
Sumi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya yang sudah mulai membaik. Dengan perlahan, Sumi membuka pintu ruangan rawat inap ibunya.
"Ah, ibu sudah bangun? Aku kira tadi masih tidur,"ucap Sumi saat melihat ibunya yang juga menatap dirinya dengan seulas senyum.
"Kamu tidak perlu menginap di rumah sakit untuk menjaga ibu. Kamu istirahat saja di rumah! Disini sudah ada perawat dan Yuniar yang menjaga ibu. Ibu tidak ingin kamu sakit karena kelelahan menjaga ibu,"ujar ibu Sumi memegang lembut jemari tangan Sumi yang sekarang sudah duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
"Ibu ini kenapa, sih? Ibu memperlakukan aku berbeda dengan adik-adik ku. Aku merasa ibu selalu tidak enak hati padaku,"ucap Sumi yang memang merasa seperti itu.
Sejak kecil, sebagai anak yang paling besar, Sumi selalu membantu ke dua orang tuanya tanpa di minta. Dan ibu Sumi selalu memarahi adik-adik Sumi jika tidak mau membantu ibu Sumi. Tapi tidak pernah memarahi Sumi sekalipun karena Sumi memang tidak pernah membuat ibunya kesal. Sumi selalu mengerjakan apapun tanpa di suruh. Karena itu, Sumi tidak pernah dimarahi ibunya. Adik-adik Sumi pun hanya diam jika mereka dimarahi. Walaupun sebenarnya mereka iri pada Sumi yang tidak pernah dimarahi oleh ayah dan ibu mereka. Karena memang tidak ada celah dan alasan untuk memarahi Sumi.
"Karena kamu sudah banyak berkorban untuk kami. Apalagi setelah ayah kamu meninggal lima tahun yang lalu. Ibu ini, ibu yang tidak berguna. Seharusnya ibu yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahmu meninggal. Tapi ibu malah menjadi beban buat kamu. Maafkan ibu! Ibu bukan Ibu yang baik buat kamu. Ibu dan adik-adik mu hanya menjadi beban buat kamu. Kamu bahkan terpaksa harus menjual diri untuk menghidupi kami. Ibu tidak pernah membahagiakan kamu. Maafkan ibu!"ucap ibu Sumi menangis terisak, berderai air mata.
"Kenapa ibu bicara seperti itu?"ucap Sumi ikut menangis dan langsung memeluk ibunya.
Setelah beberapa saat memeluk ibunya, Sumi menghapus air matanya, lalu menghapus air mata ibunya.
"Bu, aku tidak pernah merasa kalian adalah beban bagiku. Aku malah merasa bangga karena aku bisa membantu ibu. Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan pengorbanan ibu yang telah mengandung, merawat dan membesarkan aku,"ucap Sumi malah membuat ibu Sumi semakin terisak-isak,"Ibu.. sudah! Jangan menangis lagi! Aku tidak suka melihat ibu menangis,"ucap Sumi kembali menghapus air mata ibunya.
"Sum, kemarin ibu hampir saja mati. Ibu tidak tahu sampai kapan ibu masih di berikan umur oleh Tuhan. Ibu..."
"Ibuu.. aku tidak suka ibu bicara seperti itu. Ibu akan sehat dan akan menimang cucu dari ku. Ibu tidak perlu lagi bekerja keras seperti di kampung Jadi ibu tidak akan sakit-sakitan lagi dan akan berumur panjang,"ucap Sumi memotong kata-kata ibunya.
Ibu Sumi memang sakit-sakitan karena terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Bukan karena mengidap penyakit.
"Sum, tolong dengarkan ibu dulu. Jangan memotong kata-kata ibu!"ucap ibu Sumi dengan wajah serius.
__ADS_1
"Baiklah,"ucap Sumi menurut.
"Sum, selama ini ibu menyimpan sebuah rahasia yang sebenarnya tidak ingin ibu ungkapkan. Karena ibu terlalu menyayangi kamu. Tapi ibu tidak ingin mati membawa rahasia ini. Dua puluh lima tahun yang lalu, ibu menikah dengan ayahmu dan tinggal bersama kedua orang tua ayahmu beserta saudara-saudaranya. Namun setelah tiga tahun menikah, kami belum juga di karuniai seorang anak. Walaupun kami sudah berobat ke mana-mana. Setelah tiga tahun tinggal bersama orang tua ayahmu, ibu dan ayahmu pindah rumah ke kecamatan lain. Karena ayahmu bisa membeli rumah sederhana untuk kami berdua dan tinggal terpisah dari bapak dan ibu ayahmu serta saudara-saudaranya. Kami menaiki bus, dan kebetulan tempat kami turun adalah pemberhentian terakhir. Saat kami sudah mengambil semua barang-barang kami, tiba-tiba terdengar suara bayi yang menangis di dalam bus. Supir bus mengira jika itu adalah bayi kami, karena tidak ada lagi penumpang yang tersisa di tempat itu selain kami. Jadi, supir bus itu memberikan bayi itu pada kami. Di dalam tas berisi keperluan bayi yang di tinggalkan bersama bayi itu terdapat secarik kertas yang bertuliskan 'Tolong rawat anak ini'. Akhirnya kami membawa pulang dan merawat bayi itu seperti anak kami sendiri. Tidak lagi berobat untuk mendapatkan keturunan. Ibu dan ayahmu menganggap bayi yang di tinggalkan oleh orang itu adalah berkah buat kami. Karena setahun kemudian setelah kami merawat bayi itu, ibu mengandung. Karena itu, ibu dan ayahmu tetap menyayangi bayi itu walaupun kami sudah memiliki anak sendiri. Dan bayi itu adalah kamu,"ucap ibu Sumi menatap Sumi dengan air mata yang kembali berderai.
"Deg"
Rasanya jantung Sumi berhenti berdetak mendengar penuturan ibunya.
"A.. aku.. aku bukan anak ayah dan ibu?"tanya Sumi tergagap. Tidak percaya jika dirinya bukan anak kandung mereka. Karena Sumi merasa dari kecil selalu diistimewakan oleh kelua orang tuanya.
Ibu Sumi menggeleng pelan, kemudian menghapus air matanya.
"Bukan. Tapi kami mencintai dan menyayangi kamu seperti anak kami sendiri. Karena kami menganggap kamu adalah berkah buat kami. Semenjak kami merawat kamu, rejeki kami lebih lancar, bahkan kami di karuniai anak sendiri. Karena itu, kami menganggap kamu adalah berkah dan jimat keberuntungan kami. Kamu bahkan melakukan apapun untuk membantu kami tanpa kami minta. Karena itu, kami benar-benar menyayangi kamu. Dan sampai saat ini, ibu masih menganggap kamu adalah berkah ibu, karena semenjak ayah kamu tiada, kamu malah mengambilkan tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Tapi sayangnya ayah dan ibumu ini belum bisa membahagiakan kamu. Dan sekarang ibu dan adik-adik mu malah menjadi beban kamu,"dengan air mata berderai
"Ibu, terimakasih telah merawat dan membesarkan anak yang di buang seperti aku dengan penuh kasih sayang. Terimakasih, karena ibu dan ayah mencintai aku seperti anak kalian sendiri. Aku tidak pernah menyangka jika aku bukan anak kalian.
Karena aku bahkan merasa kalian lebih menyayangi aku dari pada adik-adik ku. Tetaplah bersamaku! Tetaplah menjadi ibuku! Karena hanya kalian keluarga yang aku miliki. Seandainya ada kehidupan kedua, aku ingin terlahir dari rahim ibu,"ucap Sumi tulus.
"Sumii.."ucap ibu Sumi merengkuh Sumi dalam pelukannya. Keduanya kembali menangis.
Tanpa di sadari anak dan ibu itu, ternyata ada dua orang yang ikut menangis di depan ruangan yang pintunya tidak tertutup sempurna itu. Keduanya adalah adik Sumi dan Aurora. Sedangkan Nala yang selalu menjaga Aurora tetap saja berekspresi datar.
...Ibu...
...Jika ada orang yang paling mencintaimu, di dunia ini, dialah ibumu.....
__ADS_1
...Jika ada orang yang paling memahami mu di dunia ini, dialah ibumu.....
...Jika ada orang yang paling sedih saat melihat kamu sedih, dialah ibumu.....
...Jika ada orang yang paling bahagia saat melihat kebahagiaan mu, dialah ibumu.....
...Jika ada orang yang tanpa pamrih mencintai dan menyayangi mu, dialah ibumu.....
...Dan jika ada orang yang rela berkorban untuk mu, dialah ibumu.....
...Maka dari itu, hormati dan cintailah ibumu.....
...Karena murkanya adalah awal dari kehancuran mu. ...
...Dan ridho nya adalah awal dari kebahagiaanmu.....
...Karena surgamu terletak di kaki ibumu.....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1