
"Kalau begitu, kalian harus memilih. Aku tetap mengurus perusahaan, tapi pengeluaran mama dan kakak aku batasi. Atau aku akan meninggalkan perusahaan dan juga rumah ini tanpa meminta warisan ku serupiah pun,"ucap Rayyan tegas tanpa keraguan.
"Baiklah, tetaplah urus perusahaan,"ucap Naima menghela napas berat. Tidak mungkin Naima membiarkan Rayyan meninggalkan perusahaan. Jika Rayyan meninggalkan perusahaan, yang ada perusahaan warisan dari suaminya akan gulung tikar. Naima tidak mau hidup miskin.
"Bagaimana dengan kakak?"tanya Rayyan menatap Hendrik.
"Baiklah, aku ikut mama saja,"sahut Hendrik pasrah. Otak Hendrik memang tidak bisa konek jika berkaitan dengan masalah bisnis. Bagaimana bisa konek dengan urusan bisnis, nilai mata pelajarannya saat sekolah dan kuliah saja pas-pasan.
"Oke, jika sudah setuju semua. Mulai saat ini, kalian harus mengikuti aturan ku. Dan aku ingatkan sekali lagi pada kakak, jangan pernah mendekati istriku, apalagi menyentuhnya. Karena jika kakak mendekati apalagi menyentuhnya, aku akan melupakan jika kakak adalah saudara kandungku,"ucap Rayyan dengan tatapan tajam, tegas dan serius.
Rayyan melangkah meninggalkan ruangan makan, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Naima dan Hendrik pun hanya bisa menatap punggung pria itu sambil menghela napas berat. Mulai berpikir bagaimana caranya mereka harus mengatur keuangan mereka yang akan dipangkas oleh Rayyan nanti.
Saat masuk ke dalam kamar, Rayyan melihat Aurora yang sedang menyisir rambutnya. Walaupun sudah melihat Rayyan masuk ke dalam kamar itu, Aurora sama sekali tidak perduli, seolah hanya ada dirinya sendiri di dalam kamar itu.
"𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙠𝙝𝙡𝙪𝙠 𝙝𝙖𝙡𝙪𝙨?"gerutu Rayyan dalam hati, saat melihat Aurora yang nampak acuh padanya. Rayyan melangkah menuju kamar mandi. Pria itu merasa kecewa dengan sikap Aurora yang acuh padanya.
"Dasar iblis mesum brengseek. Dia benar-benar menyiksa aku semalaman sampai pagi,"gerutu Aurora yang merasa kesal gara-gara Rayyan semalam menggagahi dirinya sampai dirinya kehabisan tenaga. Aurora merasa tubuhnya sangat lelah dan lemas hingga baru bisa bangun siang tadi. Berbeda dengan Rayyan yang malah terlihat fit dan fresh.
"Kenapa belum terlalu malam iblis mesum itu sudah pulang? Nggak nginap aja di kantor sana,"gumam Aurora seraya mengambil bantal dan selimut.
Aurora berjalan menuju sofa, meletakkan bantal dan handphone yang dibawanya di sofa. Sedangkan earphone-nya menggantung di lehernya. Aurora melilitkan selimut di tubuhnya sendiri hingga sudah persis seperti kepompong. Aurora mengambil handphonenya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Memasang earphone di telinganya, kemudian menonton Drakor di handphonenya.
Beberapa menit kemudian, Rayyan keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Dada bidang dan perut rata berotot miliknya terekspos sempurna. Pria itu menghela napas panjang melihat Aurora yang berbaring di sofa dengan selimut yang melilit di tubuhnya. Namun sesaat kemudian Rayyan tersenyum miring. Pria itu melangkah mendekati Aurora.
Aurora yang sedang asyik nonton dengan earphone yang menyumbat telinganya pun tidak menyadari Rayyan yang mendekati nya. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri menatap layar handphonenya.
"Akkh! Apa yang kamu lakukan?"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan sudah berada di atas tubuhnya. Bahkan handphone Aurora hampir saja terjatuh karena terkejut. Aurora melepas earphone dan meletakkan handphonenya. Berusaha mendorong dada Rayyan.
"Pergi! Apa yang ingin kamu lakukan?"bentak Aurora sekuat tenaga mendorong dada Rayyan.
"Menurut mu?"tanya Rayyan dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
"Tu.. turun kamu!"bentak Aurora tergagap. Detak jantung Aurora menjadi tidak normal saat menatap wajah tampan Rayyan yang begitu dekat dengan wajahnya. Belum lagi dada bidang Rayyan yang berotot yang saat ini sedang dipegangnya, membuat Aurora susah payah menelan salivanya sendiri.
"Kenapa? Terpesona dengan wajah tampan dan tubuh seksi ku ini?"tanya Rayyan dengan nada narsistik.
"Narsis! Cepat turun!"ketus Aurora. Tapi dalam hati beda lagi.
"𝙎𝙞𝙖𝙡! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙨𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞? 𝙄𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙗𝙖 𝙤𝙩𝙤𝙩-𝙤𝙩𝙤𝙩 𝙙𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝙃𝙖𝙞𝙨𝙨.. 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙤𝙩𝙖𝙠𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙚𝙨𝙪𝙢 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Aurora dalam hati. Aurora jadi teringat bagaimana dirinya dan Rayyan bercinta kemarin malam dan tadi pagi. Aurora memalingkan wajahnya yang memerah karena pikirannya yang sudah traveling kemana-mana itu. Jantungnya berdetak kencang tidak bisa dikondisikan lagi.
"Kenapa wajah kamu memerah seperti itu?"tanya Rayyan.
"Si.. Siapa juga yang wajahnya memerah?"kilah Aurora, lalu memalingkan wajahnya.
"𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞?𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙩𝙞𝙢?"gerutu Aurora dalam hati.
"Jangan-jangan kamu teringat saat bercinta dengan aku semalam dan tadi pagi?"tanya Rayyan dengan senyuman menggoda.
"𝙔𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣.. 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞! 𝘼𝙥𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙤𝙩𝙖𝙠𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙤𝙣𝙙𝙞𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞?"gerutu Aurora dalam hati.
"Benarkah?"tanya Rayyan dengan suara yang di buat seksi.
"Cepat turun!"ketus Aurora, kembali mencoba mendorong dada Rayyan.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"tanya Rayyan berbisik di telinga Aurora dengan suara menggoda menghembuskan napasnya di leher Aurora dengan sengaja.
Aurora merasa jantung ingin meledak, tubuhnya meremang. Posisi saat ini benar-benar membuat Aurora tidak bisa mengatur napasnya sendiri. Apalagi saat Rayyan berbisik di telinganya dan menghembuskan napas di lehernya yang terasa hangat. Perbuatan Rayyan itu sukses membuat tubuh Aurora meremang.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞. 𝘽𝙞𝙨𝙖-𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙝𝙞𝙡𝙖𝙛 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞,"gumam Aurora dalam hati. Tidak ingin Rayyan menggoda dirinya seperti semalam lagi.
"Arghh!"pekik Rayyan saat Aurora tiba-tiba menggigit pundaknya dengan kuat.
"Kau! Beraninya menggigit aku,"geram Rayyan menatap tajam pada Aurora.
"Turun! Aku bilang tu... emp...."
__ADS_1
Aurora tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat Rayyan membungkam bibirnya dengan bibir Rayyan. Aurora benar-benar tidak bisa menghindar dari Rayyan. Pria itu menciumnya dengan agresif, membuat Aurora kewalahan.
Rayyan melepaskan pagutannya saat Aurora terus memukul dadanya karena mulai kesulitan bernapas.
"Bagaimana? Ingin melakukannya di sini?"tanya Rayyan dengan senyuman smirk.
"Ja.. jangan macam-macam!"sergah Aurora. Tidak ingin Rayyan melakukan hal yang sama seperti kemarin malam.
"Aku tidak mau macam-macam. Aku cuma ingin satu macam, yaitu memakan kamu,"ucap Rayyan dengan seringai di bibirnya.
"Ja.. Jagan! Aku mohon! Tubuhku masih sakit semua karena kemarin malam. Tolong, jangan melakukannya lagi!"mohon Aurora dengan wajah memelas.
"Baiklah,"ucap Rayyan kemudian turun dari atas tubuh Aurora yang berada di atas sofa itu, membuat Aurora bernapas lega.
"Akkhh!"turunkan aku!"pekik Aurora saat Rayyan tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Karena kamu masih lelah, aku akan melakukannya tidak akan selama kemarin malam,"ucap Rayyan menggendong Aurora ke arah ranjang.
"Jangan! Aku tidak mau! Hentikan!"pekik Aurora saat Rayyan membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu melepaskan selimut yang dililitkan Aurora di tubuhnya.
"Tidak mau? Benar-benar tidak mau?"tanya Rayyan yang sekarang sudah ada di atas tubuh Aurora.
"A.. aku masih sangat lelah. Lepaskan aku! Aku mohon!"mohon Aurora dengan wajah yang dibuat memelas.
"Oke. Kita lihat saja dulu! Kamu tidak menginginkannya, atau malu dan pura-pura tidak menginginkannya,"ucap Rayyan dengan seringai di wajahnya, beranjak dari atas tubuh Aurora.
"Akkhh!" Apa yang kamu lakukan?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1