
Aurora pulang dengan perasaan kacau, setalah mengetahui suaminya pernah tidur dengan wanita lain. Kenyataan itu membuat Aurora merasa sangat kecewa pada Rayyan. Karena ternyata dirinya bukanlah yang pertama bagi suaminya.
Saat memasuki rumah, Aurora mendengar suara tawa Zayn dan juga Naima. Aurora menghampiri putranya yang sedang asyik bermain dengan neneknya itu.
"Ra!"sapa Naima dengan senyuman hangat saat melihat Aurora menghampirinya.
"Apa Zayn sudah mandi, ma?"tanya Aurora mencoba tersenyum.
Enggan rasanya tersenyum setelah dirinya bertemu dengan Dila di kafenya tadi. Aurora mengecup pipi putranya. Zayn nampak mengulurkan tangannya pada Aurora pertanda ingin di gendong oleh ibunya.
"Sudah. Kamu bersihkan diri dulu sana,"ujar Naima yang melihat Aurora terlihat lelah.
"Baiklah, ma,"sahut Aurora mengecup pipi putranya, lalu meninggalkan Naima dan Zayn.
"Ma.. Ma.. Ma.."celoteh Zayn memanggil ibunya.
"Mama membersihkan diri dulu, ya, sayang. Baru nanti Zayn boleh ikut mama,"ujar Naima menenangkan cucunya.
Semenjak memiliki cucu, Naima memang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama ke dua cucunya. Tidak ada lagi rasa kesepian di hati Naima saat bersama dengan cucunya.
"Kenapa hari ini wajah Aurora terlihat sangat lelah? Tidak seperti biasanya Aurora terlihat lelah seperti itu,"gumam Naima dalam hati, menatap Aurora yang semakin menjauh.
Aurora berdiri di bawah derasnya air shower. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kata-kata Dila yang mengatakan dengan detail lekuk tubuh suaminya dan tahu pasti di mana letak tahi lalat suaminya yang tidak akan di ketahui orang lain jika Rayyan tidak melepaskan seluruh pakaiannya itu membuat hati Aurora benar-benar merasa sangat kesal.
Tapi melihat Zayn yang nampak bahagia bersama Naima dan saat bersama Rayyan membuat Aurora menghela napas berulang kali. Saat ini keluarganya sudah bahagia dan terasa lengkap. Namun kenapa wanita dari masa lalu Rayyan malah muncul dan membuat hati Aurora menjadi kacau dan kesal seperti ini?
Rayyan pulang lebih awal karena semua pekerjaannya sudah selesai. Tidak lupa pria itu membeli jajanan yang digemari istrinya dan juga membeli mainan untuk putranya. Dengan wajah berseri pria itu masuk ke dalam kamarnya.
"Jagoan papa, lihat apa yang papa bawa untuk kamu!"ucap Rayyan tersenyum cerah melihat Zayn yang baru selesai dipakaikan popok oleh Aurora.
Zayn nampak sangat senang melihat papanya pulang, apalagi saat papanya membawakan mainan baru untuknya. Rayyan mencium gemas putranya itu. Zayn pun terkekeh karena geli, namun malah membuat Rayyan semakin gemas. Aurora melihat kebersamaan anak dan ayah itu dengan perasaan gamang.
"Sayang, aku bawakan kue untuk kamu,"ucap Rayyan seraya menggendong Zayn, kemudian mengecup bibir Aurora sekilas.
"Terimakasih,"ucap Aurora tersenyum tipis.
"Aku akan membersihkan diri dulu,"ucap Rayyan seraya mendudukkan Zayn di atas karpet bulu dengan mainannya.
Aurora membantu Rayyan melepaskan pakaiannya, namun saat hendak melepaskan kancing kemeja Rayyan, handphone Aurora berdering.
"Kamu angkat telpon kamu,"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora kemudian berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Rayyan kembali menghampiri Zayn dan bermain dengan Zayn. Sedangkan Aurora memilih ke dapur membantu pelayan menyiapkan makan malam.
Setelah makan malam bersama dan mengobrol cukup lama bersama Naima, Hendrik dan Sumi, Rayyan dan Aurora pun kembali ke kamar mereka. Begitu pula dengan Hendrik, Sumi dan Naima.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada masalah?"tanya Rayyan saat mereka sudah berada di dalam kamar. Sedangkan Zayn nampak sudah terlelap.
Rayyan merasa Aurora hari ini berbeda dari biasanya. Hari ini Aurora terlihat tidak bersemangat dan tidak banyak bicara. Rayyan merasakan hal itu sejak dirinya pulang tadi sore.
"Tidak ada,"sahut Aurora seraya berjalan menuju kamar mandi.
Rayyan menghela napas panjang. Pria itu yakin jika istrinya itu tidak sedang baik-baik saja. Rayyan melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxer nya saja.
Aurora yang baru keluar dari dalam kamar mandi pun melihat Rayyan yang sudah bertelanjang dada itu. Aurora jadi teringat semua perkataan Dila tadi siang tentang bagaimana tubuh Rayyan dan dimana saja letak tahi lalat yang dimiliki oleh Rayyan. Aurora sampai mematung di tempatnya berdiri.
"Kenapa, kamu terpesona melihat tubuhku?"bisik Rayyan yang tiba-tiba sudah memeluk pinggang Aurora.
Aurora yang tenggelam dalam lamunannya pun terhenyak saat tiba-tiba Rayyan sudah memeluknya dan berbisik di telinganya.
"Ayo, kita tidur! Sudah malam,"sahut Aurora seraya melepaskan pelukan Rayyan.
Aurora naik ke atas ranjang lebih dulu dan Rayyan pun menyusulnya.
"Sayang, jika ada masalah katakan saja! Jangan memendamnya sendirian!"ucap Rayyan seraya berbaring di samping Aurora. Rayyan berbaring miring menghadap Aurora, mengelus pipi Aurora dan menatap lekat wajah istrinya itu.
"Tentu saja. Kenapa tidak?"sahut Rayyan masih membelai pipi Aurora.
"Berapa mantan pacar mu?"tanya Aurora membuat Rayyan mengernyitkan keningnya karena tiba-tiba Aurora menanyakan hal yang selama ini tidak pernah mereka bahas.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal itu?"
"Jawab pertanyaan ku dengan jawaban. Bukan dengan bertanya balik,"sahut Aurora terlihat kesal.
"Okey.. Okey.. Jangan merajuk seperti itu. Aku tidak akan tahan untuk tidak menerkam kamu jika kamu seperti itu,"sahut Rayyan yang malah merasa gemas jika melihat istrinya merajuk,"Aku memang pernah memiliki pacar. Namanya Dila. Dia adalah satu-satunya wanita yang pernah aku pacari. Dan kamu adalah satu-satunya wanita yang aku nikahi," sahut Rayyan jujur adanya.
"Kamu.. Pernah melakukannya dengan perempuan itu?"tanya Aurora tanpa mau menatap wajah Rayyan.
Rayyan menghela napas panjang mendengar pertanyaan Aurora.
"Ya, aku pernah melakukannya dengan dia tiga kali. Karena dia memberiku obat,"
"Kamu tidur tiga kali dengan dia dan semuanya karena di beri obat?"tanya Aurora memicingkan sebelah matanya. Wanita itu nampak tidak percaya.
__ADS_1
"Pertama karena di beri obat, kedua dan ketiga karena aku mabuk. Saat aku meniduri dia, dia sudah tidak perawan lagi. Dia mengaku telah dilecehkan pria yang tidak dikenalnya. Tapi jujur, aku merasa tidak menikmati saat bercinta dengan dia. Tidak bisa membuatku candu seperti setelah aku bercinta dengan kamu. Buktinya, selama kami berpacaran, aku tidak pernah melakukannya secara sadar,"
"Kamu tahu? Punya kamu rapet banget, beda banget sama punya dia. Bahkan setelah kamu melahirkan Zayn pun, punya kamu malah semakin rapet. Kamu pintar sekali merawat diri dan melayani aku di atas ranjang. Kamu juga sudah memberikan aku seorang putra yang sangat tampan dan lucu seperti Zayn. Bagaimana aku bisa berpaling dari kamu?"
"Alangkah bodohnya aku, jika aku meninggalkan wanita sesempurna kamu demi wanita yang tidak lebih cantik dari kamu dan tidak lebih pintar melayani aku di atas ranjang seperti kamu,"jelas Rayyan tidak lupa memuji Aurora seraya mengusap bibir Aurora.
Aurora tidak melihat adanya kebohongan di mata suaminya saat menjelaskan semuanya. Dan pujian Rayyan sukses membuat Aurora yang tadinya bad mood jadi good mood. Pipi wanita itu nampak memerah.
"Gombal,"sahut Aurora seraya memalingkan wajahnya yang memerah.
"Aku tidak pernah menggombali wanita selain kamu. Lagipula, menggombali istriku sendiri tidak berdosa, 'kan?"tanya Rayyan seraya memeluk Aurora.
"Mulut mu manis sekali. Gula saja kalah manisnya. Aku takut kena diabetes karena mulut mu yang kelewat manis,"sahut Aurora masih memalingkan wajahnya.
"Benarkah. Kalau begitu, cicipi lah manisnya suami kamu ini,"ucap Rayyan seraya menindih tubuh Aurora.
Itulah wanita. Sebenarnya sangat mudah membujuk wanita. Cukup bersikap lembut, manis, dan perhatian, maka hati wanita akan luluh.
Sebenarnya, istri menjadi malaikat atau menjadi nenek sihir, itu semua tergantung pada suami. Di detik wanita memutuskan untuk menikah, ia juga memutuskan untuk menjalani hidup dengan baik bersama suaminya. Walaupun dalam pernikahan, kesabaran merupakan suatu kebajikan, tetapi jika ada cinta maka akan ada toleransi.
Saat suami merasa tidak puas dengan istri, istri pun tidak peduli lagi. Jika suami menginginkan wanita baik seperti malaikat, terlebih dahulu perlakukan istri sebagai malaikat. Karena semua wanita di dunia yang sudah menjadi “seseorang istri” memiliki potensi menjadi malaikat.
Cinta wanita muncul karena kasih sayang pria, kebencian wanita muncul karena kebohongan pria. Keluhan wanita muncul karena sikap dingin pria. Kebahagiaan wanita muncul karena kehangatan pria. Kecantikan wanita muncul karena dimanjakan pria.
Ibaratkan wanita adalah sebuah piano, jika bertemu dengan seorang pianis handal, suara yang dihasilkan adalah lagu kelas dunia. Jika dimainkan oleh orang biasa, maka akan menghasilkan lagu pop. Tetapi apabila dimainkan oleh orang sembarangan, pasti tidak akan membentuk sebuah lagu.
Intinya, baik buruk, keras lembutnya seorang istri tergantung bagaimana suami memperlakukannya. Kalaupun ada yang berbeda dari semua hal di atas, itu hanya sebagian kecil saja.
...🌟🌟🌟...
...Suami yang baik akan menyeka air mata istrinya, tapi suami yang hebat akan mendengarkan dengan baik cerita istrinya yang membuatnya menangis....
...Semahal apa pun harga sebuah bantal, tak akan mampu menggantikan nyaman dan tenangnya bahu seorang suami untuk bersandar....
...Sebaik-baik suami adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya....
...Hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu. Sebab, istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu....
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued