seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Aurora dengan tatapan merendahkan.


"Bu.. sudah! Malu di lihat orang,"ujar Bima mencoba melerai ibunya dan Aurora.


"Saya memang sudah lama tinggal di kota ini. Dan kemarin saat bertemu di kota xx itu adalah karena waktu itu saya sedang pulang kampung,"sahut Aurora jujur.


"Alasan tidak masuk akal! Kamu pikir saya percaya sama kamu?"sinis ibu Bima.


"Terserah anda mau percaya atau tidak. Itu bukan urusan saya dan tidak penting bagi saya. Yang pastinya, saya tidak mengejar-ngejar putra anda. Nikahkan saja putra anda dengan wanita pilihan anda. Baik sekarang saat anda masih hidup ataupun setelah anda sudah mati nanti. Saya tetap tidak berminat menjadi menantu anda! Jika saya mempunyai mertua seperti anda, saya akan mati muda karena makan hati. Semoga saja menantu anda kelak tidak penyakitan dan tidak cepat mati karena mempunyai mertua seperti anda. Lidah anda terlalu tajam, dan mulut anda terlalu berbisa. Permisi!"ucap Aurora tegas, lalu bergegas meninggalkan Bima dan ibunya.


"Kau! Dasar wanita jalangg!"umpat ibu Bima merasa semakin kesal pada Aurora.


Mendengar umpatan ibu Bima, Aurora pun menghentikan langkahnya yang baru sekitar lima langkah itu, lalu membalikkan tubuhnya menatap ibu Bima.


"Jangan terlalu emosi! Nanti darah tinggi, stroke, nggak bisa gendong cucu,"ucap Aurora tersenyum sinis, kemudian melanjutkan langkah kakinya.


"Kau..."


"Sudah, Bu! Jangan bikin malu!"potong Bima karena sudah mulai banyak orang yang berada di saung di dekat tempat itu yang mantap mereka.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Klise adalaha gagasan (ungkapan) yang terlalu sering digunakan oleh banyak orang. Atau Klise juga berarti tiruan atau hasil meniru.


•Menurut WHO, Stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda-tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih dan atau dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular.


•Defisit neurologis fokal ditandai dengan gangguan fungsi bagian tubuh tertentu seperti wajah yang asimetris, artikulasi bicara menjadi cadel/ pelo, atau lengan dan tungkai menjadi lemah.


•Vaskular yang dimaksud adalah pembuluh darah diluar pembuluh koroner meliputi adalah pembuluh arteri, vena, dan juga limfe. Di dalam tubuh manusia terdapat pembuluh darah yang tersebar ke seluruh bagian tubuh. Secara garis besar, pembuluh darah dalam sistem sirkulasi tubuh terbagi menjadi dua yaitu arteri dan vena.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2