
Malam semakin larut, pesta resepsi pernikahan pun berjalan dengan lancar. Walaupun banyak drama, tapi tidak mempengaruhi meriahnya pesta. Para tamu undangan tetap menikmati pesta dengan hati senang.
Kecuali Natalie dan papanya tentunya. Mereka benar-benar merasa malu karena Vidio Natalie yang di putar di pesta pernikahan itu. Vidio Natalie yang menyuruh orang menggosipkan Aurora dan Vidio tidak senonoh Natalie yang wajah lawan mainnya di blur.
Sedangkan Naima, malam ini wanita paruh baya itu terlihat sangat senang karena menuai banyak pujian dari teman-teman sosialitanya dan juga dari para tamu undangan yang hadir. Semua itu karena cuitan teman-teman sosialita Naima yang membanding-bandingkan Aurora dengan Natalie.
Mereka memuji Aurora yang lebih cantik, lebih bohay, dan lebih mandiri dari pada Natalie yang hanya memiliki kelebihan memiliki gelar sarjana dari luar negeri. Namun tidak mau melakukan apa-apa dan terus bergantung pada orang tua. Sedangkan Aurora bisa merintis usaha sendiri di kota walaupun hanya lulusan SMA.
Setelah pesta usai, Rayyan membawa Aurora ke hotel yang ada di tepi pantai itu. Dan rencananya, keesokan harinya akan ke kampung Aurora untuk menjenguk Bu Ella. Setelah itu, mereka akan berangkat bulan madu.
"Huff.. akhirnya selesai juga,"ujar Aurora seraya duduk di pinggir ranjang seraya melepaskan aksesoris yang dipakainya.
"Apa lelah sekali?"tanya Rayyan seraya duduk di samping Aurora. Rayyan memeluk pinggang Aurora, lalu mengecup pipi Aurora beberapa kali, kemudian meletakkan dagunya di atas pundak Aurora.
"Rayy! Lepaskan! Aku sulit melepaskan aksesoris ini jika kamu memeluk aku seperti ini,"keluh Aurora.
"Oke.. oke.. Akan ku bantu untuk melepaskan semua aksesoris kamu,"ucap Rayyan melepaskan pelukannya,. kemudian membantu melepaskan aksesoris yang ada di rambut Aurora.
"Auwh! Pelan-pelan, Ray! Sakit!"keluh Aurora yang rambutnya sedikit tertarik oleh Rayyan yang sedang melepaskan aksesoris berupa jepit di rambut Aurora.
"Maaf!"ucap Rayyan mengecup pipi Aurora sekilas.
Setelah selesai membantu melepaskan semua aksesoris Aurora, Rayyan mulai menciumi leher Aurora seraya menurunkan resleting gaun Aurora.
"Rayy.. jangan sekarang! Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Tubuhku rasanya lengket sekali,"ucap Aurora seraya mendorong dada Rayyan pelan.
Aurora merasa tidak percaya diri berdekatan dengan Rayyan saat merasa tubuhnya tidak bersih. Karena itu, dari tadi Aurora terkesan menghindar jika Rayyan mendekatinya.
"Tapi kamu masih tetap wangi, kok! Aku sangat suka aroma tubuh kamu,"ucap Rayyan kembali menciumi leher Aurora.
"Rayy.. sudah! Aku mau mandi,"ucap Aurora kembali mendorong dada Rayyan.
"Kita mandi bersama!"ucap Rayyan menyelipkannya tangannya di bawah paha Aurora, hendak menggendong Aurora.
__ADS_1
"Tidak! Aku ingin mandi dengan tenang. Jika aku mandi dengan kamu, aku tidak akan bisa mandi dengan tenang. Aku ingin berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhku,"ujar Aurora seraya memegang lengan Rayyan yang tangannya sudah menyelip di bawah paha Aurora.
"Oke.. oke.. aku tidak akan menganggu kamu. Kamu mandi di bathtub dan aku mandi di bawah shower,"ucap Rayyan kemudian mengangkat tubuh Aurora.
"Kamu tidak bohong, 'kan?"tanya Aurora seraya memicingkan sebelah matanya, curiga. Sedangkan tangan Aurora melingkar di leher Rayyan.
"Tidak akan. Asal setelah mandi kita..."Rayyan menggantung kata-katanya seraya tersenyum smirk pada Aurora.
Aurora menghela napas panjang melihat Rayyan yang tersenyum smirk. Entah mengapa suaminya itu sama sekali tidak merasa lelah jika sudah menyangkut urusan ranjang.
Rayyan mendudukkan Aurora di pinggir bathtub, kemudian mengisi bathtub dengan air hangat. Sedangkan Aurora masih duduk manis di pinggir bathtub.
"Apa perlu aku bantu melepaskan gaun kamu?"tanya Rayyan yang melihat Aurora belum melepaskan gaunnya. Pria itu tersenyum penuh arti.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri! Sudah! Sana! Kau bilang mau mandi di bawah shower dan tidak akan menganggu aku, 'kan?"ujar Aurora seraya mendorong pelan dada Rayyan.
Rayyan terkekeh seraya berjalan menuju shower. Aurora hanya menghela napas menatap suaminya itu.
"Aku harus segera melepaskan gaunku dan masuk ke dalam bathtub sebelum dia berbalik dan melihat tubuhku yang polos lalu berubah pikiran ingin menerkam aku,"gumam Aurora dalam hati. Dengan cepat Aurora melepaskan gaunnya, lalu masuk ke dalam bathtub.
Aurora menatap tubuh Rayyan yang mandi di bawah shower tanpa berkedip. Entah mengapa Aurora tetap saja mengagumi bentuk tubuh suaminya itu, walaupun pria itu berdiri membelakangi dirinya. Apalagi jika Aurora melihat dada bidang dan perut rata suaminya itu. Aurora benar-benar mengaguminya.
"Haisss.. mataku ini susah dikendalikan jika menatap tubuhnya,"gumam Aurora kemudian memejamkan matanya menyandarkan tubuhnya di bathtub merilekskan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah selesai membersihkan diri. Pria itu tersenyum tipis menatap Aurora yang berendam seraya memejamkan matanya. Perlahan Rayyan berjalan mendekati Aurora.
"Kamu tidak berencana untuk tidur di sini, 'kan?"bisik Rayyan di telinga Aurora membuat Aurora tersentak.
"Ray! Kamu mengagetkan aku!"pekik Aurora seraya memegang dadanya.
"Aku tunggu lima belas menit lagi. Jika dalam waktu lima belas menit kamu tidak keluar dari kamar mandi... aku akan melakukannya di kamar mandi,"ucap Rayyan mencium bibir Aurora dan sedikit melummatnya.
"Emmp.. Ray!"Aurora melotot seraya mendorong dada Rayyan hingga ciuman Rayyan terlepas. Karena saat Rayyan mencium Aurora, tangan pria itu bergerak nakal meremas benda bulat kenyal miliknya.
__ADS_1
Rayyan terkekeh melihat Aurora melotot padanya. Pria yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya itu keluar dari kamar mandi tanpa rasa berdosa.
"Dasar mesum!"gerutu Aurora membuang napas kasar,"Tapi aku suka saat melihat dia tersenyum, apalagi saat melihat dia tertawa,"gumam Aurora tersenyum tipis kemudian bergegas melanjutkan ritual mandinya. Tidak ingin Rayyan melakukanya di dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Aurora pun keluar dari kamar mandi. Wanita itu melihat suaminya sedang duduk di tepi ranjang menatap layar handphonenya.
"Kemari lah!"ucap Rayyan saat melihat Aurora yang memakai bathrobe mendekatinya.
Rayyan merengkuh pinggang Aurora, kemudian mendudukkan Aurora di atas pangkuannya, dan memeluk pinggang Aurora. Pria itu menundukkan kepalanya dan mencium leher Aurora.
"Ra!"panggil Rayyan masih memeluk Aurora yang berada di atas pangkuannya.
"Hum,"sahut Aurora seraya memegang lengan Rayyan yang memeluk pinggangnya. Suaminya itu belum memakai baju. Masih melilitkan handuk di pinggangnya.
"Bagaimana jika ada orang yang mirip dengan kamu?"tanya Rayyan.
Mendengar pertanyaan Rayyan, Aurora pun menoleh pada Rayyan dan menatap Rayyan seraya mengernyitkan keningnya.
"Orang yang mirip dengan ku?"tanya Aurora.
"Hum. Bagaimana reaksi kamu jika ada orang yang mirip dengan kamu?"tanya Rayyan lagi.
"Aku tidak punya kembaran identik, Ray. Jadi, tidak mungkin ada orang yang mirip dengan ku. Kalau cuma mirip -mirip sedikit, mungkin saja ada. Karena banyak yang mengatakan, jika di dunia ini kita memiliki tujuh kembaran. Tapi kalau mirip banget, nggak bakalan ada,. Kecuali kembar identik,"sahut Aurora yakin.
"Bagaimana kalau ada?"tanya Rayyan dengan wajah yang terlihat serius.
...π"Wajah bisa sama, tapi hati tidak akan pernah bisa sama."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued