Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
238. Takut


__ADS_3

"Aku merasa perutku terasa sangat sakit. Bahkan pinggang ku rasanya juga panas dan terasa mau putus. Rasa sakit itu berkurang beberapa menit, lalu kembali sakit lagi. Dan tadi tiba-tiba rasa sakitnya hilang begitu saja dan sekarang aku tidak merasakan sakit sama sekali,"jelas Rayyan.


"Kanapa kamu mengalami sakit seperti itu? Kamu mengalami sakit seperti wanita yang akan melahirkan saja,"celetuk Fina.


"Apa.. Jangan-jangan.. tadi nyonya melahirkan,"celetuk Andi yang membuat ke empat orang sahabat itu jadi terdiam.


Tiba-tiba wajah Rayyan menjadi sedih setelah mendengar perkataan Andi yang mengingatkan dirinya pada Aurora. Dengan langkah gontai pria itu meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Haiss.. Kenapa juga aku bicara seperti itu? Aku malah membuat Tuan sedih karena teringat nyonya,"gerutu Andi merasa bersalah, lalu bergegas mengejar Rayyan.


"Aku tadi juga keceplosan,"ujar Fina yang juga merasa bersalah seperti Andi.


"Sudahlah! Namanya juga nggak sengaja. Rayyan tadi memang sempat mengatakan kalau menurut prediksi dokter, Aurora akan melahirkan sekitar tiga hari lagi. Walaupun kalian tidak bicara seperti tadi pun, dia tetap akan ingat pada Aurora,"tanggap Aiden.


"Kasihan Rayyan. Padahal dia terlihat sangat bahagia saat mengetahui Aurora sedang mengandung. Tapi, saat Aurora akan melahirkan, Aurora malah menghilang. Bahkan sekarang penampilannya jauh berbeda dari dulu,"sahut Fina menghela napas panjang. Fina merasa sangat prihatin melihat Rayyan seperti sekarang ini.


"Asalkan dia tetap sehat dan tidak frustasi, aku sudah sangat bersyukur,"sahut Aiden dengan ekspresi yang sama sedihnya dengan Fina.


"Tapi, sampai kapan Rayyan akan seperti itu?"


"Kami masih terus berusaha untuk mencari Aurora. Kamu tahu? Rayyan tidak bisa tidur jika tidak memeluk dan mencium baju Aurora,"


"Serius?"


"Apa aku pernah berbohong pada mu?"


"Begitu cintanya Rayyan pada Aurora. Semoga saja saat ini Aurora dan bayinya baik-baik saja. Dan semoga mereka bisa cepat berkumpul lagi,"ujar Fina penuh harap.


"Aku juga berharap seperti itu,"sahut Aiden.


Di pulau lain.


Karena bayi dan ibunya sehat, maka Aurora dan bayinya pun di izinkan pulang keesokan harinya.


Aurora, Pak Hamdan dan Mastuti pulang ke rumah Aurora menggunakan taksi online. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah rumah minimalis modern yang terlihat nyaman.


Ya. Disinilah Aurora tinggal bersama kedua orang tuanya dan Mastuti selama ini. Ada dua orang pelayan yang membantu Mastuti, dan juga perawat yang mengurus Bu Ella.


"Bu! Lihatlah! Cucu kita sudah lahir. Cucu kita lak-laki, Bu"ujar Pak Hamdan yang nampak antusias menghampiri Bu Ella yang duduk di kursi roda.

__ADS_1


Pria paruh baya itu menggendong cucunya dengan wajah yang terlihat bahagia dan menunjukkan cucu mereka pada Bu Ella. Bu Ella menitikkan air mata dengan bibir yang bergetar karena merasa bahagia melihat cucunya yang nampak sehat.


"Ibu senang?"tanya Aurora yang ikut menghampiri Bu Ella dengan seulas senyum.


Mendapatkan pertanyaan dari Aurora, Bu Ella pun mengedipkan matanya seraya mengangguk kecil.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga mu, Ra? Kenapa kamu berpisah dengan Rayyan?"tanya Bu Ella yang tidak bisa diucapkannya. Hanya bisa bergumam dalam hati.


Semenjak sadar, banyak yang ingin ditanyakan oleh Bu Ella pada Aurora. Tapi sayangnya tidak bisa karena keadaan Bu Ella yang belum pulih.


Sedangkan Pak Hamdan sendiri mengalami amnesia semenjak sadarkan diri. Saat Pak Hamdan menanyakan di mana suaminya, Aurora mengatakan Rayyan menghilang dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar. Tapi, Bu Ella merasa Aurora menyembunyikan sesuatu.


Bu Ella bisa melihat kesedihan dan kekhawatiran di mata Aurora. Walau pun putrinya itu selalu tersenyum di depannya.


Sebenarnya, bagaimana ceritanya hingga Aurora sekarang berada di pulau yang berbeda dengan Rayyan?


Malam itu...


Aurora yang tidurnya belum terlalu lelap terbangun saat mendengar suara getar dari handphone yang ada di atas nakas.


"Sebentar!"terdengar suara Rayyan pelan menerima panggilan itu.


"Katakan!"ucap Rayyan pelan yang masih terdengar di telinga Aurora.


"Bagaimana keadaan mereka menurut dokter di rumah sakit itu?"tanya Rayyan pada penelpon itu.


"Tapi, apa?"tanya Rayyan terdengar tidak sabar sedangkan Aurora masih diam di tempatnya berbaring dan memasang pendengarannya baik-baik.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga,"sahut Rayyan kembali terdengar di telinga Aurora.


Mendengar kata-kata Rayyan, Aurora pun menjadi penasaran. Aurora yakin jika Rayyan bicara soal kedua orang tuanya. Aurora berpura-pura masih tidur dan mendengar suara langkah Rayyan menuju walk-in closet.


Kenapa harus berpura-pura masih tidur dan tidak ikut Rayyan saja? Karena Aurora yakin, Rayyan akan melarang dirinya ikut ke rumah sakit dengan berbagai macam alasan. Terutama alasan kesehatannya dan bayinya.


Tak lama kemudian, Aurora merasakan kecupan lembut di kening dan perutnya. Untuk beberapa saat, Aurora merasakan Rayyan mengelus perutnya, lalu pergi meninggalkan kamar itu. Aurora yakin jika Rayyan pasti pergi ke rumah sakit untuk melihat kedua orang tuanya.


Tak lama setelah Rayyan pergi, Aurora pun bangun dan mengendap-endap keluar dari rumah memakai masker dan jaket tebal. Aurora memakai motor yang ada di garasi untuk mengikuti Rayyan. Bumil itu melajukan motornya ke arah rumah sakit.


Aurora sedikit merasa aneh karena tidak ada orang yang berjaga di rumah itu. Namun Aurora malah merasa bersyukur, karena tidak ada yang menghalangi dirinya untuk keluar rumah. Padahal, sebelumnya Aurora sudah siap-siap untuk berdebat dengan para penjaga itu, jika tidak diizinkan untuk keluar dari rumah.

__ADS_1


Aurora tidak tahu jika para penjaga itu sedang antri di toilet karena sakit perut setelah memakan jajanan yang mereka borong di pinggir jalan.


Sesampainya di rumah sakit, Aurora melihat Rayyan menghampiri Andi yang berdiri di lobi rumah sakit dengan wajah yang terlihat tidak baik-baik saja. Aurora pun mencari tempat untuk bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan Rayyan dan Andi.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu?"tanya Rayyan terdengar tidak sabar.


"Tuan, kemungkinan besar, Pak Hamdan, mertua anda adalah orang yang selama ini kita cari,"ucap Andi dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan membuat Aurora jadi semakin penasaran.


"Maksud kamu?"tanya Rayyan dengan suara yang terdengar gusar.


"Pak Hamdan, mertua anda memiliki tanda dan ciri-ciri seperti orang yang sudah melenyapkan papa anda. Orang yang telah menyuntikkan racun ke tubuh papa anda,"


"Apa?!"Rayyan nampak sangat terkejut mendengar penuturan Andi.


Aurora yang mendengar pembicaraan Rayyan dan Andi itupun tak kalah terkejutnya dengan Rayyan.


"Apa.. Apa maksud Andi?"gumam Aurora dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang.


Aurora jadi teringat kata-kata Rayyan saat bicara dengan Fina di rumah sakit waktu itu...


"Oh, ya, orang yang telah melenyapkan papa kamu belum ketemu juga?"tanya Fina


"Hum. Sampai sekarang, aku belum menemukannya. Jika aku menemukan orang itu, aku bersumpah akan membuat orang itu menderita. Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang, karena telah berani meracuni papaku hingga meninggal,"ucap Rayyan dengan suara berat dan ekspresi wajah yang menakutkan menurut Aurora.


Aurora meremas baju yang dipakainya mengingat percakapan Rayyan dan Fina itu.


"Tidak! Tidak mungkin bapak melenyapkan nyawa orang lain. Bapak adalah orang baik. Apa yang akan dilakukan Rayyan pada bapak? Aku tidak akan membiarkan Rayyan menyakiti bapak sedikitpun,"gumam Aurora dalam hati dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Aurora rasanya tidak percaya jika ayahnya seorang pembunuh. Tapi Fina tidak mungkin berkata sembarangan. Dan keengganan kedua orang tuanya, apalagi ayahnya untuk pergi ke kota membuat Aurora takut jika ayahnya benar-benar membunuh papa Rayyan.


Jika mengingat ekspresi Rayyan saat membicarakan tentang orang yang telah melenyapkan papanya, Aurora takut Rayyan akan melakukan sesuatu pada bapaknya. Dan Aurora tidak terima jika Rayyan sampai melakukan hal buruk pada bapaknya. Bagaimana pun, Pak Hamdan adalah orang tuanya. Jadi, tidak mungkin Aurora membiarkan Pak Hamdan disakiti Rayyan.


"Dimana? Dimana orang itu?"tanya Fina yang baru datang.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2