
Setelah resmi menjadi istri Hendrik, Sumi pun pulang ke rumahnya bersama dengan Hendrik. Keluarga Sumi sangat terkejut saat Sumi memberi tahu bahwa Sumi telah menikah dengan Hendrik. Dan mereka pun tidak bisa bicara apa-apa selain menerima. Karena bagaimanapun Sumi sudah menikah. Sumi memang tidak pulang untuk mengambil dokumen pribadinya untuk menikah. Karena Sumi memiliki salinannya di ruang kerja restorannya.
Alasan Sumi tidak memberitahu keluarganya saat akan menikah dengan Hendrik tadi adalah agar rencana pernikahan mereka tidak tertunda. Maklum, keluarganya pasti tidak akan mengijinkan Sumi menikah tanpa perencanaan seperti ini. Apalagi Sumi adalah orang yang paling berarti bagi mereka. Sudah bisa di pastikan akan ada serangkaian adat yang akan diterapkan sebelum pernikahan. Dan Sumi tidak menginginkan semua itu. Yang penting pernikahannya dengan Hendrik sudah sah. Itu sudah cukup bagi Sumi.
Acara perayaan pernikahan Hendrik dan Sumi yang di adakan di belakang rumah Rayyan pun terlihat ramai dan hangat. Naima juga menerima Sumi dengan lapang dada. Wanita paruh baya itu juga terlihat akrab dengan semua orang. Tidak lagi peduli putranya menikah dengan siapa. Tidak ingin di benci anak-anaknya.di usia tuanya. Asalkan anak-anaknya merasa bahagia, Naima akan merestuinya.
"Kenapa kamu datang terlambat? Padahal, kemarin yang punya usul buat bikin perayaan, 'kan, kamu,"ujar Rayyan saat Aiden baru saja datang, sedangkan acaranya sudah dimulai dua puluh menit yang lalu.
"Aku ada pekerjaan mendadak. Karena itu aku jadi terlambat,"sahut Aiden seraya mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.
"Acara perkenalan keluarga sudah selesai, kamu baru datang. Semua itu adalah keluarga dari kak Sumi,"ujar Rayyan yang melihat Aiden menatap orang-orang yang ada di tempat itu.
"Aku menyapa kakak kamu dulu,"pamit Aiden saat melihat Yuniar. Senyuman tipis terbit di bibir pria rupawan itu.
Aiden berjalan mendekati Hendrik dan Sumi untuk menyapa sepasang pengantin baru itu. Namun mata pria itu tetap mengawasi pergerakan Yuniar.
Yuniar nampak bicara dengan seorang pelayan, lalu gadis itu berjalan menjauhi kerumunan orang-orang yang ada di tempat itu. Melihat Yuniar berjalan menjauhi kerumunan, Aiden pun mengikuti Yuniar.
"Benarkan firasat ku? Tuan punya rencana. Dia ingin Tuan Rayyan mengadakan pesta pernikahan ini hanya untuk mendekati nona Yuniar,"gumam Roni yang dari tadi mengawasi gerak-gerik majikannya. Melihat Aiden yang mengikuti Yuniar.
Yuniar melangkah masuk ke dalam rumah itu seraya menatap ke sekeliling. Mengingat arah toilet yang dikatakan oleh pelayan tadi.
"Suami kakak benar-benar orang kaya. Rumahnya besar dan bagus. Dulu aku cuma bisa melihat rumah sebagus ini lewat televisi. Aku tidak pernah menyangka bisa masuk ke rumah sebagus ini. Dan rumah sebagus ini adalah rumah suami kakak,"gumam Yuniar merasa takjub dengan rumah kakak iparnya.
Yuniar berjalan menuju toilet seraya mengamati isi rumah itu tanpa menyadari Aiden yang mengikutinya. Gadis itu berada di dalam toilet selama beberapa menit. Kemudian keluar dari dalam toilet. Walaupun tadi sudah merapikan penampilannya di dalam toilet, namun Yuniar kembali bercermin di lemari besar yang tidak jauh dari pintu keluar.
"Tidak usah bercermin lagi! Bagaimana pun, calon istri ku tetap cantik, kok,"
"Deg"
Suara bariton yang mendayu lembut ditelinga Yuniar itu membuat Yuniar membulatkan matanya dan membeku di tempatnya berdiri. Seketika jantung Yuniar berdetak kencang tak beraturan. Yuniar tahu betul suara siapa yang menyapa pendengarannya itu.
__ADS_1
"Dia? Ini suaranya. Kenapa dia bisa ada di sini?"gumam Yuniar dalam hati. Gadis itu tidak berani menoleh sedikitpun ke arah suara itu berasal.
Melihat Yuniar yang diam membeku, Aiden pun tersenyum smirk. Pria itu berjalan lebih dekat ke arah Yuniar.
"Jadi, kapan kita akan menikah?"bisik Aiden tepat di telinga Yuniar. Bahkan hembusan napas pria itu terasa hangat di leher Yuniar.
"Akkh!"pekik Yuniar spontan mendorong dada Aiden dan menjauh dari Aiden.
"Brugk"
Punggung Yuniar malah terbentur kaca lemari tempatnya bercermin tadi, karena tubuhnya jadi tidak seimbang setelah mendorong Aiden. Aiden tersenyum penuh arti. Pria itu meletakkan kedua tangannya di kaca lemari tempat Yuniar bersandar saat ini. Tepatnya di kanan dan kiri tubuh Yuniar hingga mengunci pergerakan Yuniar.
"Sayang... Jangan berteriak! Kenapa kamu senang sekali berteriak? Apa saat malam pertama kita nanti, kamu juga akan berteriak seperti ini?"tanya Aiden dengan suara lembut dan tenang. Seulas senyuman manis yang menawan menghiasi wajah pria rupawan yang sudah matang itu.
Matang? Buah kali. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pria matang? Pria yang berusia matang adalah para pria yang akan senantiasa memperlakukan pasangannya atau orang-orang di sekitarnya dengan penuh rasa hormat. Pria ini akan berusaha menunjukkan sikap terbaik pada pasangan, rekan kerja, teman atau juga keluarganya.
"Dasar mesum! Siapa juga yang mau menikah dengan pria petualang cinta seperti dia?"umpat Yuniar dalam hati saat Aiden mengatakan bahwa dirinya akan berteriak di malam pertama mereka.
Yuniar ingin sekali pergi dari tempat itu. Keluar dari kungkungan Aiden, tapi pria itu nampak bergeming di tempatnya. Takut. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Yuniar. Pria yang benar-benar tampan, menawan dan dari kalangan atas. Tapi malah membuat Yuniar ketakutan.
"Jadi, kapan kamu akan menikah dengan aku?Akan aku buatkan pesta pernikahan yang megah untuk mu. Mau bulan madu kemana? Pasti akan aku turuti,"ujar Aiden masih dengan senyumannya yang menawan.
"Si.. siapa yang mau menikah dengan,Tuan? Aku tidak pernah bilang mau menikah dengan, Tuan,"ucap Yuniar tergagap. Wajah Aiden yang begitu dekat membuat jantung Yuniar semakin berdetak kencang tidak beraturan.
"Kemarin kamu sudah mencium aku tanpa izin dari ku. Kamu juga sudah menyita waktu ku karena kamu terkena ulat bulu kemarin. Jadi, kamu mau menikah dengan ku, atau mengganti waktu ku dan ciuman yang kamu curi dariku?"tanya Aiden tersenyum smirk.
"Srett.."
Tiba-tiba Yuniar memerosotkan tubuhnya dan langsung berlari meninggalkan Aiden. Aiden terkekeh kecil menatap punggung Yuniar yang menghilang di balik pintu.
"Dia menggemaskan sekali. Seperti kucing kecil yang manis dan sedikit liar,"gumam Aiden yang benar-benar merasa senang bisa menggoda Yuniar.
__ADS_1
Gadis polos yang sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan selalu menghindar dan terlihat ketakutan saat di dekatinya. Namun hal itu malah membuat Aiden tambah senang menggoda Yuniar.
"Tuan sepertinya sangat bahagia bisa menggoda nona Yuniar,"gumam Roni dalam hati yang ternyata mengawasi Aiden dari tempat tersembunyi. Pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan majikannya yang sedang menggoda seorang gadis.
Sedangkan Yuniar merasa sangat lega karena bisa kabur dari Aiden.
"Astagaa.! Dia sudah persis seperti hantu. Dia selalu muncul di mana-mana. Aku semakin takut padanya,"gumam Yuniar bergegas kembali pada keluarganya.
Sementara itu, Hendrik nampak bahagia duduk bersanding dengan Sumi.
"Sayang, jika kamu ingin berbulan madu, kita hanya bisa berbulan madu di dekat-dekat sini saja. Kata dokter, kamu tidak boleh kelelahan, jadi tidak boleh melakukan perjalanan jauh. Setelah anak kita bisa di ajak bepergian nanti, kita bisa jalan-jalan ke manapun kamu mau,"ujar Hendrik seraya menggenggam lembut tangan Sumi.
"Iya, aku mengerti. Aku juga lagi nggak mood buat bepergian,"sahut Sumi tersenyum manis membalas pegangan tangan Hendrik.
Di sisi lain, Rayyan nampak membawa segelas jus dan menghampiri Aurora yang sedang duduk sambil memakan ayam panggang.
"Sayang, ini jus yang kamu minta,"ujar Rayyan seraya memberikan segelas jus pada Aurora.
Aurora menerima gelas yang di berikan Rayyan dengan seulas senyum. Rayyan pun tersenyum seraya mengelus kepala Aurora lembut. Pria itu duduk di sebelah Aurora seraya mengusap perut Aurora lembut.
Atensi keduanya teralihkan saat mendengar suara dering handphone Aurora. Aurora tersenyum tipis saat melihat ada panggilan masuk dari nomor ibunya.
"Halo, Bu!"sapa Aurora tersenyum tipis.
"A.. apa?!"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1