
"Aku akan menghukum mama karena telah berani, menghina dan menuduh istriku tanpa bukti. Bahkan mama telah menyakiti istriku,"ucap Rayyan melirik Aurora sepintas,"Mama memang ibu kandungku, wanita yang telah mengandung dan membesarkan aku. Tapi bukan berarti mama bisa mengatur hidupnya dan mencampuri semua urusanku! Mama harus tahu! Di dunia ini tidak cuma ada anak durhaka, tapi banyak juga orang tua durhaka. Aku harap, mama tidak menjadi salah satu dari sekian banyak orang tua durhaka itu. Andi! Jangan biarkan selangkah pun mamaku meninggalkan rumah ini! Dan jangan biarkan orang luar menemui mamaku!"titah Rayyan dengan tatapan mengintimidasi, lalu membawa Aurora berlalu dari tempat itu menuju kamarnya.
Bagaimana pun, Naima adalah ibu kandungnya. Tidak mungkin Rayyan menghukum Naima dengan hukuman yang menyakiti Naima secara fisik. Menurut Rayyan, dengan menghukum Naima tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh di temui orang luar akan menjadi hukuman terberat bagi wanita sosialita yang jarang ada di rumah seperti Naima.
"Baik, Tuan,"sahut Andi cepat. Pria itu menatap Naima yang berdiri tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal. Andi kemudian menatap Hendrik dan Natalie yang juga masih terpaku di tempatnya berdiri dengan wajah yang masih terlihat tegang.
"Tan, aku pulang dulu, ya?"pamit Natalie.
Tanpa menunggu jawaban dari Naima, Natalie bergegas mengambil Sling bag miliknya kemudian langsung pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Hendrik pun beringsut keluar dari rumah itu dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah tempatnya tinggal dan di besarkan dari lahir itu.
Naima beringsut dari tempatnya berdiri, berjalan pelan menuju kamarnya. Wajah wanita paruh baya itu masih tertunduk dan terlihat suram.
"Dari mana nyonya Naima tahu informasi tentang nyonya Aurora? Aku yakin Nyonya Naima tahu dari si Natalie perempuan sialan itu. Dan aku yakin, hari ini ada konspirasi antara nyonya Naima, Tuan Hendrik dan juga Natalie. Tidak mungkin Nyonya Naima melakukan semua ini sendiri. Aku harus mencari Bik Mastuti untuk memastikan semuanya,"gumam Andi berjalan ke arah dapur untuk mencari Mastuti.
Andi melihat ada yang aneh di rumah besar majikannya ini. Fari tadi, Andi tidak melihat seorang pelayan pun di dalam rumah itu.
"Kemana semua pelayan di rumah ini,"gumam Andi yang sudah berkeliling di rumah besar itu, tapi tidak menemukan seorang pelayan pun. Hingga Andi mendengar suara berisik dari arah gudang belakang rumah. Andi pun bergegas menuju gudang.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"tanya Andi membuat semua pelayan yang ada di dalam gudang itu menoleh ke arah Andi.
"Nyonya Naima menyuruh kami membersihkan gudang, Tuan,"sahut salah seorang pelayan.
"Aneh sekali, menyuruh membersihkan gudang di jam begini,"gumam Andi,"Dimana Bik Mastuti?"tanya Andi. yang tidak melihat Mastuti dia antara para pelayan yang ada di tempat itu.
"Saya tidak tahu, Tuan,"
__ADS_1
"Saya tidak melihatnya, Tuan,"
"Saya juga tidak melihatnya, Tuan,"
Sahut beberapa orang pelayan menanggapi pertanyaan Andi.
"Cepat selesaikan pekerjaan kalian! Lalu kerjakan pekerjaan yang seharusnya kalian kerjakan!"titah Andi.
"Baik, Tuan,"sahut para pelayan itu bersamaan
Para pelayan itu menghormati Andi, karena mereka semua tahu, jika Andi adalah tangan kanan Rayyan. Jadi, tidak ada yang berani membantah apalagi melawan Andi.
"Kemana Bik Mas?"gumam Andi kemudian berjalan menuju kamar Mastuti.
"Tok! Tok! Tok!"
Akhirnya Andi memberanikan diri membuka pintu kamar Mastuti. Andi mengernyitkan keningnya saat melihat Mastuti berbaring di atas ranjangnya dengan mata terpejam. Andi pun mendekati Mastuti.
"Tidak mungkin, 'kan, Bik Mas tidur di sore hari menjelang malam seperti ini?"gumam Andi,"Bik, Bik Mas!"panggil Andi seraya menggoyang-goyangkan lengan Mastuti. Tapi tidak ada reaksi apapun dari perempuan paruh baya itu.
"Sepertinya dia pingsan. Tidak mungkin dia tertidur begitu lelap hingga tidak bangun saat aku bangunkan. Apalagi di waktu sore menjelang malam seperti ini,"gumam Andi curiga.
Andi menatap ke arah nakas dan melihat minyak kayu putih di sana. Pria itu membuka minyak kayu putih itu, lalu mendekatkannya pada hidung Mastuti. Perlahan wanita paruh baya itu nampak tersadar.
"Tu, tuan Andi?"gumam Mastuti nampak terkejut melihat Andi yang berdiri di samping tempatnya berbaring. Mastuti nampak bingung. Wanita itu mengamati ruangan di sekelilingnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada bibi? Apa ada hubungannya dengan Nyonya Naima, Tuan Hendrik dan nona Natalie?"tanya Andi yang masih berdiri di samping ranjang Mastuti.
__ADS_1
Mastuti nampak mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum akhirnya dirinya terbangun di kamarnya dengan Andi yang berdiri di samping ranjangnya. Perempuan itu bangkit dari tempatnya berbaring, lalu duduk di tepi ranjang.
"Tadi, Nyonya Aurora pulang bersama Nala. Seperti biasanya, saya membuatkan jus buah untuk Nyonya Aurora dan teh untuk Nala. Tapi saat saya selesai membuat jus buah dan sedang membuat teh untuk Nala, tiba-tiba nyonya Naima dan nona Natalie masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, Tuan Hendrik juga masuk ke dalam dapur. Saat saya selesai membuat teh, tiba-tiba Nyonya Naima ingin meminum jus yang sudah saya siapkan untuk Nyonya Aurora. Saya mencegahnya dan sedikit adu mulut dengan nyonya Naima dan nona Natalie. Lalu saya meninggalkan mereka di dapur untuk mengantarkan minuman yang saya buat ke lantai dua. Setelah itu, saya kembali ke dapur dan tiba-tiba ada yang memukul tengkuk saya. Lalu saat saya sadar, Tuan sudah ada di sini,"jelas Mastuti.
Andi mengernyitkan keningnya,"Baiklah, terimakasih atas penjelasan bibi!"ucap Andi kemudian keluar dari kamar Mastuti.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"gumam Mastuti setelah Andi pergi. Wanita paruh baya itu masih terlihat bingung.
"Aku benar-benar yakin Nyonya Naima, Tuan Hendrik dan nona Natalie pasti telah berkonspirasi melakukan semua ini,"gumam Andi yang tanpa sengaja melihat Nala yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang terlihat lesu dan lamas.
"Nala!"panggil Andi.
Nala menatap Andi seraya berpegangan pada dinding karena tubuhnya terasa lemas. Melihat itu, Andi pun memapah Nala untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.
Andi membuat teh hangat, lalu memberikannya pada Nala,"Minumlah!"ucap Andi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nala langsung meminum teh yang di buat Andi sampai tandas.
"Apa yang terjadi?"tanya Andi setelah Nala menghabiskan teh nya dan terlihat lebih baik.
"Saya pulang bersama nyonya seperti biasanya. Namun setelah meminum teh yang diberikan oleh Bik Mas, tiba-tiba perut saya sakit, Tuan. Saya yakin ada orang yang memasukkan obat cuci perut ke dalam teh saya. Tapi saya yakin bukan Bik Mas orang yang memasukkan obat itu ke teh saya. Saya yakin, Nyonya Naima berkonspirasi dengan Tuan Hendrik dan nona Natalie. Mereka pasti ingin menyingkirkan saya agar bisa menganiaya Nyonya Aurora,"sahut Nala penuh keyakinan, walaupun wajahnya masih terlihat lesu.
"Aku juga berpikir seperti itu. Aku pastikan akan memberikan pelajaran kepada dua orang itu,"ucap Andi dengan senyum yang lebih mirip seringai di bibirnya. Pria itu sekarang benar-benar merasa sangat yakin jika Naima, Hendrik dan Natalie telah berkonspirasi hingga terjadi insiden tidak mengenakkan tadi.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued