Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
277. Mencegah


__ADS_3

Rayyan berjalan ke arah kolam renang sambil bersenda gurau dengan putranya yang murah senyum itu. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah anak dan ayah itu.


"Ray! Mau kemana?"Tanya Hendrik yang melihat Rayyan memakai bathrobe seraya menggendong Zayn.


"Ingin ke kolam renang,"sahut Rayyan menghentikan langkahnya menatap Hendrik.


"Kamu mau berenang dengan Zayn?"tanya Hendrik nampak penasaran.


"Hum,"sahut Rayyan.


"Wahh.. Sepertinya seru. Aku ikut, Ray,"sahut Hendrik nampak antusias.


Semenjak menikah dan punya anak, mantan Casanova pengeretan yang sudah tobat itu memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berkumpul dengan anak dan istrinya.


"Aku tunggu di kolam renang,"sahut Rayyan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kolam renang.


"Aku segera datang,"sahut Hendrik bergegas kembali ke kamarnya.


Sedangkan Aurora yang di tinggalkan di dalam kamar pun menyusul anak dan suaminya yang lebih dulu ke kolam renang. Wanita itu ingin melihat bagaimana suaminya mengajari putra mereka yang baru berusia tujuh bulanan itu berenang.


"Ra! Mau kemana?"tanya Sumi yang sedang menggendong putrinya.


"Mau melihat Ray mengajari Zayn berenang,"sahut Aurora seraya menghentikan langkahnya karena Sumi menghampirinya.


"Jadi, papanya Qyara ikut berenang bersama anak dan suamimu?"tanya Sumi yang tadinya sangat penasaran saat Hendrik buru-buru memakai celana renangnya.


"Ohh, kak Hendrik ikut juga?"


"Iya. Tadi dia buru-buru banget memakai celana renang. Karena itu aku menyusulnya,"


"Ohh.. Ternyata penasaran? Ya sudah, ayo kita ke kolam renang. Aku ingin melihat bagaimana cara Rayyan mengajari Zayn berenang,"sahut Aurora.


Akhirnya sahabat dan mantan partner bekerja saat menjadi kupu-kupu malam yang kini menjadi ipar itu pergi ke kolam renang. Dari jauh mereka mendengar suara tawa Rayyan, Zayn dan Hendrik. Dari suara tawa ketiga orang itu, mereka bisa merasakan aura kebahagiaan dari dua pria dewasa dan seorang bayi itu.


"Sepertinya mereka sangat bahagia,"ujar Aurora saat sudah berada di dekat kolam renang. Aurora melihat keseruan Rayyan, Zayn dan Hendrik yang bermain di kolam renang.


Entah kapan Rayyan mempersiapkan semuanya. Di kolam renang itu banyak bola yang mengapung dan juga ada pelampung duduk. Terkadang Rayyan mendudukkan Zayn di atas pelampung duduk agar Zayn tidak terlalu lelah belajar berenang.


Rayyan dan Hendrik bergantian melempar bola pada Zayn dan Zayn nampak berusaha menangkapnya. Tawa renyah terdengar dari bayi yang tubuhnya padat berisi itu.

__ADS_1


"Kamu benar-benar tidak ingin memiliki anak lagi?"tanya Aurora seraya membelai pipi Qyara yang terlihat chuby.


"Kakak kamu benar-benar tidak ingin memiliki anak lagi. Sepertinya dia benar-benar trauma karena menemani aku melahirkan,"sahut Sumi yang selalu saja ingin tertawa jika mengingat bagaimana ekspresi Hendrik saat menemani dirinya melahirkan.


"Kakak benar-benar berubah, ya? Aku lihat, dia rajin bekerja dan selalu menghabiskan waktunya di rumah bersama kalian,"


"Iya, Ra. Aku sangat bersyukur, karena dia benar-benar menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Mama juga jauh berubah. Aku perhatikan, sekarang mama jarang keluar rumah dan lebih banyak bermain dengan Zayn dan Qyara. Sebelum aku melahirkan, mama suka berkumpul dengan teman-teman sosialita nya. Namun semenjak aku melahirkan, apalagi sejak kamu dan Zayn kembali ke rumah ini, mama semakin jarang keluar rumah,"


"Sekarang, mana mama? Kok, nggak kelihatan?"


"Tadi pamit mau arisan sama teman-teman sosialita nya,"


"Kamu beruntung karena bertemu mama saat mama sudah berubah. Dulu mama sangat menentang pernikahan ku dengan Rayyan. Karena aku yang berpendidikan rendah dan dari kalangan biasa. Mama ingin menjodohkan Rayyan dengan Natalie. Karena menurut mama, Natalie adalah menantu idaman. Tapi, akhirnya mama tahu siapa Natalie yang sebenarnya dan mulai menerima aku sebagai menantunya,"


"Berarti, aku sangat beruntung, ya?"sahut Sumi tersenyum tipis.


"Iya. Kamu sangat beruntung,"sahut. Aurora.


Aurora masih ingat bagaimana dulu Naima menghina dan merendahkan dirinya yang tidak berpendidikan tinggi dan hanya dari kalangan menengah ke bawah. Naima juga berusaha memisahkan dirinya dari Rayyan.


Tetapi, waktu itu Aurora hanya menikah kontrak dengan Rayyan dan belum mencintai Rayyan. Jadi, Aurora tidak peduli Naima mau menerima dirinya atau tidak. Aurora tidak menyangka jika akhirnya dirinya malah jatuh cinta pada Rayyan.


"Hei! Sepertinya kalian benar-benar sedang menikmati liburan bersama keluarga,"suara bariton itu mengejutkan semua orang yang ada di kolam renang itu. Mereka melihat Aiden yang melangkah mendekati kolam renang.


"Kamu sudah mau kembali ke pulau itu?"tanya Rayyan seraya menaikkan Zayn dan langsung di sambut Aiden.


"Wow.. jagoan kecil Om. Kamu makin menggemaskan saja,"ujar Aiden seraya mengangkat tubuh Zayn tanpa menjawab pertanyaan Rayyan.


Aurora bergegas memberikan handuk untuk membalut tubuh Zayn yang basah dan juga memberikan bathrobe untuk Rayyan yang juga naik dari kolam renang. Sumi pun memberikan bathrobe untuk Hendrik.


"Kamu sudah mau kembali ke pulau itu?"Rayyan mengulangi pertanyaannya.


"Hum. Aku akan kembali sore ini,"sahut Aiden seraya mengeringkan rambut Zayn yang basah. Rambut bayi itu terlihat hitam dan lebat.


"Zayn cepat akrab dengan Aiden. Apa Aurora benar-benar adik Aiden?"gumam Rayyan dalam hati.


"Apa kamu sudah menemui orang yang ingin kamu temui?"tanya Rayyan yang mengingat Aiden keras kepala ingin pulang karena ingin menemui seseorang dan kemungkinan orang itu adalah orang yang saat ini di sukai Aiden.


"Aku sudah berusaha menemui dia beberapa kali, tapi aku malah tidak bisa bertemu dengan dia,"sahut Aiden menghela napas panjang.

__ADS_1


Sudah beberapa kali Aiden mencoba bertahan dengan Yuniar. Di kampus. Tapi, Aiden tidak pernah bertemu dengan Yuniar. Hal itu karena Yuniar selalu bersembunyi jika melihat mobil Aiden.


"Lagi galau, nih, ceritanya? Masa seorang Casanova galau,"celetuk Hendrik seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"CK, kakak lupa, ya? Kalau kemarin kakak sangat galau dan sempat kabur ke luar negeri karena kak Sumi menolak menikah dengan kakak?"ledek Aurora.


"Haiss.. Jangan membuka aib ku, Ra!"protes Hendrik.


"Kamu sudah jadi bucin akut seperti Rayyan ternyata,"ledek Aiden.


"Jangan suka meledek! Nanti, kalau kamu jadi bucin akut, kamu baru tahu rasa,"sahut Rayyan kesal.


"Benar itu. Jangan sampai kamu jadi Casanova mati gaya karena seorang wanita,"timpal Hendrik.


"Mana ada yang seperti itu? Aku yang seorang Casanova, tidak akan mati gaya hanya karena seorang wanita,"sahut Aiden.


"Sombong sekali. Aku akan paling dulu menertawakan kamu, jika kamu sampai mati gaya karena seorang wanita,"cetus Hendrik.


"Sampai iblis, setan tobat dan sedekah pun itu tidak akan terjadi,"sahut Aiden penuh percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri! Awas, kemakan omongan kamu sendiri,"sahut Rayyan.


"Sudah. Aku cabut dulu. Aku ke sini hanya karena aku merasa rindu pada Zayn saja. Bukan untuk menemui kalian. Casanova dan CEO dingin yang bucin akut,"ledek Aiden kemudian tergelak.


"Sombong sekali. Kemakan omongan sendiri baru tau rasa kamu,"cetus Hendrik.


Tanpa memperdulikan Rayyan dan Hendrik, Aiden mencium Zayn beberapa kali, lalu memberikan Zayn pada Aurora.


"Aku pergi,"pamit Aiden.


"Tunggu! Tidak bisakah kamu pergi besok saja?"cegah Rayyan,"Pihak rumah sakit tempat aku melakukan tes DNA mengatakan, jika hari ini, entah jam berapa, mereka akan mengirimkan hasil tes DNA itu melalui email. Jika benar Aurora adalah adik kandung Aiden, aku ingin mengatakan secara langsung tentang masalah ini pada Aurora dan Aiden. Aiden pasti akan sangat bahagia jika Aurora benar-benar adik yang yang selama ini di carinya,"gumam Rayyan dalam hati.


"Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu hal penting yang ingin kamu bahas dengan aku?"tanya Aiden mengernyitkan keningnya.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2