
Rayyan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan keluarga diikuti Naima yang di papah Hendrik dan Sumi. Keempat orang itu akhirnya duduk dan Rayyan pun mulai bicara.
"Semalam, aku meninggalkan Aurora tidur di kamar dan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan kedua mertuaku. Tak lama setelah sampai di rumah sakit, Andi mendapatkan kabar jika gudang kita di perusahaan cabang di bakar orang. Aku langsung pergi ke sana bersama Andi dan mengurus segalanya. Pukul sembilan pagi, Nala menghubungi Andi dan mengatakan bahwa Bik Mastuti menghilang dan Aurora tidak kunjung keluar dari kamar. Bahkan nomor telepon Aurora dan Bik Mastuti tidak aktif,"
"Mendengar kabar dari Nala itu, aku jadi khawatir pada Aurora dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi, saat keluar dari kantor perusahaan cabang, aku di tembak orang. Untung saja hanya lenganku yang terserempet peluru. Dan saat tiba di rumah, aku tidak menemukan Aurora di kamar. Semalam ada yang meretas cctv di rumah kita. Bahkan kedua mertuaku juga menghilang dari rumah sakit,"ujar Rayyan, menceritakan secara singkat.
Rayyan tidak menceritakan tentang Pak Hamdan yang kemungkinan besar adalah orang yang melenyapkan papanya. Rayyan tidak ingin mendapatkan reaksi negatif dari mama dan kakaknya karena dirinya telah menikah dengan putri orang yang telah melenyapkan papanya.
Masalah saat ini sudah cukup berat dan banyak, hingga membuat otak Rayyan terasa mau meledak. Rayyan tidak ingin menambah masalah lagi dengan mengatakan siapa Pak Hamdan pada mama dan kakaknya. Apalagi masih belum tentu kebenarannya, jika Pak Hamdan adalah orang yang telah melenyapkan papanya. Walaupun kemungkinannya memang besar, jika Pak Hamdan adalah orang yang menyuntikkan racun pada papanya hingga papanya meninggalkan.
"Kenapa keadaannya jadi kacau, rumit dan runyam seperti ini?"ucap Hendrik yang ikut khawatir dengan masalah yang menimpa adiknya itu.
"Kamu harus segera menemukan Aurora, Ray. Aurora sedang mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan. Mama tidak ingin terjadi apa-apa pada Aurora dan calon cucu mama,"ucap Naima yang terlihat khawatir.
"Aku pasti mencari Aurora, ma,"sahut Rayyan menghela napas yang terasa sesak.
"Siapa kira-kira yang telah melakukan semua ini, Ray?"tanya Hendrik.
"Aku belum tahu, kak. Namun, aku curiga Tuan Jony, ayah dari Natalie lah yang telah membayar orang untuk membakar gudang dan mencoba membunuh aku. Tapi aku juga curiga, jika yang menyebabkan menghilangnya Aurora, Bik Mastuti, dan kedua mertua ku adalah orang lain. Dan orang-orang itu sangat terlatih, cerdas dan cerdik. Mereka tidak meninggalkan jejak dan petunjuk apapun,"
"Melihat cara kerja mereka, aku yakin mereka bukanlah orang biasa. Sepertinya mereka orang-orang yang terlatih. Hingga sulit untuk menemukan petunjuk guna mencari keberadaan Aurora dan Bik Mastuti,"ujar Rayyan membuat Hendrik menghela napas panjang.
"Jadi ini adalah karena urusan bisnis? Dunia bisnis memang kejam,"ujar Hendrik kembali menghela napas panjang.
***
__ADS_1
Andi baru saja sampai di rumah Rayyan dan langsung menemui Rayyan di ruang kerjanya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan penembak jitu itu?"tanya Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya.
"Sudah, Tuan. Kami sudah menyiksa orang itu dengan berbagai macam cara. Tapi orang itu tetap kukuh pada pendiriannya, tidak mau mengakui siapa yang telah membayar dia untuk menembak Tuan. Dia malah memilih mengakhiri hidupnya dengan menelan racun yang disembunyikannya di celana boxer-nya saat dia kami antar ke kamar mandi,"
"Dibayar berapa dia, hingga rela mengakhiri hidupnya demi kesetiaannya pada orang itu?"ujar Rayyan masih tetap mengetik di laptopnya.
"Saya rasa keluarganya di ancam, Tuan. Karena itu dia tidak berani mengatakan siapa orang yang telah membayarnya. Karena saat kami menawarkan bantuan pada dia, dia menolak. Sebelum dia menghembuskan napas terakhir dia mengatakan, keluarga nya lebih penting dari nyawanya,"
"Selidiki terus orang yang bernama Jony itu. Dan bekerja samalah dengan Roni untuk menghancurkan usahanya. Aku yakin, ini adalah ulahnya,"titah Rayyan seraya menutup laptopnya.
"Baik, Tuan,"
"Hubungi Aiden! Aku ingin bertemu dia di klub malam,"ujar Rayyan seraya membereskan mejanya.
"Aku harap Tuan tidak mabuk-mabukan di klub malam,"gumam Andi dalam hati.
Walaupun Andi takut jika Rayyan pergi ke klub malam untuk mabuk-mabukan agar bisa menghilangkan stress karena semua masalah yang datang bertubi-tubi saat ini. Tapi Andi juga tidak bisa mencegah Rayyan.
Andi mengerti bagaimana perasaan Rayyan saat ini. Cobaan yang datang kali ini terlalu bertubi-tubi dan Andi merasa akan agak sulit untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi kali ini. Selain masalahnya banyak, masalah kali ini juga dilakukan oleh orang-orang profesional. Jadi semakin memperlambat penyelesaian masalah karena minimnya petunjuk dan barang bukti.
Setelah masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju, Andi menghadap ke belakang dan menatap Rayyan yang langsung memejamkan matanya dan bersandar di sandaran kursi penumpang. Semalaman Rayyan tidak tidur karena begitu banyak masalah yang menderanya bertubi-tubi.
"Tuan, saya tahu, masalah kali ini memang rumit dan dan menjadi pukulan berat bagi Tuan. Tapi, saya harap Tuan tidak mabuk-mabukan yang akan merusak kesehatan Tuan. Tuan harus tetap sehat agar Tuan bisa mencari nyonya. Ingat Tuan, sebentar lagi, Tuan akan menjadi seorang ayah. Jadi, Tuan harus menjaga kesehatan, Tuan,"ujar Andi berusaha mengingatkan Rayyan agar tidak mabuk-mabukan.
__ADS_1
"Tuan, Tuan harus tabah, tegar dan sabar menghadapi semua ini. Saya yakin, orang sebaik Tuan akan mendapatkan kemudahan dalam menghadapi segala masalah. Semua ini pasti akan segera berlalu, Tuan,"ucap Andi lagi yang sejatinya untuk memotivasi dirinya sendiri agar bisa melewati cobaan kali ini dengan pikiran jernih.
Rayyan hanya diam tanpa merespon kata-kata Andi. Tetap memejamkan matanya seraya bersandar di sandaran kursi penumpang. Entah pria itu tidur atau tidak. Tapi Andi tetap mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
Andi, menghela napas berat menatap Rayyan. Ada kecemasan, kekhawatiran, dan kesedihan yang tergurat jelas di wajah majikannya itu. Dan Andi sangat yakin, jika semua itu karena menghilangnya Aurora. Andi tahu betapa berartinya Aurora bagi Rayyan. Jadi, Andi merasa sangat khawatir pada Rayyan saat Aurora menghilang seperti saat ini. Apalagi saat ini Aurora sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan.
Sesampainya di klub malam, Andi duduk bersama Roni. Andi yang biasanya cerewet dan terlihat selalu ceria, saat ini terlihat jauh berbeda. Kali ini pria itu hanya menampilkan wajah datar yang terkesan dingin. Roni yang melihat ekspresi wajah sahabatnya itu hanya bisa menghela napas berkali-kali.
"Ka.. kam.."
"Plak "
"Kamu jangan khawatir aku akan membantu kamu mengatasi semua masalah ini kita akan bekerjasama menghancurkan orang-orang yang telah berani mengusik kita,"ucap Roni cepat tanpa titik dan koma setelah Andi menepuk pundaknya. Roni menampilkan ekspresi serius dengan tatapan tajam, seolah-olah ingin menghadirkan semua yang menghalangi langkahnya.
Andi tidak merespon kata-kata Roni. Pemuda itu hanya diam menatap Rayyan yang duduk di depan bartender bersama Aiden. Sesekali Andi meneguk softdrink di tangannya.
"Aku jadi kasihan pada Tuan Rayyan dan Andi. Mereka tertimpa banyak masalah. Saingan bisnis kami memang lebih takut pada Tuan Rayyan dibandingkan Tuan Aiden. Karena Tuan Rayyan adalah perencana dan pengatur strategi, sedangkan Tuan Aiden adalah pelaksana. Sehingga para saingan bisnis kami akan lebih memilih melenyapkan Tuan Rayyan dari pada Tuan Aiden,"gumam Roni dalam hati.
Roni tahu bagaimana perasaan Andi saat ini. Seperti dirinya yang menganggap kebahagiaan Aiden adalah kebahagiaannya. Andi juga menganggap bahwa kebahagiaan Rayyan adalah kebahagiaannya. Jadi, Roni bisa mengerti perasaan Andi saat ini.
"Aku harap, aku dan Roni bisa segera menemukan nyonya. Bagaimana keadaan Tuan jika sampai nyonya tidak bisa aku temukan? Aku takut penyakit insomnia Tuan kambuh lagi,"gumam Andi dalam hati.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued