Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
140. Penasaran


__ADS_3

Sumi pergi ke restorannya. Restoran yang sudah lengkap dengan Administrator, Manager, Head Chef, Kasir, waiter, dan juga security. Semua sudah disiapkan Andi dengan sangat detail. Sumi tinggal mengecek dan mengawasi pekerjaan mereka. Sumi senang melihat chief yang sedang memasak, karena menurut Sumi, melihat mereka sedang memasak itu sangat mengasyikkan.


Namun bagi semua orang yang ada di dapur, kehadiran Sumi membuat mereka merasa diawasi oleh owner restoran mereka.


"Kalian jangan merasa aku awasi! Aku hanya senang melihat kalian memasak. Kalian kerjakan saja pekerjaan kalian seperti biasa,"ucap Sumi saat melihat semua orang yang ada di dapur seperti sungkan padanya.


"Wahh..kalian memasak seperti sedang melakukan atraksi,"ujar Sumi yang merasa kagum melihat orang-orang di dapur itu.


Ada yang memasak dengan api yang berada di dalam wajah, ada yang memotong sayuran dengan cepat, ada pula yang membalikkan masakan di dalam teflon dengan di guncang-guncang, membalikkan telur tanpa menggunakan spatula, seperti di lempar ke atas lalu mendarat dengan cantik di teflon dalam keadaan sudah di balik. Dan masih banyak lagi yang menurut Sumi menakjubkan. Maklum, Sumi jarang makan di restoran untuk menghemat budget nya yang pas-pasan.


Atensi Sumi teralihkan saat merasakan handphone yang dipegangnya bergetar. Wanita itu keluar dari dalam dapur restoran untuk menerima telepon.


"Halo, Yun? Kalian sudah dimana?"tanya Sumi pada orang yang menelpon nya.


"Sudah di daerah xx, kak,"


"Sudah dekat itu. Satu jam lagi mungkin sudah sampai di terminal. Begitu kalian turun, kalian langsung ke bagian informasi, ya! Kakak akan menjemput kalian di sana,"


"Iya, kak,"sahut gadis yang tidak lain adalah adik Sumi.


Sumi tersenyum cerah. Sebentar lagi keluarganya akan berkumpul bersamanya. Kecuali adiknya yang sudah menikah. Tapi Sumi sudah memberikan uang pada adiknya yang ada di desa itu untuk modal usaha. Sekarang Sumi tidak perlu takut dan malu lagi jika keluarganya bertanya apa pekerjaannya. Walaupun mereka pasti terkejut saat melihat wajahnya yang sekarang sudah berubah total karena operasi plastik.


Sumi memakai masker, hendak keluar dari restorannya untuk menjemput ibu dan adik-adiknya. Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara pria yang masih sangat diingatnya. Suara itu adalah suara pria yang menolong dirinya di butik waktu itu, yang tidak lain adalah Hendrik.


Dan benar saja, saat Sumi melihat orang itu dari samping, Sumi melihat Hendrik sedang duduk di salah satu kursi di dalam restorannya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang dalam sambungan telepon sambil memegang buku menu.


Sumi melambaikan tangannya pada seorang waiter,"Tolong layani pria di meja nomor delapan itu dengan baik! Apapun yang dipesan dan dimakannya. Selain makanan yang dia pesan, sajikan juga menu masakan dan desert andalan restoran kita. Jangan menagih bill padanya. Katakan padanya bahwa makanan yang dia makan hari ini gratis. Sebagai ucapan terimakasih saya karena dia telah menolong saya tempo hari. Katakan juga, saya minta maaf karena tidak bisa menjamu dia secara langsung karena saya harus pergi,"bisik Sumi pada karyawannya itu.


"Baik, Nona,"sahut waiter itu segera menghampiri Hendrik. Sedangkan Sumi masih berdiri di tempatnya mengamati Hendrik.


"Ingin pesan apa, Tuan?"tanya waiter itu ramah dengan seulas senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Astagaa! Ganteng banget orang ini,"gumam waiter itu dalam hati. Mengamati wajah Hendrik yang rupawan.


"Hai, cantik! Aku pesan ini, ini, dan ini,"ucap Hendrik menunjuk pada buku menu makanan pada waiter itu. Di sapa cantik, winter itu pun tersipu malu.


"Baik, Tuan. Pesanan anda akan segera kami antarkan,"ucap winter itu kembali tersenyum tipis.


"Tunggu cantik!"ucap Hendrik membuat waiter itu mengurungkan langkahnya untuk meninggalkan Hendrik.


"Bisa minta nomor teleponnya?"tanya Hendrik seraya mengedipkan sebelah matanya seraya menebarkan senyuman mautnya yang membuat semua wanita terpesona.


"Ah iya, boleh,"sahut waiter itu terlihat senang,"Dimintai nomor telepon oleh orang setampan ini, siapa yang bisa nolak?"gumam waiter itu dalam hati.


Hendrik menyodorkan handphonenya meminta winter itu mengetikkan nomor telepon dan namanya di handphone Hendrik.


"Thanks! Nanti aku calling,"ucap Hendrik menerima handphonenya dari winter itu dengan senyuman manisnya yang memabukkan seraya kembali mengedipkan matanya. Dan tentunya, hal itu kembali membuat waiter itu tersipu malu.


"Haiss... ternyata buaya darat. Tapi dia termasuk orang yang baik, mau menolong aku yang tidak dikenalnya. Bahkan saat wajahku terlihat jelek. Sepertinya dia orang yang setia kawan. Lumayan, lah, buat dijadiin teman,"gumam Sumi dalam hati, yang sedari tadi mengamati Hendrik. Wanita itu kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu.


Hendrik mengernyitkan keningnya saat waiter menyajikan makanan dan desert yang tidak dipesannya. Namun waiter yang mengantarkan makanan itu mengatakan jika mereka menyajikannya spesial untuk Hendrik dan tidak akan meminta Hendrik membayarnya. Akhirnya, mau tidak mau Hendrik menerimanya. Walaupun merasa agak ragu jika makanan itu tidak perlu di bayar. Setelah selesai makan, Hendrik pun meminta bill pada waiter pria yang di lihatnya.


"Saya ingin membayar makanan saya,"ucap Hendrik, seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya.


"Kata nona, apapun yang Tuan makan hari ini gratis,"ucap waiter yang sudah di beri tahu temannya jika makanan Hendrik hari ini gratis atas perintah majikannya.


"Gratis?"tanya Hendy tidak percaya.


"Iya, Tuan. Kata nona, makanan Tuan hari ini gratis karena Tuan telah menolong nona tempo hari. Nona minta maaf karena tidak bisa menjamu Tuan secara langsung, karena nona harus pergi,"ujar waiter itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh temannya tadi.


"Nona? Yang kemarin saya tolong? Siapa yang kamu maksud nona?"tanya Hendrik jadi penasaran,"Perasaan, kemarin aku merasa tidak menolong siapapun selain... jangan bilang yang disebut nona oleh waiter ini adalah perempuan yang giginya tonggos dan berkacamata besar kemarin?"gumam Hendrik dalam hati. Karena merasa kemarin hanya menolong wanita bergigi tonggos dan berkacamata besar.


"Nona yang memiliki restoran ini, Tuan,"sahut waiter itu ramah. Orang yang menolong majikannya harus dihormati, itulah yang ada dalam hati waiter itu.

__ADS_1


"Apa nona kalian berkacamata besar?"tanya Hendrik memastikan. Tapi tidak berani bertanya jika gigi wanita itu juga tonggos.


"Nona kami tidak pernah memakai kacamata, Tuan,"


"Apa dia cantik?"


"Cantik Tuan. Sangat cantik,"sahut waiter itu antusias.


"Jadi dia sekarang tidak ada di restoran ini?"


"Iya, Tuan,"


"Oh, begitu, ya. Tolong katakan padanya, saya mengucapkan terimakasih banyak, atas traktirannya,"ucap Hendrik tulus.


"Iya, Tuan. Akan saya sampaikan,"sahut waiter itu sopan.


Hendrik keluar dari restoran itu dengan rasa penasaran yang tidak terjawab. Sudah berusaha untuk mengingat siapa wanita yang ditolongnya selain wanita tonggos berkacamata besar itu, tapi Hendrik merasa tidak ada yang ditolongnya selain wanita bergigi tonggos itu.


"Aku sangat penasaran dengan pemilik restoran ini. Aku akan mencari tahunya nanti,"gumam Hendrik yang sangat penasaran.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Owner / Pemilik adalah orang yang memiliki modal pendirian dan pengoperasian sebuah usaha.


•Waiter: Waiter adalah karyawan restoran yang bertugas mengantar makanan kepada pelanggan. Biasanya tugas lain dari seorang waiter juga adalah membersihkan area restoran sebelum bisnis tersebut dibuka.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2