Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
250. Dasar Bodoh!


__ADS_3

Aurora terpaksa membawa Rayyan ke dalam kamarnya. Karena Zayn memang tidur di kamarnya di dalam box bayi.


"Silahkan baringkan Zayn di box bayi itu,"ucap Aurora membuka pintu kamarnya lebar.


Aurora tidak ikut masuk. Wanita itu menunggu di depan pintu kamarnya. Rayyan masuk ke dalam kamar itu seraya memperhatikan ruangan itu.


Rayyan membaringkan Zayn di box bayi. Pria itu mengecup kening Zayn penuh kasih sayang. Setelah itu Rayyan berjalan ke arah pintu, dimana Aurora masih berdiri di sana.


"Akkh!"


"Brugk"


"Emmp,"


"Ceklek"


Tiba-tiba Rayyan menarik Aurora dan mendorong Aurora ke dinding di sebelah pintu dan membekap mulut Aurora. Rayyan meringsek Aurora hingga tubuh mereka menempel dan Aurora tidak bisa bergerak. Di belakangnya tembok dan didepannya Rayyan. Rayyan menutup pintu kamar itu pelan, agar putranya tidak terbangun.


Mastuti yang sudah selesai membuat minuman dan membawanya ke ruangan tamu nampak mengernyitkan keningnya. Karena Mastuti tidak menemukan siapapun di ruangan tamu.


"Apa tamunya sudah pulang?"gumam Mastuti kemudian kembali ke dapur.


Aurora sangat terkejut dengan aksi Rayyan yang tiba-tiba itu. Aurora berusaha berontak untuk melepaskan diri dari Rayyan.


"Apa yang ingin dilakukan pria ini?"gumam Aurora dalam hati. Saat ini Aurora benar-benar merasa ketakutan. Takut pria di depannya itu melecehkan dirinya.


"Katakan padaku! Kenapa kamu bisa berada di sini? Apa kamu sengaja meninggalkan aku? Apa salah ku padamu hingga kamu meninggalkan aku? Apa kamu tidak tahu, bagaimana aku mengkhawatirkan kamu dan bayi kita selama ini?"


"Deg"


Jantung Aurora rasanya berhenti berdetak mendengar kata-kata pria di depannya itu. Seketika wanita itu pun berhenti memberontak.


Karena Aurora berhenti memberontak, Rayyan pun melepaskan bekapan tangannya di mulut Aurora. Pria itu menatap Aurora penuh kerinduan.


Aurora menatap lekat wajah pria di depannya itu. Mencium aroma parfum yang di pakai pria itu. Aurora baru sadar jika pria di depannya itu memakai parfum yang biasa dipakai oleh Rayyan. Jantung Aurora jadi berdetak kencang. Aurora mencoba mengenali pria yang ada di depannya itu.


"Apa kamu tidak bisa mengenali suamimu sendiri? Tidak bisa mengenali ayah dari putramu sendiri?"tanya Rayyan dengan suara sengau nya.


"Ray.."panggil Aurora lirih dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Aurora langsung memeluk Rayyan. Wanita itu menangis menumpahkan rasa rindu dan bahagianya karena bisa kembali bertemu dengan pria yang dicintainya.


Rayyan pun mendekap erat tubuh Aurora. Melepaskan semua rasa rindu yang selama ini di tahannya. Rasa rindu yang begitu menyiksa hatinya selama ini.


Untuk beberapa menit sepasang suami-isteri itu berpelukan. Setelah tangis Aurora reda, Rayyan pun merenggangkan pelukannya. Tangan pria itu terangkat untuk menghapus air mata di pipi wanita yang sangat dicintainya itu.


"Katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi? Hingga kamu ada di sini?"


"Aku..aku takut kamu menyakiti bapak, karena bapak memiliki ciri-ciri yang sama seperti orang yang telah melenyapkan papamu. Karena itu, aku pergi meninggalkan mu dan membawa kedua orang tuaku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena setelah sadar dari komanya, bapak mengalami amnesia hingga kini. Tapi aku yakin bapak bukan orang yang jahat. Bapak tidak mungkin melenyapkan nyawa orang lain,"ucap Aurora tertunduk dengan airmata yang kembali menetes dari pelupuk matanya.


"Kamu melarikan diri dari ku karena masalah itu? Astaga, sayang! Apa kamu pikir suami kamu ini orang bodoh yang menelan semua mentah-mentah tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu? Dan apa kamu pikir aku akan mengorbankan anak dan istriku demi sebuah dendam yang tidak ada hubungannya dengan kalian? Dan jika kamu yakin bapak tidak mungkin melenyapkan nyawa orang lain, kanapa kamu harus kabur dari ku?"


"Kamu.. Kamu terlihat sangat marah dan dendam saat membahas orang yang telah melenyapkan papa mu. Aku takut kamu tidak mencintai aku lagi karena masalah itu. Aku takut kamu melakukan sesuatu yang buruk pada bapak,"ujar Aurora terisak.


"Astaga, sayang! Kenapa kamu begitu bodoh menyimpulkan semuanya sendiri tanpa bertanya pada ku? Aku sudah menyelidiki semuanya. Kemungkinan besar, bapak dimanfaatkan orang lain. Mungkin sebentar lagi kita akan tahu kebenarannya. Apa kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku pada kalian? Bagaimana tersiksanya hidup ku tanpamu? Apa cinta, kasih sayang, perhatian, dan semua hal yang sudah aku berikan padamu selama ini belum bisa dan belum cukup untuk meyakinkan mu dan membuktikan betapa besar aku mencintaimu?"


"Greb"


Aurora kembali memeluk Rayyan dan menumpahkan tangisnya. Kata-kata Rayyan barusan membuat ketakutan Aurora selama ini hilang seketika.


"Maaf!"ucap Aurora yang terisak memeluk erat tubuh Rayyan.


Aurora merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Rayyan. Merasa bersalah karena langsung kabur tanpa bertanya pada Rayyan. Menyimpulkan semuanya sendiri hingga mengambil keputusan yang salah.


Beberapa menit sepasang suami-isteri itu saling memeluk untuk mengobati rasa rindu yang rasanya masih menggunung. Setelah tangis Aurora tidak lagi terdengar, Rayyan merenggangkan pelukannya. Menghapus airmata Aurora dengan lembut. Lalu pria itu membawa Aurora duduk di tepi ranjang.


"Katakan, dan ceritakan padaku! Dari malam kamu meninggalkan aku sampai sekarang,"pinta Rayyan.


Akhirnya Aurora menceritakan semuanya dari malam dirinya mengikuti Rayyan ke rumah sakit, siapa yang membantunya melarikan diri dan bagaimana kehidupannya selama tinggal di pulau ini, sejujur jujurnya tanpa ada yang ditutupi. Kecuali tentang hubungannya dengan Bima di masa lalu. Aurora mengatakan pada Rayyan, jika Bima hanya seorang teman. Karena memang begitulah hubungan mereka saat ini. Walaupun Bima masih menyimpan rasa untuk Aurora.


Rayyan menghela napas panjang setelah mendengar cerita dari Aurora. Pria itu tidak habis pikir dengan kenekatan istrinya itu.


"Dasar bodoh! Kamu telah menyiksaku dan menyiksa dirimu sendiri karena kesimpulan mu yang terburu-buru itu. Kamu bahkan memisahkan aku dan putraku selama berbulan-bulan,"


"Maaf!"ucap Aurora penuh sesal.


"Mudah sekali kamu meminta maaf,"


"Akhhh! Ray!"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas ranjang. Dan dengan cepat Rayyan mengungkungnya.

__ADS_1


"Aku akan menghukum mu karena berani kabur meninggalkan aku dengan membawa putraku,"


"Ray..emp.."


Aurora tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi saat Rayyan tiba-tiba memagut bibirnya agresif, tapi terasa lembut. Detak jantung mereka seakan saling berlomba berkejar-kejaran. Namun beberapa saat kemudian Rayyan melepaskan pagutannya karena Aurora tidak merespon pagutannya.


"Kenapa? Setelah berbulan-bulan kabur, kamu tidak mau melayani suamimu?"tanya Rayyan dengan raut wajah yang terlihat kecewa. Karena setelah sekian lama tidak bertemu, Aurora malah seperti tidak mau melayani dirinya.


"Bukan seperti itu, Ray. Hanya saja.. Aku merasa geli dengan semua bulu di wajah mu itu. Aku tidak suka, Ray,"ujar Aurora jujur adanya,"Selain itu... Aku sedang datang bulan, Ray. Maaf!"ucap Aurora penuh sesal.


Aurora sengaja tidak merespon pagutan suaminya karena takut Rayyan meminta haknya. Sedangkan dirinya saat ini belum bisa melayani Rayyan.


"Huff.. Kenapa juga pas datang bulan?"keluh Rayyan menghela napas panjang.


"Apa.. Apa kamu ingin aku layani dengan cara lain?"tanya Aurora tidak enak hati.


"Tidak. Aku tidak mau kamu layani dengan cara lain,"


"Kalau begitu, sebaiknya kamu cukur brewok kamu itu,"


"Okey. Okey.. Aku akan mencukurnya. Aku akan kembali sebelum makan malam,"ucap Rayyan kembali mengecup bibir Aurora sekilas. Rayyan tahu jika Aurora memang lebih suka jika wajahnya bersih tanpa bulu. Rayyan pun beranjak dari atas tubuh Aurora.


"Kamu akan ke rumah sakit untuk mengunjungi sahabatmu?"tanya Aurora ikut beranjak bangun, lalu merapikan kemeja Rayyan yang sedikit berantakan.


"Kamu tahu, Aiden kecelakaan?"


...🌟🌟🌟...


...Rindu itu seperti angin. Tak bisa di lihat, tak bisa diraba, tapi terasa....


...Rindu itu curang, karena selalu bertambah tanpa mau berkurang....


...Aku baru tahu betapa aku mencintaimu, setelah aku merasakan tersiksanya hati karena merindu mu....


...Aku baru tahu betapa berartinya diri mu, saat kamu jauh dari jangkauan ku dan dari pandangan ku....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2