Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
60. Terlambat!


__ADS_3

Rayyan melepaskan pelukannya pada Aurora yang sudah terlelap. Menyelimuti tubuh Aurora yang masih polos tanpa sehelai benang. Rayyan mengenakan baju tidur kimono yang telah tersedia di dalam kamar itu. Pria itu mengambil handphonenya dari saku celana panjangnya. Kemudian berjalan ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota di luar kamar hotel itu. Rayyan nampak menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan!"sahut suara pria dari sambungan telepon yang tidak lain adalah Andi.


"Aku ingin kamu memberi pelajaran pada orang yang bernama Mami itu. Dia telah membuat wanita ku ketakutan,"ucap Rayyan dengan suara dingin dengan tatapan mata ke arah Aurora yang masih terlelap.


"Saya saat ini sedang melakukannya, Tuan. Tuan tinggal menunggu beritanya beberapa jam lagi,"ujar Andi terdengar serius.


"Aku serahkan semua padamu. Aku harap, kamu tidak akan mengecewakan aku,"ujar Rayyan masih dengan suara yang terdengar dingin.


"Saya akan melakukan sebaik yang saya bisa,"sahut Andi.


Rayyan menatap pemandangan di luar hotel dengan tatapan tajamnya. Beberapa menit kemudian Rayyan beranjak dari tempatnya berdiri. Menghampiri Aurora dengan tatapan yang berubah teduh.


"Ray!"gumam Aurora dalam tidurnya, nampak gelisah dalam tidurnya.


"Aku di sini,"ucap Rayyan kembali berbaring di samping Aurora, dan membawa Aurora dalam dekapannya.


Disisi lain.


"Tuan, kami sudah membereskan semua mafia amatiran itu,"lapor salah seorang anak buah Andi.


"Apa kalian sudah mengeluarkan semua orang yang di sekap oleh perempuan sialan itu?"tanya Andi dengan tatapan tajamnya.


"Sudah, Tuan. Kami juga sudah membawa beberapa orang yang memerlukan perawatan ke rumah sakit. Kami bergerak secara diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya.


"Kalian memberikan dosis yang tinggi pada mereka, 'kan?"tanya Andi lagi.


"Sudah, Tuan. Kami juga sudah mendapatkan bukti-bukti tindak kejahatan yang dilakukan oleh Mami. Dari menculik, menjual gadis di bawah umur, menjual narkotika bahkan membunuh beberapa orang. Semua bukti sudah kami kantongi,"ujar anak buah Andi.


"Bagus. Kalian bekerja dengan cepat!"ucap Andi senang.


"Ini semua karena kami di bantu anak buah Tuan Roni Tuan,"sahut anak buah Andi.


"Pantesan, cepat sekali. Sekarang bawa aku pada perempuan yang bernama Mami itu!"pinta Andi,"Dia belum tahu, 'kan, tentang semua yang kita lakukan?"tanya Andi.


"Belum, Tuan. Kami masih menyisakan dua bodyguard yang berjaga di depan ruangan perempuan itu. Jadi dia tidak tahu jika kita sudah meringkus anak buahnya. Mari, saya antar ke ruangan perempuan itu, Tuan,"ujar anak buah Andi.


"Hum,"sahut Andi mengikuti anak buahnya berjalan menuju ruangan Mami.

__ADS_1


"Apa kita akan memanggil polisi sekarang, Tuan?"tanya anak buah Andi.


"Iya. Biar nanti setelah kita keluar, polisi langsung meringkus perempuan itu,"sahut Andi.


Setelah masuk ke dalam klub malam yang masih terlihat ramai oleh pengunjung, Andi dan anak buahnya langsung menuju ruangan Mami.


"Mau apa kalian ke sini?"tanya salah satu bodyguard Mami tampak galak.


"Bos ku ingin mencari perempuan untuk menemaninya menghabiskan malam. Bos ku ingin perempuan yang cantik. Kalau ada yang masih perawan, malah lebih baik,"ucap anak buah Andi. Sedangkan Andi berdiri di samping anak buahnya dengan memasang wajah datar dan angkuh. Memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya.


Dua bodyguard Mami nampak menelisik penampilan Andi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Andi sudah lama bekerja dengan Rayyan dengan gaji yang tergolong tinggi. Selalu mengikuti Rayyan menemui klien. Bahkan terkadang menggantikan Rayyan bertemu klien. Jadi, pakaian yang digunakan oleh Andi tentulah pakaian berkelas, bukanlah pakaian murah.


Melihat penampilan Andi yang berkelas, kedua orang bodyguard Mami pun saling bertatapan, kemudian sama-sama mengangguk. Seolah mereka sedang bicara dengan bahasa isyarat.


"Tunggu sebentar!"ucap salah seorang bodyguard itu, kemudian mengetuk pintu ruangan Mami.


"Tok! Tok! Tok!"


"Masuk!"sahut Mami dari dalam.


"Mi, ada seorang pelanggan yang ingin dicarikan wanita cantik. Bahkan kalau ada minta yang masih perawan. Dari penampilannya, sepertinya orang kaya, Mi,"ujar bodyguard nya Mami, sesuai dengan apa yang dilihatnya dan di dengarnya.


"Silahkan masuk!"ucap bodyguard Mami mempersilahkan Andi. Sedangkan anak buah Andi memilih menunggu Andi di luar ruangan yang kembali ditutup itu.


"Saya dengar, Tuan mencari wanita cantik. Saya mempunyai beberapa stok wanita cantik, Tuan. Tapi kalau yang masih perawan lagi kosong. Sayang sekali Tuan tidak ikut penawaran beberapa jam yang lalu. Perempuan yang paling cantik di tempat saya sudah mendapatkan pelanggan. Tapi, Tuan tidak perlu khawatir. Saya masih memiliki beberapa stok wanita cantik yang bisa Tuan jadikan teman untuk menghabiskan malam ini,"ujar Mami antusias.


"Penawaran? Penawaran atau pelelangan?"tanya Andi yang masih memasukkan tangannya di saku celananya tersenyum dingin pada Mami dan menatap tajam pada Mami.


"Apa maksud kamu? Apa tujuan kamu datang kemari?"tanya Mami dengan tutur bahasa yang tadinya ramah dan sopan, kini berubah menjadi datar dan ikut menatap tajam pada Andi.


Mami nampak tidak takut sama sekali pada Andi, karena merasa berada di di sarangnya sendiri dan mempunyai banyak bodyguard yang bisa diandalkan untuk menjaga dirinya. Tanpa tahu jika bodyguardnya hanya tersisa dua orang saja.


"Berani sekali kamu menculik dan menjual wanita Tuan ku! Apa kamu sudah bosan hidup, hingga berani menyinggung Tuan ku? Apa kamu tahu, istri siapa wanita yang telah kamu culik dari kafe tadi sore?"tanya Andi dengan suara dan tatapan dingin.


"Aku tidak perduli istri siapa perempuan itu. Yang penting, dia bisa menghasilkan banyak uang untuk ku,"ujar Mami tersenyum sinis pada Andi.


Mendengar kata-kata Mami, Andi pun menjadi sangat marah.


"Akkh!"

__ADS_1


"Krak"


"Krak"


"Akkh! Pengawal! Singkirkan bajingan ini!"teriak Mami menahan sakit di tangannya. Karena tiba-tiba Andi menarik tangannya dan memelintir kedua tangan perempuan paruh baya itu hingga patah.


"Plak"


"Plak"


"Plak"


Brakk"


Andi menampar Mami dengan kuat hingga bibir perempuan paruh baya itu berdarah, dan terhuyung menabrak mejanya.


"Kau! Kau akan menyesal melakukan ini padaku. Aku jamin, kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!"ancam Mami penuh amarah.


"Kamu pikir, kamu bisa melakukan itu? Kamu telah menyinggung orang yang salah. Apa kau tahu, istri siapa yang telah kamu culik dan kamu jual! Kamu telah menculik dan melelang istri dari Rayyan Nugroho!"bentak Andi dengan mata penuh amarah.


Mendengar nama Rayyan Nugroho, seketika wajah Mami langsung pucat. Tidak banyak orang yang pernah bertemu dengan Rayyan Nugroho. Tapi semua orang di kota itu tahu, jika Rayyan Nugroho bukanlah orang yang bisa di singgung. Siapapun yang menyinggung Rayyan Nugroho, maka akan hancur.


"Brugk"


Tiba-tiba Mami berlutut di hadapan Andi dengan tubuh yang gemetaran.


"Tu.. Tuan. Sa.. saya tidak tahu kalau Nyonya Aurora adalah istri Tuan Rayyan. Saya.. saya minta maaf, Tuan! Tolong ampuni saya, Tuan!"mohon Mami memegang kaki Andi dengan tangan yang terasa sakit dan tubuh yang gemetaran.


"Terlambat!"ucap Andi dengan suara dingin mengibaskan kakinya hingga pegangan Mami di kaki Andi terlepas.


"Tuan! Tolong maafkan saya, Tuan!"ucap Mami berusaha mengejar Andi. Namun saat Mami keluar dari ruangannya, seorang pria langsung memukulnya dengan kuat hingga Mami pingsan.


Pria itu membawa Mami kembali ke dalam ruangannya dan menyuntikkannya sesuatu di tubuh Mami, kemudian meletakkan jarum suntik yang baru di pakai untuk menyuntik Mami tadi di tangan Mami. Pria itu kemudian meletakkan beberapa barang di laci meja Mami, kemudian meninggalkan ruangan Mami dengan senyuman sinis.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2