Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
184. Lebih Baik Melupakannya


__ADS_3

Ayah Bima nampak mengernyitkan keningnya melirik anak dan istrinya yang semenjak duduk di saung itu hanya diam. Keduanya sesekali menatap ke arah yang sama.


"Apa yang kalian lihat? Dari tadi sepertinya kalian memperhatikan orang lain,"tanya ayah Bima, lalu menatap ke arah dimana anak dan istrinya menatap. Sedangkan Bima dan ibunya nampak terkejut mendengar pertanyaan ayah Bima.


"Nggak.. nggak ada, Pak,"sahut Bima.


"Bu.. bukan apa-apa, kok,"sahut ibu Bima.


Ibu dan anak itu nampak gelagapan sendiri saat kepergok ayah Bima sedang menatap ke arah Aurora.


"Dia itu..."ayah Bima tidak melanjutkan kata-katanya. Pria itu nampak mengingat-ingat wanita yang saat ini dilihatnya.


"Siapa?"Tanya adik kandung ayah Bima menatap ke arah mana tatapan ayah Bima tertuju,"Ohh.. itu. Itu Tuan Rayyan dan istrinya,"sahut pria yang berprofesi sebagai polisi itu.


"Tuan Rayyan?"tanya ayah Bima yang tidak tahu siapa Rayyan. Mengingat memang tidak banyak yang tahu wajah Rayyan selain dari kalangan pebisnis.


"Iya. Dia adalah pengusaha kaya di negeri ini. Bisa di bilang pengusaha terkaya nomor satu di negeri ini. Karena kekayaannya dan kekayaan Tuan Aiden sama. Jadi dia dan Tuan Aiden adalah orang terkaya di negeri ini. Dan keduanya adalah sahabat. Menyinggung Tuan Rayyan berarti menyinggung Tuan Aiden, dan sebaliknya,"sahut adik kandung ayah Bima itu.


"Pasti istrinya banyak. Pria kaya seperti itu, mana mungkin akan setia pada satu pasangan saja,"celetuk ibu Bima tersenyum sinis. Berharap Aurora hanya istri simpanan orang kaya. Tidak terima saat mendengar Aurora menjadi istri orang kaya setelah berpisah dengan putranya.


IRI? Anggap saja begitu.


"Kakak salah! Walaupun kaya, Rayyan itu bukan tipikal pria yang suka bermain wanita. Aku dan ibu Rayyan itu berteman. Jadi aku tahu benar kalau Rayyan hanya punya satu istri, yaitu Aurora,"sahut adik ipar ayah Bima.


"Beruntung sekali si jalangg itu. Benar-benar pintar menjerat pria. Bahkan sampai sekarang, Bima masih saja mencintai dia,"gerutu ibu Bima dalam hati.


"Aku pernah mendengar desas-desus, jika Tuan Rayyan itu meratakan sebuah klub malam dan membongkar kejahatan pemiliknya yang selama ini tidak terendus oleh kepolisian. Dan hal itu karena pemilik klub malam itu menculik istri Tuan Rayyan untuk di jual,"sahut adik ayah Bima.


"Yang benar, pa?"tanya istri adik ayah Bima.


"Aku rasa benar. Kami mendengar pengakuan dari beberapa orang yang kami tangkap di klub malam itu. Malam itu, asisten Tuan Rayyan mengantarkan banyak bukti kejahatan pemilik klub malam itu ke kepolisian. Kami langsung melakukan olah TKP. Namun, setelah kami melakukan olah TKP, subuhnya klub malam itu terbakar dan paginya sudah rata dengan tanah,"jelas adik ayah Bima.


"Tapi, wajar saja jika Rayyan melakukan itu. Rayyan itu sangat mencintai istrinya. Anaknya cantik, nggak melawan sama mertua, tidak sombong, tidak suka berfoya-foya seperti kebanyakan istri orang kaya pada umumnya, pekerja keras lagi. Walaupun sudah menjadi istri orang kaya, Aurora itu tetap mengelola usahanya yang sudah dirintisnya sebelum menikah,"ujar adik ipar ayah Bima.


Mendengar perkataan bibinya itu, Bima hanya bisa tersenyum getir mengingat hubungannya dengan Aurora yang kandas karena terhalang restu kedua orang tuanya.


"Seandainya dulu bapak dan ibu merestui hubungan kami, aku pasti sangat bahagia memiliki istri seperti Aurora. Sayangnya, ibu dan bapak hanya memandang Aurora dari latar belakang pendidikan dan keluarganya. Hingga akhirnya Aurora menyerah dengan hubungan kami,"gumam Bima dalam hati.


"Apa aku sudah salah karena dulu tidak merestui hubungan Bima dengan Aurora?"gumam ayah Bima dalam hati saat melihat wajah Bima yang nampak tidak bahagia.

__ADS_1


"Oh, ya, apa kakak mengenal salah satu diantara mereka? Aku perhatikan, kalian sering mencuri pandang ke arah saung yang ditempati Rayyan,"tanya adik ipar ayah Bima.


"Aurora itu mantan pacar Bima,"sahut ayah Bima.


"Yang benar? Sayang sekali kalian hanya sebatas pacaran. Padahal Aurora itu menantunya idaman, loh. Pasti Aurora dulu cinta monyet kamu, ya?"terka adik ipar ayah Bima kemudian terkekeh.


Bima tidak menyahut. Hanya senyuman getir yang terlihat di wajahnya. Segetir hatinya saat kedua orang tuanya dengan tegas menolak hubungannya dengan Aurora. Dan segetir hatinya saat mengingat Aurora memilih menyerah melanjutkan hubungan mereka. Dan sekarang malah terlihat berbahagia, tapi bukan dengannya.


"Kenapa raut wajah kamu seperti itu, Bim? Jangan bilang kalau kamu masih mencintai Aurora!"ujar bibi Bima menerka-nerka.


"Mana mungkin Bima masih mencintai dia. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau Bima sudah memiliki tunangan?"kilah Ibu Bima.


"Baguslah kalau sudah tidak mencintai Aurora. Karena dia sudah menjadi istri orang,"sahut bibi Bima seraya melirik Bima yang terlihat murung.


"Kalaupun masih mencintai wanita itu, lebih baik kamu melupakannya, Bim. Jangan sampai kamu menyinggung Tuan Rayyan. Walaupun keluarga kita banyak yang menjadi tentara dan polisi, tapi jabatan dan kekuasaan yang kita miliki tidak akan bisa menang jika dibandingkan dengan uang,"ujar paman Bima.


"Iya, paman. Aku mengerti,"sahut Bima dengan wajah tertunduk.


"Sial! Pantas saja si jalangg itu berani menentang aku. Ternyata suaminya orang berkuasa,"umpat ibu Bima dalam hati.


***


"Akhirnya mama pulang juga,"ujar Rayyan yang sudah menunggu mamanya pulang untuk membicarakan masalah Hendrik.


"Mama cuma tiga hari menginap di resort teman mama. Tapi kamu berkata seolah-olah mama sudah pergi lama,"


"Ya, sudah. Mama istirahat dulu saja. Sebentar lagi waktu makan malam. Kita akan makan malam bersama,"ujar Rayyan.


"Hum,"sahut Naima.


Satu jam kemudian, Rayyan, Aurora dan Naima pun sudah duduk di kursi meja makan. Sudah lama mereka tidak makan malam bersama. Karena Rayyan sibuk dengan pekerjaan dan Naima yang jarang berada di rumah.


"Kakak kamu tidak pulang juga?"tanya Naima yang tidak melihat keberadaan putra sulungnya.


"Kakak tidur di studio fotonya, ma. Di sana ada ruangan pribadi yang bisa digunakan kakak untuk beristirahat,"sahut Rayyan.


Sebelum usaha Hendrik dioperasikan, Rayyan sudah melihat seluruh ruangan tempat yang akan dijadikan Hendrik untuk menjalankan usaha. Jadi Rayyan tahu benar jika di studio foto Hendrik ada ruangan pribadi untuk tempat Hendrik beristirahat.


"Ajaib sekali. Apa yang bisa membuat kakak kamu yang pemalas itu menjadi pekerja keras?"tanya Naima yang benar-benar heran dengan perubahan Hendrik.

__ADS_1


"Nanti kita bahas soal itu, ma. Kita makan malam dulu,"sahut Rayyan.


"Okey,"sahut Naima, lalu menatap ke arah Aurora,"Kamu dan kandungan kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Baik, ma,"sahut Aurora dengan seulas senyum. Walaupun Naima hanya sekedar menanyakan keadaannya, tapi Aurora merasa senang. Karena pertanyaan Naima itu, bagi Aurora sudah menunjukkan perhatian dan kepedulian Naima pada dirinya dan janin yang sedang di kandungnya.


"Syukurlah. Tidak mengalami morning sickness, 'kan?"tanya Naima lagi.


"Enggak, ma,"sahut Aurora.


"Bagus. Ya sudah, ayo makan. Kamu harus makan makanan yang bergizi agar kamu dan bayi kamu sehat,"ujar Naima.


Naima nampak senang bisa makan malam bersama anak dan menantunya dalam suasana yang terasa hangat itu. Suasana yang sudah lama tidak dirasakannya semenjak suaminya meninggal dunia.


"Ray, kamu ingin makan apa?"tanya Aurora lembut seraya mengambil piring Rayyan.


"Aku bisa mengambilnya sendiri, sayang. Biar aku ambilkan makanan untuk mu,"ucap Rayyan mengambil piringnya yang di pegang Aurora, lalu mengambil piring Aurora.


"Aku bisa mengambil sendiri, Ray,"sahut Aurora.


"Okey. Makan yang banyak, ya?"sahut Rayyan penuh senyuman.


"Selama ini, ternyata aku salah. Aku memaksa Rayyan untuk menikah dengan gadis pilihan ku yang ternyata bukan gadis baik-baik. Aku bahkan berusaha menyingkirkan Aurora dari sisi Rayyan. Ibu macam apa aku ini? Aku hampir saja merusak kebahagiaan putraku sendiri. Aku benar-benar dibutakan oleh Natalie yang tidak lebih baik dari wanita penghibur. Untung saja Aurora mau memaafkan aku. Jika tidak, mungkin Rayyan akan membenciku aku selamanya,"gumam Naima dalam hati.


Melihat Rayyan yang begitu perhatian dan terlihat sangat bahagia bersama Aurora, membuat Naima merasa menyesal dan bersalah karena sempat menentang hubungan Rayyan dan Aurora.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga pun selesai makan malam.


"Ma, aku ingin bicara soal kak Hendrik.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Morning sickness adalah salah satu gejala kehamilan berupa mual dan muntah yang paling sering dialami oleh wanita hamil. Morning sickness biasanya muncul di pagi hari, meski tak menutup kemungkinan bahwa wanita hamil merasa mual di siang, sore, dan malam hari.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2