
Aurora mengikuti Rayyan, Fina, dan Andi hingga ke tiga orang itu masuk ke sebuah ruangan. Kebetulan pintu ruangan itu tidak tertutup sempurna, hingga Aurora bisa mendengar percakapan orang di dalam sana.
"Tanda di tangan orang ini sama persis dengan tanda yang dimiliki oleh orang yang kita cari selama ini, Ray. Rambutnya juga sama keritingnya. Wajahnya juga seperti ini saat memakai masker. Tapi, aku belum bisa melihat apakah matanya sayu atau tidak seperti orang yang kita cari. Karena dia belum sadar,"ujar Fina
"Tuan, kita tidak boleh gegabah. Kita harus menunggu Pak Hamdan sadar dan menanyakan secara langsung motif Pak Hamdan membunuh papa anda,"ujar Andi
"Dok, bisa saya melihat rekam medis pasien ini?"tanya Fina pada rekan kerjanya.
"Ah, iya, dok. Kebetulan saya membawa rekam medis Pak Hamdan dan istrinya. Rencananya saya akan menyerahkan rekam medis Bu Ella pada dokter yang akan memberikan terapi pada Bu Ella,"ujar seorang dokter.
"Pria ini bersama dengan istrinya di rawat di rumah sakit ini?"tanya Fina.
"Pak Hamdan mengalami kecelakaan, dan Bu Ella panik saat mendengar Pak Hamdan kecelakaan, sehingga Bu Ella jatuh di kamar mandi. Pak Hamdan ini adalah ayah dari nyonya Aurora,"jelas Andi.
"Apa?! Pria ini adalah ayah Aurora?"tanya Fina nampak terkejut.
"Iya, dok,"sahut Andi.
"Tuan, saya harap, anda lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Bagaimanapun, Pak Hamdan adalah ayah dari nyonya. Dan saat ini nyonya sedang mengandung darah daging Tuan. Jangan sampai dendam di masa lalu menghancurkan masa depan dan kebahagiaan anak yang tidak berdosa. Anak Tuan dan nyonya berhak bahagia,"ujar Andi.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah melenyapkan papaku hidup dengan tenang, nyaman apalagi bahagia,"ujar Rayyan
Aurora yang sedari tadi masih mendengarkan pembicaraan Rayyan dan yang lainnya itu tanpa terasa menitikkan air mata. Dadanya terasa sesak menerima kenyataan itu.
"Apa ini alasan bapak tidak mau ke kota ini? Tidak! Bapak bukan pembunuh. Bapak adalah orang yang baik dan tidak pernah menyakiti siapapun. Ini pasti ada yang salah,"gumam Aurora dalam hati. Aurora benar-benar takut jika Rayyan melakukan sesuatu pada bapaknya.
Ada apa?"suara Andi kembali terdengar di telinga Aurora.
"Ray, kedua orang tua Aurora ini..."
"Dokter yang menangani pasien ini?"terdengar Rayyan bertanya pada dokter yang masih ada di ruangan itu, memotong kata-kata Fina.
"Iya, Tuan,"sahut dokter itu.
"Apakah Pak Hamdan akan segera sadar dari komanya?"tanya Rayyan.
__ADS_1
"Menurut pemeriksaan yang sudah kami lakukan, kemungkinan besar Pak Hamdan akan segera sadar dari komanya, Tuan,"sahut dokter itu.
"Tunggu kami! Kami akan segera ke sana,"ucap Andi yang terdengar di telinga Aurora.
"Tuan, ada masalah di perusahaan cabang. Ada beberapa orang yang berbuat ulah di perusahaan cabang kita yang ada di kota xx. Mereka berusaha membakar kantor dan juga gudang kita. Para karyawan kita berusaha memadamkan api dan menyelamatkan barang-barang yang ada di gudang kita,"jelas Andi.
"Shiitt! Kenapa ada masalah di saat seperti ini,"umpat Rayyan, lalu menatap Fina,"Fin, tolong urus masalah Pak Hamdan dan Bu Ella untuk aku! Aku percayakan mereka padamu. Aku pastikan akan membuat perhitungan dengan siapapun yang melenyapkan papa ku,"ujar Rayyan membuat Aurora semakin ketakutan.
Aurora segera bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki yang menuju pintu. Aurora menangis tanpa suara.
"Kenapa? Kenapa seperti ini? Di saat aku sudah mencintai Rayyan, kenapa malah ada hal semacam ini?"gumam Aurora dalam hati seraya mengusap air matanya.
Aurora mencintai Rayyan, tapi Aurora juga mencintai ayahnya. Dan Aurora tidak ingin ayah yang di sayangi dan menyayangi dirinya di celakai oleh pria yang di cintainya. Aurora benar-benar merasa di posisi yang sulit.
"Rayyan sangat membenci orang yang telah melenyapkan papanya. Apa dia akan membenci aku jika bapak benar-benar adalah orang yang melenyapkan papanya? Aku tidak tahu apa alasan bapak melakukan perbuatan itu. Tapi mendengar dari perkataan Fina, bapak benar-benar orang yang melenyapkan nyawa papa Rayyan. Aku takut Rayyan melakukan sesuatu pada kami sekeluarga. Rayyan adalah orang yang berkuasa. Kami tidak akan bisa lepas dari Rayyan, jika Rayyan ingin membalas dendam pada kami atas meninggalnya papanya. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?"gumam Aurora dalam hati. Ibu hamil itu terlihat sangat cemas, khawatir dan juga ketakutan.
"Aurora? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Suara bariton itu membuat Aurora terkejut. Aurora semakin terkejut saat melihat Bima sudah ada di depannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa malam-malam begini kamu ada di sini? Dan kenapa kamu menangis?"tanya Bima terlihat khawatir.
Bima sedang menjenguk salah seorang temannya di rumah sakit itu. Tapi saat akan meninggalkan rumah sakit itu, Bima tidak sengaja melihat Aurora.
"Bim, boleh aku minta tolong pada mu?"tanya Aurora yang tiba-tiba memiliki ide untuk pergi dari Rayyan, agar Rayyan tidak bisa menyakiti keluarganya.
"Tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?"tanya Bima yang masih mencintai Aurora.
"Bisakah kamu membawa aku dan kedua orang tuaku pergi dari pulau ini?"
"Kenapa?"tanya Bima yang nampak terkejut.
"Aku tidak bisa mengatakan apa masalah ku padamu. Aku hanya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Tapi, jika kamu tidak bisa membantu aku, aku juga tidak apa-apa,"sahut Aurora dengan wajah tertunduk.
Setelah mengungkapkan keinginannya, Aurora jadi merasa permintaannya terlalu berlebihan. Apalagi Bima hanyalah mantan pacarnya. Belum lagi keadaan orang tuanya juga sedang sakit. Bukan hal yang mudah untuk bepergian dengan dua orang sakit yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Aku akan membantu mu,"sahut Bima tanpa keraguan.
Aurora yang mendengar jawaban Bima pun merasa sangat senang. Tidak menyangka Bima mau membantu dirinya. Malam itu juga Bima menyusun rencana bersama teman-temannya setelah mendengar segala sesuatu dari Aurora. Termasuk tentang situasi di dalam rumah Aurora. Karena Aurora harus mengambil barang-barang penting miliknya di rumah Rayyan.
Aurora sengaja mengganti password pintu kamarnya dan Rayyan agar bisa menunda Rayyan mencari dirinya.
"Sudah siap?"tanya Bima yang bersama seorang temannya.
"Sudah. Ayo, kita pergi,"sahut Aurora setelah mengganti password pintu kamarnya.
"Nyonya! Nyonya mau kemana?"
Suara Mastuti membuat Aurora, Bima dan temanya terkejut.
Mastuti yang ditugaskan Rayyan untuk menjaga Aurora tiba-tiba merasa gelisah dan entah mengapa kakinya melangkah ke arah kamar Aurora. Mastuti terkejut saat melihat Aurora sedang berdiri di depan pintu kamarnya membawa sebuah tas yang tidak terlalu besar. Dan di belakang Aurora ada dua orang pria bertubuh tegap.Tapi Aurora nampak akrab dengan salah seorang pria itu.
"Lumpuhkan dia!"ucap Bima pada temannya.
"Jangan!"ucap Mastuti malah berlari ke belakang Aurora,"Nyonya, jika anda ingin pergi, tolong bawa saya. Saya khawatir dengan keadaan nyonya. Nyonya sedang hamil besar,"ucap Mastuti penuh permohonan dan rasa khawatir, seraya memegang lengan Aurora.
Mastuti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Mastuti merasa dua orang pria yang bersama Aurora itu bukanlah orang biasa. Dan Mastuti sangat khawatir dengan keadaan Aurora yang sedang mengandung anak majikannya.
"Aku akan membawa bibi jika bibi tidak melapor pada Rayyan,"
Aurora saat ini memang membutuhkan seseorang untuk membantu dirinya mengurus kedua orang tuanya nanti. Karena Aurora akan kesulitan untuk mengurus kedua orang tuanya sendirian dalam keadaannya yang sedang hamil besar seperti saat ini. Aurora tidak mau terlalu banyak meminta bantuan pada Bima.
"Saya berjanji tidak akan memberitahu Tuan,"sahut Mastuti tanpa keraguan. Yang penting bagi Mastuti saat ini adalah bisa menjaga darah daging majikannya yang berada di dalam perut Aurora. Yang lainnya akan dipikirkan Mastuti nanti saja.
Akhirnya malam itu Bima beserta beberapa orang kawan-kawan sesama tentara nya membawa Aurora, Mastuti dan kedua orang tua Aurora ke pulau lain. Karena kebetulan Bima juga di pindah tugas ke pulau itu.
Bima langsung membawa ke-dua orang tua Aurora ke rumah sakit terbesar di pulau tempatnya bertugas. Bima dan kawan-kawannya juga langsung menutup semua informasi tentang Aurora, kedua orang tua Aurora dan juga Mastuti. Menghapus semua jejak keberadaan Aurora, Mastuti dan kedua orang tua Aurora. Karena itulah Rayyan dan Aiden kesulitan mencari Aurora.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued