Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
373. Kagum


__ADS_3

"Kenapa? Kamu masih ingin bertemu dengan si Randy itu?"tanya Andi terlihat tidak suka.


Kanaya menghela napas berat mendengar pertanyaan Andi. Gadis itu agak ragu untuk bicara saat melihat ekspresi tidak suka di wajah Andi.


"Aku biasa bekerja. Akan membosankan jika aku jadi pengangguran. Lagipula, satu minggu lagi akan gajian. Sayang jika berhenti sekarang. Selain itu...."Kanaya nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Selain itu apa?"tanya Andi tidak sabar.


"A.. Aku ingin memberikan jawaban pada kak, eh, pada Randy. Aku akan mengatakan kalau aku sudah di jodohkan oleh ibu, agar dia tidak mengejar aku lagi,"jawab Kanaya dengan wajah tertunduk.


Aura Andi yang berwibawa dan mendominasi serta ketegasan dalam setiap tingkah laku Andi yang selama ini di ketahui dan dirasakan Kanaya, membuat Kanaya merasa segan pada Andi. Walaupun saat ini Andi sudah menjadi suaminya, tapi perasaan segan itu masih ada.


"Kamu akan mengatakan padanya kalau kamu di jodohkan oleh ibumu? Kamu tidak mau mengatakan bahwa kamu telah menikah dengan ku?"cecar Andi menatap Kanaya yang masih tertunduk.


"A.. Aku tidak berani mengatakan kalau kamu adalah suamiku,"sahut Kanaya dengan kedua tangan yang berada di atas paha, meremas celana panjang yang di pakainya.


"Kenapa kamu tidak berani mengatakan bahwa aku adalah suamimu?"tanya Andi masih fokus menatap Kanaya yang masih tertunduk.


"Hampir semua karyawan wanita yang masih singel menyukaimu dan berharap bisa menjadi istrimu. Mereka cantik, modis, dan bekerja sebagai staf kantor. Sedangkan aku.. Aku hanya gadis biasa yang berpendidikan rendah. Dari segi pakaian, pendidikan, dan kecantikan, aku tidak bisa dibandingkan dengan mereka. Apa kamu pikir mereka akan percaya jika aku mengatakan bahwa kamu adalah suamiku? Lagi pula, aku tidak ingin di musuhi para fans kamu itu karena aku telah menikah dengan kamu,"jelas Kanaya panjang lebar.


Andi tertegun mendengar semua yang diungkapkan Kanaya. Sekarang Andi tahu, jika Kanaya merasa minder menjadi istri nya.


"Karena itu, aku sudah membelikan pakaian untuk kamu. Skincare dan juga alat make-up. Aku juga akan mendaftarkan kamu kuliah saat penerimaan mahasiswa baru nanti. Agar kamu bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Aku sudah membicarakan soal ini dengan ibu, dan ibu setuju jika kamu melanjutkan pendidikan,"ujar Andi yang memang sudah memikirkan semua itu dan sudah berbicara dengan ibu mertuanya.


Kanaya yang tertunduk itu mengangkat wajahnya menatap Andi. Kanaya tidak menyangka jika Andi sudah memikirkan dan mempersiapkan segalanya.


"Kenapa melihat ku seperti itu? Baru sadar jika aku tampan?"tanya Andi narsis.


Kanaya yang tadi merasa kagum dan terharu karena Andi begitu memikirkan dirinya itu, tiba-tiba langsung ilfill melihat betapa narsis nya suaminya itu.


"Emm.. Apa semua pakaian di dalam lemari itu, kamu yang membelinya?"tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan.


"Iya, memang kenapa? Apa kamu tidak suka dengan warna dan modelnya?"tanya Andi dengan ekspresi serius.


"Bukan, aku hanya ingin bertanya saja. Aku menyukai warna dan juga modelnya. Hanya saja...."Kanaya nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Hanya saja apa?"tanya Andi tidak sabar.


"Itu. Da.. Dari mana kamu bisa tahu ukuran pakaian ku?"tanya Kanaya agak ragu.


"Penjual pakaian di butik tempat aku membelikan pakaian untuk mu, tubuhnya hampir sama seperti mu. Jadi, aku minta dia merekomendasikan pakaian luar sampai pakaian dalam yang ukuran nya sama seperti ukuran tubuhnya untuk. Setelah itu, baru aku memilih mana yang kira-kira cocok untuk kamu pakai,"sahut Andi jujur adanya.


"Astagaa.. Aku tidak menyangka, orang seperti dia mau berbelanja pakaian wanita, bahkan sampai membelikan pakaian dalam. Padahal, aku dengar para pria merasa malu jika harus membeli pakaian dalam untuk wanita. Dia ini sungguh berbeda dari para pria pada umumnya,"gumam Kanaya yang semakin kagum pada Andi.


"Sudah! Kalau ingin menatap wajah ku, nanti saja sepulang dari kantor. Aku mau berangkat kerja,"ujar Andi seraya bangkit dari tempat duduknya. Lagi-lagi pemuda itu mematahkan rasa kagum Kanaya karena kenarsisan nya.


"Tunggu! A.. Aku masih mau bekerja,"ucap Kanaya ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu yakin masih mau bekerja menjadi office girl?"tanya Andi memastikan.


"Sebelum aku kuliah, tolong izinkan aku bekerja menjadi office girl. Aku akan merasa bosan jika tidak memiliki kegiatan apapun,"sahut Kanaya yang memang sudah terbiasa bekerja.


"Baiklah. Bersiap-siap lah! Oh, ya, ada yang ingin aku berikan padamu,"ujar Andi seraya berjalan menuju kamarnya.


"Apalagi yang ingin dia berikan?"gumam Kanaya seraya menutup makanan yang masih tersisa, lalu meletakkan peralatan makan yang mereka pakai tadi ke wastafel.


Tak lama kemudian, Andi pun kembali dengan membawa sebuah paper bag.


"Ini! Pakai handphone ini. Aku lihat handphone kamu keluaran lama, layarnya juga sudah retak,"ujar Andi seraya mengulurkan paper bag berisi handphone itu pada Kanaya. Lagi-lagi Kanaya merasa sangat diperhatikan oleh Andi.


"Terimakasih!"ucap Kanaya tulus,"Sementara aku pakai yamg ini dulu. Nanti, sepulang kerja aku pakai yang baru. Aku takut terlambat masuk kerja kalau harus memindahkan kartu SIM nya dulu,"ujar Kanaya yang menyadari hari semakin siang.


"Tenang saja! Kalau berangkat bareng aku nggak akan terlambat,"sahut Andi percaya diri,"Ayo, kita berangkat!"ajak Andi seraya menarik tangan Kanaya.


"Eh, tunggu! Aku taruh handphonenya di kamar dulu,"


"Tidak perlu. Taruh saja di meja makan ini, nggak bakal ilang, kok. Cuma aku sama kamu yang bisa masuk ke dalam apartemen ini,"ujar Andi seraya mengambil paper bag dari tangan Kanaya, lalu meletakkannya di atas meja makan.


"Dari mana kamu mendapatkan sidik jari ku?"tanya Kanaya yang mengingat akses masuk ke unit apartemen itu adalah menggunakannya sidik jari.


"Dari helm yang kamu pakai,"sahut Andi masih terus memegang tangan Kanaya.

__ADS_1


Kanaya memicingkan sebelah matanya melirik Andi,"Orang ini terlalu pintar. Dia bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang dia mau, termasuk mendapatkan aku. Terlalu banyak akal dan juga licik. Sepertinya, selama dia masih menyukai aku, aku tidak akan bisa lepas dari jeratnya,"gumam Kanaya dalam hati.


Sepasang suami-isteri itu akhirnya keluar dari unit apartemen mereka. Andi sama sekali tidak melepaskan pegangannya di tangan Kanaya.


"Kenapa kamu tidak memakai skincare yang aku belikan? Aku membelikan kamu skincare dan peralatan make-up untuk dipakai. Bukan untuk di jadikan pajangan di atas meja rias. Atau kamu aku belikan merk yang lain?"tanya Andi terus berjalan menuju lift.


"Tidak perlu membelikan yang lain. Aku akan memakai yang di atas meja rias,"


"Terserah kamu saja. Jika merasa tidak cocok dan ingin membeli yang lain, katakan saja padaku!"


'Hum,"sahut Kanaya tersenyum tipis,"Dia memperhatikan semua tentang aku. Bahkan layar handphone ku yang retak pun dia tahu,"gumam Kanaya yang kagum akan perhatian pemuda yang sudah menjadi suaminya itu.


Andi memakaikan helm untuk Kanaya, setelah itu baru memakai helmnya sendiri. Setelah Andi siap di atas motornya, Kanaya pun duduk di boncengan.


"Pegangan! Kalau jatuh, aku akan dimarahi oleh ibu,"ujar Andi seraya melingkarkan kedua tangan Kanaya di perutnya.


"Palingan juga mau modus karena pengen di peluk,"gumam Kanaya dalam hati. Namun tetap menurut memeluk perut Andi.


Tanpa sadar Kanaya tersenyum-senyum sendiri dengan wajah yang bersemu merah saat mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian dimana Kanaya melihat dada bidang dan perut berotot milik Andi. Pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.


Walaupun sampai saat ini Kanaya belum melihat surat nikah mereka, tapi Kanaya yakin jika ibunya tidak berbohong. Mana mungkin ibunya menyuruh dirinya menyerahkan diri pada seorang pria begitu saja. Karena, walaupun mereka adalah orang tidak punya, tapi mereka memegang prinsip dan harga diri mereka.


Andi tersenyum senang di balik helm full face yang dipakainya,"Akhirnya bisa di peluk juga. Sekarang aku bebas meminta pelukan dari Kanaya,"gumam Andi dalam hati.


Entah mengapa, hanya sekedar di peluk saat berboncengan motor dengan dada Kanaya yang menempel sempurna di punggungnya, sudah bisa membuat Andi merasa bahagia.


Saat Andi melaju semakin kencang, Kanaya pun semakin mengeratkan pelukannya di perut Andi. Kanaya bisa merasakan perut Andi yang berotot. Kanaya tersenyum-senyum sendiri membayangkan perut Andi yang sixpack.


"Ternyata begini rasanya memeluk perut yang berotot. Menyenangkan sekali,"gumam Kanaya dalam hati.


...🌸❀️🌸...


Spill aja kalau ada typo atau mungkin kalimat yang diulang. Aku ngantuk banget.πŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2