Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
124. Raja Dan Ratu


__ADS_3

Hari beranjak pagi. Aurora menggeliat di dalam dekapan hangat suaminya. Rasanya, Aurora masih enggan untuk melepaskan dekapan suaminya. Apalagi untuk beranjak dari tempatnya berbaring.


"Ra, bangun nanti saja. Aku masih ingin memelukmu,"gumam Rayyan yang masih memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya pada Aurora.


Aurora mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. Perlahan tangannya menyentuh rahang Rayyan, lalu mengusapnya dengan lembut.


Rayyan membuka matanya, kemudian memegang tangan Aurora yang sedang memegang rahangnya, lalu mencium telapak tangan Aurora beberapa kali.


"Kenapa? Apa sudah terasa kasar?"tanya Rayyan meraba rahangnya sendiri.


"Kasar? Apanya yang kasar?"tanya Aurora seraya mengernyitkan keningnya.


"Bulu di wajah ku. Terutama di bagian pipi dan rahangku,"sahut Rayyan.


"Kamu punya bulu di rahang dan pipimu? Maksudnya, kamu brewok?"tanya Aurora nampak terkejut.


"Hum. Kamu tidak tahu, ya?"tanya Rayyan mengusap lembut pipi Aurora.


"Aku pikir, kamu tidak brewok,"sahut Aurora yang benar-benar tidak tahu jika Rayyan ternyata brewok.


"Aku mencukur nya setiap hari. Mana yang kamu suka? Pria brewok, pria dengan brewok tipis, atau pria yang tidak brewok?"tanya Rayyan masih mengusap lembut pipi Aurora dengan jari jempolnya,"Aku akan menjadi apapun yang kamu suka,"ujar Rayyan.


"Aku tidak suka pria brewok. Aku lebih suka yang mulus,"sahut Aurora jujur.


"Baiklah, aku akan selalu mencukurnya untuk kamu,"ujar Rayyan tersenyum tipis, kemudian mengecup bibir Aurora beberapa kali.


"Aku mau mandi,"ujar Aurora dengan sengaja menggesekkan pahanya pada sesuatu di bawah sana.


"Ra! Kenapa kamu jadi nakal sekali? Kamu tidak boleh pergi! Aku tidak akan membiarkan kamu membangunkannya lalu seenak hati meninggalkannya begitu saja," ucap Rayyan seraya menahan Aurora yang ingin beranjak pergi.


"Maaf! Aku sengaja,"ucap Aurora kemudian terkekeh.


"Kau!"Rayyan merasa geram, kemudian langsung menggelitik Aurora.


"Ha..ha..ha..ha... Ray! Hentikan, Ray! Geli! Ha.ha. ha. ha...."Aurora kegelian karena Rayyan menggelitik pinggang nya.


***

__ADS_1


Aurora baru saja selesai mandi. Sedangkan Rayyan baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Aurora bergegas mengambil handphonenya saat benda pipih itu berdering. Aurora menerima panggilan video dari bapaknya.


"Halo, Pak! Bagaimanapun keadaan ibu?"tanya Aurora cepat.


"Ibumu sudah lebih baik,"ucap Pak Hamdan kemudian mengarahkan kamera pada Bu Ella.


"Halo, Ra! Ibu sudah merasa lebih baik. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Maaf, ibu tidak bisa datang ke acara resepsi pernikahan kamu,"ucap Bu Ella dengan suara yang terdengar lemah dan terlihat sedih. Wajah wanita paruh baya itu masih terlihat pucat. Namun tidak se-pucat semalam.


"Tidak apa-apa, Bu. Tidak usah dipikirkan! Fokus saja pada kesehatan ibu,"sahut Aurora yang merasa lebih lega.


"Oh iya, dimana suami kamu? Jangan bilang kamu baru bangun setelah suami kamu pergi!"ujar Bu Ella yang masih terlihat lemah.


"Enggak, Bu! Aku bangun lebih pagi dari Rayyan. Tapi Rayyan tidak membiarkan aku bangun. Saat ini, Rayyan sedang mandi, Bu,"


"Ingat pesan ibu! Layani suami kamu dengan baik! Hilangkan sikap keras kepalamu dan sikap cuek serta nggak perhatiin kamu itu. Hidup itu seperti air hangat, gula, dan teh di dalam gelas, Ra, harus di aduk agar menjadi terasa manis dan berwarna. Hidup juga seperti kopi, kamu perlu menambah gula untuk membuatnya menjadi manis. Namun walaupun ditambah gula, di dalam secangkir kopi tetap ada pahitnya. Pahit dan manis dalam kopi adalah dua hal yang tidak terpisahkan, seperti hidup, kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti dan tidak pernah abadi. Sedangkan bahagia itu seperti secangkir teh, bagaimana rasanya secangkir teh, itu tergantung bagaimana kamu menakar gula, teh dan airnya. Karena porsi bahagia bagi setiap orang itu berbeda-beda,"ujar Bu Ella panjang lebar dengan suara yang terdengar masih lemah.


Wanita itu tidak henti-hentinya memberi nasehat pada putri semata wayangnya. Tidak ada keinginan lain dalam hatinya, selain ingin putrinya bahagia. Karena itu, Bu Ella tidak pernah bosan untuk memberikan nasihat kepada putrinya itu.


"Iya, Bu. Aku mengerti,"sahut Aurora.


"Ya, sudah! Kamu jaga diri baik-baik! Walaupun kami tidak bisa hadir di acara penting dalam hidup kamu, tapi ibu dan bapak selalu mendoakan untuk kebahagiaan kamu,"


"Ceklek "


Rayyan keluar dari dalam kamar menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambut pria itu terlihat acak-acakan dan setengah kering. Namun terlihat tampan di mata Aurora.


Dengan senyum lebar, Aurora menghampiri Rayyan, lalu memeluknya. Mencium aroma segar di tubuh Rayyan.


"Aku suka aroma tubuh mu, apalagi setelah mandi,"ujar Aurora mengendus aroma segar di tubuh suaminya.


"Kamu menyukai aroma tubuhku atau sengaja memancing dia agar bangun, hemm?"tanya Rayyan seraya memicingkan sebelah matanya.


"Aku sudah menidurkannya tadi. Masa dia akan bangun lagi?"tanya Aurora kemudian berjinjit, mengecup pipi Rayyan beberapa kali.


Rayyan mengangkat tubuh Aurora, dan menggendongnya ala bridal style ke arah walk-in closet. Aurora pun melingkarkan kedua tangannya di leher Rayyan dan mengendus leher Rayyan.


"Akhir-akhir ini, kamu semakin nakal dan agresif. Dia jadi mudah terbangun karena kamu,"ujar Rayyan seraya menurunkan tubuh Aurora dari gendongan nya karena mereka sudah berada di dalam walk-in closet.

__ADS_1


"Kamu tidak suka?"tanya Aurora menatap lekat wajah Rayyan,"Kalau tidak suka, aku tidak akan melakukannya lagi,"ucap Aurora dengan wajah yang terlihat kecewa, kemudian membalikkan tubuhnya ingin mengambil pakaian untuk Rayyan


"Greb"


Rayyan memeluk Aurora dari belakang,"Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Jangan berhenti melakukannya,"ujar Rayyan, kemudian mengecup pipi Aurora beberapa kali.


Waktu terus berjalan, malam yang di tunggu pun akhirnya tiba. Yaitu malam resepsi pernikahan Rayyan dan Aurora. Rayyan mengundang semua rekan bisnisnya tanpa terkecuali. Namun Rayyan menutup acara itu untuk media. Tidak ingin acara resepsi pernikahan yang digelar secara besar-besaran itu di liput oleh media.


Acara yang di adakan dengan mengusung konsep outdoor di pinggir pantai itu terkesan begitu romantis. Apalagi malam ini langit terlihat cerah. Bulan purnama berpendar terang dan bintang pun nampak bertaburan di langit malam.


"Baiklah, di malam romantis bulan purnama yang bertabur bintang ini, kita akan segera memulai acara ini. Mari kita sambut kedua mempelai! Tuan Rayyan Nugroho dan nyonya Aurora!"ucap MC nampak sangat bersemangat menunjuk ke satu arah dimana mempelai pengantin nampak memasuki tempat acara.


Mendengar suara MC itu, atensi semua tamu undangan pun langsung terfokus pada satu titik yang di arahkan oleh MC, di mana mempelai pengantin yang tidak lain adalah Rayyan dan Aurora memasuki tempat acara itu.


Semua orang nampak berdecak kagum melihat betapa serasinya mempelai pria dan wanita itu. Cantik dan tampan. Benar-benar pasangan yang memanjakan mata, sekaligus membuat iri para tamu undangan.


Para tamu undangan khususnya kaum Adam, terpesona melihat mempelai wanita yang tersenyum cerah hingga kecantikan nya semakin terpancar berkali kali lipat.


Dan yang tak kalah membuat heboh kaum hawa adalah pengantin pria, alias Rayyan. Malam ini, pria yang terkenal dingin, kaku dan tidak pernah tersenyum itu, malah menampilkan senyuman hangat yang begitu menawan. Namun sayangnya hanya saat pria itu menatap Aurora. Pria itu nampak memeluk pinggang istrinya posesif.


"Mari kita dengar sepatah dua patah kata dari raja dan ratu kita malam ini!"ucap MC, kemudian menyerahkan mikrofon pada Rayyan.


...🌟"Hidup itu seperti secangkir kopi, terasa pahit tapi juga manis. Ada waktunya terasa panas, hangat, bahkan dingin....


...Bahagia itu seperti secangkir teh, bagaimana rasa teh nya, tergantung dari bagaimana anda menakar teh, gula dan airnya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•MC atau Master of Ceremony memiliki arti seseorang yang bertugas sebagai pemandu acara.


•Istilah mudahnya pewara atau pembawa acara adalah orang yang bertugas sebagai tuan rumah sekaligus pemimpin acara dalam panggung pertunjukan, hiburan, pernikahan, dan acara-acara sejenis. Pembawa acara membawakan narasi atau informasi dalam suatu acara atau kegiatan, ataupun dalam acara televisi, radio dan film. Wikipedia


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2