
"Greb"
Tiba-tiba Rayyan memegang tangan Aurora dengan mata yang terpejam. Aurora sempat terkejut karena mengira Rayyan sadar dari mabuknya.
"Jangan pergi, Ra!"gumam Rayyan, mata pria itu masih terpejam.
"Apa benar, aku istimewa di hatinya?"gumam Aurora menghela napas panjang,"Jika di pikir-pikir, Rayyan memang tidak pernah kasar padaku, jika aku menurut. Walaupun tidak banyak bicara, tapi dia perhatian. Semua kebutuhan ku di sediakan. Tapi aku tidak tahan dengan nafsunya itu. Dia seperti tidak pernah puas atau lelah untuk bercinta dengan ku. Apa aku memang harus menerima dia sebagai suami ku selamanya? Memang benar, doaku terkabul, walaupun tidak sesuai ekspektasi,"gumam Aurora menghela napas panjang.
Aurora berusaha melepaskan pegangan tangan Rayyan, tapi pria itu memegang erat tangannya. Akhirnya Aurora membaringkan tubuhnya di samping Rayyan dengan tangan yang masih di pegang Rayyan.
Rayyan terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Pria itu mendapati Aurora yang tidur dengan kepala di lengannya dan tangan di dadanya. Rayyan memiringkan tubuhnya,.lalu memeluk Aurora.
"Bisakah kamu tetap di sisiku?"gumam Rayyan menghela napas yang terasa berat.
Beberapa menit kemudian, Rayyan beranjak dari peraduannya. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah siap pergi ke kantor. Pria itu menatap Aurora yang masih terlelap, kemudian keluar dari dalam kamar itu. Saat keluar dari dalam kamarnya, Rayyan melihat Nala dan Andi sudah ada di samping pintu kamarnya.
"Tuan, tolong jangan mengekang nyonya lagi. Biarkan Nyonya melakukan apa saja yang diinginkannya. Agar nyonya tidak berkeinginan pergi dari Tuan lagi,"ujar Andi seraya menundukkan kepalanya.
"Aku tahu,"sahut Rayyan kemudian menatap Nala,"Kamu tidak perlu membangunkan istriku. Biarkan dia mengerjakan, atau pergi kemanapun dia mau. Temani saja dia kemanapun dia pergi,"titah Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Nala menunduk hormat.
Andi merasa lega mendengar perintah Rayyan pada Nala. Berharap Aurora bisa bertahan di sisi Rayyan.
Rayyan keluar dari rumah itu diikuti Andi. Seperti biasanya, pria itu memilih sarapan di dalam mobil, dari pada sarapan bersama ibu dan kakaknya.
"Tuan!"seru Andi.
"Hum,"sahut Rayyan seraya memakan roti bakarnya, sedangkan matanya fokus pada laptopnya.
"Saya sudah mengurus.semunya. Hari ini, Nyonya Fina dan perempuan itu akan berangkat ke negeri ginseng,"ujar Andi.
"Bagus,"sahut Rayyan singkat.
__ADS_1
Aurora terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan Rayyan di sisinya.
"Dia sudah pergi? Jam berapa ini?"gumam Aurora kemudian menguap. Aurora menatap jam digital di atas nakas dan terkejut saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi kurang empat puluh lima menit.
"Kenapa Nala tidak membangunkan aku? Iblis itu pasti marah jika aku terlambat melakukan latihan fisik,"gumam Aurora, lalu bergegas membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Aurora sudah selesai membersihkan diri. Wanita itu bergegas memakai pakaian olahraga, dan keluar dari walk-in closet.
"Nyonya, sarapannya,"ujar Mastuti menunjuk nampan yang berisi makanan.
"Tidak perlu, bik. Aku sudah terlambat,"ucap Aurora bergegas keluar dari kamarnya,"Iblis itu akan memberikan aku hukuman jika aku terlambat,"gumam Aurora.
"Tapi nyonya.."Mastuti tidak melanjutkan kata-katanya saat Aurora sudah meraih handle pintu.
"Ceklek "
"Nala, ayo latihan!"ucap Aurora bergegas menuju ruang fitness.
"Tuan bilang, hari ini nyonya boleh pergi kemana pun dan melakukan apapun yang anda suka,"ucap Nala membuat Aurora menghentikan langkahnya.
"Benar, nyonya,"sahut Nala.
"Sebaiknya Nyonya sarapan dulu,"ujar Mastuti.
"Baiklah,"sahut Aurora kemudian berbalik ke kamarnya untuk sarapan.
"Apakah Andi sudah bicara pada Rayyan, sehingga Rayyan membebaskan aku melakukan semua yang aku inginkan? Tapi hari ini aku enggan untuk pergi kemanapun. Beberapa hari ini, aku akan diam dulu di rumah. Sepertinya aku harus tetap melakukan latihan fisik, terutama latihan bela diri. Aku harus bisa menjaga diriku sendiri,"gumam Aurora dalam hati.
Mengingat peringatan dari Sumi, Aurora merasa perlu untuk berlatih bela diri agar bisa melindungi dirinya sendiri. Setelah selesai makan, beberapa menit kemudian, Aurora mengajak Nala untuk latihan beladiri. Nala pun hanya mengikuti apa yang diinginkan Aurora seperti apa yang diperintahkan oleh Rayyan.
Hari ini, Aurora tidak keluar kemana pun. Seharian ini sudah tiga kali masuk ke ruangan fitness untuk melakukan latihan fisik sekaligus latihan beladiri bersama Nala.
Waktu terus berputar, dan siang pun sudah berganti malam. Sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Rayyan belum pulang juga.
__ADS_1
"Kenapa jam segini dia belum pulang juga? Apa dia punya banyak pekerjaan?"gumam Aurora. Biasanya pukul delapan malam Rayyan sudah pulang. Tapi malam ini, sudah pukul sebelas malam, Rayyan belum juga pulang.
Karena kelelahan, akhirnya Aurora tertidur juga. Saat terbangun pagi-pagi, Aurora tidak mendapati Rayyan di dalam kamar. Tempat dimana Rayyan biasa tidur juga terlihat masih rapi.
"Apa semalam dia tidak pulang? Tapi malam ini tidurku terasa sangat nyaman, tanpa ada gangguan,"gumam Aurora.
Perlahan Aurora beranjak dari tempat tidurnya. Aurora memeriksa kamar mandi dan juga walk-in closet, tapi tidak menemukan Rayyan. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
"Ternyata semalam dia benar-benar tidak pulang. Tidak mungkin, 'kan, jam segini dia sudah berangkat ke kantor?"gumam Aurora.
Aurora meminta Mastuti untuk menyiapkan sarapan, lalu bergegas membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Aurora sarapan dan setengah jam setelah sarapan, Aurora mengajak Nala ke ruangan fitness untuk melakukan latihan fisik dan belajar ilmu beladiri. Seperti kemarin, hari ini Aurora juga tiga kali masuk ke ruangan fitness yang di dalamnya juga tersedia tempat untuk latihan beladirinya.
Waktu terus berputar, hari terus berganti. Sudah tiga malam Rayyan tidak pulang. Pria itu lebih memilih menginap di kantor dan berkutat dengan pekerjaannya untuk mengalihkan pikirannya dari Aurora. Sedangkan Andi, pria itu mau tidak mau mengikuti majikannya menginap di kantor dan ikut lembur.
"Tuan, malam ini adalah malam ke empat. Apa kita tidak akan pulang lagi?"tanya Andi dengan wajah tidak berdayanya.
"Aku tidak ingin pulang,"sahut Rayyan yang masih fokus pada layar laptopnya.
"Tuan, jika ada masalah dengan nyonya itu diselesaikan. Jangan malah nggak pulang-pulang dan menghindar seperti ini! Sampai kapan Tuan akan terus begini?"ujar Andi seraya melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk di meja sofa.
Rayyan tidak menanggapi perkataan Andi. Pria itu tetap fokus pada layar laptopnya.
"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙖. 𝘿𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙗𝙪𝙙𝙖𝙠 𝙧𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙪,"gumam Rayyan dalam hati. Entah mengapa dirinya selalu tidak bisa mengendalikan diri jika melihat Aurora. Baginya, Aurora seperti memiliki daya tarik yang tidak bisa ditolaknya.
"Sampai kapan penderitaan ku ini akan berakhir? Tuan, sih, enak. Tidur di ruangan pribadi Tuan yang ada ranjangnya. Lah, aku? Badanku pegal semua gara-gara harus tidur di sofa. Berantem sama istri kok, malah nggak pulang. Dia itu laki-laki atau perempuan, sih? Bukannya menghadapi masalah, tapi malah membiarkan masalah semakin berlarut-larut"gerutu Andi lirih.
"Kamu bilang apa?"tanya Rayyan yang tidak terlalu mendengar gerutuan Andi.
"Tuan mau pulang menyelesaikan masalah atau mau bersembunyi di sini seperti seorang pengecut! Ups! Keceplosan!"Andi membulatkan matanya karena keceplosan dan langsung menutup mulutnya. Nyalinya menciut melihat majikannya yang menatapnya dengan tatapan tajam dan suram.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued