
Kanaya nampak terkejut dengan kemunculan Andi di tempat itu.
"Sedang apa Tuan Andi ada di tempat ini? Apa dia mengikuti kami?"gumam Kanaya dalam hati merasa curiga.
"Siapa kamu? Tidak usah ikut campur dalam urusan kami!"sergah pemuda yang sedang memegang tangan gadis itu.
"Dia adalah pacar ku! Kak Andi tolong aku! Dia menyakiti aku!"adu gadis itu pada Andi.
"What? Gadis itu pacar Tuan Andi? Ternyata aku salah sangka. Aku kira Tuan Andi mengikuti kami,"gumam Kanaya dalam hati setelah mendengar pengakuan gadis itu.
"Aku tidak percaya!"bantah sang pemuda.
"Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Lepaskan dia!"titah Andi dengan suara dingin mengintimidasi.
"Dia adalah milikku. Tidak ada yang boleh memiliki dia selain aku,"ujar pemuda itu menatap Andi tajam.
"Oh, jadi, kamu masih keras kepala tidak mau melepaskan dia?"tanya Andi dengan aura yang bertambah suram seraya membunyikan buku-buku jari tangannya, dan mematahkan kepalanya ke kiri dan kanan menandakan sudah siap untuk menghajar orang.
Pikiran Andi hari ini sedang kusut karena Kanaya berangkat dan pulang kerja bersama Randy. Andi pergi ke tempat itu untuk menenangkan dirinya seperti yang di sarankan oleh Rayyan. Tapi sialnya Andi malah melihat Kanaya dan Randy datang ke tempat itu juga. Bahkan harus mendengar dan melihat keributan antara adik satu panti asuhannya dan pacar adiknya itu. Hal ini semakin membuat Andi merasa kesal. Sepertinya hari ini Andi menemukan samsak tinju hidup untuk melampiaskan emosi nya.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?"tantang pemuda itu yang sebenarnya sudah merasa terintimidasi dengan aura Andi saat ini.
"Jika tidak mau..."Andi tidak melanjutkan kata-katanya.
"Akhh! Sialan! Beraninya kamu!"pekik pemuda itu melepaskan tangan gadis yang sedari tadi di pegangnya, beralih memegang kakinya yang sakit karena diinjak oleh Andi dengan kuat.
Andi memang sengaja menginjak kaki pemuda itu agar pemuda itu melepaskan pegangan tangannya pada adiknya.
"Ada apa ini?"tanya Randy pada Kanaya. Pemuda itu baru saja kembali dari membeli minuman dan cemilan. Randy sempat terkejut melihat tempat dirinya meninggalkan Kanaya malah terlihat ramai. Dan Randy semakin terkejut saat melihat Andi ada di tempat itu juga.
"Gadis itu mengaku sebagai pacar Tuan Andi,"sahut Kanaya menunjuk pada gadis yang mengaku pacar Andi tadi,"Dan pemuda yang ada di depan Tuan Andi itu sepertinya adalah mantan pacar gadis itu,"jelas Kanaya yang sejak tadi melihat pertikaian tiga orang itu.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
"Krakk"
Andi menghajar pemuda itu untuk melampiaskan sedikit emosinya. Dari luar Andi masih terlihat tenang, karena setiap gerakan menendang dan memukulnya selalu tepat sasaran. Padahal, Andi sangat emosi, apalagi saat melirik Kanaya yang kembali di dekati dan berbicara dengan Randy yang kembali dari membeli minuman dan cemilan.
Dengan mudah Andi menangkis serangan pemuda itu. Sedangkan pemuda yang menjadi lawan Andi dengan mudah di pukul dan di tendang Andi.
Akhirnya pemuda yang sok menantang Andi itu jadi babak belur. Orang-orang yang melihat perkelahian dua orang pemuda yang tidak seimbang itu sampai bergidik ngeri. Padahal Andi masih menahan diri, agar keadaan pemuda itu tidak terlalu mengenaskan. Entah bagaimana keadaan pemuda itu jika Andi benar-benar menghajarnya tanpa menahan diri.
"Ampun! Jangan pukul lagi! Ampun!"mohon pemuda itu menahan rasa sakit di tangannya yang di plintir Andi ke belakang, hingga posisi pemuda itu sekarang membelakangi Andi. Andi juga menendang lutut pemuda itu. Mungkin saja tangan dan kaki pemuda itu patah.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menganggu dia lagi! Jika kamu berani menganggu dia lagi, akan aku buat kamu selamanya berbaring di atas ranjang pasien,"ancam Andi, kemudian mendorong tubuh pemuda itu dengan kasar, hingga pemuda itu tersungkur di tanah.
"Ayo, aku antar pulang!"ajak Andi seraya memegang tangan adik satu pantinya itu.
"Antar pulang orang brengseek ini!"ucap Andi agak keras, kemudian pergi meninggalkan tempat itu bersama adik satu pantinya.
Setelah Andi berkata seperti itu, tiba-tiba muncul dua orang bertubuh kekar menghampiri pemuda yang di hajar Andi tadi. Dua orang bertubuh kekar itu membawa pergi pemuda yang sudah babak belur itu.
"Selama ini aku hanya mendengar Tuan Andi jago ilmu bela diri. Tapi, baru kali ini aku melihat dia berkelahi,"ujar Randy menatap Andi yang semakin jauh.
Kanaya hanya diam, karena gadis itu memang sudah melihat kemampuan ilmu beladiri Andi sebelumnya.
"Pemuda itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan dua bodyguard di klub malam waktu itu,"gumam Kanaya dalam hati.
Sedangkan Andi menghela napas berkali-kali setelah meninggalkan tempat itu. Andi mengajak adiknya itu duduk di sebuah warung es kelapa dan memesan dua es kelapa.
"Kenapa kamu bisa berhubungan dengan orang semacam itu?"tanya Andi menghela napas kasar.
"Dulu dia baik, kak. Tapi, lama-lama dia menjadi posesif. Dia sering memukul aku, jika aku tidak menurut padanya. Karena itu, aku memutuskan dia lewat WhatsApp, mengganti nomor ku dan menghindari dia,"jawab gadis itu dengan wajah tertunduk.
"Ya, kamu memang harus putus dengan orang seperti dia. Untuk apa mempertahankan hubungan toxic seperti itu,"ujar Andi lalu meraih es kelapa yang baru di suguhkan dan meminumnya.
"Terimakasih, karena kakak sudah menolong aku. Maaf karena tadi mengaku sebagai pacar kakak,"ucap gadis itu tulus sekaligus tidak enak hati.
"Tidak perlu berterimakasih! Aku pasti akan menolong siapa saja yang dianiaya dan di perlakukan tidak adil di depan mataku,"sahut Andi santai.
"Biar aku antar,"ucap Andi seraya beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, kak. Aku tadi kesini bersama teman-teman ku. Mereka pasti sedang mencari aku,"
"Oh, ya, sudah. Hati-hati!"
"Hum,"sahut gadis itu mengangguk kecil tersenyum tipis, kemudian pergi dari tempat itu.
Andi membuang napas kasar."Huhh.. Ada-ada saja. Eh, tapi, mau apa Randy mengajak Kanaya ke tempat ini?"gumam Andi yang jadi penasaran.
Andi kembali melangkah menuju tempat Randy dan Kanaya berada. Pemuda itu sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan dua orang itu di pinggir danau sana.
"Om.. Om.. Beli kembang api, Om. Buat anak Om,"tawar seorang anak yang mungkin masih SMP dengan pakaian lusuh.
Andi tertegun melihat anak itu. Andi jadi teringat saat dirinya masih seusia anak itu yang juga pernah berjualan keliling menjajakan gorengan yang di buat ibu panti asuhan. Namun Andi beruntung karena mengenal Rayyan. Andi berjualan keliling dan jatuh tertabrak motor saat menyebrang karena ada pengendara yang menerobos lampu merah. Rayyan dan papanya menolong Andi. Selama seharian Andi mengobrol dengan Rayyan dan mereka langsung akrab.
Setelah bertemu beberapa kali dengan Andi, Rayyan meminta papanya untuk menyekolahkan Andi di tempat dirinya sekolah. Sejak itulah mereka bersahabat. Mereka berdua juga bersahabat dengan Aiden, Roni dan juga Fina.
"Aku ingin membeli semua dagangan kamu,"ujar Andi membuat anak itu terkejut.
"Benarkah?"tanya anak itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang didengarnya tidak salah.
__ADS_1
"Tentu saja. Kamu masih sekolah, bukan?"tanya Andi seraya mengelus kepala anak itu.
"Masih, om,"sahut anak itu tersenyum lebar.
"Bagus! Tetap semangat belajar! Suatu hari, kamu pasti bisa sukses,"ucap Andi memotivasi.
Akhirnya Andi membeli semua dagangan anak itu. Andi mengajak anak itu membagikan kembang api itu pada anak-anak yang mereka temui, anak-anak yang tentunya di dampingi oleh orang tua mereka. Hingga akhirnya Andi melihat Kanaya dan Randy yang sedang berduaan.
"Ikut aku!"ajak Andi seraya berbisik pada anak itu dan menarik anak itu untuk bersembunyi.
"Kenapa kita sembunyi, om?"tanya anak itu penasaran dengan nada pelan.
"Ssstt! Diam!"titah Andi seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Senja di tempat ini indah, loh, Ya,"ujar Randy yang duduk di sebelah Kanaya.
"Benarkah?"sahut Kanaya tersenyum tipis.
"Hum,"sahut Randy tersenyum tipis menatap langit.
"Walaupun namaku Kanaya dan banyak yang memanggil aku 'Aya', atau 'Ya', tapi kenapa Tuan Andi bisa menemukan panggilan "Ay"yang terdengar mesra di telinga, ya? Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia? Ternyata cewek tadi yang membuat Tuan Andi galau. Cantik juga, sih,"gumam Kanaya dalam hati.
"Cih, entah sudah berapa banyak gadis yang diajaknya melihat senja di tempat ini,"gerutu Andi pelan yang masih bersembunyi mengintip dua orang itu.
"Aihh.. Om cemburu, ya?"ledek anak penjual kembang api itu dengan nada pelan.
"Ssstt.!"Andi kembali meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, memberi isyarat pada anak itu agar diam.
"Aya.."panggil Randy menghadap Kanaya.
"Hum,"sahut Kanaya menatap Randy.
"Aku suka kamu. Maukah kamu menjadi pacar ku?"tanya Randy membuat Kanaya terkejut.
Andi membulatkan matanya saat mendengar Randy sedang nembak, alias menyatakan cinta pada Kanaya.
"Sial! Dia gercep banget,"umpat Andi lirih.
"Om kalah start,"ledek anak itu lagi dengan suara pelan menahan tawa, sedangkan Andi hanya bisa menghembuskan napas kasar.
"Bagaimana? Apa kamu mau menjadi pacarku?"tanya Randy lagi karena Kanaya belum menanggapi pernyataan cinta nya.
...🌸❤️🌸...
Hubungan toxic adalah hubungan tidak sehat sehingga membuat individu yang terlibat di dalamnya merasa tidak bahagia, direndahkan, mengalami ketidakadilan, selalu menjadi sasaran amarah yang berakhir pada kekerasan verbal, psikologis maupun fisik.
.
__ADS_1
To be continued