Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
198. Ciuman


__ADS_3

Karena Sumi tidak ingin bicara apapun Hendrik pun diam. Pria itu tidak ingin membuat Sumi marah jika dirinya salah bicara. Apalagi dirinya masih agak emosi karena kejadian tadi. Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya diam tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka. Tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing. Sampai di rumah Sumi, wanita itu pun hanya mengucapkan terimakasih, lalu keluar dari dalam mobil Hendrik.


Hendrik hanya bisa menghela napas berkali-kali menatap Sumi hingga wanita itu menghilang di balik pintu rumahnya.


Hendrik melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sumi. Sudah satu minggu ini mereka menjalani hubungan layaknya pasangan kekasih. Hendrik tidak tahu, kapan dirinya akan menerima kabar Sumi mengandung anaknya atau tidak. Namun jujur, Hendrik sudah sangat penasaran dengan hal itu. Dan sangat berharap Sumi mengandung anaknya.


Keesokan harinya, Hendrik melajukan mobilnya menuju restoran Sumi. Masih ada waktu dua jam sebelum melakukan pemotretan untuk prewedding. Jadi Hendrik menggunakan kesempatan itu untuk menemui Sumi.


"Sayang!"panggil Hendrik yang menghampiri Sumi di dapur restorannya.


Hendrik memanggil Sumi agak keras karena suara aktivitas memasak para penghuni dapur itu lumayan berisik. Dari suara pisau yang beradu dengan talenan, suara minyak panas yang dimasuki olahan makanan yang masih mentah, suara spatula yang beradu dengan wajan penggorengan dan masih banyak lagi suara yang membuat Hendrik harus sedikit mengeraskan suaranya untuk memanggil Sumi.


Mendengar seseorang memanggil sayang, otomatis semua orang yang ada di dapur itu pun menoleh pada sumber suara, yaitu Hendrik. Aktivitas memasak para penghuni dapur itu terhenti seketika karena terpukau oleh wajah rupawan Hendrik yang melempar senyuman manis pada Sumi.


Seolah langkah Hendrik yang menghampiri Sumi itu seperti adegan slow motion karena penghuni dapur itu terpesona melihat Hendrik. Wajah rupawan dengan senyuman manis dan tulus di bibirnya itu begitu mempesona. Jangankan kaum hawa, kaum Adam pun ikut terpesona melihatnya.


"Kerja! Kerja!"teriak Sumi yang menyadari karyawan nya berhenti bekerja karena terpesona dengan wajah tampan dan senyuman manis Hendrik. Suara Sumi itu membuat aktivitas penghuni dapur yang terhenti seketika itu kembali berjalan.


"Jangan tebar pesona disini! Kamu akan membuat restoran ku bangkrut karena para koki ku tidak fokus memasak karena lebih tertarik melihat kamu dari pada melihat apa yang mereka kerjakan,"ujar Sumi bergegas menarik Hendrik keluar dari dapur menuju ruang kerjanya.


Hendrik hanya tersenyum mendengar ocehan Sumi itu dan mengikuti langkah kaki Sumi menuju ruang kerjanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"tanya Hendrik setelah mereka berada di ruangan Sumi.


"Aku baik-baik saja,"sahut Sumi seraya duduk di sofa singel. Tidak ingin memberikan kesempatan bagi Hendrik untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf soal kemarin. Aku kemarin benar-benar emosi,"ucap Hendrik dengan wajah memelas. Pria itu bahkan duduk berjongkok di depan Sumi seraya memegang lembut jemari tangan Sumi.


"Bukankah kamu tahu sendiri kalau aku ini mantan kupu-kupu malam? Kamu tentu tahu apa risikonya jika jalan dengan aku,"


"Aku tahu, sayang. Karena itu, aku minta maaf,"sahut Hendrik masih menampilkan wajah memelasnya.


"Hari ini.. aku datang bulan,"ucap Sumi menatap Hendrik yang masih berjongkok di depannya.


Mendengar kata-kata Sumi itu, wajah Hendrik yang memelas itu seketika tersenyum hambar yang lama kelamaan menjadi senyuman masam, lalu berubah menjadi senyuman pahit. Hendrik tahu betul apa artinya jika Sumi berkata seperti itu. Itu artinya hubungan mereka hanya cukup sampai di sini saja. Dan Hendrik tidak akan bisa lagi menemui, apalagi mendekati Sumi.


"Kamu tahu apa artinya, 'kan, jika aku datang bulan?"tanya Sumi yang melihat Hendrik terdiam.


"Aku tahu. Itu artinya.. hubungan kita hanya sampai di sini saja. Aku tidak boleh lagi menganggu, apalagi mengejar-ngejar kamu. Aku harus pergi dari hidup kamu. Tapi, tidakkah selama satu minggu ini kamu tidak bisa sedikit pun membuka hati kamu untuk aku?"tanya Hendrik dengan tatapan sendu.


"Maaf! Sebaiknya kamu mencari gadis baik-baik yang layak menjadi pendamping hidup mu. Karena aku merasa tidak pantas untuk kamu. Kita terlalu jauh berbeda. Terimakasih karena telah mau meluangkan waktu mu untuk ku. Terimakasih karena mau mencintai wanita seperti aku! Aku menghargai ketulusan hati dan cinta mu. Tapi, maaf! Aku tidak bisa menerima cinta mu,"ucap Sumi lembut dan tulus.


"Baiklah, aku tidak bisa memaksa kamu untuk menerima cinta ku, apalagi menerima lamaran ku. Namun, sebelum aku pergi, izinkan aku mencium kamu sekali saja. Setelah itu, aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi ke sini,"ucap Hendrik penuh harap Sumi mau mengabulkan keinginannya.


"Baiklah,"ucap Sumi.


Apa yang diberikan Hendrik selama ini padanya sudah terlalu banyak. Karena itu, membiarkan Hendrik menciumnya, bagi Sumi tidak lah berlebihan.


Hendrik tersenyum lembut mendengar Sumi mau mengabulkan permintaannya. Pria itu beranjak dari posisi jongkoknya. Meletakkan tangan kanan dan kirinya di sebelah kanan dan kiri tubuh Sumi. Perlahan Hendrik mendekatkan wajahnya ke wajah Sumi semakin dekat dan semakin dekat.


Entah mengapa jantung Sumi jadi berdetak kencang saat wajah pria rupawan di depannya itu semakin dekat dengan wajahnya. Ada suatu perasaan yang berbeda. Perasaan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

__ADS_1


Seumur hidupnya Sumi hanya fokus membantu kedua orang tuanya dan mengasuh adik-adiknya. Tidak memikirkan yang lain, apalagi yang namanya cinta. Pacaran pun belum pernah. Baru saat bersama Hendrik akhir-akhir ini lah Sumi bisa merasakan bagaimana memiliki pacar, tapi sayangnya bukan pacaran yang didasari rasa saling mencintai.


Sumi reflek memejamkan matanya saat wajah Hendrik tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya. Bahkan hembusan napas hangat beraroma mint pria itu terasa hangat menerpa wajah Sumi.


Tak lama kemudian, bibir Hendrik akhirnya menempel di bibir Sumi. Dengan perlahan Hendrik memagut bibir Sumi. Tangan Hendrik meremas kedua jemari tangan Sumi. Tanpa disadari Sumi, Sumi membalas ciuman Hendrik yang terasa lembut dan memabukkan itu. Ciuman tulus tanpa nafsuu di dalamnya yang belum pernah Sumi rasakan sebelumnya. Karena selam ini Sumi hanya pernah merasakan ciuman penuh nafsuu dari para pelanggannya. Sangat berbeda dengan ciuman Hendrik saat ini.


Ciuman Hendrik semakin dalam hingga tanpa disadari Sumi, kepalanya sudah bersandar di sandaran sofa dengan Hendrik yang masih memagut bibirnya. Kedua jemari tangan mereka saling meremas dan ciuman mereka semakin dalam.


Hendrik juga memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan bibir mereka. Saling memagut, menyesap serta menggigit kecil. Napas yang semakin lama semakin tidak teratur dengan jantung yang berdegup semakin kencang.


Dengan tidak rela, Hendrik melepaskan pagutannya saat mereka sudah mulai kesulitan untuk bernapas. Mereka pun membuka mata mereka. Hendrik menatap lekat manik mata Sumi yang begitu dekat dengannya.


"Terimakasih untuk ciuman ini! Dan terimakasih atas semua waktu yang kamu berikan untuk ku! Mulai hari ini, aku akan pergi dari kamu. Tidak akan menemui apalagi menganggu kamu,"


"Ceklek "


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Spatula atau sudip atau sutil adalah alat untuk memasak, seperti menggoreng, mengangkat, atau mengaduk masakan.


Slow motion, sering disingkat slo-mo adalah gerak lambat efek dalam pembuatan film yang mengakibatkan waktu dan pergerakan tampak seakan diperlambat.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2