Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
229. Di Kira Bercanda


__ADS_3

Di sebuah ruangan, Fina sangat terkejut saat mendapati dirinya terbangun dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan dan mulut yang ditutup lakban. Bahkan Fina tidak bisa melihat apa-apa selain kain putih yang menutupi tubuhnya.


"Di mana aku? Dan kenapa tubuhku di ikat, mulutku di lakban dan tubuhku juga di tutup kain?"gumam Fina dalam hati.


Fina mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya seperti ini.


"Aku semalam mengecek kondisi Bu Ella dan berbincang dengan dokter yang menangani Bu Ella. Setelah itu, aku bermaksud kembali ke ruangan ku. Tapi, tiba-tiba ada yang membekap mulutku. Dan aku di bekap dengan obat bius. Sialan! Siapa yang berani bermain-main dengan aku? Tunggu! Kenapa aku merasa bahwa kain yang menutupi wajah dan tubuhku ini seperti.... kain yang digunakan untuk menutupi... tubuh mayat? Sial! Apa aku saat ini sedang berada di kamar mayat?"gerutu Fina di dalam hati.


"Ceklek"


Fina mendengar suara pintu yang terbuka. Fina berusaha untuk meminta tolong pada orang yang masuk itu.


"Em.. emm.. emm.."ucap Fina yang mulutnya di lakban, seraya menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri sebisa dirinya.


"Ha.. ha.. hantuuu.!"


"Brakk"


Suara pekikan, derap langkah kaki yang keluar dari ruangan dan pintu yang ditutup dengan kuat itu terdengar hingga membuat Fina membuang napas kasar.


"Sialan! Aku dibilang hantu. Aku masih hidup, belum mati. Tapi berani-beraninya mengatai aku hantu. Kalau aku jadi hantu karena mati dengan keadaan terikat dan mulut di lakban seperti ini, aku akan benar-benar menghantui orang yang meneriaki aku hantu tadi,"gerutu Fina dalam hati.


Fina hanya bisa diam karena tidak bisa bergerak selain ke kanan dan ke kiri. Berharap ada yang menolong dirinya.


"Ceklek"


Selang beberapa menit pintu ruangan itu kembali di buka, membuat secercah harapan untuk Fina.


"Itu! Mayat yang di sana yang bergerak-gerak,"ucap suara seorang pria.


"Em.. emm.. emm.."Fina berusaha menggerakkan tubuhnya lagi agar bisa mendapatkan pertolongan.


"Hantuu..!"suara teriakan itu kembali terdengar dan suara derap kaki yang berlari keluar dari ruangan itu juga kembali terdengar.


"Brakk"

__ADS_1


Suara pintu yang ditutup dengan kuat kembali terdengar.


"Bugh"


"Sialan! Tulang ku rasanya remuk,"gerutu Fina dalam hati saat tubuhnya terjatuh ke lantai hingga kain yang menutupi wajahnya terbuka.


"Dokter Fina?!"ucap seorang perawat pria yang masih berada di dalam ruangan itu, kemudian bergegas menghampiri Fina.


Perawat itu bergegas melepas lakban yang menutupi mulut Fina dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Dok, apa yang terjadi pada dokter? Kenapa dokter bisa seperti ini? Dan sejak kapan dokter berada di kamar mayat ini? Siapa yang melakukan ini pada dokter?"tanya perawat pria itu seraya melepaskan kain yang digunakan untuk melilit tubuh Fina, hingga tubuh Fina menjadi seperti kepompong. Ekspresi wajah perawat pria itu masih terlihat khawatir.


"Aku juga tidak tahu, siapa yang melakukan ini padaku. Semalam ada orang yang membius aku, dan saat aku sadar, aku sudah berada di sini dengan keadaan seperti ini,"sahut Fina membuang napas kasar.


"Kita periksa saja rekaman cctv nya, dok. Biar kita tahu siapa orang yang telah melakukan hal ini pada dokter,"usul perawat itu.


"Iya, saya juga bermaksud seperti itu,"sahut Fina kemudian beranjak untuk berdiri di bantu perawat itu.


Fina dan perawat itu akhirnya keluar dari kamar mayat itu. Wajah Fina terlihat sangat kesal. Saat akan menuju ruang kontrol cctv, Fina tak sengaja melihat dokter yang bertanggung jawab menangani Pak Hamdan.


"Apa maksud dokter?"tanya dokter itu nampak mengernyitkan keningnya menatap Fina dengan ekspresi bingung.


"Pak Hamdan yang semalam di bawa ke rumah sakit ini. Yang di bawa dari kota xx menggunakan helikopter. Apa dokter lupa? Dokter, 'kan, yang menangani Pak Hamdan?"tanya Fina sedikit kesal.


Pasalnya jelas-jelas semalam Fina meminta dokter di depannya itu untuk menangani Pak Hamdan. Tapi, sekarang saat Fina menanyakan keadaan Pak Hamdan, dokter itu malah terlihat bingung.


"Dokter Fina bercanda, ya? Bukankah semalam dokter sudah memindahkan Pak Hamdan dan istrinya ke rumah sakit lain? Kenapa dokter malah menanyakan keadaan Pak Hamdan pada saya? Dokter bisa aja bercandanya,"ujar dokter itu terkekeh kecil, mengira Fina sedang bercanda.


"Apa? Saya memindahkan Pak Hamdan dan istrinya ke rumah sakit lain? Dokter bisa saja, bercandanya,"balas Fina ikut terkekeh, mengira dokter di depannya itu sedang bercanda. Karena dokter di depannya itu memang terkenal suka bercanda.


Sedangkan perawat yang bersama Fina tadi nampak mencerna pembicaraan kedua dokter itu dengan dahi yang berkerut.


"Dokter Fina ini ada-ada saja,"sahut dokter itu kembali terkekeh. Namun sesaat kemudian dokter itu memasang wajah serius, lalu berkata,"Sebenarnya, saya sangat menyayangkan keputusan dokter untuk memindahkan Pak Hamdan dan istrinya kembali ke kotanya. Karena menurut saya, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik di negeri ini. Fasilitas rumah sakit ini juga lebih lengkap dan lebih canggih dari rumah sakit yang lain. Pak Hamdan dan istrinya akan cepat sembuh jika di rawat di rumah sakit ini,"ujar dokter itu nampak menyesalkan keputusan Fina.


"Tunggu! Tunggu! Saya memindahkan Pak Hamdan dan istrinya kembali ke kota asal mereka? Kapan saya melakukannya?"tanya Fina dengan ekspresi yang terlihat serius.

__ADS_1


"Dok, dokter jangan bercanda! Semalam memang dokter Fina yang memindahkan Pak Hamdan dan Bu Ella dari rumah sakit ini. Bahkan dokter tidak menggunakan helikopter dari rumah sakit ini. Saya dan dokter yang bertanggung jawab menangani Bu Ella menyetujui pemindahan kedua pasien itu karena memang dokter Fina yang bertanggung jawab atas kedua pasien itu,"jelas dokter itu yang terlihat menjadi tegang.


"Dok, anda yakin jika yang memindahkan kedua pasien itu adalah saya? Masalahnya, setengah jam setelah saya bertemu dengan dokter, saya tiba-tiba dibius orang dan baru terbangun beberapa menit yang lalu di kamar mayat dengan mulut di lakban, badan di ikat dan seluruh tubuh ditutup dengan kain. Dan perawat inilah saksinya. Perawat ini yang sudah menolong saya,"ujar Fina menatap ke arah perawat yang sedari tadi bersamanya.


"Benar, dok. Saya yang sudah menolong dokter Fina di kamar mayat tadi. Bahkan kami ingin melihat rekaman cctv untuk melihat siapa yang telah membius, mengikat, melakban mulut dokter Fina dan membaringkan dokter Fina di kamar mayat,"ujar perawat itu membenarkan perkataan Fina.


"Benarkah?"tanya dokter di depan Fina itu dengan ekspresi terkejut,"Tapi semalam itu beneran dokter Fina yang memindahkan dua pasien itu. Banyak saksinya, dok,"ujar dokter itu terlihat sangat yakin.


"Gawat! Sepertinya ada orang yang menyamar menjadi saya dan mengeluarkan Pak Hamdan dan Bu Ella dari rumah sakit ini. Saya benar-benar tidak sadarkan diri dari semalam, dok,"ujar Fina dengan wajah yang berubah menjadi pias.


"Sebaiknya kita segera mengecek cctv rumah sakit, dok. Agar semuanya jelas,"sahut perawat itu memberikan saran.


Karena merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya ke tiga orang itu bersama-sama pergi ke ruang kontrol cctv.


"Tolong tunjukkan pada kami rekaman cctv tadi malam!"pinta Fina setelah tiba di ruang kontrol cctv.


"Semalam cctv rumah sakit kita mengalami gangguan, dok. Jadi tidak ada rekaman cctv sekitar tiga jam,"jelas penjaga ruang kontrol cctv itu, namun masih menunjukkan rekaman cctv yang ada. Yaitu dari malam sebelum mengalami gangguan dan setelah gangguan.


"Jam terjadinya gangguan cctv ini bertepatan dengan waktu aku di bius hingga tidak sadarkan diri,"ujar Fina merasa yakin.


"Dan juga jam waktu dokter memindahkan dua orang pasien itu,"timpal dokter yang menangani Pak Hamdan.


"Lihatlah, dok! Saya keluar dari kamar mayat dengan perawat ini, 'kan?"tanya Fina menunjuk pada layar monitor di depannya.


"Gawat. Benar-benar ada penyusup yang menyamar menjadi dokter Fina,"ujar perawat yang bersama Fina.


"Dok, tolong anda laporkan masalah ini pada kepala rumah sakit. Saya harus memberi tahu masalah ini pada teman saya. Karena Pak Hamdan dan Bu Ella adalah mertua teman saya,"ucap Fina terlihat khawatir.


"Baik, dok,"sahut dokter itu bergegas pergi dari ruangan itu. Sementara Fina segera menghubungi Rayyan.


"Gawat ini. Bagaimana reaksi Rayyan jika mendengar kabar ini? Mampus aku!"gumam Fina seraya berusaha menghubungi Rayyan.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2