
Rayyan pergi ke toilet, sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Saat Rayyan sudah ada di dalam bilik toilet, seseorang terdengar masuk ke toilet itu dan membuka bilik di sebelahnya.
"Iya, sebentar! Aku sebentar lagi selesai. Kenapa juga tiba-tiba anak itu menangis? Padahal, tadi aman-aman saja. Kenapa sekarang jadi menangis? Menculik anak bayi memang bikin ribet. Kalau bayarannya nggak lumayan, males aku menculik bayi,"gerutu seorang pria yang berada di dalam bilik toilet di sebelah Rayyan itu. Sepertinya orang itu sedang bicara lewat sambungan telepon.
"Apa? Menculik bayi? Tega-teganya mereka menculik bayi,"gumam Rayyan dalam hati.
Entah mengapa Rayyan jadi penasaran saat mendengar perkataan pria yang berada di bilik sebelahnya itu. Pria yang mengatakan sedang menculik bayi. Rayyan diam-diam mengikuti pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menculik bayi. Aku akan menyelamatkan bayi itu. Saat ini, orang tua bayi itu pasti sedang panik karena kehilangan bayi itu. Soal Aiden, aku bisa melihat Aiden nanti,"gumam Rayyan dalam hati yang sudah tidak terlalu khawatir lagi pada Aiden setelah mendengar laporan dari Andi tadi.
"Tuan!"panggil anak buah Andi pelan karena Rayyan nampak mengikuti seseorang.
"Diam! Kita ikuti orang itu!"ucap Rayyan pelan sambil terus mengikuti orang yang katanya menculik bayi tadi.
"Kenapa Tuan mengikuti pria itu?"gumam anak buah Andi yang merasa aneh dengan sikap majikannya.
Sekitar sepuluh meter dari restoran tadi, sayup-sayup Rayyan mendengar suara tangis bayi. Rayyan melihat pria yang diikutinya membuka pintu sebuah mobil. Begitu pintu mobil di buka, Rayyan mendengar suara tangis seorang bayi yang begitu nyaring.
"Shiitt! Kenapa dia menangis begitu kencang? Telinga ku bisa tuli jika mendengar suara tangisannya sepanjang jalan,"keluh pria yang diikuti Rayyan. Pria itu tidak jadi masuk ke dalam mobil karena di dalam mobil terdengar tangisan bayi yang begitu nyaring.
"Sudah! Cepat kita pergi dari sini! Kita Carikan susu dulu untuk bayi ini. Mungkin dia haus. Kalau dia mati, kita tidak akan dapat apa-apa,"ujar pria yang berada di dalam mobil.
"Huff. Mana si bos nyuruh kita menjaga anak ini sampai nanti malam, lagi. Bisa stres aku mendengar dia menangis sampai nanti malam,"gerutu pria itu.
Akhirnya orang yang berada di luar mobil itu memutuskan masuk ke dalam mobil. Tapi dengan cepat Rayyan menarik pria yang baru saja duduk di dalam mobil dan hendak menutup pintu mobil itu. Rayyan menarik keluar pria itu dari dalam mobil.
"Bugh"
Rayyan langsung memukul pria itu, hingga bibir pria itu berdarah.
"Hei! Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba kamu memukul aku?"tanya pria itu yang terkejut saat tiba-tiba ada yang menariknya keluar dari dalam mobil, bahkan langsung memukulnya.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
__ADS_1
Rayyan kembali melayangkan pukulan yang tidak bisa di hindari pria itu. Hingga pria itu terjatuh.
"Berikan bayi itu padaku!"ucap Rayyan dengan suara yang terdengar dingin, walaupun sengau ( bindeng) karena Rayyan sedang flu.
"Ambil sendiri kalau bisa!"tantang pria itu bergegas berdiri.
Rayyan memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk meringkus dua orang pria yang menculik bayi itu. Pria yang ada di dalam mobil pun ikut keluar.
Akhirnya terjadi perkelahian antara anak buah Andi dan dua orang penculik bayi itu. Sedangkan Rayyan hendak mengambil bayi yang ada di dalam mobil itu. Tapi sayangnya kedua pria itu mengunci bayi yang masih menangis itu di dalam mobil.
"Krak"
"Akhhh"
Salah seorang penculik yang sudah tumbang hanya dalam hitungan menit oleh anak buah Andi itu memekik saat kakinya diinjak Rayyan.
"Berikan kunci mobilnya!"ucap Rayyan dingin.
Tanpa bisa melawan, akhirnya orang itu memberikan kunci mobilnya pada Rayyan. Rayyan bergegas membuka pintu mobil dan segera menggendong bayi yang sedang menangis dengan posisi duduk itu.
Tak lama kemudian, bayi itu mulai tenang dan akhirnya berhenti menangis. Rayyan menatap bayi dalam gendongannya itu. Bayi yang montok, tampan dan menggemaskan. Entah mengapa hati Rayyan terasa berdesir saat melihat mata bayi dalam gendongannya yang sedang menatap dirinya itu.
Tatapan mata yang terlihat sendu dengan sisa-sisa air mata di bulu matanya yang lentik dan di pipinya yang chubby.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu, hemm? Matamu mengingatkan aku pada seseorang,"ujar Rayyan yang tersenyum kecut karena Rayyan jadi teringat Aurora saat menatap mata bayi itu. Rayyan menghapus air mata bayi itu dengan lembut.
"Hei! Kamu! Gendong bayi ini!" pinta Rayyan pada salah seorang anak buah Andi yang sudah berhasil meringkus dan mengikat dua orang penculik itu,"Aku sedang flu. Aku takut dia tertular flu dariku,"ujar Rayyan yang sebenarnya merasa gemas ingin mencium bayi itu. Namun di tahannya karena takut bayi itu tertular flu darinya.
Namun tanpa di duga, bayi itu malah menangis lagi dan memegang erat kemeja Rayyan saat anak buah Andi ingin menggendongnya.
"Mungkin wajahmu terlalu seram, jadi dia takut padamu,"sontak saja kata-kata Rayyan itu membuat anak buah Andi itu tersenyum kecut.
"Kamu saja!"ucap Rayyan pada anak buah Andi satunya.
Tapi bayi itu tetap menangis dan tidak mau melepaskan cengkraman tangannya di kemeja Rayyan, saat anak buah Andi yang satunya mencoba menggendongnya.
"Wajahmu terlalu kaku,"ujar Rayyan menghela napas panjang.
__ADS_1
Akhirnya Rayyan pasrah dan tetap menggendong bayi itu. Dan bayi itu kembali tenang.
"Jangan salahkan aku jika kamu tertular flu dariku,"ujar Rayyan mencubit gemas pipi bayi itu. Tapi bayi itu malah terkekeh, hingga membuat Rayyan bertambah gemas.
Rayyan dan anak buah Andi akhirnya memutuskan pergi ke kantor polisi terlebih dulu. Untuk menyerahkan dua penculik itu dan juga bayi itu agar bisa kembali pada orang tuanya. Rayyan mampir ke minimarket membeli susu dan biscuit untuk bayi itu.
Walaupun sudah tertidur setelah meminum susu, sepanjang jalan bayi itu tidak mau melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Rayyan. Seolah tidak mau dipisahkan dari Rayyan.
"Putriku sekarang pasti sudah seusia kamu,"gumam Rayyan dengan wajah sendu seraya mengelus lembut kepala bayi yang terlelap di dalam dekapannya itu.
Sesampainya di kantor polisi Rayyan terpaksa menunggu orang tua bayi itu. Karena bayi yang sudah terbangun saat tiba di kantor polisi itu tetap tidak mau di serahkan pada orang lain. Bayi itu tetap menangis setiap kali ada yang ingin mengambilnya dari gendongan Rayyan. Para polwan pun ikut menyerah untuk menggendong bayi itu.
"Bayi itu seperti putra, Tuan,"
"Iya, dia nampak nyaman bersama Tuan,"
Celetuk dua orang polwan yang juga tidak bisa membujuk bayi dalam gendongan Rayyan untuk mereka gendong. Rayyan hanya menanggapi perkataan dua orang polwan itu dengan senyuman tipis.
Rayyan menyuapi bayi itu dengan biskuit yang di belinya dari minimarket tadi. Dan bayi itu nampak lahap memakan biskuit itu. Interaksi Rayyan dan bayi itu benar-benar seperti interaksi ayah dan anak. Terlihat sangat akrab. Bahkan sesekali terdengar tawa keduanya.
"Baru hari ini aku melihat dan mendengar Tuan tertawa. Seandainya nyonya tidak menghilang, mereka pasti sangat bahagia,"ujar anak buah Andi pada temannya.
"Kamu benar. Usia putra tuan, mungkin seusia dengan bayi itu,"timpal anak buah Andi yang satunya. Kedua orang itu duduk agak jauh dari Rayyan.
"Zayn!"panggil seorang wanita berjalan cepat menghampiri bayi yang sedang duduk di pangkuan Rayyan.
"Deg"
Jantung Rayyan seakan berhenti berdetak mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenal dan dirindukannya. Rayyan yang menunduk menyuapi bayi di atas pangkuannya itu pun mengangkat wajahnya. Rayyan menatap lekat wanita yang berjalan cepat ke arahnya itu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
"Aurora.."gumam Rayyan lirih seolah tidak percaya bisa melihat lagi wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1