Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
225. Saran Dan Nasehat


__ADS_3

Rayyan dan Fina mengikuti langkah kaki Andi menuju ruangan rawat Pak Hamdan. Rayyan dan Fina sama-sama penasaran dan ingin segera melihat orang yang dikatakan oleh Andi memiliki ciri-ciri yang mirip dengan orang yang melenyapkan papa Rayyan.


Semakin dekat dengan ruang rawat Pak Hamdan, jantung Rayyan semakin berdetak kencang. Bahkan tangan pria itu nampak berkeringat dingin. Kemungkinan ayah mertuanya adalah pembunuh papanya membuat pikiran Rayyan kusut.


Perlahan ruangan rawat itu di buka oleh Andi. Seorang dokter terlihat di dalam ruangan itu dan sepertinya baru selesai memeriksa Pak Hamdan. Rayyan dan Fina pun melangkah masuk kedalam ruangan itu menuju ranjang tempat Pak Hamdan berbaring. Fina mengamati tanda merah di tangan Pak Hamdan, lalu mengambil masker yang biasanya dipakai petugas medis dari sakunya. Fina memakaikan masker itu pada Pak Hamdan lalu mengamati wajah Pak Hamdan.


"Tanda di tangan orang ini sama persis dengan tanda yang dimiliki oleh orang yang kita cari selama ini, Ray. Rambutnya juga sama keritingnya. Wajahnya juga seperti ini saat memakai masker. Tapi, aku belum bisa melihat apakah matanya sayu atau tidak seperti orang yang kita cari. Karena dia belum sadar,"ujar Fina terlihat sangat yakin.


Mendengar kata-kata Fina, Andi dan Rayyan pun tertegun. Diam dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


"Tidak! Kenapa harus seperti ini? Istriku adalah putri pembunuh dari papaku? Bagaimana bisa begini?"gumam Rayyan dalam hati.


"Tuan, kita tidak boleh gegabah. Kita harus menunggu Pak Hamdan sadar dan menanyakan secara langsung motif Pak Hamdan membunuh papa anda,"ujar Andi yang tidak ingin Rayyan bertindak gegabah dalam masalah ini


Andi ingin mendengar dulu kesaksian Pak Hamdan sebelum mereka bertindak pada Pak Hamdan. Apalagi Pak Hamdan adalah ayah dari nyonya-nya. Jika Aurora tahu Rayyan melakukan sesuatu pada Pak Hamdan, Andi takut Aurora akan membenci Rayyan. Mengingat sikap Aurora yang keras kepala dan sedikit egois, mungkin Aurora akan memilih berpisah dengan Rayyan jika Aurora tahu ayahnya disakiti Rayyan.


Rayyan nampak diam. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Tapi yang pastinya, wajah pria itu terlihat kusut.


"Dok, bisa saya melihat rekam medis pasien ini?"tanya Fina pada rekan kerjanya.


"Ah, iya, dok. Kebetulan saya membawa rekam medis Pak Hamdan dan istrinya. Rencananya saya akan menyerahkan rekam medis Bu Ella pada dokter yang akan memberikan terapi pada Bu Ella,"ujar dokter yang dari tadi ada di ruangan itu seraya menyerahkan rekam medis Pak Hamdan dan Bu Ella pada Fina.


"Pria ini bersama dengan istrinya di rawat di rumah sakit ini?"tanya Fina yang memang tidak tahu siapa Pak Hamdan.


"Pak Hamdan mengalami kecelakaan, dan Bu Ella panik saat mendengar Pak Hamdan kecelakaan, sehingga Bu Ella jatuh di kamar mandi. Pak Hamdan ini adalah ayah dari nyonya Aurora,"jelas Andi menghela napas yang terasa sesak.


"Apa?! Pria ini adalah ayah Aurora?"tanya Fina nampak terkejut.


"Iya, dok,"sahut Andi.

__ADS_1


Dengan cepat, Fina membaca rekam medis Pak Hamdan dan Bu Ella secara bergantian. Rayyan yang ada di sebelah Fina pun ikut melihat apa yang dibaca Fina.


"Tuan, saya harap, anda lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Bagaimanapun, Pak Hamdan adalah ayah dari nyonya. Dan saat ini nyonya sedang mengandung darah daging Tuan. Jangan sampai dendam di masa lalu menghancurkan masa depan dan kebahagiaan anak yang tidak berdosa. Anak Tuan dan nyonya berhak bahagia,"ujar Andi yang terlihat khawatir.


"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah melenyapkan papaku hidup dengan tenang, nyaman apalagi bahagia,"ujar Rayyan dengan wajah dan suara yang terdengar dingin.


Andi kembali menghela napas mendengar perkataan Rayyan. Namun sesaat kemudian Andi bergegas menjauh dari tempat Pak Hamdan berbaring dan berdiri di dekat pintu ruangan itu saat handphone di saku celananya bergetar yang menandakan ada panggilan masuk.


"Ada apa?"tanya Andi setelah mengangkat panggilan masuk itu. Pemuda itu nampak mendengarkan orang yang menelpon dirinya.


"Ray, kedua orang tua Aurora ini..."


"Dokter yang menangani pasien ini?"tanya Rayyan pada dokter yang masih ada di ruangan itu, memotong kata-kata Fina.


"Iya, Tuan,"sahut dokter itu.


"Apakah Pak Hamdan akan segera sadar dari komanya?"tanya Rayyan dengan wajah yang terlihat datar.


"Tunggu kami! Kami akan segera ke sana,"ucap Andi mengakhiri panggilan masuk di handphonenya.


"Tuan, ada masalah di perusahaan cabang. Ada beberapa orang yang berbuat ulah di perusahaan cabang kita yang ada di kota xx. Mereka berusaha membakar kantor dan juga gudang kita. Para karyawan kita berusaha memadamkan api dan menyelamatkan barang-barang yang ada di gudang kita,"jelas Andi terlihat serius dan khawatir, namun masih bisa berpikir jernih.


"Shiitt! Kenapa ada masalah di saat seperti ini,"umpat Rayyan, lalu menatap Fina,"Fin, tolong urus masalah Pak Hamdan dan Bu Ella untuk aku! Aku percayakan mereka padamu. Aku pastikan akan membuat perhitungan dengan siapapun yang melenyapkan papa ku,"ujar Rayyan serius.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus masalah yang ada di sini,"sahut Fina.


"Terimakasih!"ucap Rayyan kemudian meninggalkan ruangan itu.


Fina menghela napas panjang melihat Rayyan keluar dari ruangan itu bersama dengan Andi. Wanita itu menatap dokter yang menangani Pak Hamdan.

__ADS_1


"Saya minta tolong pada dokter untuk melaporkan perkembangan pasien ini pada saya,"pinta Fina.


"Tentu saja, dok,"


"Kalau begitu, saya tinggal dulu,"pamit Fina bermaksud melihat keadaan Bu Ella.


Andi dan Rayyan keluar dari rumah sakit itu bermaksud pergi ke luar kota untuk melihat perusahaan cabang miliknya yang ada di luar kota. Sesampainya di dalam mobil, Rayyan mengambil handphonenya dan menghubungi Mastuti.


"Bik, maaf menganggu waktu istirahat bibi malam-malam begini. Saya ada kerjaan mendadak ke luar kota. Tolong bibi jaga Aurora!"pinta Rayyan pada Mastuti.


"Baik, Tuan,"sahut Mastuti dan Rayyan pun mengakhiri panggilan teleponnya.


Andi yang duduk di samping kursi kemudi menoleh ke belakang, ke arah dimana Rayyan sedang duduk.


"Tuan, soal Pak Hamdan.."


"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak perlu khawatir! Aku yakin ada orang berkuasa di balik semua ini. Tapi, jika Pak Hamdan sengaja mencari keuntungan dengan melenyapkan papa ku, aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang,"ucap Rayyan datar, memotong kata-kata Andi.


"Tuan, saya harap Tuan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Tuan harus ingat dengan bayi yang ada di dalam kandungan nyonya. Jangan sampai dendam Tuan berakibat buruk pada anak Tuan. Jangan sampai Tuan mengambil keputusan dan melakukan sesuatu yang akan Tuan sesali di kemudian hari, seumur hidup Tuan. Jika kita di benci orang lain, kita bisa mengabaikannya. Tapi, jika kita dibenci oleh orang terdekat kita, apalagi orang yang kita cintai, rasanya akan sangat menyakitkan, Tuan. Walaupun Tuan membunuh orang yang telah melenyapkan papa Tuan, hal itu tidak akan membuat papa Tuan hidup kembali. Jangan sampai dendam di masa lalu menghancurkan kehidupan Tuan di masa depan,"ujar Andi yang tidak ingin Rayyan salah dalam mengambil keputusan yang akhirnya akan disesali Rayyan dan menghancurkan kebahagiaan Rayyan seumur hidup Rayyan.


Rayyan tidak merespon kata-kata Andi. Pria itu hanya diam dengan ekspresi datar dan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.


Melihat Rayyan tidak merespon kata-katanya, lagi-lagi Andi hanya bisa menghela napas panjang. Pemuda itu kembali menatap ke arah depan dengan perasaan gamang.


"Jika Tuan sampai berpisah dengan nyonya, aku tidak yakin Tuan bisa hidup bahagia. Aku sudah lama mengenal Tuan. Jadi, aku tahu persis sifat Tuan dan apa saja yang bisa membuat Tuan bahagia dan sedih. Aku ingin Tuan Rayyan hidup bahagia,"gumam Andi dalam hati.


Ada rasa sesak di hati Andi menghadapi masalah kali ini. Karena masalah kali ini menyangkut soal hati. Dan sebagai orang yang peduli pada Rayyan, Andi hanya bisa memberikan saran dan nasehat agar majikannya itu bisa lebih bijak dalam menghadapi dan mengambil keputusan dalam masalah kali ini, agar majikannya tidak menyesal di kemudian hari.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2