
Setelah membantu Aurora pindah ke pulau ini, Bima sulit sekali bertemu dengan Aurora. Semua itu karena Bima harus menjalankan kewajibannya sebagai abdi negara dan mempersiapkan pesta pernikahannya. Sehingga tidak punya waktu untuk menemui Aurora.
Sedangkan Aurora sendiri, keesokan harinya tidak tinggal diam di rumah sakit menunggu ke dua orang tuanya yang sedang di rawat. Tapi, mencari tempat tinggal dan tempat untuk membuka usaha. Hingga dalam waktu singkat, Aurora sudah menemukan tempat hunian dan tempat usaha tanpa bantuan Bima. Karena Aurora tidak mau berhutang budi terlalu banyak pada Bima.
Hari ini Bima melangsungkan pernikahannya di sebuah ballroom hotel. Acara yang terlihat mewah dan megah, dihadiri para keluarga, teman, serta atasan dan bawahannya. Pesta yang didominasi para aparat negara.
Tanpa di duga, WO (wedding organizer ) yang dipakai keluarga Bima memesan kue di toko kue Aurora untuk acara pernikahan Bima itu. Toko kue yang baru sekitar satu bulan di buka, namun sudah terkenal karena selain enak juga ada kue low sugar untuk orang diet. Hingga banyak yang meminati kue yang dijual Aurora.
Aurora yang sudah satu minggu melahirkan pun ikut mengantar pesanan karena jumlah pesanannya banyak. Wanita yang sudah menjadi seorang ibu itu tetap terlihat cantik, seksi dan segar.
Menjalankan pola hidup sehat agar bisa menghidupi anak dan kedua orang tuanya lah yang membuat Aurora benar-benar menjaga kesehatannya.
"Haiss.. Mengantar kue pesanan di acara pernikahan mantan. Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Semoga saja aku tidak bertemu dengan Mak Lampir. Males banget aku ketemu sama dia. Kalau pesanan kuenya nggak banyak, aku nggak perlu datang kesini. Tapi demi cuan, aku terpaksa harus ikut ke sini,"gumam Aurora dalam hati.
Namun, sering kali kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi.Tanpa sengaja ibu Bima melihat Aurora berbicara dengan pihak WO.
"Perempuan itu? Kenapa dia ada di sini? Jangan bilang dia sengaja datang ke sini untuk menemui Bima,"gumam Ibu Bima dalam hati, seraya menghampiri Aurora. Wanita paruh baya itu terlihat kesal pada Aurora.
"Hei, kau! Apa maksud kamu datang ke sini?"tanya ibu Bima dengan ekspresi benci.
Ibu Bima sangat tahu, jika sampai saat ini Bima masih mencintai Aurora. Karena ibu Bima sering memergokinya Bima melihat foto-foto Aurora dan foto-foto kebersamaannya bersama Aurora di akun sosial medianya. Dan foto-foto itu di private oleh Bima.
"Saya ke sini mengantarkan kue yang di pesan oleh pihak WO,"sahut Aurora terlihat tenang, dan sopan, mengingat saat ini dirinya berada di tempat umum. Tidak ingin membuat keributan. Padahal dalam hatinya,"Astagaa.. Aku malah beneran ketemu sama Mak Lampir satu ini,"
"Cih! Alasan yang tidak masuk akal. Memangnya kamu tinggal di sini dan membuka toko kue di sini? Hingga kamu mengantarkan kue ke sini?"cibir ibu Bima menatap rendah pada Aurora.
__ADS_1
"Saya memang tinggal di sini dan membuka toko kue di sini,"sahut Aurora masih terlihat tenang.
"Apa kamu sudah dicampakkan suami kaya kamu itu? Hingga kamu pergi ke pulau ini dan mengejar-ngejar putraku. Pantas saja kalau kamu dicampakkan suami kamu. Mana ada orang kaya yang mau memiliki istri wanita bodoh tidak berpendidikan seperti kamu,"cibir ibu Bima terlihat sinis.
"Maaf! Saya masih sibuk. Saya permisi!"pamit Aurora pada pihak WO. Malas rasanya Aurora meladeni ibu Bima yang mulutnya seperti cabai setan itu.
"Kenapa pergi? Berarti benar, 'kan, apa yang aku katakan?"cibir ibu Bima.
Aurora tidak menghiraukan perkataan ibu Bima dan berlalu dari tempat itu. Tidak ingin menjadi pusat atensi semua orang.
"Hutff.. Mak Lampir itu sama sekali tidak berubah. Aku kasihan pada wanita yang menjadi menantunya. Semoga saja menantunya sabar, dan kuat iman menghadapi mertua seperti Mak Lampir seperti perempuan itu. Aku bersyukur tidak jadi menikah dengan Bima. Kalau tidak, aku bisa kena mental punya mertua kayak Mak Lampir seperti dia,"gumam Aurora dalam hati seraya berjalan menuju pintu keluar.
Aurora tidak menyadari Bima tidak sengaja melihatnya, namun Bima enggan untuk mendekati Aurora. Jika Bima mendekati Aurora, Bima takut dilihat ibunya dan ibunya akan kembali membuat keributan dengan Aurora.
"Aurora? Bagaimana dia bisa berada di sini? Siapa yang mengundangnya?"gumam Bima dalam hati.
Pria itu menatap nanar wanita yang dari dulu hingga saat ini masih di cintainya itu. Entah mengapa Bima mencintai Aurora begitu dalam. Bima pun tidak tahu jawabannya. Namun yang pasti, saat ini ada dinding yang begitu tinggi yang membatasi mereka berdua. Karena mereka sudah sama-sama menikah.
Sejujurnya, sampai saat ini Bima masih penasaran. Apa yang membuat Aurora kabur dari suaminya. Karena Aurora sama sekali tidak mau menceritakan apa yang terjadi hingga Aurora ingin bersembunyi dari suaminya. Pria itu tidak berpikir panjang mengiyakan permintaan Aurora karena sampai saat ini rasa cinta di hatinya untuk Aurora masih utuh. Tidak berkurang sedikitpun.
Teman Bima yang membantu Bima membawa Aurora ke pulau itu pun tersenyum tipis saat melihat Bima yang menatap Aurora tanpa berkedip.
"Haiss.. Pantas saja gagal move on. Mantan pacarnya cantik bak bidadari begitu. Mana bodynya bak gitar spanyol lagi. Pria mana yang tidak akan tergila-gila pada wanita secantik itu? Apalagi mereka putus karena terhalang restu orang tua. Bukan karena masalah intern mereka. Belum lagi, istri Bima tidak secantik dan sebohay mantan pacarnya yang bernama Aurora itu,"gumam teman Bima itu dalam hati, kemudian mendekati Bima.
"Ternyata, mantan kamu itu sudah melahirkan, ya? Walaupun sudah memiliki anak, body nya masih sangat aduhai,"ujar teman Bima yang sudah berada di samping Bima.
__ADS_1
"Jaga bicaramu! Kamu itu seorang tentara! Tidak pantas berkata seperti itu,"sergah Bima yang merasa tidak suka melihat temanya menatap Aurora tanpa berkedip dan mengucapkan kata-kata yang menurut Bima tidak pantas.
"Aku cuma mengatakan kenyataan. Pantas saja kamu susah move on dari dia. Jika mantan pacar kamu seperti bidadari seperti dia,"
Bima tidak menanggapi perkataan temannya itu. Karena memang benar, bahwa sampai saat ini dirinya masih mencintai Aurora. Bahkan sedikitpun cintanya pada Aurora tidak berubah.
Ibu Bima nampak kesal menatap kepergian Aurora. Tidak dipungkiri, gadis yang dijodohkan nya dengan Bima memang tidak bisa menandingi kecantikan dan kemolekan tubuh Aurora. Tapi calon menantunya adalah wanita berpendidikan tinggi. Tidak seperti Aurora yang hanya lulusan SMU. Itulah yang selalu dibanggakan oleh ibu Bima.
"Aku harus menyelidiki di mana perempuan itu tinggal. Aku tidak mau suatu saat nanti perempuan itu menggoda Bima dan menghancurkan pernikahan Bima,"gumam ibu Bima dalam hati. Menatap Aurora penuh dengan rasa benci.
Pesta pernikahan Bima berjalan dengan meriah dan lancar. Walaupun ada yang menganggu pikiran ibu Bima setelah melihat Aurora. Ibu Bima takut kehadiran Aurora akan membuat rumah tangga putranya tidak langgeng.
Sedangkan Bima sendiri tidak menyangka akan melihat Aurora datang ke acara pesta pernikahannya. Karena Bima memang tidak mengundang Aurora. Takut ibunya membuat keributan jika bertemu Aurora.
Bima merasa heran kenapa Aurora bisa datang ke pesta pernikahannya. Dan bertanya-tanya, siapa yang mengundang Aurora di pesta pernikahannya ini. Terlebih lagi, Aurora pergi tanpa memberikan ucapan selamat pada dirinya.
...π"Andaikan melupakan itu semudah mencintai, tak kan tersiksa hati karena cinta yang tak mungkin kumiliki."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1