Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
79. Kemungkinan


__ADS_3

Pagi menjelang, mentari sudah mulai masuk ke celah-celah gorden yang tertiup angin. Sepasang suami-isteri masih terlelap tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka, setelah semalam bergulat panas di atas ranjang. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Aurora terlihat nyaman dalam dekapan suaminya.


"Tuan sudah bangun belum ya? Kalau nggak bangun sekarang, bisa terlambat untuk mengikuti meeting,"gumam Andi terlihat gusar.


Andi mondar mandir di depan kamar Rayyan. Pasalnya, biasanya mereka berangkat pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi. Dan sekarang sudah pukul delapan pagi, tapi majikannya belum keluar juga dari kamarnya. Satu jam lagi akan ada meeting penting. Dan jarak dari rumah ke kantor adalah empat puluh menit. Jika majikannya tidak bangun sekarang, bisa dipastikan mereka akan terlambat mengikuti meeting. Karena takut terlambat, akhirnya Andi memberanikan diri untuk menghubungi Rayyan.


Suara dering dan getar handphone Rayyan terdengar dari atas nakas. Tapi, sepasang suami-isteri itu masih saja terlelap. Sepertinya mereka terlalu bersemangat bergulat di atas ranjang, hingga kelelahan dan sulit terbangun di pagi hari. Maklum... dini hari tadi, Rayyan membangunkan Aurora untuk meminta jatah tambahan. Karena selama beberapa hari di luar kota harus puasa. Dan ketika baru pulang malah berantem. Jadi, saat ada kesempatan mengambil jatah, Rayyan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dan inilah hasilnya, hingga hari sudah siang, Rayyan belum bangun juga. Kalau Aurora? Jangan ditanya! Aurora memang terbiasa bangun di atas pukul tujuh lewat tiga puluh menit.


Andi mengusap wajahnya kasar,"Astagaaa... Tuan main berapa ronde, sih? Kenapa sudah dihubungi sebanyak empat kali, tapi belum diangkat juga,"gerutu Andi, kembali menghubungi Rayyan untuk yang kelima kalinya.


"Mungkin handphone Tuan dalam mode silent,"sahut Nala dengan wajah datarnya.


Wanita itu dari tadi hanya diam dengan wajah datarnya melihat Andi yang mondar-mandir dengan wajah gusar nya.


"Gawat! Kalau handphonenya benar-benar dalam mode silent. Apa aku harus menggedor pintu kamar Tuan?"ujar Andi masih setia mondar-mandir sambil menempelkan handphonenya di telinganya, menunggu Rayyan mengangkat teleponnya.


Rayyan mulai terbangun karena handphonenya di atas nakas terus berdering dan bergetar. Pria itu mengerjap kan matanya beberapa kali karena merasa silau dengan sinar matahari yang masuk dari celah-celah gorden yang ditiup angin. Rayyan meraih handphonenya dari atas nakas. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, pria itu menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hum,"sahut Rayyan dengan suara serak khas bangun tidur nya. Tangan kiri pria itu memegang handphone dan tangan kanannya masih memeluk Aurora yang nampaknya juga mulai terbangun.


"Tuan, jika kita tidak segera berangkat dalam waktu lima belas menit, kita akan terlambat menghadiri meeting penting, Tuan"sahut Andi dari sambungan telepon, terdengar gusar.

__ADS_1


"Aku segera turun,"sahut Rayyan, kemudian meletakkan kembali handphonenya di atas nakas. Pria itu kemudian menoleh pada Aurora yang baru terbangun,"Aku harus segera pergi,"ucap Rayyan mengecup bibir Aurora sekilas, lalu melepaskan pelukannya pada Aurora.


"Hum,"sahut Aurora yang masih malas-malasan beranjak dari tempatnya berbaring.


Rayyan bergegas memakai celana boxer-nya, kemudian bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Rayyan sudah keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu bergegas masuk ke dalam walk-in closet. Tidak sampai lima menit, Rayyan sudah rapi dengan kemeja putih berbalut jas berwarna hitam, dasi bewarna hitam, dan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya pun sudah rapi di sisir ke belakang. Pria itu menghampiri Aurora yang masih bermalas-malasan di atas ranjang. Beberapa kali wanita itu menutup mulutnya karena sedang menguap.


"Cup,"Rayyan mengecup bibir Aurora sekilas.


"Lakukan apapun yang kamu suka dan pergilah ke manapun kamu mau. Tapi pulanglah sebelum aku pulang. Aku ingin melihat mu ada di kamar ini saat aku pulang dari bekerja,"ucap Rayyan kemudian kembali mengecup bibir Aurora.


Rayyan bergegas keluar dari kamar itu meninggalkan Aurora tanpa menunggu jawaban dari Aurora. Aurora hanya menghela napas panjang melihat Rayyan yang nampak tergesa-gesa. Menatap Rayyan hingga pria itu menghilang di balik pintu.


"Apa dia selalu sibuk seperti itu? Tidak punya waktu untuk bersantai. Bahkan di hari Minggu pun masih harus ke kantor seperti biasanya,"gumam Aurora kemudian beranjak dari tempatnya berbaring.


Aurora menghubungi Mastuti untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya. Setelah itu, Aurora menyeret kakinya ke dalam kamar mandi.


Aurora sangat terkejut saat berdiri di depan cermin kamar mandi,"Ya ampunn..! Apa ini? Bagaimana aku pergi ke spa jika keadaanku seperti ini? Rayyan benar-benar ganas. Dia membuat tubuh ku jadi macan tutul. Orang-orang di spa akan menertawakan aku jika mereka melihat tubuhku seperti ini,"gumam Aurora membuang napas kasar.


Beberapa menit kemudian, Aurora sudah selesai membersihkan diri setelah berendam cukup lama di bathtub, untuk meredakan pegal-pegal di tubuhnya.


"Aku ingin bermalas-malasan di rumah saja. Mager (Malas gerak) banget rasanya mau kemana-mana,"gumam Aurora. Setelah selesai memakai pakaiannya, Aurora pun menyantap sarapan paginya yang sudah di siapkan oleh Mastuti

__ADS_1


Sedangkan di dalam mobil Rayyan.


"Tuan, saya telah menyelidiki semuanya. Ada penyusup yang menyatroni kediaman Tuan. Cctv di kediaman Tuan diretas, kemudian di rusak. Ada jejak di pintu ruangan kerja Tuan yang berusaha di buka secara paksa.. Sepertinya, tujuan orang itu adalah ruangan kerja Tuan. Orang ini sangat profesional. Tidak ada jejak apapun selain di pintu ruangan kerja Tuan yang rusak,"jelas Andi.


"Berani-beraninya dia menyatroni kediaman ku di siang bolong. Perketat keamanan di kediaman kita. Perbaiki sistem cctv dan juga penjagaan. Aku yakin, ini ada hubungannya dengan tender besar dari pemerintah yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Peringatkan juga Aiden agar lebih waspada. Jaga seluruh anggota keluarga kita, terutama istriku. Dia sering keluar rumah. Jaga dia lebih baik lagi! Aku tidak ingin dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, apalagi membahayakan dia,"ujar Rayyan serius.


"Baik, Tuan,"sahut Andi.


"Kejadian ini mengingatkan aku pada saat meninggal nya papa. Papa meninggal satu hari sebelum tender di adakan,"ujar Rayyan menghela napas panjang yang terasa berat.


"Apa anda berpikir bahwa orang yang menyusup di kediaman Tuan kemarin adalah suruhan orang yang membunuh papa Tuan dulu?"tanya Andi.


"Iya. Tapi aku tidak tahu siapa orangnya,. Jika perusahaan ku dan perusahaan Aiden pailit, akan ada empat perusahaan yang berpotensi menjadi perusahaan besar. Aku tidak dapat menuduh satu pun diantara mereka. Aku tidak punya bukti apapun,"sahut Rayyan memijit batang hidungnya sendiri.


"Menurut saya, ada kemungkinan mereka berkonspirasi untuk menggulingkan anda dan Tuan Aiden,"ujar Andi sesuai deduksi nya.


"Yang pasti, kita tidak boleh lengah sedikit pun. Ada kemungkinan mereka akan melakukan apa yang mereka lakukan pada dulu dulu kepada kita,"ujar Rayyan serius.


"Iya, Tuan. Saya akan lebih berhati-hati,"sahut Andi dengan wajah serius.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2