
Rayyan menghela napas panjang mendengar penuturan Andi.
"Selama beberapa tahun aku menjalin hubungan dengan Dila, dia tidak pernah komplain tentang perhatian yang aku berikan. Padahal aku jarang menghabiskan waktu bersamanya. Asalkan aku mentransfer uang ke rekening nya, dia tetap bahagia. Tapi dia meninggalkan aku saat tahu perusahaan papa hampir pailit. Berarti hanya uang, 'kan, yang membuat wanita bertahan menjalin hubungan?"tanya Rayyan berdasarkan penilaiannya sendiri.
"Tuan belum mengerti juga. Dila itu perempuan matre. Tentu saja dia akan bertahan dengan Tuan, selama Tuan masih banyak uang dan membelikan apapun yang dia inginkan. Apa Tuan tidak ingat? Dila berselingkuh dengan Tuan Hendrik setelah tahu jika Tuan Hendrik adalah anak sulung di keluarga, Tuan? Dila berpikir jika yang akan memimpin perusahaan adalah Tuan Hendrik. Itu semua karena Dila matre,"
"Jangan samakan Dila dengan Nyonya. Nyonya bekerja keras untuk mendapatkan uang. Membayar hutang-hutang orang tuanya di kampung. Membeli tanah, sawah dan kebun untuk orang tuanya. Berarti nyonya sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dia juga membuka toko kue dan kafe untuk masa depannya. Memilih hidup sederhana dan tidak menghambur-hamburkan uang. Wanita seperti nyonya akan lebih mengutamakan kasih sayang dari pada uang. Akan lebih tertarik pada pria yang penyayang dan romantis,"ujar Andi panjang lebar.
"Bukankah kamu tahu sendiri, aku bukan tipe pria romantis yang suka menggombal? Aku juga tidak punya waktu lebih untuk ber mesra-mesraan dengan dia. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan dan selesaikan,"ketus Rayyan.
"Ya..itu sih, nasib dan penderitaan, Tuan,"celetuk Andi kemudian segera menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Kau meledek aku?"ketus Rayyan dengan tatapan dingin.
"Sebaiknya, anda bertanya pada Tuan Aiden, bagaimana caranya menaklukkan hati wanita. Masalah seperti ini, Tuan Aiden jagonya,"sahut Andi mengalihkan pembicaraan,"Saya akan mengantarkan Tuan ke klub malam langganan Tuan,"ujar Andi, langsung berbalik dan kembali mengemudikan mobil menuju klub malam langganan Rayyan dan Aiden.
"Haiiss.. kenapa mulutku ini nggak punya rem. Bisa-bisa aku lembur lagi gara-gara mulut sialan ini,"gerutu Andi lirih.
Beberapa menit kemudian, Rayyan dan Andi sudah tiba di klub malam. Tidak seperti biasanya, Rayyan yang biasanya hanya memesan cocktail, sekarang memesan minuman keras.
"Tuan Aiden tidak bisa menemani Tuan minum. Sore tadi, Tuan Aiden berangkat ke luar kota,"ujar Andi setelah berkirim pesan dengan Roni, menanyakan keberadaan Aiden. Jika Andi menelpon Roni, yang ada malah bikin Andi emosi karena Roni yang gagap bicaranya lama.
"Tidak apa,"sahut Rayyan kemudian meneguk minumannya.
"Tuan, jangan terlalu banyak minum minuman keras! Anda sering menasehati Tuan Aiden agar tidak minum minuman keras, tapi anda sendiri malah minum minuman keras,"ujar Andi mengingatkan.
"Aiden punya alasan untuk hidup lebih lama. Tapi aku tidak. Tidak ada orang yang tulus mencintai aku. Ibu dan saudara ku hanya menganggap aku sebagai mesin ATM. Bahkan istri ku ingin bercerai dari ku,"ujar Rayyan kembali meminum minuman di dalam gelasnya.
"Tapi saya menyayangi anda, Tuan. Anak-anak di panti juga menyayangi Tuan. Anda juga belum menemukan orang yang membunuh ayah anda, tuan,"ujar Andi mencoba membujuk Rayyan agar tidak minum lagi.
__ADS_1
Rayyan tidak menjawab. Pria itu terus saja meneguk minuman beralkohol itu. Andi sudah berulang kali membujuk Rayyan untuk berhenti minum dan pulang, tapi Rayyan tidak mengindahkan nya. Malah sudah beberapa kali Andi di bentak oleh Rayyan karena menghalangi Rayyan minum.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, Andi membawa Rayyan pulang. Pria itu sudah mabuk berat. Dengan susah payah, Andi memapah Rayyan hingga tiba di depan pintu kamar Rayyan.
"Tok! Tok! Tok!"
"Nyonya, tolong buka pintunya!"ucap Andi seraya memapah Rayyan.
"Andi, kenapa kamu berisik sekali?"gerutu Rayyan dengan suara khas orang mabuk
Aurora yang mendengar suara ketukan pintu pun terbangun. Sedangkan Andi masih terus mengetuk pintu.
"Tuan, kenapa tubuh Tuan berat sekali? Nyonya tidak akan bisa bernapas, jika Tuan menimpanya,"gerutu Andi yang mulutnya ceplas-ceplos.
"Ceklek "pintu kamar itu akhirnya terbuka.
"Brugk"
"Hei, apa yang kamu lakukan?"tanya Aurora yang terkejut saat tiba-tiba Andi berlutut di depannya dan memegang kedua kakinya.
"Nyonya, tolong jangan tinggalkan, Tuan. Tuan memang orang yang kaku dan bukan tipe pria yang romantis. Tapi Tuan adalah pria yang baik hati. Semenjak putus dengan kekasihnya dulu, Nyonya adalah satu-satunya wanita yang ada di sisi Tuan. Sepertinya, nyonya sangat istimewa di hati Tuan,"
"Selama ini, Tuan tidak pernah mabuk seperti ini. Bahkan saat putus dengan kekasihnya dulu, Tuan juga tidak pernah mabuk. Tapi hari ini, Tuan mabuk karena anda meminta cerai dari Tuan. Nyonya, saya adalah yatim piatu, tanpa Tuan, saya tidak akan menjadi apa-apa. Tuan sangat berarti bagi saya. Kebahagiaan Tuan adalah kebahagiaan saya. Saya mohon, tetaplah di sisi, Tuan!"ucap Andi seraya menunduk.
"Bangunlah! Jangan seperti ini! Aku.. aku akan memikirkannya lagi,"ucap Aurora yang merasa tidak nyaman karena Andi berlutut dan memegang kedua kakinya.
"Saya harap nyonya tidak akan meninggalkan Tuan. Menurut dan bersikap lah lembut pada Tuan. Maka, Tuan akan memperlakukan Nyonya dengan baik,"ujar Andi masih pada posisinya tadi.
"Baiklah aku akan mencobanya. Sekarang, tolong lepaskan kakiku dan bangunlah!"pinta Aurora.
__ADS_1
"Nyonya janji?"tanya Andi dengan wajah berbinar menatap Aurora.
"Aku berjanji akan mencobanya. Tapi jika dia terus-menerus berbuat kasar padaku, aku tidak bisa terus bersamanya,"ujar Aurora.
"Baiklah. Terimakasih, nyonya! Saya berjanji akan menasehati Tuan agar memperlakukan Nyonya lebih baik lagi. Oh ya, tolong nyonya ganti kemeja Tuan,"ujar Andi, kemudian melepaskan kaki Aurora dan bangkit dari lantai lalu keluar dari kamar Rayyan.
Aurora menghela napas panjang setelah Andi keluar dari kamar itu,"Beruntung sekali Rayyan mempunyai bawahan seperti Andi,"gumam Aurora.Wanita itu kemudian menatap Rayyan yang dibaringkan Andi di atas ranjang.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Karena, walaupun aku mencoba kabur darinya pun, sepertinya juga tidak bisa,"gumam Aurora.
Aurora melepaskan sepatu dan juga kaos kaki Rayyan. Aurora membuka kancing kemeja Rayyan yang terkena minuman keras. Dengan susah payah, akhirnya Aurora berhasil melepaskan kemeja Rayyan.
"Tubuhnya benar-benar seksi,"gumam Aurora menatap dada bidang dan perut rata berotot milik Rayyan,"Haiss.. kenapa kenapa otakku menjadi mesum seperti ini?"gumam Aurora kemudian beranjak mengambilkan air hangat dan handuk kecil untuk menyeka tubuh Rayyan.
Aurora menyeka dada bidang serta perut Rayyan yang rata dan berotot. Wanita itu menelan salivanya dengan kasar, menatap pemandangan indah di depan matanya itu.
"Bagaimana dia bisa memiliki tubuh seindah ini? Mumpung dia lagi mabuk, nggak apa-apa kali, jika aku meraba tubuhnya. Sudah lama aku ingin menyentuhnya,"gumam Aurora senyum-senyum sendiri.
Perlahan Aurora meraba dada dan perut Rayyan yang berotot itu,"Tubuhnya sangat berotot,"gumam Aurora terus meraba tubuh Rayyan.
"Emhh.. Aurora,"gumam Rayyan.
"Greb"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1