
"Sepertinya Tuan Hendrik sangat tertarik pada nona Sumi. Dia bertanya pada Nona Sumi tentang wajah Nona Sumi yang sangat mirip dengan wajah nyonya. Tuan Hendrik curiga kalau Nona Sumi melakukan operasi plastik. Menurut Tuan, nona Sumi harus menjawab apa, jika Tuan Hendrik bertanya lagi soal itu?"tanya Andi yang melihat Rayyan mengernyitkan keningnya.
"Mengingat sifatnya, kakak ku tidak akan berhenti bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Masalah ini, biar aku sendiri yang bicara pada kakakku,"sahut Rayyan memutuskan.
"Bagaimana jika Tuan Hendrik mengejar-ngejar nona Sumi karena Nona Sumi mirip dengan nyonya, Tuan? Tuan tahu sendiri, 'kan, jika Tuan Hendrik sangat menyukai nyonya? Dari sekarang saja sudah terlihat kalau Tuan Hendrik sangat tertarik pada nona Sumi,"
"Aku tidak akan membiarkan kakak ku mempermainkan Sumi. Sumi sudah sangat menderita selama ini. Apa yang bisa dia harapkan dari suami seperti kakak ku? Pria yang hanya mengandalkan wajah tampan, postur tubuh proporsional, gaya yang mentereng dan rayuan mautnya itu. Dalam hidupnya hanya tahu cara bersenang-senang saja. Bahkan sampai saat ini hidupnya masih bergantung padaku. Mana cocok dia dengan Sumi. Wanita yang harus menjadi tulang punggung keluarga di usia muda. Hingga terpaksa menjual tubuhnya demi menghidupi keluarganya,"ujar Rayyan panjang lebar.
"Iya, Tuan benar. Saya akan serahkan masalah ini pada Tuan saja,"sahut Andi yang setuju dengan Rayyan.
Setelah selesai membicarakan masalah tentang Hendrik dan Sumi, atasan dan bawahan itu akhirnya kembali ke kamar mereka masing-masing.
Sudah dua jam setelah Rayyan bicara dengan Andi di ruang kerjanya.Tapi pria tampan itu belum bisa juga terlelap. Tidak bisa memeluk istrinya dan kemarahan istrinya lah yang membuat pria itu tidak bisa tidur.
"Apa Aurora sudah tidur, ya? Aku ingin sekali memeluk dan menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuat aku merasa tenang,"gumam Rayyan kemudian beranjak dari tempatnya berbaring.
Rayyan keluar dari kamarnya dan menatap ke arah kamarnya yang sebelumnya ada di lantai dua dengan wajah kusut.
"Wanita kalau marah jangan di tinggalkan, Tuan. Tuan harus getol membujuknya. Jika tidak, nyonya akan semakin marah pada Anda,"sahut Andi yang tiba-tiba muncul membawa teko berisi air putih.
"Shiitt! Kenapa kamu selalu saja muncul tiba-tiba seperti hantu dan mengangetkan aku?!"kesal Rayyan,"Lagian, kamu itu jomblo. Malah sok-sokan memberikan aku nasehat,"gerutu Rayyan.
"Sudah saya bilang, dari kecil saya sudah tinggal di panti asuhan. Walaupun saya masih jomblo, saya sudah sangat tahu sifat wanita dari saudara-saudara saya yang ada di panti asuhan. Lagian, saya Jomblo juga karena Tuan memberikan pekerjaan terlalu banyak pada saya,"sahut Andi yang ceplas-ceplos.
__ADS_1
"Cih, bukannya kamu yang paling semangat jika dalam urusan pekerjaan? Bahkan kamu membuat aku tidak punya waktu senggang untuk istriku. Kamu membuatkan jadwal yang begitu padat untuk ku,"balas Rayyan yang memang benar adanya.
Andi memang sangat giat bekerja hingga membuat jadwal Rayyan begitu padat. Hal itu karena Rayyan selalu memberikan bonus yang besar pada Andi jika mereka mendapatkan keuntungan yang besar. Hingga Andi sangat bersemangat dalam bekerja dan membuat perusahaan mereka semakin maju.
"Tuan, sebaiknya Tuan samperin nyonya. Kalau tidak, nyonya akan semakin marah pada Tuan. Saat ini, nyonya pasti belum tidur karena menunggu Tuan untuk membujuk dan merayu nyonya. Kalau Tuan di usir, peluk! Kalau meronta, cium! Kalau masih ngambek juga, eksekusi saja, Tuan,"ujar Andi mengalihkan pembicaraan. Mencari aman agar tidak semakin di ocehi majikannya. Memberikan nasehat asal untuk mengalihkan pikiran majikannya.
Dan benar saja, Rayyan menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Andi. Andi mengendap-endap meninggalkan Rayyan saat majikannya itu menatap ke kamar yang ada di lantai dua.
"Benarkah Aurora belum tidur karena menunggu aku bujuk dan aku rayu?"gumam Rayyan dalam hati merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Andi.
Rayyan menatap gamang kamar lamanya yang ada di lantai dua itu, dimana saat ini istrinya berada. Perlahan Rayyan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak menyadari Andi sudah kabur meninggalkan dirinya.
"Selamat.. Selamat... Nyonya memang kartu keberuntungan ku,"gumam Andi yang melihat Rayyan sudah menaiki tangga. Andi bergegas kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu karena merasa haus tadi.
Sedangkan di dalam kamar, Aurora benar-benar belum tidur. Wajah bumil itu nampak cemberut.
Wanita itu berbaring terlentang dengan wajah cemberut. *******-***** selimut yang dipakainya hingga batas pinggang itu karena merasa kesal.
"Dia tadi mengusir aku dari kamar ini. Apa kali ini aku tidak akan di usir lagi?"gumam Rayyan yang nampak ragu saat akan memasuki kamarnya. Namun sesaat kemudian, Rayyan jadi teringat kata-kata Andi barusan.
"Tuan, sebaiknya Tuan samperin nyonya. Kalau tidak, nyonya akan semakin marah pada Tuan. Saat ini, nyonya pasti belum tidur karena menunggu Tuan untuk membujuk dan merayu nyonya. Kalau Tuan di usir peluk! Kalau meronta, cium. Kalau masih ngambek juga, eksekusi saja, Tuan,"
Mengingat ucapan Andi itu, Rayyan memberanikan diri membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Aurora segera berpura-pura tidur saat mendengar suara pintu yang berbunyi 'Tit" saat dirinya atau Rayyan menempelkan jari jempol sebagai password masuk.
"Dia kembali?"gumam Aurora dalam hati merasa sangat senang.
Sudah bisa di pastikan jika yang masuk ke dalam kamar itu adalah Rayyan. Karena hanya dirinya dan Rayyan lah yang bisa membuka pintu kamar mereka.
Rayyan masuk ke dalam kamar dan melihat Aurora yang sudah memejamkan matanya.
"Dia sangat suka menyembunyikan wajahnya di dadaku, 'kan?"gumam Rayyan dalam hati seraya melepaskan baju tidur kimono yang dipakainya. Mengingat istrinya sangat suka menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya saat tidur.
"Aku juga sangat ingin bercinta dengan dia. Aku sudah menahannya beberapa hari ini. Tapi aku tidak berani karena keadaannya beberapa hari yang lalu masih lemah. Aku juga takut lost control jika sudah menyentuhnya. Aku takut melukai dan membahayakan bayi kami,"gumam Rayyan dalam hati, perlahan naik ke atas ranjang.
"Dia datang untuk membujuk aku?"gumam Aurora dalam hati merasa senang.
Rayyan merebahkan tubuhnya di samping Aurora. Menatap Aurora yang sudah memejamkan matanya. Wajah yang cantik dan bibir yang bervolume, membuat Rayyan menelan salivanya kasar. Rayyan merapikan anak rambut Aurora yang menutupi wajah cantik Aurora. Pria itu membelai rambut Aurora dengan lembut, kemudian mengecup kening Aurora untuk beberapa saat. Rayyan membawa Aurora dalam dekapannya, lalu mulai memejamkan matanya.
"Aku ingin,"gumam Aurora dalam hati saat menghirup aroma tubuh suaminya yang saat ini mendekapnya.
Rayyan mencoba untuk tidur namun lima belas menit kemudian saat Rayyan mulai masuk ke alam mimpi, tiba-tiba tangan Aurora mulai merayap meraba punggung Rayyan, bahkan mengendus aroma tubuh Rayyan, membuat Rayyan yang hampir terlelap itu kesadarannya kembali.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
__ADS_1
•Emosi tidak stabil dapat merujuk pada kondisi psikologis di mana seseorang memiliki perubahan mood yang cepat dan tidak dapat diprediksi.
•Mentereng artinya (serba) baik; mewah; hebat; menimbulkan rasa kagum (karena bagus, elok, dan sebagainya).