
Pak Hamdan menatap pria yang ada di depannya itu. Mencoba mengenali wajah pria yang terlihat terkejut saat melihat dirinya itu.
"Sepertinya orang ini benar-benar mengenal aku. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa orang ini,"gumam Pak Hamdan dalam hati.
"Katakan, kenapa kamu menjebak Pak Hamdan?"tanya Rayyan dengan suara dan tatapan dingin nan tajam pada Heru.
Heru menelan salivanya kasar menatap wajah Rayyan yang nampak menakutkan itu. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin.
"A.. Apa maksud kalian? A.. Aku tidak pernah menjebak Hamdan,"kilah Heru ketakutan.
"Kenapa setelah bertahun-tahun Hamdan malah muncul dan menanyakan tentang peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu?"gumam Heru dalam hati.
"Kamu jangan berkilah! Kamu menggunakan tanganku untuk melenyapkan nyawa orang lain,"sergah Pak Hamdan sesuai dengan apa yang sudah di ajarkan Rayyan saat mereka masih di rumah tadi.
"Jangan menuduh aku sembarangan! Apa kamu punya bukti, hingga kamu berani menuduh aku seperti itu?"sengit Heru yang sebenarnya merasa ketakutan.
"Ohh.. Begitu, ya? Jadi.. masih berani tidak mau mengaku?"sahut Andi dengan suara yang tidak kalah dinginnya dari Rayyan,"Buka celananya! Dan potong perlahan benda kesayangannya itu,"ucap Andi dengan seringai di bibirnya.
"Ja.. Jangan macam-macam! Aku akan melaporkan kalian pada polisi!"ancam Heru dengan suara tergagap dan bibir yang bergetar.
"Benarkah? Kamu punya bukti apa untuk melaporkan kami ke polisi? Apa kamu punya saksi?"tanya Andi masih dengan suara dinginnya.
Salah seorang bodyguard Andi mendekati Heru dan melepaskan ikat pinggang Heru.
"Ja.. Jangan! Jangan lakukan!"pinta Heru ketakutan.
"Apa anak buah Rayyan serius ingin memotong benda berharga pria itu?"gumam Pak Hamdan dalam hati. Pria itu tiba-tiba bergidik ngeri saat melihat ekspresi Andi dan Rayyan. Ekspresi dingin mendominasi dengan aura membunuh.
Rayyan tersenyum menyeringai,"Jika kamu tidak mengatakan yang sejujurnya, kami benar-benar akan memotong semua bagian tubuh kamu secara perlahan. Di mulai dari..."ucap Rayyan masih dengan suara dan tatapan dinginnya menatap ke arah pangkal paha Heru.
"Srekk"
"Jangan!"pekik Heru saat anak buah Andi menurunkan resleting celananya.
"Katakan! Ceritakan dari awal!"titah Rayyan masih dengan suara dinginnya.
"Kamu punya dua orang anak gadis, 'kan? Sepertinya kedua anak gadis kamu lumayan juga untuk menghangatkan kami malam ini,"ucap Andi membuat Heru membulatkan matanya.
__ADS_1
"Jangan! Jangan lakukan itu, Tuan,"ucap Heru cepat dengan ekspresi panik.
Dari perkataannya, Andi terdengar bagaikan pria brengseek pemain wanita. Namun, apa benar seperti itu? Kenyataannya, sampai sekarang Andi masih perjaka ting-ting masih bersegel. Original luar dalam belum ternoda sama sekali. Semenjak sekolah dan kuliah tidak pernah pacaran, karena memfokuskan diri untuk belajar. Setelah bekerja juga tidak sempat memikirkan soal wanita, karena sibuk bekerja.
Tapi pemuda yang di besarkan di panti asuhan itu sangat peka dengan keadaan di sekitarnya. Mengamati perilaku dan kebiasaan semua saudara-saudarinya di panti asuhan yang memiliki karakteristik berbeda-beda.
"Kalau begitu, ceritakan!"titah Rayyan dengan suara dinginnya,"Jika kamu berani berbohong atau menyembunyikan sesuatu.. Aku pastikan, kamu akan memohon untuk aku bunuh. Atau kamu benar-benar ingin benda berharga kamu itu di potong perlahan sambil melihat ke dua putri kamu di gilir di depan matamu?"ancam Rayyan dengan aura suram, membuat Heru semakin ketakutan.
"Apakah Rayyan benar-benar akan melakukan ancamannya itu?"gumam Pak Hamdan dalam hati. Pak Hamdan menelan salivanya kasar mendengar ancaman Rayyan itu.
"Ja.. Jangan!"ucap Heru dengan wajah pucat karena ketakutan. Tidak bisa membayangkan jika Rayyan benar-benar melakukan ancamannya.
"Kelamaan. Cepat seret kedua putri pria ini! Biar bisa kita nikmati di depan matanya,"ucap Andi tidak sabar.
"Jangan! Aku akan menceritakannya. Jangan libatkan putri ku dalam hal ini,"ucap Heru cepat,"Si.. Siang itu seorang pria datang padaku. Dia menawarkan uang lima ratus juta untuk menyuntikkan racun pada seorang pasien. Tapi, aku meminta satu miliar padanya. Setelah bernegosiasi dengan alot, dia bersedia memberiku uang satu milyar untuk menyuntikkan racun itu. Dia bilang akan memberikan sisanya jika aku berhasil membuat pasien itu mati,"
"Pasien itu seorang pria keturunan Turki. Aku tidak ingat namanya siapa. Aku yang bertugas malam itu dan akan menyuntikkan racun itu. Tapi, kebetulan Hamdan yang baru bekerja sehari di rumah sakit tempat aku bekerja akan pulang. Dengan alasan sakit, aku meminta Hamdan untuk melakukan tugasku, yaitu menyuntikkan racun pada pasien keturunan Turki itu,"
"Aku bersembunyi mengawasi Hamdan. Bertepatan dengan Hamdan keluar dari ruangan itu, Hamdan berpapasan dengan seorang wanita. Dan saat itu juga terdengar sirine kebakaran. Tanpa berpikir panjang, aku melarikan diri. Besoknya aku melihat berita bahwa orang yang akan aku celakai sudah mati karena keracunan,"
"Jadi, beberapa tahun yang lalu aku benar-benar telah membunuh orang tanpa aku sengaja? Rayyan tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengatakan apa yang harus aku katakan. Sebelumnya, aku sempat berpikir, jika wajahku mirip dengan orang lain. Karena itu Rayyan meminta bantuan ku seperti ini. Tak di sangka hal ini benar-benar menyangkut tentang diri ku,"gumam Pak Hamdan dalam hati setelah mendengar cerita Heru.
Tiba-tiba wajah pria paruh baya itu menjadi sedih. Pak Hamdan mencoba melihat Heru lagi, ingin mengingat masa lalunya. Tapi kepala Pak Hamdan malah terasa pusing saat mencoba mengingat siapa Heru.
"Siapa nama orang yang menyuruh kamu?"tanya Rayyan.
"Jun.. Junedi,"sahut Heru.
Rayyan dan Andi nampak terkejut mendengar jawaban Heru. Andi bergegas mencari foto Jony kemudian menunjukkannya pada Heru.
"Apa orang ini?"tanya Andi.
"Iya,"sahut Heru.
"Apa bapak bisa mengingat orang ini?"tanya Rayyan menatap Pak Hamdan dengan tangan yang menunjuk pada Heru.
"Tidak,"sahut Pak Hamdan jujur.
__ADS_1
Pak Hamdan masih menatap Heru, mencoba mengingat Heru. Tapi semakin berusaha untuk mengingat, kepala Pak Hamdan malah terasa semakin sakit.
Heru mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Rayyan pada Pak Hamdan,"Apa maksud pertanyaan orang itu pada Hamdan? Apakah Hamdan tidak bisa mengingat aku?"gumam Heru dalam hati.
"Kalau begitu, kita pulang saja. Aku akan mengantar bapak pulang,"ujar Rayyan,"Bapak kenapa?"tanya Rayyan langsung memegang tubuh Pak Hamdan saat pria itu terhuyung.
"Kepala bapak tiba-tiba terasa sakit,"sahut Pak Hamdan.
"Ayo, kita pulang, pak,"ucap Rayyan seraya memapah Pak Hamdan.
"Tuan, akan kita apakan orang ini?"tanya Andi.
"Dia telah melenyapkan nyawa papa ku. Di penjara terlalu enak buat dia. Ratakan semua tempat usahanya. Buat dia miskin semiskin miskinnya,"ujar Rayyan dengan suara dinginnya.
"Baik, Tuan,"sahut Andi dengan seringai di wajahnya.
"Jangan, Tuan! Ampuni saya, Tuan,"pinta Heru memelas.
"Terlambat! Selama ini kamu sudah bersenang-senang dengan uang hasil membunuh orang dan hidup bebas di luar sana dengan mengkambing hitamkan orang lain. Jadi, mulai sekarang, kamu harus menikmati apa yang sudah kamu tanam,"ucap Andi dingin dan penuh penekanan.
Andi menatap salah satu anak buahnya yang ada di dekatnya,"Biarkan dia terikat seperti ini sampai besok pagi. Ratakan apotek dan restorannya. Hancurkan semua usahanya,"titah Andi seraya membalikkan badannya, lalu keluar dari ruangan itu.
"Baik, Tuan,"sahut anak buah Andi.
"Jangan, Tuan! Saya mohon jangan lakukan itu, Tuan,"pinta Heru ketakutan.
Namum Andi tetap melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi ke arah Heru, apalagi berhenti.
...π"Tidak ada yang terjadi karena sebuah kebetulan. Manusia menciptakan nasibnya sendiri dengan tindakan yang kelak akan menjadi karmanya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1