Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
161. Bucin Akut


__ADS_3

Aurora melangkah cepat meninggalkan ruangan Fina di ikuti oleh Nala. Aurora benar-benar ngeri melihat ekspresi Rayyan. Ekspresi wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu mungkin terlihat bagai malaikat maut yang ingin mencabut nyawa. Sorot mata tajam dingin, penuh kemarahan, benci, dan berkilat penuh dendam. Benar-benar menakutkan di mata Aurora.


Setelah masuk ke dalam toilet, Aurora mencuci wajahnya dan menatap wajahnya sendiri di depan cermin.


"Kenapa ekspresi Rayyan begitu menakutkan? Entah apa yang akan di lakukan Rayyan jika bertemu dengan orang yang telah melenyapkan nyawa papanya. Walaupun Rayyan tidak akan melenyapkan orang itu, tapi yang pasti, Rayyan akan membuat hidup orang itu sangat menderita,"gumam Aurora yang entah mengapa terbayang-bayang dengan ekspresi wajah Rayyan yang menakutkan tadi.


Aurora mencoba menenangkan dirinya. Mengeringkan wajahnya yang basah dengan tisu, kemudian memoleskan make up tipis di wajahnya dan merapikan rambutnya.


Rayyan terus mengikuti langkah kaki Andi hingga mereka tiba di toilet umum rumah sakit itu. Nala terlihat berdiri di depan toilet wanita. Rayyan menghela napas berkali-kali untuk mengatur emosi dan raut wajahnya. Tidak ingin membuat istrinya takut lagi.


Setelah merasa tenang, Aurora keluar dari toilet. Aurora sempat terkejut melihat Rayyan berada tidak jauh dari pintu toilet itu.


"Sayang!"ucap Rayyan seraya berjalan cepat menghampiri Aurora.


"Jangan sentuh aku!"ucap Aurora seraya menghindar saat Rayyan ingin meraih tangannya.


"Sayang, aku minta maaf jika tadi membuatmu takut. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya terbawa emosi saja saat mengingat kematian papaku,"ucap Rayyan lembut.


Aurora hanya diam, bahkan wanita itu tidak mau melihat wajah Rayyan. Wanita itu malah melangkah menjauhi Rayyan diikuti Nala.


"Sayang, jangan marah! Aku minta maaf!"ucap Rayyan dengan wajah memelas, mengikuti Aurora.


"Jangan mengikuti aku!"bentak Aurora kembali melangkah.Untung saja toilet itu sepi, kalau tidak, sepasang suami-isteri itu pasti sudah menjadi pusat perhatian.


Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar. Membuang napas kasar. Pria itu terlihat frustasi.


"Aiihh..aku jadi kasihan juga kalau melihat Tuan seperti ini,"gumam Andi dalam hati. Andi kemudian mendekati majikannya itu.

__ADS_1


"Tuan, apa yang dikatakan wanita itu biasanya berlawanan dengan kata hatinya. Kalau mereka bilang tidak apa-apa, berarti mereka sedang tidak baik-baik saja. Jika mereka bilang tidak marah, berarti mereka sedang marah. Kalau Tuan di suruh pergi, berarti artinya Tuan tidak boleh pergi. Sekarang, cepat kejar nyonya sana! Kalau masih di usir, tinggal di peluk saja. Ini tempat umum. Di depan sana ramai orang. Nyonya tidak akan berani marah jika Tuan memeluknya sambil meminta maaf di depan umum,"ujar Andi panjang lebar.


Tanpa berkata apapun, Rayyan langsung bergegas mengejar istrinya. Rayyan langsung memeluk Aurora yang sedang berjalan itu dari belakang, membuat Aurora terkejut dan tidak dapat melanjutkan langkah kakinya.


"Sayang, Jagan marah! Aku akan berlutut di kakimu jika kamu masih marah padaku,"ucap Rayyan pelan seraya memeluk erat tubuh Aurora.


Aurora menatap ke sekeliling tempatnya berdiri dan menyadari orang-orang di sekitar tempat itu mulai memperhatikan dirinya dan Rayyan.


"Aiihh.. mesra sekali,"


"Aku mau, dong, di bujuk seperti itu,"


"Serasi sekali. Yang cewek cantik dan yang cowok tampan,"


Masak kusuk orang-orang yang ada di sekitar Aurora. Membuat Aurora menjadi canggung karena posisinya saat ini sedang dipeluk Rayyan.


"Ray, lepaskan! Apa kamu tidak malu dilihat banyak orang?"ucap Aurora pelan. Malu rasanya di peluk suaminya seperti ini di depan umum. Apalagi suaminya itu menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.


"Aku tidak marah padamu. Lepaskan aku!"pinta Aurora yang benar-benar risih menjadi pusat perhatian karena ulah suaminya itu.


"Baiklah, kita ke ruangan mama, okey?"


"Hum,"sahut Aurora pasrah. Tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama lagi.


Rayyan melepaskan pelukannya, lalu merangkul pinggang Aurora meninggalkan tempat itu.


"Dasar bucin akut tingkat dewa! Nyonya marah sedikit saja sudah kelabakan. Persis kayak orang stres. Padahal nggak dapat tender miliaran juga santui aja, tuh! Tapi nyonya marah sedikit saja sudah kayak kebakaran jenggot. Wanita memang paling jago memporak porandakan hati pria. Nggak usah pakai ilmu Jaran goyang atau Semar mesem pun kesemsem. Sudah kayak kerbau di cocok hidungnya. Kalau sudah cinta, hilang sudah martabat pria di depan wanita. Wibawanya hancur, harga dirinya hilang. Haiiss.. kenapa cinta itu bisa membuat orang jadi hilang logika?"gumam Andi menghela napas panjang.

__ADS_1


Sedangkan Nala hanya melirik Andi yang sedang menggerutu itu dengan wajah datarnya. Wanita itu kemudian melangkah menyusul majikannya. Andi pun mengikuti Nala menyusul majikannya.


Keempat orang itu berjalan menuju ruangan rawat inap milik Naima. Sesampainya di ruangan Naima, Nala memilih menunggu di luar. Sedangkan Andi mengekor di belakang majikannya, ikut masuk ke dalam ruangan.


Saat masuk ke dalam ruangan itu, ke tiga orang itu melihat Hendrik yang masih terlelap di atas sofa panjang. Namun walaupun sofa itu panjang, tetap saja tidur pria itu tidak nyaman. Karena postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat kakinya menggantung di ujung sofa.


"Mama sudah bangun?"tanya Aurora saat melihat Naima membuka matanya. Wanita itu bergegas mendekati Naima. Begitu juga dengan Rayyan.


"Haus,"gumam Naima lemah seraya menatap Rayyan.


Namun dengan cekatan, Aurora langsung mengambil air putih yang tersedia di atas nakas lengkap dengan sedotannya. Aurora menyodorkan sedotan itu ke mulut Naima. Naima pun membuka mulutnya dan mulai minum.


"Ma, Aurora akan menjaga mama di sini sampai sore. Nanti malam, kakak yang akan menjaga mama,"ujar Rayyan seraya memegang jemari tangan Naima.


Naima tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh Rayyan. Apalagi saat Rayyan memegang jemari tangannya lembut. Naima merasa sangat senang dengan perlakuan Rayyan itu. Walaupun Rayyan hanya sekedar menggenggam jemari tangannya. Namun hatinya terasa menghangat.


Sejak kecil, Rayyan memang lebih dekat dengan papanya. Selalu mengikuti papanya kemanapun papanya pergi. Sedangkan Hendrik lebih dekat dengan Naima. Karena jika bersama papanya, papanya itu akan selalu mengajarkan cara berbisnis yang tidak bisa masuk di otak Hendrik. Hal itu membuat Hendrik bosan dan sakit kepala. Berbeda dengan Rayyan yang nampak antusias jika papanya mengajarkan soal bisnis. Karena itulah Rayyan lebih dekat dengan papanya dan Hendrik lebih dekat dengan Naima.


Sedangkan Aurora, wanita itu selama ini enggan untuk berinteraksi dengan ibu mertuanya. Karena tidak ingin mendengar kata-kata celaan dan hinaan dari wanita yang telah melahirkan suaminya itu. Tidak ingin membenci ibu mertuanya karena kata-kata ibu mertuanya yang menyakitkan hati. Takut terbawa emosi, lalu menyakiti hati ibu mertuanya itu. Karena itu Aurora memilih menghindari ibu mertuanya itu.


Namun jika melihat keadaan ibu mertuanya seperti saat ini, mana mungkin Aurora tidak mengurus ibu mertuanya itu. Kalau mau sama anaknya, berarti harus mau menerima kedua orang tuanya dan keluarganya bukan? Karena suami kita itu satu paket dengan kedua orang tuanya, dan juga saudara-saudaranya.


"Jadi, aku boleh pulang, 'kan, sekarang? Aku ingin tidur di rumah. Badanku pegal-pegal semua karena harus tidur di sofa kecil ini,"celetuk Hendrik yang baru saja terbangun karena mendengar suara bariton Rayyan.


.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2