
Hari ini Rayyan dan Andi berencana kembali ke negara tempat mereka lahir dan di besarkan. Seenak-enaknya tinggal di negeri orang, masih enak tinggal di negeri sendiri. Apalagi jika di tempat itu banyak orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari saat Rayyan dan Andi sampai di rumah. Rayyan masuk ke kamarnya dengan pelan agar tidak membangunkan anak dan istrinya yang sudah terlelap. Rayyan menghampiri tempat putranya berbaring dan tersenyum ketika melihat buah hatinya yang tidur memeluk guling.
"Kamu semakin lucu dan menggemaskan saja,"gumam Rayyan lirih seraya mengusap lembut kepala putranya.
Pria itu mengecup lembut kening putranya, lalu melepaskan kemeja dan celana panjang yang di pakainya. Menyisakan celana boxer yang menempel di tubuhnya.
Perlahan Rayyan naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya yang berbaring dengan posisi membelakangi dirinya. Rayyan mengecup lembut pipi Aurora, kemudian berbaring dan memeluk istrinya itu dari belakang.
Rindu. Itulah yang dirasakan Rayyan karena berpisah dengan anak dan istrinya selama satu setengah minggu. Namun Rayyan enggan untuk meminta jatah pada istrinya karena dirinya tidak akan memiliki waktu istirahat lagi jika harus berolah raga di atas ranjang sekarang. Lebih memilih tidur agar esok hari bisa beraktivitas kembali.
Merasakan pelukan hangat di tubuhnya, Aurora pun membalikkan tubuhnya. Tanpa sadar wanita itu memeluk Rayyan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rayyan. Rayyan pun tersenyum dengan reaksi istrinya itu.
"Jika saja besok pagi aku tidak ada meeting, akan aku cantik-cantik kamu malam ini,"gumam Rayyan lirih, kemudian mendekap tubuh Aurora. Tak lama kemudian, Rayyan yang sudah merasa lelah itu pun terlelap.
Pagi menjelang, Aurora pun mulai terbangun. Namun wanita itu nampak masih enggan untuk membuka matanya. Rasanya masih terlalu nyaman dengan posisi tidurnya saat ini.
Namun, sesaat kemudian Aurora yang masih memejamkan matanya itu menyadari sesuatu. Dirinya sedang di peluk dan memeluk seorang. Bukan memeluk guling.
Aurora mencium aroma parfum yang sangat familiar di indera penciuman nya. Aroma parfum orang yang di cintainya. Aurora membuka matanya dan menatap wajah yang sudah satu setengah minggu ini di rindukannya.
"Rey.."gumam Aurora lirih.
Sesaat kemudian senyuman manis pun terukir di bibir wanita itu. Aurora menatap wajah suaminya tanpa berani menyentuhnya. Aurora takut tidur suaminya terganggu, jika dirinya menyentuhannya. Karena Aurora yakin jika suaminya pasti pulang larut malam. Sebab, pukul satu lewat tiga puluh menit semalam Aurora terbangun karena ingin buang air kecil dan suaminya belum pulang.
Setelah puas menatap wajah suaminya yang tetap tampan walaupun sedang tidur dengan rambut yang agak berantakan itu, Aurora pun dengan perlahan melepaskan pelukan Rayyan. Tidak ingin Rayyan terbangun karena gerakkannya.
"Mama,"panggil Zayn yang baru saja bangun dengan suara serak.
Aurora tersenyum dan bergegas menghampiri putranya, lalu memangku bayi tampan yang lucu itu.
"Papa.."pekik Zayn saat melihat papanya terlihat berbaring di atas ranjang. Bayi yang awalnya masih lemas dan malas bergerak karena baru bangun tidur itu langsung terlihat bersemangat dan hendak turun dari pangkuan Aurora ingin menghampiri papanya.
"Ssstt.. Sayang, jangan berisik. Papa masih capek. Biarkan papa bobok dulu. Zayn minum susu dulu, ya! Setelah itu kita mandi,"ucap Aurora dengan suara pelan. Menahan Zayn yang hendak turun dari pangkuannya, lalu menyusui bayi itu agar tidak menganggu Rayyan yang masih tidur.
Zayn nampak mengerti dengan apa yang di inginkan mamanya. Bayi itu memilih menyusu pada mamanya, namun dengan mata yang tertuju pada papanya.
Setelah selesai menyusui Zayn, Aurora pun memandikan putranya itu. Setelah selesai mengurus Zayn, Aurora memberikan Zayn pada baby sister nya agar Aurora bisa membersihkan diri.
Rayyan terbangun dan tidak menemukan Aurora di sampingnya. Pria itu menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, tapi tidak menemukan anak dan istrinya. Rayyan menatap jam digital di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
"Pantas saja mereka sudah tidak ada di kamar ini,"gumam Rayyan lirih. Akhirnya Rayyan memilih untuk turun dari ranjang untuk membersihkan diri.
Rayyan tersenyum manis saat melihat Aurora masuk ke dalam kamar bersamaan dengan dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"tanya Aurora tersenyum manis menghampiri Rayyan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hum. Di mana Zayn, sayang?"tanya Rayyan.
"Sama mama,"sahut Aurora seraya menarik tangan suaminya agar duduk di kursi meja riasnya. Aurora mengambil handuk kecil dari tangan Rayyan, lalu mulai menggosok rambut Rayyan dengan handuk kecil itu untuk mengeringkan rambut Rayyan.
"Aku rindu sekali padamu,"ucap Rayyan seraya meraih pinggang Aurora yang ada di depannya, lalu memeluknya.
"Kalau kamu tidak rindu pada ku, berarti aku harus mencurigai mu,"sahut Aurora tersenyum tipis dengan tangan yang masih menggosok rambut Rayyan.
"Kamu tidak perlu curiga padaku, sayang. Aku masih waras dan tidak ingin menjadi gembel. Aku tidak mau kehilangan putraku yang tampan dan lucu, serta istri ku yang cantik dan seksi ini. Yakinlah, suamimu ini adalah pria yang setia,"ucap Rayyan menatap wajah Aurora lekat.
"Ya, asal setia dalam artian sebenarnya. Jangan setia yang merupakan singkatan Setiap Tikungan Ada,"sahut Aurora terkekeh kecil.
"Aku benar-benar setia, sayang,"sahut Rayyan dengan suara manja mengeratkan pelukannya pada Aurora.
"Bukan setia, Selingkuh Tiada Akhir, 'kan?"tanya Aurora seraya mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya dan duduk di pangkuan suaminya itu seraya menatapnya.
"Tentu saja bukan, sayang. Aku tahu, semua orang bisa bilang cinta, akan tetapi, tidak semua orang bisa setia. Tapi kamu jangan khawatir, sayang. Bagiku, mencintai kamu itu kayak narkoba. Enggak dicoba bikin penasaran, sekali coba jadi candu, ditinggalin bikin sakaw,"ujar Rayyan kemudian mengecup bibir Aurora beberapa.
"Kolak pisang tahu sumedang, walau jarak membentang, cintaku takkan pernah hilang,"rayu Rayyan setelah banyak membaca artikel online.
Aurora tertawa geli sekaligus senang mendengar gombalan receh suaminya. Sederhana. Hanya bercengkrama seperti itu saja dengan Rayyan sudah membuat hati Aurora merasa bahagia.
"Sayang, gombalan kamu malah bikin aku ketawa,"ujar Aurora seraya memegangi perutnya.
"Sayang aku bukan puitis apalagi pujangga cinta yang bisa merangkai kata-kata menjadi kalimat romantis. Jadi, harap maklum kalau kata-kata ku tidak seindah ekspektasi mu. Apa perlu aku memasang iklan di media cetak, elektronik, sosial media dan memasang sepanduk serta baliho di pinggir jalan untuk membuktikan hanya kamu yang ada di hatiku?"tanya Rayyan menghela napas panjang.
"Ha.. Ha.. Ha.. Kamu mau menyatakan cinta atau kampanye jadi wakil rakyat?"ujar Aurora bertambah geli mendengar kata-kata suaminya.
"Kalau aku jadi wakil rakyat pun, pasti aku gagal,"sahut Rayyan dengan wajah lesu.
"Kenapa?"tanya Aurora menahan tawanya,"Kamu adalah pebisnis nomor satu di negeri ini. Walaupun tidak semua orang mengenali wajahmu, tapi mereka semua mengenal nama mu. Pebisnis murah hati yang suka membantu korban bencana alam, anak yatim-piatu, janda-janda tidak mampu, memberi beasiswa bagi pelajar berprestasi yang tidak mampu, bahkan sering mensponsori kegiatan-kegiatan sosial. Kalau kamu mencalonkan diri jadi wakil rakyat, pasti akan banyak yang memilih,"ujar Aurora dengan deduksi nya.
"Aku tidak akan menjadi wakil rakyat yang amanah, sayang. Soalnya, aku selalu mikirin kamu, bukan mikirin rakyat,"gombal Rayyan membuat Aurora kembali tertawa.
"Dasar tukang gombal. Sayang, sebenarnya kamu pergi ke luar negeri untuk mengurusi perusahaan cabang mu atau pergi mencari inspirasi untuk merangkai kata-kata gombal mu?"tanya Aurora masih saja tertawa.
__ADS_1
"Tentu saja untuk mengurusi perusahaan, sayang. Sekaligus untuk menghadiri undangan pernikahan seorang teman. Ah, aku rindu sekali padamu,"sahut Rayyan mengecupi seluruh wajah Aurora.
"Sudah! Acara kangen-kangenan nya nanti saja. Kamu akan terlambat kalau tidak segera bersiap,"ujar Aurora kemudian mengecup bibir suaminya dan turun dari pangkuan Rayyan.
"Okey.. Okey.. By the way, nanti siang kita akan makan siang dimana, sayang?"tanya Rayyan seraya berjalan mengikuti istrinya menuju walk in closet.
Semenjak kehadiran Dila waktu itu, Rayyan dan Aurora memang sering makan siang bersama di luar.
"Di restoran yang dekat kantor kamu saja,"sahut Aurora,"Oh, ya, sayang. Kamu menghadiri pernikahan siapa di luar negeri?"tanya Aurora seraya mengambil pakaian untuk Rayyan.
"Mantan suaminya Dila,"
"Dila bercerai dengan suaminya? Dia pasti akan mengejar-ngejar kamu lagi,"ujar Aurora terlihat tidak suka.
"Mana ada yang mau sama pria miskin seperti aku, sayang. Apalagi perempuan materialistis seperti Dila. Dila alergi dengan pria miskin. Kamu tahu, sayang? Saat kami di luar negeri, Andi hampir saja di perkosaa seorang gadis,"ujar Rayyan tertawa geli jika mengingat bagaimana Andi protes pada dirinya karena hampir di perkosaa oleh Lana.
"Yang benar?"tanya Aurora terkekeh kecil.
"Iya. Dia masih betah saja menjadi jomblo. Bahkan sangat bangga dengan statusnya sebagai perjaka ting-ting,"sahut Rayyan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan mengingat asistennya yang bangga dengan status nya.
"Apa kamu tidak ingin mencarikan jodoh buat asisten kamu itu?"tanya Aurora seraya memakaikan kemeja pada Rayyan.
"Mencari jodoh untuk Andi?"
...🌟🌟🌟...
..."Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat orang yang kita sayangi tertawa."...
..."Jangan membuat standar kebahagiaan terlalu tinggi, agar tidak sulit untuk menggapai nya nanti."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Spanduk (bentuk tidak baku: sepanduk) atau panji adalah sebuah bendera berukuran panjang yang menampilkan sebuah simbol, logo, slogan atau pesan lainnya.
•Baliho adalah suatu sarana atau media berpromosi yang mempunyai unsur memberitakan informasi event atau kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat luas, selain itu baliho juga digunakan untuk mengiklankan suatu produk baru.
.
__ADS_1
To be continued