
Aurora mulai terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dengan mata yang masih terpejam, Aurora meraba-raba sisi tempat tidur di sebelahnya dan tidak menemukan suaminya di sana. Aurora perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Wanita itu menghela napas panjang saat teringat semalam Rayyan tidur membelakangi dirinya. Tidak seperti biasanya yang selalu tidur mendekap dirinya.
"Huff.. bagaimana caranya agar membuat dia tidak marah lagi?"gumam Aurora. Wanita itu kemudian meraih handphonenya di atas nakas. Lalu mengetik kata di kolom pencarian. "Cara membujuk suami yang sedang marah". Dan yang keluar di mesin pencarian adalah..
1.Pahami kapan suami perlu pendampingan. ...
Hindari selalu mencoba memberi solusi. ...
Beri suami waktu dan ruang sendiri. ...
Jadilah pendengar yang baik. ...
5.Hindari perdebatan yang tidak perlu. ...
Jangan berasumsi tentang masalah yang dihadapi suami.
"Hais.. metode ini tidak akan bisa dipakai. Tidak ada solusi lain apa? Ini tidak akan bisa membantu menyelesaikan masalah ku. Aku rasa, yang bisa membantu ku mencari solusi masalah ini adalah ibu. Tapi kalau aku bertanya pada ibu, yang ada aku akan diceramahi habis-habisan. Tidak ada masalah apa-apa saja, aku di ceramahi panjang kali lebar, kali tinggi. Apalagi kalau aku ada masalah seperti ini. Mana yang salah aku lagi,"gumam Aurora yang bingung harus bagaimana.
Akhirnya Aurora beranjak untuk membersihkan diri dan melakukan aktifitas nya seperti biasanya.
***
Seharian ini, Rayyan tidak banyak bicara. Pria itu masih merasa kecewa pada istrinya. Memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan untuk melupakan segalanya. Sedangkan Andi hanya bisa menghela napas melihat majikannya itu. Andi tidak tahu, Rayyan punya masalah apa. Yang pastinya bukan masalah pekerjaan. Karena jika masalah pekerjaan, Andi pasti tahu. Jadi, prediksi sementara adalah masalah dengan nyonya nya. Dan jika sudah menyangkut masalah pribadi, Andi sulit untuk membantu Rayyan. Terkecuali Rayyan menceritakan masalahnya pada Andi.
"Aku jadi merasa tidak nyaman jika melihat Tuan seperti ini. Apa sebenarnya masalah Tuan? Jika aku tahu, aku pasti akan berusaha membantu Tuan,"gumam Andi yang melihat wajah tuanya hari ini nampak mendung.
Waktu terus berputar dan malam pun menjelang. Tidak seperti biasanya, malam ini Aurora menunggu Rayyan pulang. Namun saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Rayyan belum pulang juga. Walaupun sebenarnya Aurora tidak tahu apa yang harus dilakukan agar Rayyan tidak marah lagi padanya. Pukul sebelas malam, akhirnya Aurora tertidur sebelum Rayyan pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Rayyan sampai di rumah. Rayyan menghela napas panjang menatap Aurora yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Kapan kamu bisa mencintai aku? Melayani aku tanpa aku harus memaksamu,"gumam Rayyan masih berharap jika suatu saat Aurora bisa mencintai dirinya dan melayani dirinya dengan ikhlas tanpa paksaan.
Rayyan mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos oblong. Kemudian merebahkan tubuhnya di samping Aurora. Agak dekat dengan Aurora agar bisa mencium aroma tubuh istrinya itu. Tanpa di duga Rayyan, Aurora memiringkan tubuhnya memeluk Rayyan. Mendapatkan pelukan dari Aurora, Rayyan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu merengkuh Aurora dalam pelukannya, kemudian memejamkan matanya hingga akhirnya terlelap.
Pagi harinya, Rayyan berangkat bekerja sebelum Aurora terbangun. Seperti biasanya, Aurora akan terbangun setelah Rayyan pergi.
"Apa semalam dia tidak pulang?"gumam Aurora menatap sisi tempat tidur yang biasa di tempati oleh Rayyan,"Kenapa aku jadi galau karena dia marah dan tidak pulang? Bukankah seharusnya aku senang? Jika dia marah dan tidak pulang, tidak akan ada yang menganggu tidur ku. Tapi kenapa hatiku malah menjadi gelisah begini?"gumam Aurora yang jadi bingung sendiri dengan perasaannya.
***
Hari sudah beranjak sore, Aurora sudah bersiap-siap untuk pulang dari kafenya. Namun entah mengapa Aurora menjadi malas untuk pulang jika mengingat Rayyan marah padanya. Masih jelas di ingatan Aurora saat melihat wajah kecewa Rayyan, lalu pria itu tidur membelakangi dirinya.
"La, kita jangan pulang dulu, ya! Aku ingin pergi ke pasar kuliner. Hari ini adalah malam Minggu, pasti di sana sangat ramai dan menyenangkan"ujar Aurora yang ingin mencari hiburan di luar rumah.
"Baik, nyonya,"sahut Nala.
Sesuai keinginan Aurora, Nala dan supir pribadi Aurora menemani Aurora ke pasar kuliner. Karena malam ini adalah malam Minggu, suasana di pasar kuliner benar-benar ramai.
"Tingkatkan keamanan! Tambah beberapa orang lagi untuk berjaga di sekitar nyonya. Jangan terlalu mencolok! Agar tidak ada yang mengetahui jika kalian menjaga nyonya,"ujar Andi pada anak buahnya.
"Ada apa?"tanya Rayyan yang duduk di kursi penumpang bagian belakang. Pria itu sedang fokus pada layar laptopnya.
"Tadi Nyonya meminta Nala untuk mengantar nyonya ke pasar kuliner. Di sana saat ini sedang ramai, karena malam ini adalah malam Minggu. Jadi saya meminta Dodi menambah orang untuk menjaga nyonya,"sahut Andi.
"Jika dia ingin makan sesuatu, kenapa tidak meminta Bik Mas untuk membuatnya? Dia akan menjadi pusat perhatian para pria jika dia pergi ke tempat yang ramai,"sahut Rayyan yang terdengar tidak suka.
Walaupun hanya memakai make-up natural, namun istrinya itu tetap saja terlihat cantik. Rayyan tidak suka jika kecantikan istrinya itu di nikmati banyak orang, terutama kaum Adam.
"Jangan terlalu mengekang nyonya, Tuan! Mungkin nyonya hanya ingin refreshing. Rata-rata wanita memang menyukai tempat yang ramai. Apalagi pasar kuliner. Para wanita paling suka dengan tempat seperti itu,
Apalagi jika pergi bersama pasangan mereka,"ujar Andi sesuai dengan yang diketahuinya.
Rayyan menghela napas panjang mendengar penuturan Andi. Selama ini Rayyan memang tidak pernah mengajak Aurora pergi. Hanya sekali mengajak Aurora makan malam dan pulang ke rumah orang tuanya. Dan saat itu, Aurora terlihat sangat senang. Namun sayangnya, Rayyan benar-benar sibuk, hingga tidak punya waktu untuk menemani Aurora jalan-jalan.
__ADS_1
Di sisi lain, Aurora nampak senang melihat berbagai macam kuliner. Wanita itu mencoba beberapa macam kuliner, hingga akhirnya Aurora berhenti di sebuah outlet bertuliskan 'Mie Ayam Janda Kembang' Aurora masuk ke outlet itu bersama Nala, lalu memesan satu porsi mie ayam janda kembang.
Tak lama kemudian, mie ayam pesanan Aurora datang. Aurora menatap mie ayam pesanan nya itu. Ada bakso, telur puyuh, telur ayam, seafood, dan juga kerupuk pangsit di mie ayam pesanan Aurora itu. Aurora mulai menyantap mie ayam nya. Namun tanpa sengaja telinganya mendengar obrolan dua orang wanita yang duduk di meja yang ada di sebelahnya. Dua orang wanita yang berusia sekitar dua puluh delapan tahun.
"Tumben kamu ngajak aku keluar malam,"
"Suamiku marah padaku. Gara aku beli baju online tanpa sepengetahuannya,"
"Suami marah, sih, mudah mengatasinya. Berikan full servis di atas ranjang, pasti nggak bakal marah lagi,"
"Yang bener?"
"Kamu baru menikah selama dua bulan, sedangkan aku sudah menikah selama dua tahun. Aku lebih berpengalaman dari pada kamu. Kalau kamu beri suami kamu full servis, mau minta apapun kamu, pasti dikabulkan. Apalagi kalau cuma minta maaf!"
"Masa, sih?"
"Coba aja kalau nggak percaya! Kamu pakai baju yang seksi dan goda suami kamu. Pimpin permainan dan buat dia puas. Aku jamin, dia nggak akan marah lagi. Aku sering melakukan nya untuk membujuk suamiku. Dan hasilnya tidak pernah mengecewakan,"
"Ishh..aku malu jika harus menggoda suami ku. Apalagi jika harus memimpin permainan,"
"Kenapa harus malu? Suami kamu itu halal buat kamu. Para pelakor aja rela membuka paha mereka untuk merayu pria yang sudah beristri. Kenapa kita yang istri sah harus malu membuka paha kita untuk merayu suami kita sendiri?"
"Iya, juga, ya!"
Kasak kusuk dua orang perempuan yang ada di sebelah meja Aurora itu membuat atensi Aurora dari tadi berfokus ke kedua orang wanita itu.
"𝘼𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧, 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪?"gumam Aurora dalam hati yang dari tadi mendengar percakapan dua orang wanita itu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1